Panggilan Tengah Malam
Suara dari Sumur Tua • 242 kata
Rian terbangun oleh suara yang aneh. Jam di dinding menunjukkan pukul 00:17.
Awalnya ia mengira itu angin. Tapi kemudian suara itu terdengar lagi — jelas, pelan, dan mengerikan:
"Riaaan... Rian..."
Suara itu berasal dari belakang rumah. Dari arah sumur tua.
Jantung Rian berdegup kencang. Ia bangkit dari kasur lipat, berjalan mengendap ke jendela dapur, dan mengintip keluar.
Bulan purnama menerangi halaman belakang dengan cahaya keperakan. Sumur tua berdiri diam di tengah halaman. Tidak ada siapa pun di sana.
"Rian... turunlah... dingin sekali di sini..."
Suara itu terdengar lagi — kali ini lebih jelas. Suara seorang anak kecil.
Tangan Rian gemetar. Ia teringat pesan neneknya: jangan jawab kalau ada yang memanggil namamu.
Dengan napas tertahan, ia mundur dari jendela dan kembali ke kamar. Ia menutup pintu rapat-rapat, menarik selimut hingga ke kepala, dan mencoba tidur.
Tapi suara itu terus memanggil, semakin lama semakin pilu, hingga menjelang subuh akhirnya berhenti.
Pagi harinya, dengan kantong mata yang menghitam, Rian memutuskan untuk mencari tahu. Ia pergi ke rumah Pak Lurah, satu-satunya tetangga terdekat.
"Pak, Bapak pernah dengar suara aneh dari sumur tua di rumah nenek saya?"
Wajah Pak Lurah langsung berubah tegang. "Kamu... dengar semalam?"
Rian mengangguk.
Pak Lurah menghela napas panjang. "Duduklah, Nak. Ada cerita yang harus kamu tahu. Tentang adikmu."
"Adik? Saya anak tunggal, Pak."
"Ibumu pernah hamil sebelum kamu lahir. Anak itu... tidak selamat. Nenekmu yang mengurus semuanya. Dan sumur itu—" Pak Lurah berhenti, menatap Rian lekat-lekat. "—sumur itu tempat ibumu membuang sesuatu, malam setelah pemakaman."