Pagi di Rumah Rania dan Kembalinya Lestari
Jodoh yang Salah Alamat • 1,448 kata
Aku tidak tidur semalaman.
Bukan karena aku tidak mencoba. Aku berbaring di kamarku, kain warkah itu kusimpan di laci meja yang kukunci, ponselku kuletakkan dengan layar menghadap ke bawah, tapi setiap kali mataku terpejam, kalimat-kalimat itu kembali berbaris di kepalaku: jangan datang besok, datang sendiri malam ini, orang yang kau sebut ayah akan kehilangan segalanya. Aku memikirkan ayahku, yang selama ini hanya kudengar suaranya lewat telepon singkat dan pesan-pesan pendek. Apakah ia tahu pesan ini akan datang? Apakah ia yang selama ini menahan perjodohan ini tetap berjalan, bukan karena tradisi, melainkan karena takut?
Pagi harinya, rumahku terasa berbeda. Biasanya pagi adalah waktu yang paling tenang, dengan suara burung dan aroma masakan dari dapur. Pagi ini, rumahku terasa seperti ruang tunggu: semua orang datang bukan untuk sarapan, melainkan untuk menunggu sebuah kebenaran dibuka.
Bimo datang paling pagi. Ia membawakan roti dan kopi, tapi tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar memakannya. Ia duduk di sampingku di ruang tamu, menggenggam tanganku sebentar, lalu melepaskannya ketika mendengar suara mobil Ratna di depan.
"Kamu tidur?" tanyanya pelan.
"Sebentar," jawabku. "Kamu?"
Ia menggeleng. "Aku memikirkan mobil tanpa pelat itu. Ratna bilang anggotanya menyisir halaman Reza semalam dan tidak menemukan siapa-siapa. Tapi mobil itu nyata. Kita semua melihat lampunya padam."
Ratna masuk dengan langkah cepat, membawa map tipis dan ponsel Lestari dalam kantong plastik bening. "Pagi," katanya. "Saya langsung ke intinya. Nomor pengirim pesan ke kamu dan nomor penelepon Lestari memang berbeda, tapi keduanya nomor prabayar yang diaktifkan di kota yang sama, dalam minggu yang sama. Itu bisa kebetulan, bisa juga satu orang yang membeli dua kartu sekaligus. Yang jelas, keduanya bukan nomor Harun, bukan nomor ayah Reza, dan bukan nomor yang pernah tercatat menghubungi keluarga ini."
"Lalu Lestari?" tanyaku. "Sudah ketemu?"
Ratna menggeleng. "Belum. Tasnya masih di rumah Reza, dompet dan kuncinya masih di dalam. Polisi sudah memeriksa alamat rumahnya, tapi rumahnya kosong. Tetangganya bilang ia pergi kemarin sore dengan tergesa-gesa, tanpa membawa apa-apa. Seolah ia pergi bukan untuk pulang, melainkan untuk bersembunyi."
Aku menelan ludah. Lestari, perempuan yang selama ini tampil tenang dan bijak di hadapanku, ternyata bisa menghilang begitu saja. Aku teringat nasihat-nasihatnya: jangan percaya tamu tua itu, cincin bisa berpindah tangan, jangan buka kertas itu malam ini. Dulu semua itu terdengar seperti perlindungan. Sekarang, setelah Harun bilang Lestari adalah saksi dokumen itu, semua nasihat itu terdengar seperti usaha seseorang untuk menjaga jarak antara aku dan kebenaran.
"Rania," kata Ratna, suaranya melunak sedikit. "Saya tahu ini berat. Tapi kamu harus siap: kalau Lestari memang saksi, keterangannya penting. Ia tidak bisa menghilang selamanya. Cepat atau lambat, ia harus bicara. Dan kalau ia tidak bicara, lembar kedua itu yang akan bicara untuknya."
Jam sembilan lewat lima menit, Harun belum datang. Jam sembilan lewat lima belas, Reza datang, sendirian. Ia tampak lelah, matanya sembap, tapi langkahnya mantap. Ia membawa sebuah map cokelat yang berbeda dari amplop Harun—map milik keluarganya.
"Ayah menyuruhku datang," katanya, duduk di hadapanku. "Ayah bilang, apa pun yang tertulis di lembar kedua, perjodohan ini tidak boleh dilanjutkan di atas kebohongan. Ayah sudah bicara dengan keluarga besar semalam. Ayah bilang, kalau janji lama itu ternyata dibangun di atas dokumen yang merugikan orang lain, maka janji itu harus dibuka, bukan dipertahankan."
Aku menatap Reza, dan untuk pertama kalinya aku merasa benar-benar kasihan padanya. Ia bukan penjahat dalam cerita ini. Ia hanya anak yang selama ini berusaha menjadi anak baik, yang menuruti ayahnya, yang menerima perjodohan tanpa pernah bertanya kenapa, sampai akhirnya ia tahu bahwa ketaatannya itu dibangun di atas utang.
"Reza," kataku pelan, "aku tidak pernah membencimu. Aku hanya tidak bisa mencintaimu dengan cara yang diminta janji itu."
Ia mengangguk, tersenyum tipis. "Aku tahu. Dan aku juga tidak pernah memintamu untuk itu. Aku hanya—" ia berhenti, menatap Bimo, "—aku hanya berharap, setelah semua ini selesai, kita masih bisa berteman. Bukan sebagai calon suami-istri yang gagal, tapi sebagai dua orang yang sama-sama pernah terjebak."
Bimo mengulurkan tangan. Reza menyambutnya. Jabat tangan itu singkat, canggung, tapi jujur. Aku merasa ada sesuatu yang longgar di dadaku, seperti simpul yang selama ini mengikatku mulai terurai, satu demi satu.
Jam sembilan lewat tiga puluh, Harun masih belum datang. Ratna mulai mondar-mandir. "Ini tidak seperti Harun," katanya. "Semalam ia berjanji datang. Ia tahu betapa pentingnya hari ini."
"Atau ia dicegah datang," kata Bimo pelan.
Kalimat itu menggantung di udara. Aku teringat pesan semalam: datang sendiri ke rumah lama ibumu malam ini, atau lembar kedua tidak akan pernah kau lihat lagi. Bagaimana kalau ancaman itu bukan hanya untukku? Bagaimana kalau seseorang juga mengancam Harun, agar ia tidak membawa lembar kedua pagi ini?
Ratna duduk kembali dan membuka map tipisnya. Di dalamnya ada salinan catatan kecil tentang Lestari: ia pernah bekerja di kantor yang mengurus dokumen-dokumen usaha puluhan tahun lalu, lalu pindah kerja, lalu menghilang dari lingkaran keluarga kami sampai muncul lagi sebagai orang yang paling keras menentang perjodohan ini. Catatan itu tidak membuktikan apa-apa, tapi membuatku mengerti satu hal: Lestari bukan orang luar yang tiba-tiba peduli padaku. Ia orang dalam yang sudah lama menyimpan sesuatu, dan kepeduliannya selama ini mungkin adalah cara lain untuk menjaga rahasianya tetap terkunci.
"Aku jadi bertanya-tanya," kataku pelan, "apakah semua nasihat Lestari selama ini benar-benar untukku, atau untuk dirinya sendiri? Waktu ia bilang jangan percaya tamu tua itu, apakah ia takut tamu itu membuka kertasnya, atau takut aku tahu ia saksi? Waktu ia bilang cincin bisa berpindah tangan, apakah ia memperingatkanku, atau ia sedang mengujiku, melihat seberapa jauh aku sudah tahu?"
"Tidak ada jawaban yang bisa menenangkanmu pagi ini," kata Bimo, menggenggam tanganku lagi. "Tapi justru karena itu kita harus mendengar Lestari bicara sendiri. Tuduhan tanpa suaranya hanya akan jadi cerita baru yang sama gelapnya dengan cerita lama."
Reza mengangguk. "Ayah juga bilang begitu semalam. Ayah bilang, kita sudah terlalu lama menebak-nebak niat orang lain. Hari ini, semua orang yang terlibat harus bicara dengan mulutnya sendiri, di ruangan yang sama, di depan saksi yang sama. Tidak ada lagi pesan tanpa nama, tidak ada lagi cerita yang disampaikan lewat orang ketiga."
Aku menatap kain warkah yang terkunci di laci. Di dalamnya ada suara ibuku, dan aku membayangkan ibuku menulisnya dengan tangan yang mungkin gemetar, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu surat itu akan dibaca anaknya di hari ketika anaknya sudah cukup kuat untuk membacanya. Mungkin hari itu adalah hari ini. Mungkin ibuku tidak pernah bermaksud agar surat itu dibaca dalam keadaan panik di tengah malam, melainkan di pagi yang tenang, di rumah sendiri, di depan orang-orang yang kupercaya.
Aku hendak mengambil ponsel untuk menelepon Harun ketika suara bel rumah berbunyi. Bukan bel yang pelan, melainkan bel yang ditekan lama, seperti orang yang sudah kehabisan kesabaran atau keberanian.
Ratna langsung berdiri, tangannya di dekat ponselnya. Bimo berdiri di sampingku. Reza menatap pintu. Aku berjalan ke arah pintu dengan kaki yang terasa berat, karena sebagian diriku sudah tahu siapa yang berdiri di baliknya, dan sebagian diriku yang lain berharap dugaanku salah.
Aku membuka pintu perlahan.
Di ambang pintu, dengan rambut yang berantakan, baju yang sama seperti semalam, dan mata yang sembap karena tidak tidur, berdiri Lestari. Ia tidak membawa tas. Ia tidak membawa ponsel. Tangannya kosong, tapi wajahnya penuh dengan sesuatu yang belum pernah kulihat darinya: ketakutan yang tidak lagi disembunyikan di balik ketenangan.
"Rania," katanya, suaranya serak. "Aku tidak pergi jauh semalam. Aku bersembunyi di kebun belakang rumah Reza sampai semua mobil pergi. Aku mendengar pesan yang masuk ke ponselku. Aku mendengar kalian membicarakanku."
Ia menarik napas panjang, lalu menatap Ratna, Bimo, dan Reza yang berdiri di belakangku.
"Aku datang bukan untuk melarikan diri lagi," katanya. "Aku datang karena aku tahu, kalau aku tidak bicara pagi ini, lembar kedua itu akan dibaca tanpa suaraku di dalamnya. Dan aku tidak mau namaku dibaca oleh orang lain sebelum aku sendiri yang mengatakannya."
Ia melangkah masuk, lalu berhenti tepat di tengah ruang tamu, menatap laci meja tempat kain warkah itu kusimpan.
"Tapi sebelum kalian membuka apa pun," katanya, suaranya bergetar, "aku minta satu hal. Jangan buka lembar kedua sebelum kalian mendengar ceritaku. Karena nama di lembar itu—" ia menelan ludah, "—nama itu bukan satu-satunya nama yang ada di dokumen itu. Ada nama lain, yang selama ini tidak pernah disebut siapa pun, bahkan oleh Harun."
Di luar, suara mobil lain berhenti di depan rumahku. Langkah kaki mendekat ke pintu, pelan tapi pasti. Lestari menoleh ke arah pintu, wajahnya semakin pucat, dan ia berbisik, "Dia datang. Harun datang. Dan ia tidak datang sendirian."