β€Ή
88. Mencari Paman Raka

Mencari Paman Raka

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,454 kata

Ilustrasi Mencari Paman Raka

Kalimat Pak Darmawan itu menggantung di udara seperti asap yang tidak mau hilang. Ia sudah menemukan Raka lebih dulu. Aku mengulang kalimat itu dalam hati, mencoba memahami apa maksudnya. Siapa orang itu? Bagaimana ia bisa menemukan pamanku, padahal kami, keluarganya sendiri, bahkan tidak tahu di mana paman itu berada? Dan apa yang ia katakan kepada Raka, sebelum kami sempat menyerahkan surat ibuku?

"Pak Darmawan," kata Ratna, suaranya tetap tenang meskipun aku bisa melihat tangannya meremas ujung kertas draf itu, "tanyakan padanya, siapa dia, dan apa yang ia katakan kepada Raka. Jangan biarkan ia menutup telepon sebelum kita tahu."

Tetapi Pak Darmawan menggeleng pelan sambil menurunkan ponselnya. "Ia sudah menutup teleponnya," katanya. "Seperti pagi ini, ia hanya menyampaikan satu kalimat, lalu menghilang. Ia tidak mau berdialog. Ia hanya ingin kita tahu bahwa ia sudah lebih dulu."

Harun berdiri, berjalan mondar-mandir di ruangan yang mendadak terasa terlalu kecil. "Ini bukan kebetulan," katanya. "Seseorang tahu kita membuka dokumen pagi ini, seseorang menelepon Pak Darmawan, dan seseorang itu juga sudah menghubungi Raka. Ada pihak yang mengikuti setiap langkah kita, dan ia bergerak lebih cepat dari kita. Kita harus bergerak lebih cepat lagi, sebelum cerita tentang pembatalan ini sampai kepada Raka dalam versi yang salah."

Aku menatap amplop kecil di atas meja, amplop dengan tulisan tangan ibuku, Untuk Raka. Surat itu masih tersegel, dan tiba-tiba aku merasa, surat itulah satu-satunya hal yang masih murni di antara semua kabar yang berseliweran pagi ini. Semua orang bisa menelepon, semua orang bisa bercerita dengan versinya masing-masing, tetapi surat ibuku tidak bisa diputarbalikkan, karena ia tertulis dengan tangannya sendiri, dan hanya Raka yang boleh membukanya. "Kita harus menemukan Paman Raka," kataku, dan suaraku kali ini tidak gemetar sama sekali. "Sebelum siapa pun sempat menceritakan versi yang salah padanya, kita harus datang sendiri, membawa surat ini, dan membiarkan ia membaca warkah ibuku dengan matanya sendiri."

Pak Darmawan mengangguk. "Aku akan membantu," katanya. "Aku tidak tahu di mana Raka tinggal sekarang, tetapi aku tahu, dulu, setelah ia pergi dari keluarga, ia pernah bekerja di sebuah bengkel di Solo, milik temannya. Itu sudah belasan tahun lalu. Mungkin ia masih di sana, mungkin tidak. Tetapi itu satu-satunya petunjuk yang aku punya."

Lestari, yang sejak tadi diam, tiba-tiba bersuara. "Aku juga punya petunjuk," katanya pelan. "Dulu, ibumu pernah bercerita padaku, bahwa kakaknya itu orang yang keras kepala, tetapi hatinya lembut, dan ia tidak pernah benar-benar membenci keluarganya. Ia hanya kecewa, karena ia merasa tidak didengar. Ibumu bilang, kalau suatu hari Raka kembali, jangan menyambutnya dengan tuntutan, sambutlah ia dengan kabar tentang ibumu, karena hanya ibumu yang bisa melunakkan hatinya."

Aku mencatat setiap kata itu dalam hati. Paman Raka bukan sekadar nama di dalam lampiran. Ia adalah manusia, dengan luka yang sama seperti luka kami semua: luka karena tidak didengar, luka karena janji yang dibuat tanpa persetujuannya, luka karena keluarga yang saling menjaga rahasia. Dan kini, aku harus mendatanginya, bukan untuk meminta tanda tangan, melainkan untuk menyampaikan kabar tentang adiknya, ibuku, yang sudah tiada, yang menitipkan surat untuknya selama belasan tahun.

Sore itu, setelah semua orang pulang dengan janji untuk saling memberi kabar, aku dan Bimo duduk berdua di ruang tamu yang sudah kembali sepi. Kertas draf pembatalan masih tergeletak di atas meja, belum ditandatangani secara final, tetapi sudah ditandatangani sebagai persetujuan awal oleh semua yang hadir. Amplop untuk Raka kusimpan di dalam laci, di tempat yang aman, bersama warkah ibuku. Aku menatap Bimo, dan ia menatapku, dan di antara kami tidak ada lagi kata-kata besar. Yang ada hanyalah kelelahan yang sama, dan tekad yang sama.

"Rania," kata Bimo pelan, "apakah kamu takut?"

Aku mengangguk, tidak berpura-pura. "Takut," jawabku. "Aku takut Paman Raka menolak. Aku takut orang misterius itu sudah menceritakan yang buruk tentangku padanya. Aku takut, setelah semua yang kita lewati pagi ini, ternyata pintu terakhir ini tidak bisa dibuka. Tetapi aku lebih takut kalau aku berhenti di sini, dan membiarkan janji ini menggantung selamanya, tidak batal, tidak juga dijalankan, hanya menggantung dan menghantui kita berdua."

Bimo menggenggam tanganku, mengangkatnya, dan mencium punggung tanganku dengan lembut, bukan sebagai pacar yang sedang merayu, melainkan sebagai seseorang yang sedang berjanji. "Kalau begitu, kita cari dia bersama," katanya. "Aku akan menemanimu ke Solo, ke mana pun petunjuk itu membawa kita. Aku tidak akan membiarkanmu menghadapi pamanmu sendirian, dan aku tidak akan membiarkan orang misterius itu menjadi satu-satunya suara yang didengar Paman Raka."

Air mataku jatuh, tetapi kali ini bukan air mata ketakutan. Aku sudah memilih di depan semua orang pagi ini, dan sekarang aku memilih lagi, di ruang tamu yang sepi ini, di depan satu-satunya orang yang tidak pernah melepaskan tanganku: aku memilih untuk berjalan sampai akhir, meskipun jalan itu semakin panjang, meskipun pintu terakhir itu belum terlihat.

Reza sempat mengirim pesan sebelum malam tiba. Ia menulis bahwa keluarganya sudah menanyakan kabar tentang Raka kepada beberapa kenalan lama, dan ada satu kabar yang menjanjikan: seseorang yang mirip dengan ciri-ciri Paman Raka pernah terlihat di daerah Solo, mengelola sebuah bengkel kecil di pinggir jalan. Kabar itu belum pasti, tetapi cukup untuk menjadi awal. Aku membalas pesannya dengan terima kasih yang tulus, dan aku menyadari, betapa beruntungnya aku, dikelilingi oleh orang-orang yang, setelah semua yang terjadi, tetap memilih untuk membantuku, bukan menghalangiku.

Harun pun tidak tinggal diam. Sore itu juga ia menelepon Pak Yanto di kantor lama, menanyakan apakah ada data kepegawaian lama tentang Raka, atau alamat terakhir yang pernah tercatat atas namanya. Pak Yanto berjanji akan memeriksa arsip lama, meskipun ia mengingatkan bahwa arsip belasan tahun lalu banyak yang sudah dipindahkan, dan tidak semuanya tersimpan rapi. Sementara itu, Pak Darmawan berjanji akan menghubungi teman lamanya, pemilik bengkel di Solo itu, untuk menanyakan apakah Raka masih bekerja di sana, atau apakah ada yang tahu ke mana ia pindah setelah itu. Setiap orang bergerak, setiap orang mencari dari sisinya masing-masing, dan aku merasa, untuk pertama kalinya, beban ini tidak hanya kupikul sendirian.

Ketika senja mulai turun, Bimo mengajakku duduk di teras, tempat kami biasa berbicara tanpa gangguan. "Rania," katanya, "kalau kita pergi ke Solo, kita pergi dengan rencana, bukan dengan nekat. Kita bawa surat ibumu, suratmu, salinan warkah, dan draf pembatalan yang sudah ditandatangani semua pihak di sini. Kita tunjukkan kepada Paman Raka bahwa kita datang dengan hormat, bukan dengan tuntutan. Dan kalau ia ternyata tidak ada di Solo, kita cari lagi, dari petunjuk berikutnya. Aku tidak mau kamu pulang dengan tangan kosong hanya karena satu petunjuk gagal."

Aku mengangguk, dan kami mulai menyusun rencana itu dengan tenang: berangkat pagi-pagi sekali, supaya sampai di Solo sebelum siang, menemui pemilik bengkel itu dulu, menanyakan kabar Raka dengan sopan, dan baru setelah itu memutuskan langkah berikutnya. Rencana itu sederhana, tetapi justru kesederhanaannya yang menenangkanku. Selama ini aku selalu menunggu kebenaran datang kepadaku, di ruang tamu ini, lewat orang-orang yang datang satu per satu. Kini, untuk pertama kalinya, akulah yang akan pergi menjemput kebenaran itu, ke kota yang belum pernah kudatangi untuk urusan seperti ini, bersama lelaki yang kupilih sendiri.

Sebelum malam benar-benar tiba, Pak Darmawan menelepon. Teman lamanya di Solo itu masih ingat pada Raka, katanya. Raka pernah bekerja di bengkel itu selama beberapa tahun, lalu pergi, tetapi ia sempat meninggalkan kabar bahwa ia membuka bengkelnya sendiri, tidak jauh dari sana, di pinggir jalan yang sama. Kabar itu sudah lama, tetapi cukup untuk membuat jantungku berdebar lebih cepat. Jejak itu masih hangat, setidaknya hangat untuk ukuran belasan tahun yang sunyi. Aku mengucapkan terima kasih kepada Pak Darmawan dengan suara yang bergetar, dan setelah telepon itu kututup, aku menatap Bimo dan tersenyum, senyum yang pertama kali terasa benar-benar penuh harapan sejak pagi yang panjang ini dimulai.

Malam itu, sebelum tidur, aku menulis sepucuk surat untuk Paman Raka, suratku sendiri, yang akan kusampaikan bersama surat ibuku. Di dalam surat itu aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya bercerita, bahwa aku adalah anak dari adiknya, bahwa ibuku meninggalkan warkah untukku, bahwa warkah itu menyebut namanya sebagai wali amanat, dan bahwa aku ingin bertemu dengannya, bukan sebagai orang yang meminta tanda tangan, melainkan sebagai keponakan yang ingin mengenal pamannya, sebelum membicarakan apa pun tentang dokumen. Aku melipat surat itu dengan hati-hati, meletakkannya di samping amplop ibuku, dan untuk pertama kalinya seharian itu, aku merasa tenang.

Tetapi tepat ketika aku hendak mematikan lampu kamar, ponselku bergetar. Nomor yang tidak kukenal. Sebuah pesan singkat, tanpa nama, tanpa salam. Aku membacanya, dan darahku seakan berhenti mengalir.

"Jangan cari Raka. Kalau dokumen itu dibatalkan, akan ada yang kehilangan lebih dari sekadar janji."

Aku menatap layar itu lama, jemariku gemetar, dan di luar jendela kamarku, malam terasa mendadak lebih gelap daripada biasanya, seolah seseorang, di suatu tempat, sedang mengawasiku, dan sedang menghitung langkahku berikutnya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!