Pulang
Suara dari Sumur Tua β’ 211 kata
Bus berhenti di ujung jalan desa tepat pukul empat sore. Rian turun dengan ransel besar di punggung, menatap jalan setapak yang sudah belasan tahun tidak ia injak.
Rumah neneknya masih sama: cat hijau yang mengelupas, pagar bambu yang miring, dan pohon mangga besar di halaman depan. Tapi ada yang berbeda β rumah itu terasa lebih sunyi, lebih tua, seolah waktu berjalan lebih cepat di sini.
"Nek?" panggil Rian sambil mendorong pintu yang tidak dikunci.
Tidak ada jawaban. Neneknya meninggal tiga bulan lalu, dan Rian baru sempat pulang sekarang untuk mengurus warisan. Rumah ini β beserta semua kenangannya β kini menjadi miliknya.
Ia meletakkan ransel di ruang tengah dan berjalan ke dapur. Semuanya berdebu. Di meja, ada secarik kertas dengan tulisan tangan nenek yang masih ia kenali:
"Jangan dekati sumur setelah magrib. Jangan jawab kalau ada yang memanggil namamu. β Nenek"
Rian mengernyit. Sumur tua di belakang rumah itu sudah tidak dipakai sejak ia kecil. Ayahnya pernah bilang sumur itu ditutup karena airnya kering.
Ia mengintip dari jendela dapur. Sumur itu masih di sana β lingkaran batu berlumut dengan atap kayu yang lapuk. Tampak biasa saja di bawah cahaya sore.
Rian mengangkat bahu dan kembali membereskan barang. Pesan nenek itu ia anggap sekadar mitos orang tua.
Ia belum tahu bahwa malam ini, ia akan menyesali anggapan itu.