β€Ή
1. Warung Tanpa Atap

Warung Tanpa Atap

Warung Tanpa Atap β€’ 1,129 kata

Sore itu, langit di atas Dusun Sumberjo, Jombang, berubah warna lebih cepat dari biasanya.

Sari baru saja menata ulang rak warung kelontongnya β€” minyak goreng di baris depan, mi instan di tengah, gula dan kopi di belakang β€” ketika gerimis berubah menjadi hujan deras. Bukan hujan biasa. Hujan itu datang bersama angin yang berputar, meraung seperti ada yang mengaduk udara di atas atap seng.

"Bu, gentengnya bunyi!" teriak Dimas, anaknya yang berumur dua belas tahun, dari dalam rumah.

Sari belum sempat menjawab ketika suara itu datang: kreeek, lalu braaak. Sebagian atap warungnya terangkat, melayang beberapa meter, lalu menghantam tanah di halaman depan. Air hujan langsung menerobos masuk, membasahi karung beras, kardus mi instan, dan toples kerupuk yang belum sempat ia pindahkan.

Sari berdiri mematung di ambang pintu, memegangi ujung dasternya yang basah. Warung itu bukan sekadar warung. Sejak suaminya, Bambang, merantau menjadi kuli proyek di Surabaya tiga tahun lalu dan hanya pulang sebulan sekali, warung inilah yang membayar uang sekolah Dimas, membayar listrik, dan menaruh lauk di meja makan mereka.

"Lekas masuk, Mas!" teriak Bu Lastri dari rumah sebelah, sambil melambaikan tangan. "Nanti ketiban seng!"

Sari menarik Dimas ke dalam rumah. Dari jendela, ia melihat atap tetangga juga bergoyang, pohon pisang di kebun belakang rebah, dan seng-seng beterbangan seperti layang-layang yang putus talinya. Lima belas menit β€” hanya lima belas menit β€” tapi rasanya seperti seumur hidup.

Begitu angin mereda, Sari keluar dengan kaki gemetar. Warungnya kini beratap langit. Air masih menetes dari sisa rangka kayu. Kardus-kardus basah menumpuk di lantai. Dimas jongkok di sudut, memunguti bungkus permen yang hanyut.

"Warung kita rusak, Bu," kata Dimas pelan. "Besok kita jualan apa?"

Sari tidak menjawab. Ia sedang menghitung dalam hati: uang tabungan di kaleng biskuit tinggal sedikit, kiriman Bambang bulan ini belum datang, dan tukang yang bisa memperbaiki atap tentu tidak murah. Malam ini saja, pikirnya, ia harus menutupi barang dagangan dengan terpal β€” kalau ada terpal.

Dari arah jalan, terdengar langkah tergesa. Yang datang pertama justru orang yang paling tidak ia duga: Pakde Karso.

Pakde Karso adalah tetangga yang sudah setahun tidak bertegur sapa dengannya. Awalnya hanya soal sepele: cabang pohon mangga Sari menjulur ke halaman Pakde Karso, buahnya jatuh dan mengotori terasnya. Dari soal mangga, merembet ke soal pagar, lalu ke diam yang berkepanjangan. Kalau berpapasan di jalan, mereka hanya saling mengangguk kaku.

Kini Pakde Karso berdiri di depan warung yang tanpa atap itu, membawa tangga bambu dan gulungan terpal biru di bahunya. Bajunya basah kuyup, sandalnya penuh lumpur.

"Sari," katanya, tanpa basa-basi, "terpal saya masih ada satu. Dipasang dulu malam ini, biar daganganmu tidak kehujanan lagi. Besok pagi kita pikir atapnya."

Sari menatapnya, tidak percaya. "Pakde... terima kasih. Tapi..."

"Sudah," potong Pakde Karso sambil menegakkan tangga. "Mangga itu urusan kecil. Ini urusan perut orang sekampung."

Belum selesai Pakde Karso memasang terpal, satu per satu tetangga berdatangan. Bu Lastri membawa rantang berisi sayur lodeh dan nasi hangat. "Buat makan malam kalian," katanya, "dapurmu pasti basah semua." Pak RT datang membawa senter dan daftar rumah yang rusak, mencatat warung Sari di urutan pertama. Dua pemuda karang taruna, Anto dan Bagas, datang membawa palu dan seng bekas dari gudang balai dusun.

"Ini seng sisa renovasi balai tahun lalu, Bu," kata Anto. "Masih bagus. Besok kita pasang bareng-bareng."

Dimas, yang sedari tadi diam, tiba-tiba berlari ke dalam rumah. Ia kembali membawa sebuah buku tulis bersampul batik yang sudah lusuh β€” buku catatan utang warung ibunya. Sari hendak mencegahnya, tapi Dimas sudah membukanya di hadapan para tetangga.

"Bu," kata Dimas, "kok banyak yang dicoret? Ini, tulisan Ibu: 'Pakde Karso β€” 2 bungkus kopi, lunas, dibayar doa.' Terus ini: 'Bu Lastri β€” minyak 1 liter, gratis, lagi susah.' Ini juga: 'Anto β€” rokok... eh, mi 3 bungkus, lunas, bantu angkat galon.'"

Suasana mendadak hening. Lalu Pakde Karso tertawa β€” tawa pertama yang Sari dengar darinya setelah setahun.

"Pantas saja," katanya, mengusap wajahnya yang basah entah oleh hujan atau oleh hal lain. "Waktu istri saya sakit tahun lalu dan saya tidak punya uang, warungmulah yang memberi kami beras tanpa banyak tanya. Saya kira kamu lupa. Ternyata kamu catat, lalu kamu coret sendiri."

Bu Lastri menimpali, matanya berkaca-kaca. "Saya juga. Waktu anak saya demam dan warung tutup semua, Sari yang membukakan pintu tengah malam dan memberi obat penurun panas. Katanya, 'bayar nanti saja.' Sampai sekarang saya belum bayar. Ternyata di buku ini sudah lunas."

Anto menggaruk kepalanya, malu-malu. "Saya yang sering ngutang mi instan waktu masih nganggur itu, ya, Bu? Saya kira Ibu diam-diam kesal."

Sari menggeleng, air matanya akhirnya jatuh juga. "Saya tidak pernah menganggap itu utang," katanya pelan. "Tetangga susah itu ya dibantu. Kalau dicatat, cuma supaya saya ingat siapa saja yang pernah saya tolong β€” bukan supaya saya tagih."

Malam itu, di bawah terpal biru Pakde Karso, warung tanpa atap itu justru menjadi tempat paling hangat di dusun. Warga makan lodeh Bu Lastri bersama-sama, berbagi senter, dan menyusun rencana: besok pagi, selepas subuh, semua laki-laki akan bergotong royong memasang atap. Seng sumbangan dari balai dusun, paku dari toko bangunan Pak Haji yang katanya "bayar nanti saja", dan tenaga dari siapa saja yang bisa memegang palu.

Keesokan paginya, Sari bangun oleh suara palu yang bertalu-talu. Di atas warungnya, Pakde Karso dan Anto sudah bekerja sejak pukul enam, dibantu Bagas dan beberapa bapak lainnya. Bu Lastri dan ibu-ibu datang membawa teh manis dan singkong rebus untuk para pekerja. Dimas ikut memegangi tangga, dengan wajah bangga yang belum pernah Sari lihat sebelumnya.

Menjelang zuhur, atap baru itu selesai. Warnanya tidak seragam β€” ada seng baru, ada seng bekas balai dusun, ada satu lembar seng berwarna hijau yang entah dari mana asalnya. Dari kejauhan, atap warung Sari tampak seperti tambal sulam warna-warni. Tidak mewah. Tapi kokoh.

Sari membuka warungnya kembali sore itu. Pembeli pertama adalah Pakde Karso. Ia membeli dua bungkus kopi β€” dan kali ini, ia membayar tunai, meletakkan uangnya dengan sengaja di atas meja.

"Ini lunas betulan," katanya sambil tersenyum. "Yang dulu, biarlah jadi cerita. Yang sekarang, kita mulai dari awal. Mangga itu, kalau jatuh ke halaman saya, saya antar balik ke sini. Buat rujak."

Sari tertawa, untuk pertama kalinya sejak badai kemarin. Dimas menempelkan selembar kertas di dinding warung, di samping buku catatan ibunya. Di kertas itu, dengan tulisan tangannya yang masih miring-miring, ia menulis:

"Warung ini atapnya pernah terbang. Tapi tetangga kami tidak pernah pergi."

Di luar, langit Jombang kembali cerah. Angin sore berembus pelan, seolah meminta maaf atas kelakuannya kemarin. Dan di dusun kecil itu, orang-orang kembali percaya pada satu hal sederhana: atap bisa diterbangkan badai, tapi kebaikan yang ditanam diam-diam β€” tanpa ditagih, tanpa diungkit β€” akan pulang dengan sendirinya, tepat pada saat paling dibutuhkan.

TAMAT

Bagikan
β€Ή Sebelumnya Selesai βœ“
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!