β€Ή
25. Harga Sebuah Kebenaran

Harga Sebuah Kebenaran

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,384 kata

Ilustrasi Harga Sebuah Kebenaran

Dunia berhenti berputar tepat pukul 07.59.

"IBU!" Jeritanku menggema di dalam mobil komando. Aku meronta, tanganku sudah meraih gagang pintu β€” dan tangan Komisaris Ratna mencengkeram lenganku dengan kekuatan yang mengejutkanku.

"DENGARKAN AKU, RANIA!" Wajahnya hanya beberapa senti dari wajahku. "Kalau kamu keluar sekarang, kamu membunuh ibumu! Duduk!"

Aku membeku. Air mata mengalir deras, tapi aku duduk kembali.

Di monitor, Ayah masih duduk di bangku taman, ponsel menempel di telinganya. Anak muda itu β€” Fajar, begitu Arif memanggilnya β€” berdiri kaku di depannya.

"Tenang, Pak Darman," kata Arif di seberang telepon. Suaranya kini terdengar puas. "Ibumu baik-baik saja. Untuk sekarang."

"Jangan sentuh dia," suara Ayah bergetar. "Kumohon."

"Oh, aku tidak akan menyentuhnya. Aku hanya ingin bertukar." Arif berhenti sejenak. "Gudang tua di Cikarang. Di atas tanah yang kalian rampas dari ayahku. Satu jam dari sekarang. Rania yang membawa buku yang asli." Penekanannya jelas dan dingin. "Sendiri. Kamu yang menulis surat itu, kan, Rania? 'Sampai jumpa di pengadilan.'" Ia tertawa. "Baik. Kita bertemu. Tapi pengadilannya... versiku."

Sambungan terputus.

Hening. Lalu semua orang bicara bersamaan.

Ratna mengangkat tangannya. "DIAM!" Ia menatapku. "Kita ikuti permainannya. Tapi dengan aturan kita." Ia menoleh ke anggotanya. "Siapkan pelacak GPS terkecil yang kita punya. Jahit ke dalam tas. Buku yang asli dibawa β€” itu harga yang harus dibayar untuk nyawa Ibu Rania." Ia menatap Ayah di monitor. "Tim bersenjata mengepung gudang dari radius lima ratus meter. Tidak ada yang bergerak sampai ada sinyal."

"Sinyalnya?" tanya Yudi dari radio mobil kedua.

Ratna menatapku. "Rania menjatuhkan tasnya. Itu tandanya."

Aku mengangguk, meski lututku gemetar hebat.

"Aku yang pergi," kata Ayah tiba-tiba. Melalui pengeras suara, suaranya terdengar putus asa. "Bukan Rania. Aku ayahnya. Biar akuβ€”"

"Tidak, Yah." Aku menatap monitor, menatap wajah ayahku. "Dia menginginkan aku atau Ayah. Kalau Ayah pergi dan terjadi sesuatu..." Suaraku pecah. "Aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri."

"Aku ikut," kata Bimo dari radio. Suaranya datar dan final.

"Dia bilang sendiri, Bimo."

"Aku tidak akan membiarkanmu masuk ke sana tanpaβ€”"

Aku memotongnya, lembut. "Percayalah padaku. Seperti aku percaya padamu tadi malam, waktu kamu bilang lima belas menit."

Hening di radio. Lalu: "...di mobil komando. Aku tidak masuk, tapi aku sedekat mungkin. Itu tawar-menawarku yang terakhir."

Aku tersenyum di tengah air mata. "Kesepakatan."

Yudi meluncur dengan motornya ke rumah kami untuk mengambil buku kas itu dari brankas β€” Ayah membisikkan kodenya melalui radio dengan suara bergetar. Sementara itu, Reza β€” yang datang menyusul ke taman β€” menyerahkan map cokelatnya padaku.

"Bawa ini," katanya. "Salinan aktanya. Kalau dia mau membakar buku itu..." Ia menatapku dalam-dalam. "Tunjukkan ini dulu. Kebenaran tidak bisa dibakar, Rania."

Aku menerima map itu dengan tangan gemetar. "Reza..."

"Jangan." Ia menggeleng pelan. "Nanti saja. Sekarang selamatkan ibumu."

Lalu ia berbalik ke Bimo β€” dan melakukan hal yang tidak pernah kuduga. Ia mengulurkan tangannya.

"Jaga dia," kata Reza.

Bimo menjabat tangan itu erat. "Dengan nyawaku."

Aku memejamkan mata. Untuk sesaat, di tengah teror ini, hatiku terasa penuh β€” untuk laki-laki baik yang kulepaskan, dan laki-laki yang kupilih.

Pukul 09.20 aku berdiri di depan gudang tua itu.

Gudang itu besar dan reyot, seng atapnya berkarat, dikelilingi ilalang setinggi lutut. Di kejauhan, hamparan tanah kosong β€” tanah Cikarang yang menjadi awal dari semua ini. Tiga puluh tahun lalu kakekku membelinya dengan sah. Hari ini, aku berdiri di atasnya dengan buku itu di dalam tasku, dan alat pelacak GPS dijahit di lapisan dalam tas.

"Ingat," suara Ratna di earpiece mungilku. "Tenang. Kami bersamamu."

Aku melangkah masuk.

Bau debu dan oli tua menyambutku. Cahaya pagi menembus celah-celah atap, menciptakan garis-garis terang di lantai semen yang kotor. Dan di tengah gudang itu, di bawah salah satu garis cahaya, duduk Ibuku β€” di sebuah kursi kayu, kedua tangannya terikat tali di belakang sandaran.

Tapi punggungnya tegak. Dagunya terangkat. Matanya β€” mataku β€” menatapku dengan tenang.

"Ibu tidak apa-apa, Nak," katanya sebelum aku sempat bersuara. "Jangan takut. Ibu tidak takut."

Air mataku hampir tumpah, tapi aku menahannya. Tidak sekarang.

"RANIA."

Aku menoleh. Dari balik tumpukan peti kayu, melangkah keluar seorang laki-laki berusia akhir empat puluhan β€” kurus, mata cekung, dan sepasang mata yang... aku mengenalinya. Mata Nadia.

Arif.

Di belakangnya, anak muda dari taman tadi β€” Fajar β€” berdiri dengan wajah pucat. Tangannya kosong. Dia hanya berdiri di sana, ketakutan.

"Bukunya," kata Arif, mengulurkan tangan. "Sekarang."

Aku tidak bergerak. "Lepaskan ibuku dulu."

Arif tersenyum tipis. "Kamu tidak dalam posisi menawar, Nak."

"Dan kamu tidak dalam posisi membakar kebenaran." Aku mengeluarkan map cokelat Reza dari tasku. "Sebelum kamu membakar buku itu, dengarkan aku dulu. Lima menit. Itu saja yang kuminta."

Arif mengernyit. "Apa itu?"

"Akta jual beli tanah Cikarang. Tahun 1994." Aku membukanya, tanganku gemetar tapi suaraku tidak. "Dibuat di hadapan notaris. Penjual: Wirat bin Sastrowiryo β€” ayahmu. Pembeli: kakekku." Aku menatapnya. "Sah. Lunas. Disaksikan. Ayahmu tidak dirampas, Arif. Ayahmu menjualnya sendiri."

"BOHONG!" Arif meraung, suaranya menggema di gudang kosong itu. "Ayahku tidak mungkin berbohong! Diaβ€”"

"Uangnya habis di meja judi dalam dua tahun!" Aku berteriak balik. "Itu yang ditulisnya sendiri! Di surat-suratnya! Kamu mau baca? Kakakmu menyimpannya!"

Fajar menoleh ke ayahnya, wajahnya pias. "Ayah... benarkah? Kakek... berbohong?"

"Diam!" bentak Arif, tapi suaranya bergetar. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang kakekmu!"

"ARIF! CUKUP!"

Suara perempuan itu membelah gudang seperti petir.

Nadia berdiri di pintu gudang β€” napasnya tersengal, rambut sanggulnya terurai berantakan, dan di tangannya tergenggam map plastik kusam yang kukenal.

"Kak..." Arif terpaku. "Bagaimana kamuβ€”"

"Aku memasang pelacak di ponselmu tiga bulan lalu." Nadia melangkah masuk, tidak takut sedikit pun. "Aku tahu kamu akan membawanya ke sini. Ke tanah ini." Ia menatap adiknya dengan air mata mengalir. "Arif. Dengarkan aku untuk terakhir kalinya. Ayah yang berbohong. Bukan mereka."

Ia mengangkat map itu tinggi-tinggi. "Ini surat-surat ayah. Tulisan tangannya sendiri. 'Maafkan aku, anak-anakku. Aku menjual tanah itu untuk menutupi utang judiku. Aku terlalu malu untuk mengakuinya.'"

"Berikan padakuβ€”" Arif melangkah maju.

"TIDAK!" Nadia mundur selangkah. "Dua belas tahun, Arif! Dua belas tahun kamu membenci orang yang salah! Dua belas tahun kamu meracuni anakmu dengan kebohongan yang sama!" Ia menatap Fajar. "Dan kamu hampir membuat ayahmu menjadi pembunuh!"

Arif berhenti. Bahunya yang tadi tegap kini merosot. Ia menatap kakaknya, lalu menatapku, lalu menatap putranya yang menangis diam-diam.

"Dua belas tahun..." bisiknya. Suaranya hancur. "Aku membenci... orang yang salah..."

Ia jatuh berlutut di lantai gudang yang kotor.

Saat itulah aku menjatuhkan tasku.

"POLISI! JANGAN BERGERAK!"

Gudang itu meledak dalam cahaya dan suara. Tim bersenjata menyerbu dari semua pintu. Arif tidak melawan β€” ia tetap berlutut, menangis seperti anak kecil. Fajar mengangkat kedua tangannya, terisak.

Aku berlari ke Ibu. Tanganku gemetar membuka ikatan tali itu, dan begitu bebas, Ibu langsung memelukku erat.

"Kamu berani sekali, Nak," bisiknya di rambutku. "Ibu bangga padamu."

Dari earpiece-ku, suara Ratna: "Briptu Hendra sudah diamankan di kantor. Operasi selesai."

Ayah tiba lima menit kemudian bersama mobil polisi. Ia berlari ke kami β€” ke aku dan Ibu β€” dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat ayahku menangis tanpa malu di depan banyak orang.

Nadia berdiri di sudut gudang, memeluk Fajar yang masih terisak. Ratna mendekatinya β€” dan aku menahan napas. Tapi Ratna hanya berkata pelan: "Dia masih sembilan belas tahun. Dia masih bisa diselamatkan. Bantu kami, dan kami bantu dia."

Nadia mengangguk sambil menangis. Lalu ia menatapku dari kejauhan, dan mengangguk sekali lagi β€” terima kasih yang tidak terucapkan.

Sore itu, di kantor polisi yang mulai sepi, Reza menghampiriku.

Ia tampak lelah, tapi ada ketenangan baru di wajahnya. "Malam ini aku bicara dengan ayahku," katanya. "Pertunangan ini..." Ia berhenti, menatap Bimo yang berdiri beberapa langkah di belakangku β€” yang kali ini tidak bersembunyi. "Aku yang akan mengakhirinya. Dengan hormat. Tanpa aib untuk siapa pun."

Air mataku jatuh. "Reza... akuβ€”"

"Jangan minta maaf." Ia tersenyum β€” senyum yang tulus, untuk pertama kalinya tanpa bayang-bayang. "Kamu tidak pernah berjanji apa-apa padaku, Rania. Janji itu dibuat oleh ayah-ayah kita." Ia mengulurkan tangan ke Bimo. "Kali ini resmi."

Bimo menjabatnya. Dan aku β€” aku menggenggam tangan Bimo, di depan semua orang, tanpa sembunyi-sembunyi lagi.

Malam itu, di rumah yang akhirnya sunyi, aku membuka kotak kayu Nadia sekali lagi.

Fotokopian halaman-halaman buku kas itu masih ada. Surat-surat Pak Wirat masih ada. Dan di balik semuanya β€” terselip, hampir tidak terlihat β€” ada selembar kertas terlipat yang belum pernah kulihat.

Bukan fotokopian. Kertas asli. Tua. Dengan tulisan tangan yang kukenal dari buku kas kakek.

"Halaman 47."

Di bawahnya, dengan tinta yang sudah kecokelatan, tertulis:

"Untuk cucuku β€” jika kamu membaca ini, berarti aku gagal melindungimu dari kebenaran."

Jantungku berhenti berdetak.

Ponselku bergetar. Nomor tak dikenal.

"Halaman 47 bukan milikmu. Kembalikan. β€” A."

Aku menatap layar itu lama sekali, darahku membeku.

Tapi Arif... ada di tahanan.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!