β€Ή
55. Harga Sebuah Buku

Harga Sebuah Buku

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,298 kata

Ilustrasi Harga Sebuah Buku

Pagi itu Kafe Sore tidak buka.

Papan "TUTUP" digantung di pintu kaca, tapi di dalam, lima orang duduk mengelilingi meja paling ujung β€” meja yang sama tempat Bimo mengaku soal Fikri kemarin, tempat aku berjanji tidak ada lagi rahasia. Janji yang kutepati selama kurang lebih dua belas jam.

Rekor yang menyedihkan.

"Jadi ini buku aslinya," kata Reza, membalik halaman-halaman batik itu dengan hati-hati, seperti menangani barang pecah belah. Ia datang pagi-pagi sekali, membawa seorang lelaki berjas rapi yang diperkenalkannya sebagai Pak Hendra, pengacara keluarga Wiratama.

Aku masih belum terbiasa melihat Reza di pihak kami. Lelaki yang dulu kusebut belenggu, kini duduk di antara kami dengan kantong mata yang sama dalamnya dengan kantong mataku.

"Fotokopinya Fikri buat terburu-buru," jelas Bimo, suaranya serak karena tidak tidur. "Makanya halaman terakhir tidak ikut kefoto. Makanya polisi tidak tahu soal kwitansi ini."

Pak Hendra memeriksa kwitansi itu dengan kaca pembesar kecil, lalu mengangguk pelan. "Ini kuat. Stempel perusahaan, tanggal setelah kematian korban, nominal yang cocok dengan aliran dana di berkas penyidikan." Ia menatapku. "Dengan ini, statusnya naik dari dugaan menjadi bukti permulaan yang cukup untuk menetapkan tersangka baru."

"Tersangka baru?" tanya Fajar.

"Orang dalam," kata Pak Hendra, menunjuk foto Gatot yang wajah lelakinya dilingkari tinta merah. "Selama ini penyidikan mentok karena ada yang membocorkan setiap langkah polisi ke Darmawan. Kakek Rania sudah menandainya bertahun-tahun lalu β€” kita hanya tidak tahu siapa dia."

Joko bersandar di kursinya. "Jadi rencananya?"

"Kita serahkan buku aslinya ke polisi hari ini juga, lewat jalur resmi dengan pengacara," kata Reza. "Ayahku sudah siap menjadi saksi β€” surat pernyataannya sudah ditandatangani. Dan aku..." Ia berhenti, menatapku. "Aku akan ikut. Biar tercatat bahwa keluarga Wiratama kooperatif penuh. Ini caraku maju, seperti yang kutulis di surat itu."

Aku mengangguk, tenggorokanku tercekat. Reza menepati janjinya β€” ia maju, bukan sebagai calon suami, tapi sebagai sekutu.

"Kita buat salinannya dulu," kata Fajar. "Tiga rangkap. Satu untuk pengacara, satu untuk kita, satu..." Ia melirikku. "Satu kusimpan di tempat yang hanya aku yang tahu. Pelajaran dari semalam: jangan taruh semua telur dalam satu keranjang."

Kami menghabiskan dua jam menyalin setiap halaman. Bimo memotret dengan ponselnya, halaman demi halaman, memastikan tidak ada bayangan jarinya yang menutupi tulisan. Fajar memindai dengan alat portabelnya, sesekali mengumpat pelan kalau ada halaman yang melengkung. Joko mencatat nomor halaman satu per satu di buku tulisnya, dengan tulisan rapi seperti notulen rapat. Reza... Reza hanya duduk diam menonton, dan aku tahu ia sedang menghitung-hitung berapa banyak halaman penderitaan yang dulu ia abaikan.

Buku itu diperlakukan seperti kitab suci β€” tidak ada yang menyentuhnya tanpa alasan, tidak ada yang berani meletakkan cangkir kopi di dekatnya. Bimo bahkan mengusir lalat yang hinggap di sampulnya dengan gerakan yang terlalu serius untuk seekor lalat.

Pukul dua siang, rombongan kecil kami β€” aku, Reza, Pak Hendra, dan Bimo yang menolak ditinggal β€” masuk ke kantor polisi. Prosesnya surprisingly cepat, atau mungkin Pak Hendra memang sehebat kata Reza. Buku asli diserahkan, ditandai, difoto, dimasukkan ke kantong bukti bersegel. Petugas yang menerima β€” seorang inspektur paruh baya bernama Inspektur Ratna β€” membaca kwitansi itu dan mengangkat alis.

"Dari mana kalian dapat ini?" tanyanya tajam.

"Dari kakek saya," kataku. "Yang fotokopinya sudah Bapak/Ibu sita kemarin."

Inspektur Ratna menatapku lama, lalu mengangguk. "Baik. Kami akan verifikasi keasliannya. Kalau valid..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi sorot matanya cukup jelas: kalau valid, kasus ini meledak.

Kami keluar dari kantor polisi pukul empat sore dengan perasaan aneh β€” lega tapi waspada, seperti baru saja meletakkan bom di tangan orang lain dan berharap mereka tahu cara menjinakkannya.

Di mobil Reza dalam perjalanan pulang, keheningan menggantung lama sebelum ia akhirnya bicara, matanya tetap ke jalan. "Ayahku tidak tidur semalam," katanya pelan. "Ia duduk di ruang kerjanya sampai subuh, menatap surat pernyataan yang ia tanda tangani. Katanya... katanya ia baru sadar tadi malam bahwa selama ini ia bukan pengusaha. Ia cuma stempel. Stempel mahal milik Darmawan."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. "Ia berani maju sekarang. Itu yang penting."

"Aku tahu," kata Reza. "Aku cuma... aku cuma berharap ia sadar sepuluh tahun lebih awal. Sebelum Gatot. Sebelum kakekmu." Ia melirikku sekilas. "Sebelum kau."

Di parkiran, ponsel Bapakku berdering. Ia mengangkatnya, mendengarkan, dan wajahnya berubah.

"Ran," katanya pelan setelah menutup telepon. "Itu... tidak ada nama. Suaranya disamarkan." Ia menatapku dengan mata yang ketakutan tapi tidak lagi lari. "Katanya: suruh anak perempuanmu berhenti. Atau berikutnya bukan buku yang hilang."

Bimo langsung berdiri di depanku β€” refleks, seperti tameng. Reza melangkah maju juga, setengah badan di depanku. Dua lelaki yang pernah berebut aku, kini berdiri bahu-membahu melindungiku. Kalau situasinya tidak semenakutkan ini, aku mungkin akan tertawa.

"Pak," kata Pak Hendra tenang pada Bapakku. "Ancaman seperti ini justru bagus untuk kita. Artinya mereka panik. Orang yang tidak panik tidak menelepon mengancam."

"Bagus untuk kasusnya," kata Bapakku getir. "Tidak bagus untuk jantung saya."

Kami pulang dengan dua mobil β€” aku tidak diizinkan naik motor sendiri lagi, atas perintah gabungan Bapak, Ibu, Bimo, dan bahkan Reza. Aku protes, tentu saja. Protesku ditolak dengan suara bulat. Empat lawan satu.

Di mobil Bimo, aku duduk di kursi penumpang dengan tangan terlipat, masih mendongkol. Bimo melirikku dan tersenyum kecil. "Jangan manyun. Kau tahu aturannya: yang kalah voting nurut."

"Aku tidak ikut voting," gerutuku.

"Makanya kau kalah." Ia mengulurkan tangan, menggenggam tanganku di atas persneling. "Lagi pula, aku lebih tenang kalau kau dalam jangkauan mataku. Setelah semalam... aku tidak mau mengulang tiga jam menunggu itu lagi."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menggenggam tangannya lebih erat, dan membiarkan kota melintas di luar jendela.

Malamnya, aku duduk di kamarku, menatap langit-langit. Buku aslinya sudah di tangan polisi. Salinannya aman di tiga tempat. Pak Wiratama siap bersaksi. Reza di pihak kami. Semuanya bergerak ke arah yang benar.

Tapi Fikri masih hilang. Sudah hampir dua puluh empat jam. Tidak ada kabar. Tidak ada tuntutan. Tidak ada apa-apa β€” dan keheningan itu lebih menakutkan daripada ancaman apa pun.

Siang tadi Bimo sudah menelepon semua rumah sakit di Cikarang dan Karawang β€” tidak ada pasien tanpa identitas yang cocok. Fajar melacak sinyal terakhir ponsel Fikri: mati total sejak jam setengah satu malam, di radius dua kilometer dari tanah Cikarang. Joko menyusuri warung-warung di sekitar kos Fikri, menanyakan mobil hitam β€” tiga orang melihatnya, tidak ada yang hafal nomor polisinya.

"Kita sudah melakukan semua yang bisa dilakukan," kata Bimo sore tadi, tapi suaranya tidak yakin. Matanya terus melirik ponselnya, berharap bergetar. Ponselnya tidak bergetar.

Aku duduk di kamarku, menatap langit-langit yang retaknya sudah kuhafal di luar kepala. Di kepalaku, suara pukulan tadi malam terus berputar β€” dan keheningan Fikri setelahnya. Orang yang tidak berteriak saat dipukuli. Aku memejamkan mata dan berdoa untuk pertama kalinya setelah sekian lama β€” bukan doa yang rapi, hanya bisikan putus-putus: tolong, biarkan dia hidup, tolong.

Pukul sembilan malam, ponselku bergetar.

Nomor tak dikenal. Lampiran foto.

Aku membukanya β€” dan dunia berhenti berputar.

Fikri. Terikat di kursi, di sebuah ruangan gelap yang tidak kukenal. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, matanya setengah terbuka menatap kamera dengan sorot yang membuat dadaku remuk: bukan takut. Pasrah.

Di bawah foto itu, satu baris pesan:

"Buku aslinya sudah di polisi? Tidak apa-apa. Kami masih punya dia. Besok jam 9 malam, tanah Cikarang. Bawa dirimu sendiri β€” atau dia tidak pulang."

Tanganku gemetar begitu hebat sampai ponsel hampir jatuh. Di ambang pintu, Bimo muncul β€” ia melihat wajahku dan langsung tahu.

"Ran? Apa itu?"

Aku menatapnya β€” lelaki yang kakaknya kini disandera karena melindungiku, lelaki yang baru semalam memohon agar tidak ada lagi rahasia di antara kami.

Dan aku tahu, dengan kepastian yang menghancurkan, bahwa aku akan berbohong lagi.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!