Lamaran ke-48
Lamaran ke-48 β’ 1,102 kata
Pagi itu Nadia bangun lebih awal dari biasanya. Alarm ponselnya belum sempat berbunyi ketika ia sudah duduk di tepi kasur, menatap buku catatan kecil bersampul biru yang selalu ia simpan di laci meja.
Di halaman terakhir buku itu, ada daftar yang ia tulis dengan rapi: 47 perusahaan. Di samping setiap nama, ada tanda silang merah, atau tulisan "tidak ada kabar" yang semakin lama semakin miring, seperti ikut lelah.
Empat puluh tujuh lamaran. Delapan bulan menganggur sejak lulus SMK jurusan Akuntansi. Delapan bulan pula ia membantu ibunya berjualan nasi uduk di depan rumah mereka, sebuah gang sempit di Cikampek, sambil menunggu satu kabar baik yang tak kunjung datang.
Tapi pagi ini berbeda. Semalam, dari berita yang ia baca di ponsel, Nadia tahu: hari ini, 27 Oktober, pendaftaran program Magang Nasional Batch 3 dibuka. Pendaftarannya dibuka sampai 4 November. Ini kesempatannya yang ke-48.
"Bu, doain ya, hari ini Nadia daftar magang," katanya sambil membantu ibunya membungkus nasi uduk.
Bu Yanti tersenyum, tangannya tetap cekatan melipat daun pisang. "Ibu selalu doain, Neng. Sarapan dulu, jangan perut kosong melamar kerja."
Nadia mengangguk, tapi matanya sudah tertuju pada ponselnya. Ia membuka formulir pendaftaran, mengisi data diri dengan hati-hati, dan mengunggah CV yang sudah ia perbaiki entah berapa kali. Tinggal satu langkah lagi: menekan tombol kirim.
Saat itulah ponselnya bergetar pelan. Baterai tinggal delapan persen. Dan di luar, hujan yang sejak subuh hanya gerimis, tiba-tiba turun deras.
"Ya Allah, kenapa sekarang," gumam Nadia. Token listrik di rumah mereka habis semalam, dan ibunya belum sempat membelikan yang baru. Charger tidak berguna tanpa listrik. Kuota internetnya pun tinggal sisa-sisa, habis dipakai menonton video tutorial wawancara semalam.
Nadia menatap payung sobek di sudut pintu, lalu menatap ibunya. "Nadia ke warung kopi Pak De sebentar, Bu. Di sana ada colokan."
"Payungnya jangan lupa, Neng. Jangan sampai sakit, besok masih banyak yang harus diurus."
Warung kopi Pak De hanya berjarak dua ratus meter, tapi hujan membuat jarak itu terasa jauh. Sampai di sana, baju Nadia basah di bagian bahu, dan sandalnya berdecak di lantai semen.
"Eh, Nadia! Sini, colokan yang dekat jendela masih kosong," sapa Pak De sambil mengangkat teko.
Nadia tersenyum lega. Ia mencolokkan ponselnya, memesan teh hangat, dan menunggu angka persen baterai merangkak naik. Di meja sebelah, seorang bapak paruh baya sedang mengacak-acak tumpukan kertas dengan wajah kusut. Nota-nota bengkel las, kuitansi, dan bon-bon pembelian besi berserakan seperti baru saja diterjang angin.
"Nadia, kamu kan lulusan akuntansi?" tanya Pak De tiba-tiba. "Itu Pak Asep, pemilik bengkel las di ujung jalan. Dari tadi pusing sendiri sama kertas-kertasnya."
Pak Asep menoleh, setengah malu. "Mau daftar jadi tempat magang, Neng. Katanya usaha kecil bisa ikut program magang pemerintah, asal administrasinya rapi. Lah, administrasi saya begini. Jangankan rapi, nyari nota bulan lalu saja saya harus bongkar laci tiga kali."
Nadia memperhatikan tumpukan itu. Nota pembelian besi bercampur dengan bon utang pelanggan, kuitansi tanpa tanggal, dan catatan order yang ditulis di sobekan kardus. Bagi orang lain, itu sampah. Bagi Nadia, itu soal yang ia kerjakan tiga tahun di sekolah, hanya saja kali ini nyata.
"Boleh Nadia bantu pilah-pilah, Pak?" tanya Nadia. "Sambil nunggu HP penuh."
Pak Asep tertawa, lega. "Boleh banget, Neng. Daripada saya bengong di sini, order bengkel malah sepi karena pelanggan kabur lihat pembukuan saya berantakan."
Maka, sambil menunggu baterainya terisi, Nadia bekerja. Ia memisahkan nota pembelian, kuitansi pembayaran, dan bon piutang. Ia membuat tabel sederhana di selembar kertas: tanggal, keterangan, masuk, keluar. Tangannya yang biasa membungkus nasi uduk itu bergerak cepat dan teliti.
Satu jam berlalu tanpa terasa. Ketika Nadia selesai, tumpukan kertas yang tadi seperti sarang burung itu sudah berubah menjadi tiga map rapi.
"Ya Allah, Neng," kata Pak Asep, matanya berkaca-kaca. "Tiga tahun saya pusing sama kertas ini. Kamu selesaikan dalam satu jam sambil nunggu HP dicas."
Nadia hanya tersenyum. "Kebetulan saja, Pak. Ini memang yang Nadia pelajari di sekolah."
Ponselnya sudah penuh. Nadia kembali ke formulirnya, memeriksa sekali lagi, lalu menekan tombol kirim. Lamaran ke-48 resmi meluncur: posisi staf administrasi di sebuah perusahaan besar di Jakarta, lengkap dengan CV terbaik yang pernah ia buat.
Malam itu, Nadia bercerita pada ibunya sambil membantu melipat daun pisang untuk jualan esok pagi. "Sudah dikirim, Bu. Sekarang tinggal tunggu."
Bu Yanti mengusap punggung anaknya. "Apa pun hasilnya, Ibu bangga. Anak Ibu tidak pernah berhenti berusaha."
Keesokan paginya, balasan itu datang. Bukan kabar baik. Perusahaan Jakarta itu menolaknya, dengan kalimat sopan yang sudah hafal di luar kepala Nadia: "Terima kasih atas ketertarikan Anda, namun untuk saat ini..."
Nadia menatap layar ponselnya lama. Empat puluh delapan. Angka itu terasa berat, seperti beban yang ia pikul sejak lulus sekolah.
Siang itu, ketika ia sedang membantu ibunya menggoreng tempe untuk jualan sore, ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
"Nadia? Ini Pak Asep, dari bengkel las," suara di seberang terdengar bersemangat. "Neng, bengkel saya diterima jadi tempat magang! Berkasnya lolos karena pembukuannya sekarang rapi. Dan, Neng, saya daftarkan kamu jadi peserta magang administrasi di bengkel saya. Resmi, Neng. Kamu yang bantu saya, jadi kamu yang paling pantas."
Nadia terdiam. Sendok di tangannya berhenti di udara.
"Pak... serius?"
"Serius, Neng. Senin depan kamu mulai. Nanti saya ajari soal las, kamu yang pegang pembukuan. Gajinya dari program, ditambah uang makan dari saya. Deal?"
Nadia menutup telepon dengan tangan gemetar. Ia menoleh pada ibunya, yang menatapnya dengan cemas, lalu tersenyum lebar sampai air matanya jatuh ke tempe yang sedang digoreng.
"Bu, Nadia dapat magang. Bukan dari Jakarta. Dari bengkel Pak Asep."
Bu Yanti memeluk anaknya erat-erat. "Tuh kan, kata Ibu juga apa. Rezeki itu kayak jamu, Neng. Pahitnya di awal, sehatnya belakangan."
Seminggu kemudian, Nadia sudah duduk di meja kecil di sudut bengkel las Pak Asep, dengan laptop pinjaman dan tiga map rapi di sampingnya. Order bengkel mulai naik, karena pelanggan kini percaya pada usaha yang pembukuannya jelas. Pak Asep bahkan mulai berani menolak order yang merugikan, karena untuk pertama kalinya ia tahu persis berapa untungnya.
Sore itu, Bu Yanti datang membawakan nasi uduk untuk mereka berdua. Sambil makan, Nadia menatap buku catatan birunya. Di bawah daftar 47 tanda silang merah, ia menambahkan satu baris baru, dengan tinta biru yang tebal:
"Ke-48: Jakarta menolak. Bengkel Pak Asep menerima. Ternyata begitu."
Kadang, pintu yang kita ketuk empat puluh tujuh kali memang bukan pintu kita. Pintu kita adalah pintu yang kita bukakan untuk orang lain, tanpa pamrih, di warung kopi, di tengah hujan, sambil menunggu ponsel terisi daya. Dan dari pintu itulah, rezeki pulang dengan caranya sendiri.
TAMAT