Lelaki yang Menyimpan Salinan Kedua
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,483 kata
Sepuluh menit tidak pernah terasa selama itu. Aku duduk kembali di kursiku, tetapi tubuhku tidak benar-benar duduk. Mataku terus melirik ke arah pintu, ke arah gang di luar yang masih sepi, dan setiap suara motor yang lewat membuat dadaku berdebar, padahal aku tahu itu belum tentu dia. Bimo mencoba mengajakku bicara tentang hal-hal kecil, tentang air yang sudah dingin di gelas kami, tentang jendela yang sebaiknya dibuka supaya udara pagi masuk, tetapi aku hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengar. Pikiranku hanya berputar pada satu hal: seseorang yang tidak mau menyebut namanya telah menelepon Pak Darmawan pagi ini, sebelum kami sempat memberi tahu siapa pun. Siapa yang tahu tentang pertemuan ini, selain kami?
Ratna memanfaatkan waktu itu dengan cara yang paling ia kuasai: menjaga ruangan tetap tertib. Ia merapikan kertas pernyataan pembatalan yang belum selesai ditulisnya, menata ulang amplop cokelat Harun di tengah meja, dan meminta semua orang duduk di tempatnya masing-masing, supaya ketika Pak Darmawan datang, ia melihat ruangan yang serius, bukan ruangan yang panik. "Apa pun yang ia bawa," katanya, "kita dengarkan dulu sampai selesai. Jangan memotong, jangan menuduh. Orang yang menyimpan dokumen selama belasan tahun tanpa pernah memakainya untuk mengancam siapa pun, pantas didengar dengan hormat."
Tepat ketika jam dinding berdetak melewati menit kesepuluh, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Langkah kaki yang pelan tetapi mantap mendekati pintu, lalu ketukan tiga kali, tidak tergesa-gesa, tidak ragu-ragu. Harun yang membukakan pintu. Di ambang pintu berdiri seorang lelaki tua, sekitar tujuh puluhan, dengan kemeja batik yang rapi, rambut yang sudah memutih sepenuhnya, dan sebuah map kulit tua yang dipegangnya dengan kedua tangan, seperti orang yang memegang sesuatu yang berharga sekaligus berat.
"Pak Darmawan?" sapa Harun.
Lelaki itu mengangguk, menatap ke dalam ruangan, satu per satu, sebelum melangkah masuk. "Saya Darmawan," katanya. "Maaf saya datang tanpa pemberitahuan lebih awal. Tetapi soal dokumen seperti ini, saya tidak mau membahasnya lewat telepon. Dokumen harus dilihat dengan mata, dipegang dengan tangan, dan dibicarakan di depan semua pihak."
Ia duduk di kursi yang disiapkan Ratna, meletakkan map kulit itu di atas meja, tetapi tidak langsung membukanya. Ia menatapku lama, dan di matanya ada sesuatu yang membuatku tiba-tiba teringat pada ayahku, bukan karena wajahnya mirip, melainkan karena cara ia menatapku, seperti orang yang sedang melihat anak dari sahabat lamanya, yang dulu pernah ia gendong, yang kini sudah dewasa dan harus memilih hidupnya sendiri.
"Rania," katanya, "ayahmu pernah berkata padaku, waktu ia menitipkan salinan ini, bahwa ia berharap kertas ini tidak pernah perlu dibuka. Ia bilang, ia membuat janji itu dalam keadaan terdesak, dan ia berharap, ketika kamu besar, keadaan sudah berubah, dan janji itu bisa dibicarakan dengan baik-baik. Ia menitipkan salinan ini padaku bukan supaya aku menjaganya sebagai senjata, melainkan supaya ada satu orang di luar keluarga yang tahu kebenarannya, kalau suatu hari kebenaran itu diputarbalikkan."
Aku merasakan mataku panas. Ayahku, yang selama ini kukenang sebagai orang yang mengikatku dengan janji, ternyata juga meninggalkan seseorang untuk menjagaku dari janji itu sendiri. "Terima kasih, Pak," kataku pelan. "Terima kasih sudah menyimpannya selama ini, dan terima kasih sudah datang hari ini."
Pak Darmawan mengangguk, lalu membuka map kulit itu dengan hati-hati. Di dalamnya ada satu dokumen, kertasnya menguning seperti salinan pertama, tetapi terawat lebih baik, karena selama belasan tahun ia disimpan di dalam map, bukan di dalam amplop yang berpindah-pindah tangan. Ia meletakkannya di samping salinan pertama, dan semua orang bisa melihat: keduanya sama, kata demi kata, tanda tangan demi tanda tangan. Termasuk tanda tangan Pak Hadi sebagai penjamin, yang kini duduk di ruangan ini dan menatap salinan itu dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sebelum kita bicara soal pembatalan," kata Pak Darmawan, "ada satu hal yang harus dibaca sampai habis. Lampiran dokumen ini. Salinan pertama yang kalian buka pagi ini, apakah lampirannya sudah dibaca seluruhnya?"
Harun dan tamu tua itu saling menatap. Tamu tua itu menggeleng pelan. "Terus terang, belum," katanya. "Pagi ini kami baru membaca lembar utama dan lembar kedua. Lampirannya masih terselip, belum dibacakan, karena kami memusatkan perhatian pada pernyataan Rania."
Pak Darmawan mengangguk, seolah ia sudah menduga. "Kalau begitu, sekaranglah waktunya. Karena lampiran inilah yang selama ini membuat dokumen ini tidak bisa dibatalkan hanya dengan tanda tangan kami yang ada di ruangan ini. Lampiran ini menyebut satu syarat, dan syarat itu menyebut satu nama."
Ia mengeluarkan lembar lampiran dari mapnya, menyerahkannya kepada tamu tua itu, tetapi sebelum tamu tua itu sempat membacanya, Pak Darmawan bercerita sedikit lebih jauh, supaya kami mengerti kenapa lampiran itu begitu penting. "Waktu ayahmu menitipkan salinan ini padaku," katanya, "ia berkata, ada satu lembar di dalam dokumen ini yang tidak boleh dibaca sembarangan, karena lembar itu menyangkut pesan terakhir istrinya. Ayahmu bilang, istrinya, ibumu, Rania, menitipkan sesuatu yang hanya boleh dibuka kalau janji itu hendak dibatalkan. Selama perjodohan itu berjalan, lampiran itu tidak perlu dibaca. Tetapi begitu ada yang hendak membatalkannya, lampiran itu wajib dibaca, karena di sanalah ibumu meletakkan penjaganya."
Aku menahan napas. Ibuku, sekali lagi, ternyata sudah memikirkan hari ini jauh sebelum hari ini datang. Ia tahu, suatu hari nanti, aku akan berdiri di titik ini, hendak membatalkan janji yang dibuat atas namaku. Dan ia sudah menyiapkan jalannya: bukan jalan pintas, melainkan jalan yang melewati seseorang yang ia percaya, kakaknya sendiri. Aku membayangkan ibuku menulis warkah itu di malam yang sepi, memikirkan anak perempuannya yang masih kecil, dan memutuskan bahwa kebebasan anaknya harus dijaga oleh seseorang yang tidak bisa dibujuk oleh keluarga mana pun. Keputusan itu, yang dulu mungkin terasa aneh bagi orang lain, kini terasa seperti pelukan dari jauh, dari seorang ibu yang tidak pernah sempat melihat anaknya dewasa, tetapi tetap menjaganya dengan cara yang hanya bisa ia lakukan: lewat kata-kata yang dititipkan.
Dan tamu tua itu membacanya keras-keras, dengan suara yang bergetar pada bagian akhirnya. Lampiran itu tertulis dengan bahasa yang resmi, tetapi maknanya sederhana dan mengguncang: pembatalan perjodohan ini, agar sah sepenuhnya, harus diketahui dan disetujui oleh wali amanat warkah, yaitu orang yang ditunjuk oleh ibu Rania untuk menjaga pesan pembebasannya. Dan nama wali amanat itu adalah Raka, kakak kandung ibu Rania.
Ruangan itu sunyi. Aku mengulang nama itu dalam hati: Raka. Paman Raka. Aku pernah mendengar nama itu sekali, waktu aku masih kecil, dari percakapan orang dewasa yang berhenti begitu aku masuk ke ruangan. Ibuku tidak pernah bercerita banyak tentang kakaknya. Yang kutahu, hanya bahwa ia pernah berselisih dengan keluarga, lalu pergi, dan sejak itu tidak pernah kembali. Aku bahkan tidak tahu di mana ia tinggal sekarang, atau apakah ia masih hidup.
"Raka?" bisikku. "Paman Raka?"
Pak Darmawan menatapku dengan iba. "Ibumu menunjuknya, Rania, karena ia adalah satu-satunya orang yang ibumu percaya tidak akan memihak siapa pun dalam keluarga ini. Ibumu tahu, kalau warkahnya hanya dipegang oleh keluarga ayahmu atau keluarga Reza, pesannya bisa diputarbalikkan. Karena itu ia menunjuk kakaknya sendiri, sebagai penjaga dari luar, yang tidak berkepentingan dengan janji itu. Dan ibumu meninggalkan satu surat untuknya, surat yang selama ini ikut tersimpan di dalam map ini, bersama salinan kedua."
Ia mengeluarkan sebuah amplop kecil dari mapnya, amplop yang sudah menguning, dengan tulisan tangan ibuku di atasnya: Untuk Raka. Amplop itu masih tersegel. Pak Darmawan meletakkannya di atas meja, di depanku, tetapi tidak mendorongnya ke arahku. "Surat ini bukan untukmu, Rania," katanya lembut. "Surat ini untuk Raka. Dan persetujuan Raka tidak bisa diwakilkan oleh siapa pun di ruangan ini, termasuk olehku, meskipun aku memegang salinannya. Kita harus menemukan Raka, menyerahkan surat ini padanya, dan memintanya membaca warkah ibumu, supaya ia bisa memutuskan dengan hati yang jernih."
Bimo menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan ia ikut terpukul, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa yang menenangkan secara kosong. Ia hanya ada di sana, dan itu sudah cukup. Reza menatap amplop itu, lalu menatapku. "Rania, aku akan membantu mencarinya," katanya. "Keluargaku punya banyak kenalan di luar kota. Kalau Paman Raka pernah berhubungan dengan siapa pun, kami akan menemukannya."
Ratna mengangguk, mengambil kembali kertas pernyataan pembatalan. "Kalau begitu, pernyataan ini kita siapkan sebagai draf," katanya. "Semua pihak yang ada di sini tetap menandatangani persetujuannya, tetapi penandatanganan finalnya menunggu persetujuan Raka. Dengan begitu, tidak ada yang bisa berkata kita diam-diam membatalkan, dan tidak ada yang bisa berkata kita mengabaikan syarat lampiran itu."
Semua orang mengangguk, dan untuk sesaat, aku merasa jalan itu, meskipun semakin panjang, tetaplah jalan yang benar. Kami tidak memotong jalan, kami tidak menyembunyikan siapa pun, kami menempuhnya selangkah demi selangkah, dengan semua nama di atas meja.
Tetapi tepat ketika Pak Darmawan hendak menutup mapnya, ponselnya bergetar. Ia mengangkatnya, mendengarkan sebentar, dan wajahnya berubah. Ia yang sejak tadi tenang, kini tampak pucat. Ia menatap kami, satu per satu, lalu berkata dengan suara yang pelan tetapi jelas, "Itu orang yang sama. Orang yang menelepon saya pagi ini. Dan kali ini ia berkata sesuatu yang baru. Ia bilang, ia sudah menemukan Raka lebih dulu."