Yang Terkubur
Suara dari Sumur Tua β’ 263 kata
Rian pulang dengan pikiran kacau. Cerita Pak Lurah terasa tidak masuk akal, tapi menjelaskan banyak hal: kenapa ibunya tidak pernah mau membahas masa lalu, kenapa nenek selalu melarangnya dekat-dekat sumur.
Malam itu, ia tidak bisa tidur. Pukul 00:17 tepat, suara itu datang lagi.
"Kakak... aku kedinginan... tolong aku..."
Kali ini Rian tidak bersembunyi. Ia bangkit, mengambil senter, dan berjalan ke halaman belakang. Pesan nenek terngiang di kepalanya, tapi rasa penasaran β dan rasa bersalah yang tidak ia mengerti β lebih kuat.
Ia berdiri di bibir sumur dan menyorotkan senter ke dalam. Gelap. Hanya gelap yang pekat, seolah cahaya ditelan.
"Siapa kamu?" tanya Rian, suaranya bergetar.
Hening sejenak. Lalu:
"Aku adikmu, Kak. Mereka membuangku ke sini. Dingin sekali... sudah lama sekali..."
Air mata Rian mengalir tanpa ia sadari. "Aku tidak tahu. Sumpah, aku tidak tahu."
"Aku tahu. Kamu tidak salah. Tapi tolong... keluarkan aku dari sini. Aku ingin dikubur dengan layak, di samping nenek."
Rian mengangguk, terisak. "Aku janji."
Keesokan paginya, Rian menelepon polisi dan Pak Lurah. Penggalian sumur tua itu menemukan tulang-belulang bayi yang terbungkus kain kafan lusuh.
Pemakaman dilakukan sederhana di samping makam nenek. Rian memberi nama pada nisan kecil itu: "Adikku β yang akhirnya pulang."
Malam setelah pemakaman, Rian duduk di teras hingga lewat tengah malam. Pukul 00:17 berlalu dalam keheningan total.
Tidak ada lagi suara memanggil. Hanya jangkrik dan angin malam.
Sebelum berangkat kembali ke kota keesokan harinya, Rian menabur bunga di atas sumur tua yang kini telah ditutup permanen dengan cor semen.
"Tidurlah yang tenang, Dik," bisiknya. "Kakak akan selalu mengingatmu."
Dan untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ia merasa rumah neneknya benar-benar damai.