β€Ή
41. Jangan Menoleh

Jangan Menoleh

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,813 kata

Ilustrasi Jangan Menoleh

"Jangan menoleh."

Dua kata itu menancap di tengkukku seperti jarum. Seluruh tubuhku menegang, dan justru karena dilarang, leherku terasa gatal ingin berputar β€” seperti anak kecil yang dilarang mengintip kado ulang tahunnya sendiri. Aku menahan napas. Di seberang meja, wajah Joko sudah seputih kertas. Matanya terpaku ke satu titik di belakang bahuku, dan tangannya yang memegang cangkir kopi bergetar begitu hebat hingga kopi tumpah membasahi map cokelat di hadapannya.

Jangan menoleh. Jangan menoleh.

Aku menunduk, pura-pura menatap es tehku yang sudah mencair. Tapi dari sudut mataku, aku melirik ke jendela besar di sisi kiriku β€” kaca Kafe Sore yang sore itu memantulkan seluruh isi ruangan seperti layar bioskop yang buram.

Dan di sanalah dia.

Seorang pria berusia lima puluhan, tegap meski perutnya mulai membuncit, melangkah masuk melalui pintu kafe. Batik parang lengan panjang berwarna cokelat tua membalut tubuhnya, jam tangan emas berkilat di pergelangan kirinya. Rambutnya disisir rapi ke belakang, beruban di pelipis. Di belakangnya, seorang pria yang jauh lebih muda β€” tiga puluhan, kemeja hitam, map kulit dijepit di ketiak β€” mengikuti setengah langkah di belakang seperti ajudan.

Pria itu berhenti dua langkah di dalam pintu. Matanya menyapu ruangan perlahan: meja kasir, meja dekat pintu, meja pojok tempat Bimo dan Fajar duduk sambil pura-pura bermain kartu. Lalu tatapannya berhenti. Di pantulan kaca itu, aku melihat matanya bertemu dengan mata Joko.

Waktu seakan berhenti berdetak.

Joko berdiri begitu tiba-tiba hingga kursinya berdecit keras. "Pakβ€”" suaranya pecah seperti kaca retak. Ia menelan ludah, jakunnya naik-turun. "Pak Haji."

Pak Haji.

Darahku berdesir dingin dari ubun-ubun sampai ujung kaki. Pria itu tersenyum tipis β€” senyum yang sama sekali tidak mengandung keramahan β€” dan melangkah masuk lebih jauh. Ajudannya menundukkan kepala sedikit ke arah Joko, memberi hormat yang canggung.

"Joko," sapa pria itu. Suaranya berat, pelan, dan penuh kuasa β€” suara orang yang terbiasa didengarkan. "Aku meneleponmu tiga kali."

"Akuβ€” aku sedang membereskannya, Pak Haji," kata Joko cepat, terbata-bata seperti anak sekolah yang ketahuan menyontek. Semua kesombongan yang tadi ia pamerkan di depanku β€” map cokelat, ancaman pengacara, lima puluh juta rupiah β€” lenyap seperti asap tertiup angin. "Tinggal sedikit lagi, akuβ€”"

"Membereskannya?" Pria itu melirikku sekilas. Hanya sekilas β€” tapi dalam sekilas itu aku merasa seperti serangga di bawah kaca pembesar. "Dengan cara mengancam anak perempuan di kafe sore-sore begini?"

Aku tidak bisa menahannya lagi. Perlahan, sangat perlahan, aku menoleh.

Dan dunia seakan miring di porosnya.

Aku mengenal wajah itu.

Tiga tahun lalu, pria ini duduk di ruang tamu rumah kami, membuka map kulit yang sama persis dengan yang dijepit ajudannya sekarang, dan menyebutkan angka yang membuat Ibu terdiam lama sekali: dua miliar rupiah untuk tanah Cikarang. Ibu menolak β€” halus tapi tegas, dengan cara Ibu yang tidak bisa dibantah. "Tanah itu amanah almarhum bapak saya," katanya waktu itu. "Tidak dijual."

Tapi bukan itu yang membuat lututku lemas sampai aku harus berpegangan pada tepi meja.

Aku mengenal wajah itu dari tempat yang jauh lebih tua: meja makan rumah kakek, dua puluh tahun lalu, saat aku masih anak kecil berumur tujuh tahun. Kakek membanting koran ke meja sambil mengumpat β€” satu-satunya kali dalam hidupku aku mendengar kakek mengumpat. "Darmawan!" bentaknya, wajahnya merah padam. "Manusia tidak tahu diri!" Ibu buru-buru menyuruhku masuk kamar. Tapi nama itu menempel di kepalaku seperti permen karet di sol sepatu, tidak pernah benar-benar hilang.

Haji Darmawan.

"Rania!"

Aku tersentak. Bimo sudah berdiri di meja pojok, setengah melangkah ke arahku, wajahnya tegang. Fajar juga berdiri, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dan dua "pengunjung" di meja kasir dan dekat pintu β€” anggota Ratna yang sejak tadi menyamar β€” serentak bangkit sambil merogoh saku jaket mereka.

Batuk. Aku harus batuk tiga kali. Itu sinyal yang disepakati.

Tapi tenggorokanku terkunci rapat seperti pintu berkarat.

Untungnya, Ratna tidak membutuhkan batukku. Tepat saat Haji Darmawan melangkah mendekati mejaku, pintu kafe didorong terbuka dari luar dengan keras β€” dan Ratna masuk dengan tiga anggota berseragam lengkap, wajahnya seperti badai yang siap menghantam.

"Polisi!" suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. "Semuanya tetap di tempat!"

Kafe Sore meledak dalam kekacauan yang anehnya terasa tertib. Tiga pengunjung asli menjerit dan merunduk di bawah meja. Pelayan menjatuhkan nampan hingga gelas-gelas pecah berdentingan. Joko mencoba lari ke arah dapur, tapi Fajar sudah lebih dulu menghadang di lorong sempit itu dengan senyum lebar yang sama sekali tidak ramah.

"Mau ke mana, Pak?" kata Fajar ringan, tapi tubuhnya yang besar menutup jalan sepenuhnya.

Dua anggota membekuk Joko dalam hitungan detik. Borgol mengklik di pergelangan tangannya dengan bunyi logam yang memuaskan. Map cokelat di atas mejaku disita β€” seorang anggota memasukkannya ke kantong barang bukti dengan sarung tangan lateks, perlahan dan hati-hati seperti menangani bom.

Dan Haji Darmawan...

Ia tidak lari. Ia bahkan tidak terlihat panik. Dengan ketenangan yang membuat bulu kudukku berdiri, ia berbalik menuju pintu β€” tapi Ratna sudah menghadang di sana, kedua tangannya bertolak pinggang.

"Selamat sore, Pak," kata Ratna, senyumnya tajam seperti silet. "Boleh lihat KTP?"

"Silakan." Darmawan merogoh saku batiknya dengan gerakan perlahan yang diperhitungkan, menyerahkan dompet kulitnya. "Haji Darmawan. Saya hanya mampir untuk minum kopi. Apakah itu melanggar hukum, Bu Polisi?"

Ratna memeriksa KTP itu lama sekali. "Kopi dengan siapa, Pak Haji?"

"Dengan kenalan lama." Darmawan melirik Joko yang sedang diborgol. "Yang tampaknya sedang bermasalah. Saya tidak ada urusannya dengan itu."

"Kenalan lama yang Bapak telepon tiga kali dalam sepuluh menit terakhir?" Ratna mengangkat alisnya. "Kami punya catatan waktunya, Pak."

Untuk sepersekian detik, topeng tenang Darmawan retak β€” hanya sekejap, tapi aku melihatnya. Ajudannya melangkah maju dengan gugup. "Pak Haji tidak harus menjawab tanpa pengacaraβ€”"

"Betul," potong Darmawan cepat, mengangkat tangannya menghentikan ajudannya. Ia menatap Ratna lurus-lurus, tidak berkedip. "Dan saya juga tidak ditahan, kan? Karena setahu saya, mampir minum kopi di kafe bukan tindak pidana."

Ratna mengepalkan tangannya β€” aku bisa melihat buku-buku jarinya memutih. Ia tahu. Kami semua tahu. Tapi ia tidak punya apa-apa untuk menahan Darmawan: pria itu belum mengucapkan satu kalimat pun yang bisa dijerat hukum. Semua ancaman, semua dokumen palsu, semua pemerasan β€” itu Joko yang melakukannya, bukan dia.

"Belum," kata Ratna akhirnya, suaranya rendah dan berbahaya. "Belum ditahan."

Darmawan tersenyum β€” senyum kemenangan yang tipis dan dingin. Ia mengambil kembali dompetnya, mengangguk sopan β€” sopan! β€” ke arahku, lalu berjalan keluar dengan langkah santai. Ajudannya membuntutinya dengan tergesa. Di luar, aku mendengar deru mesin mobil dinyalakan. Melalui jendela kafe, aku melihat Darmawan masuk ke sebuah Fortuner hitam yang mengkilap. Seorang anggota Ratna memotret mobil itu β€” dan plat nomornya β€” dari balik jendela dengan cepat.

Ponsel di dalam tasku masih merekam. Aku baru ingat itu sekarang β€” selama kekacauan tadi, ia terus merekam tanpa henti.

Joko β€” yang sudah diborgol β€” digiring melewati mejaku menuju pintu. Saat berpapasan denganku, ia berhenti mendadak dan mencondongkan tubuhnya ke arahku begitu dekat hingga aku bisa mencium bau kopi dari napasnya. Seorang anggota menarik bahunya dengan kasar, tapi tidak sebelum ia membisikkan tiga kalimat yang membekukan darah di nadiku:

"Kotak itu... jangan serahkan ke siapa pun."

"Dan tanya ibumu..."

"Malam kakekmu jatuh β€” dia belum cerita semuanya."

Lalu ia digiring keluar dan dimasukkan ke mobil polisi. Kafe Sore kembali sunyi, menyisakan bau kopi tumpah, pecahan gelas, dan jantungku yang berdetak seperti genderang perang.

Di parkiran, senja sudah turun dan lampu-lampu jalan mulai menyala. Bimo memelukku begitu erat hingga aku sulit bernapas β€” atau mungkin aku yang memeluknya begitu erat. Aku sudah tidak tahu lagi. Tubuhku gemetar hebat, dan baru sekarang β€” setelah semuanya selesai β€” rasa takut itu datang menghantamku seperti gelombang pasang yang tertunda.

"Kamu gila," bisik Bimo di rambutku, suaranya serak dan bergetar. "Kamu berani sekali. Aku hampirβ€”" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya mengeratkan pelukannya.

Fajar menepuk bahuku dengan kasar tapi sayang. "Hebat, Ran. Sumpah, hebat. Tadi aku kira jantungku mau copot."

Ratna menghampiriku dengan map cokelat β€” map polisi yang asli β€” dijepit di ketiaknya. "Kita dapat Joko, dokumen palsunya, dan rekaman dari ponselmu," katanya, suaranya kembali tenang dan profesional. "Itu sudah cukup untuk menahannya: pemerasan dan pemalsuan dokumen." Ia berhenti, menatap ke arah jalan tempat Fortuner hitam itu menghilang. "Tapi Darmawan..." Ia menggeleng pelan. "Dia licin seperti belut. Kita butuh aliran dananya β€” dan itu butuh waktu, butuh surat perintah, butuh bank. Atau..." ia menatapku dengan tatapan tajam, "Joko mau bersaksi dan menyebut namanya di berita acara pemeriksaan."

"Dia takut setengah mati pada orang itu," kataku pelan. "Kau lihat sendiri wajahnya tadi."

"Aku lihat," kata Ratna. "Orang hanya bisa takut seperti itu pada dua hal: pada orang yang bisa memenjarakannya, atau pada orang yang bisa membunuhnya."

Kata "membunuhnya" menggantung di udara senja seperti asap yang tidak mau hilang.

Di perjalanan pulang, aku duduk di mobil Bimo dalam diam yang panjang. Kata-kata terakhir Joko berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak: tanya ibumu. Malam kakekmu jatuh. Dia belum cerita semuanya.

Apa yang belum Ibu ceritakan? Ibu selalu bilang kakek jatuh dari tangga karena terpeleset β€” kecelakaan biasa orang tua. Nadia ada di rumah malam itu. Joko ada di rumah malam itu. Dan sekarang Joko bilang Ibu belum cerita semuanya.

"Ran." Bimo melirikku sekilas dari balik kemudi. "Kamu kenapa? Dari tadi diam saja."

"Aku tidak apa-apa," dustaku otomatis. Lalu, karena aku sudah terlalu lelah untuk berbohong padanya: "Joko bilang... Ibu belum cerita semuanya soal malam kakek meninggal."

Bimo diam lama, jemarinya mengetuk-ngetuk setir. "Mungkin dia cuma mengadu domba," katanya akhirnya. "Supaya kamu curiga sama ibumu sendiri. Orang seperti dia tahu persis di mana harus menusuk."

"Mungkin," kataku. Tapi perutku mengatakan sebaliknya, dan perutku jarang salah soal hal-hal seperti ini.

Malam itu, setelah makan malam yang nyaris tanpa suara β€” aku hanya mengaduk-aduk nasi di piringku β€” aku memberanikan diri. Ibu sedang mencuci piring di dapur, punggungnya membelakangiku. Aku duduk di meja makan, meremas-remas ujung bajuku sampai kusut.

"Bu," kataku pelan.

"Hm?" Ibu tidak menoleh, tangannya sibuk menggosok wajan.

"Hari ini aku dengar satu nama." Aku menelan ludah. "Haji Darmawan."

Piring di tangan Ibu terlepas. Untungnya jatuh ke bak cuci yang penuh busa, tidak pecah β€” tapi suara dentingnya terdengar seperti ledakan di dapur yang sunyi itu. Ibu berbalik perlahan sekali. Wajahnya β€” wajah yang selalu tenang, selalu kuat, wajah yang tidak pernah goyah bahkan saat Bapak meninggal β€” pucat seperti mayat.

"Dari mana kau dengar nama itu?" suaranya nyaris berbisik, dan bisikan itu lebih menakutkan daripada teriakan.

"Bu, Ibu kenal dia?"

Ibu menatapku lama sekali. Tangannya yang basah bergetar hebat. Lalu ia mengeringkan tangannya dengan lap, menarik kursi, duduk di hadapanku, dan berkata dengan suara yang belum pernah kudengar sebelumnya β€” dingin, datar, dan penuh ketakutan yang disembunyikan:

"Jangan pernah sebut nama itu di rumah ini."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!