Amplop Cokelat
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,680 kata
Pukul tujuh tepat, bel rumah Ibu berbunyi.
Aku tahu siapa yang datang sebelum Ibu sempat beranjak dari kursinya. Paman Darman. "Mampir malam ini untuk ngobrolin langkah selanjutnya," katanya di telepon sore tadi. Langkah selanjutnya. Langkah siapa?
Ibu membukakan pintu dengan wajah berseri. "Darman! Masuk, masuk. Pas banget, Ibu lagi angetin sayur lodeh."
Paman Darman masuk sambil menenteng kantong plastik berisi jeruk β buah kesukaanku sejak kecil, dan ia masih ingat. Tangannya yang dulu kuat mengangkatku ke atas sepeda kini terlihat lebih kurus, urat-uratnya menonjol. Ia memeluk Ibu lama, menepuk bahuku, mengangguk pada Bimo dan Yudi yang duduk di ruang tamu dengan laptop masih terbuka dan wajah masih tegang sisa sidang tadi pagi.
"Gimana sidang tadi?" tanyanya sambil duduk di kursi rotan.
Aku menatapnya. Mencoba membaca wajah yang sudah kukenal dua puluh tiga tahun. Orang yang mengajariku naik sepeda di gang sempit waktu aku umur tujuh β ia berlari di belakangku sambil memegangi sadel, lalu melepas diam-diam dan berteriak bangga waktu aku melaju sendiri. Orang yang kemarin menangis memelukku di ruang tunggu tahanan sampai kemejanya basah oleh air mataku juga. Orang yang β menurut foto dari Nadia sore ini β berjabat tangan dengan pengacara Hendra di parkiran pusat penahanan, sambil menerima amplop cokelat.
"Jaminannya dikabulkan," kata Yudi datar, tidak menatap Darman. "Hendra bebas."
"Innalillahi." Darman menggeleng pelan, wajahnya tampak terpukul. "Padahal buktinya sudah kuat... Klausul asli itu..."
Terlalu terpukul? Atau pas? Aku benci diriku sendiri karena sudah mulai menghitung-hitung ekspresi pamanku sendiri, seperti sedang menginterogasi orang asing.
Makan malam berlangsung seperti biasa β atau setidaknya terlihat biasa. Ibu bercerita soal tetangga sebelah yang kucingnya melahirkan lima anak, Darman menimpali dengan guyonan-guyonan lama yang dulu selalu membuatku tertawa. Bimo makan dalam diam, sesekali melirikku dengan tatapan bertanya: kamu kenapa? Hanya aku yang tidak bisa menelan dengan benar. Setiap kali Darman tertawa, aku melihat foto itu. Jabat tangan itu. Amplop itu. Setiap kali ia menyendokkan sayur ke piringku β kebiasaannya sejak aku kecil β tanganku ingin menepis.
Selesai makan, aku berdiri tiba-tiba. "Paman, bisa ngobrol sebentar? Di teras belakang. Berdua aja."
Ibu menatapku heran. Bimo mengangkat alis. Tapi Darman mengangguk santai sambil mengelap mulutnya. "Boleh. Kebetulan Paman juga ada yang mau diomongin."
Teras belakang rumah Ibu sempit, hanya muat dua kursi plastik dan jemuran bambu. Lampu neon kecil menyala kekuningan, dikerubungi ngengat. Dari sini terdengar suara televisi tetangga yang memutar sinetron, dan jangkrik β bunyi-bunyian normal dari sebuah dunia yang tidak tahu bahwa duniaku sedang runtuh berkeping-keping.
Aku tidak berputar-putar. Aku mengeluarkan ponsel, membuka foto dari Nadia, memperbesarnya, dan menyodorkannya ke depan wajahnya.
"Paman bisa jelasin ini?"
Darman menatap layar itu. Lama. Terlalu lama untuk orang yang tidak bersalah, terlalu gemetar untuk orang yang sudah menyiapkan kebohongan. Wajahnya berubah β seperti topeng retak.
"Dari mana kamu dapat foto ini, Ran?"
"Itu nggak penting." Suaraku bergetar, dan aku membenci getaran itu. "Yang penting: itu Paman, kan? Itu pengacara Hendra, kan? Dan itu amplop cokelat yang pindah tangan. Paman terima sesuatu dari dia."
Ia menghela napas panjang β napas orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu β lalu duduk di kursi plastik dan menatap tangannya sendiri yang saling meremas.
"Ran... Paman bisa jelasin. Kasih Paman kesempatan."
"Ya. Itu yang Paman bilang mau diobrolin, kan? Langkah selanjutnya." Aku duduk menghadapnya, lutut kami hampir bersentuhan. "Langkah selanjutnya buat siapa, Paman? Buat kita, atau buat Hendra?"
Ia memejamkan mata. Saat membukanya lagi, ada air di sana yang berkilau di bawah lampu neon.
"Dua hari lalu, pengacara itu menelepon Paman." Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara jangkrik. "Kamu tahu usaha percetakan Paman... sudah dua puluh tahun Paman bangun dari nol, dari satu mesin bekas. Klien terbesar Paman β tujuh puluh persen omzet β itu PT Wijaya Logistik. Anak perusahaannya Hendra. Kontraknya diperpanjang tiap tahun, dan tahun ini perpanjangannya bulan depan."
Perutku mual. Aku sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini, dan aku tidak mau menebaknya.
"Dia bilang," lanjut Darman, suaranya pecah, "kalau Paman mau kontrak itu lanjut β dan kalau Paman mau anak Paman yang kerja di bank itu tetap punya pekerjaan β Paman harus 'membantu sedikit'."
"Membantu apa, Paman?" bisikku.
"Kemarin Paman ke parkiran itu bukan buat mengkhianati kamu, Ran. Demi Allah, bukan." Ia menatapku dengan mata merah. "Paman ke sana buat mohon. Paman bilang ke dia: tolong, jangan libatkan Rania, dia masih muda, dia anak kakak saya. Ambil apa pun dari saya β kontrak, uang, apa pun β tapi jangan anak itu."
"Terus?"
"Dia ketawa, Ran. Dia ketawa seperti Paman ini badut." Darman mengusap wajahnya dengan kasar. "Terus dia menyodorkan amplop itu. Dia bilang, ini bukan uang suap. Ini 'tugas'. Kalau Paman kerjakan, kontrak aman, anak Paman aman."
"Dan Paman terima."
"Paman pengecut, Ran." Air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput. "Paman terima amplop itu dan Paman bawa pulang. Tapi demi Allah β Paman tidak membukanya. Paman taruh di laci meja kerja dan Paman tidak berani menyentuhnya lagi. Karena Paman tahu, sekali Paman buka, Paman sudah jadi milik mereka."
Aku menatapnya. Air mata itu terlihat asli. Rasa bersalah itu terlihat asli. Tapi foto itu juga nyata, dan jabat tangan itu juga nyata, dan aku sudah terlalu sering dibohongi minggu ini untuk percaya pada air mata saja.
"Amplopnya di mana sekarang?"
"Di mobil Paman. Di dashboard."
"Ambil. Sekarang."
Ia menatapku, ragu. "Ranβ"
"AMBIL, Paman."
Ia pergi dengan langkah gontai seperti orang tua yang tiba-tiba menua sepuluh tahun. Aku memanggil Bimo dan Yudi ke teras dengan pesan singkat. Tiga menit kemudian Darman kembali dengan amplop cokelat itu β polos, tanpa tulisan apa pun, segelnya masih utuh. Masih utuh. Setidaknya itu benar.
Yudi mengambilnya dengan ujung sapu tangan β "sidik jari," gumamnya β dan membukanya dengan hati-hati di bawah lampu neon.
Di dalamnya: sebuah ponsel murah, persis seperti ponsel murah yang ada di tas Nadia kemarin. Dan selembar kertas terlipat dua.
Yudi membuka kertas itu. Sebuah alamat di kawasan pergudangan di Jakarta Utara, dan satu baris tulisan tangan yang dingin: "Besok jam 8 pagi. Sendiri."
Lalu ia menyalakan ponsel murah itu. Baterainya masih setengah. Satu file rekaman suara, belum pernah diputar. Yudi menekan play β dan suara yang keluar membuat darahku berhenti mengalir.
Hendra Wijaya. Santai. Seperti sedang memesan kopi di kafe.
"Darman. Besok jam delapan pagi, buku catatan hitam itu sudah ada di meja alamat ini. Kamu tahu buku yang mana β yang diambil anak itu dari Box 7. Kalau jam delapan lewat lima bukunya belum ada..." jeda singkat, lalu tawa kecil yang kukenal dari file audio kemarin, "kontrak percetakanmu mati hari itu juga. Dan anakmu yang di bank itu β aku bisa bikin dia dipecat sebelum akhir bulan. Kamu punya dua belas jam. Jangan kecewakan aku."
Rekaman berakhir. Sunyi. Hanya suara jangkrik yang tiba-tiba terdengar sangat keras, dan napas Darman yang tersengal.
"Dia tahu soal buku catatan itu," bisik Bimo, wajahnya pucat. "Gimana dia bisa tahu? Cuma kita berlima yang tahu isi Box 7."
"Lima?" Darman mengangkat wajahnya yang basah. "Ran... siapa yang kasih tahu kalian soal Box 7?"
"Nadia," kataku pelan. "Nadia Rahma."
Darman terdiam cukup lama. "Dan dari mana Nadia tahu semuanya? Dari mana dia tahu kalian butuh box itu, tahu kapan tasnya harus 'jatuh', tahu semuanya selangkah di depan?"
Pertanyaan itu menghantamku seperti tamparan. Dari mana Nadia tahu semuanya? Kenapa dia selalu selangkah di depan β bahkan di depan Hendra? Aku tidak punya jawabannya, dan untuk pertama kalinya, pertanyaan itu menakutkanku lebih dari apa pun yang dilakukan Hendra.
"Paman," potongku, "itu kita bahas nanti. Sekarang yang penting: Paman tidak akan ke sana besok pagi."
"Tapi kontrak Paman... anak Paman..." suaranya seperti anak kecil.
"Kalau Paman serahkan buku itu, Hendra menang. Dan Paman tahu itu." Aku menggenggam tangannya β tangan kasar yang dulu memegangi sadel sepedaku. "Paman yang ngajarin aku waktu kecil: kalau jatuh, berdiri lagi, sepedanya dinaikin lagi. Jangan kasih sepedanya ke orang yang nabrak kita."
Ia menangis. Benar-benar menangis, bahunya terguncang hebat. "Maafin Paman, Ran. Maafin Paman yang pengecut ini."
Yudi sudah menelepon seseorang sejak tadi. Ia menutup telepon dan menatap kami dengan wajah serius. "Komisaris Ratna. Besok jam setengah tujuh pagi, kita semua ke kantornya. Bawa ponsel ini, bawa amplopnya, jangan disentuh lagi. Ini bukti pemerasan β ancamannya jelas, tenggatnya jelas. Pasal berlapis buat mereka."
"Tapi bukunya?" tanya Bimo cemas. "Kalau kita nggak kasih, mereka benar-benar ngincer Paman Darman dan keluarganya."
Yudi mengaktifkan pengeras suara β ternyata Ratna belum menutup telepon. Suara mantapnya memenuhi teras kecil itu: "Bukunya jangan diserahkan, Nak Rania. Dan dengar saya: baca buku itu malam ini. Kalau Hendra segitunya menginginkan buku itu sampai mengancam keluarga, isinya pasti tentang dia. Mungkin isinya lebih berbahaya buat dia daripada klausul itu. Saya tunggu kalian jam setengah tujuh."
Telepon ditutup.
Darman pulang jam sembilan lewat, dipeluk Ibu di pintu tanpa tahu apa yang baru saja terjadi di teras belakang. Aku menatap punggungnya yang berjalan ke mobil β punggung yang dulu kuat mengangkatku ke atas sepeda, kini membungkuk β dan dadaku sesak seperti diremas.
Aku tidak tahu apakah aku baru saja memaafkan pengkhianat atau menghukum korban. Mungkin keduanya.
Malam itu, setelah Ibu tidur, aku duduk di kamarku dengan buku catatan hitam dari Box 7 di pangkuanku. Bimo duduk di lantai bersandar ke sisi tempat tidur, menggenggam tanganku tanpa bicara. Yudi di kursi dengan laptop dan kamera ponsel, siap memotret setiap halaman sebelum kami membacanya β "buat cadangan," katanya, "kalau terjadi apa-apa sama buku aslinya."
Buku itu usang. Sampul kulitnya mengelupas di sudut-sudut. Baunya seperti lemari tua yang lama tidak dibuka. Ada sesuatu yang berat tentang memegangnya β seperti memegang hati seseorang yang sudah lama berhenti berdetak.
Aku membukanya perlahan.
Halaman pertama. Tulisan tangan perempuan yang rapi, tegas, dengan tinta yang mulai memudar. Dan kalimat pertama yang membuat duniaku berhenti berputar:
"Hari pertama aku menjadi Nyonya Hendra Wijaya."