β€Ή
94. Nama yang Tidak Berani Disebut

Nama yang Tidak Berani Disebut

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,697 kata

Ilustrasi Nama yang Tidak Berani Disebut

Aku menatap layar ponsel itu, dan untuk sesaat, aku tidak bisa bernapas. Wajah yang muncul di panggilan video itu adalah wajah yang sangat kukenal, wajah yang sudah kulihat hampir setiap hari selama bertahun-tahun, wajah yang tidak pernah kubayangkan akan muncul dengan cara seperti ini, di tengah warung yang ramai di Klaten, di depan pamanku yang baru saja kutemukan.

Tetapi aku tidak akan menyebut nama itu di sini, di dalam pikiranku, sebelum aku yakin. Karena aku sudah belajar, selama tiga hari ini, bahwa menuduh terlalu cepat adalah cara paling mudah untuk menghancurkan orang yang tidak bersalah, dan aku tidak mau mengulangi kesalahan itu, meskipun wajah di layar itu sedang tersenyum dengan cara yang belum pernah kulihat sebelumnya, senyum yang dingin, senyum yang bukan senyum orang yang sedang bercanda, melainkan senyum orang yang sedang memegang kendali.

Bimo yang pertama kali bereaksi. Ia mengambil ponsel itu dari tanganku, dengan gerakan yang cepat tetapi tidak kasar, dan menekan tombol untuk mengakhiri panggilan itu, sebelum orang di seberang sana sempat berkata lebih banyak. "Jangan," katanya, "jangan biarkan ia bicara lebih jauh. Ia ingin membuatmu ragu, Rania. Ia ingin membuatmu ragu pada saat yang paling penting, pada saat pamanmu hendak mengatakan namanya. Itu caranya. Ia selalu muncul di saat yang paling penting."

Paman Raka menatap kami, dan wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, melainkan kesedihan yang dalam, seperti orang yang sudah menduga hal ini akan terjadi, tetapi tetap saja terluka ketika hal itu benar-benar terjadi. "Rania," katanya pelan, "orang itu memang selalu muncul di saat yang paling penting. Dan sekarang kamu sudah melihatnya sendiri, dengan matamu sendiri, bahwa ia bisa menghubungimu kapan saja, di mana saja, bahkan di tengah pertemuan kita. Berarti ia tahu kita di sini, di warung ini, di Klaten, pada saat ini juga."

Aku mengangguk, dan rasa ngeriku kembali, tetapi kali ini bercampur dengan sesuatu yang baru: kejelasan. Selama ini aku takut pada bayangan yang tidak berwajah. Sekarang bayangan itu punya wajah, wajah yang kukenal, dan meskipun aku belum berani menyebut namanya, aku sudah tahu, teka-teki ini tidak lagi tentang orang asing. Teka-teki ini tentang seseorang yang ada di dekatku, yang tahu setiap langkahku, karena ia memang selalu ada di dekatku.

"Kita harus pergi dari sini," kata Bimo, dengan suara yang dijaga tetap tenang, tetapi matanya terus mengawasi jalan. "Kita tidak boleh bicara di tempat terbuka seperti ini. Kita kembali ke mobil, kita pergi ke tempat yang lebih aman, dan kita bicara di sana, dengan pintu tertutup, tanpa ponsel yang menyala."

Paman Raka mengangguk. "Wiryo punya rumah di belakang pasar, tidak jauh dari sini. Rumah itu sepi, dan tidak ada yang tahu aku bersembunyi di sana, kecuali Wiryo sendiri. Kita bicara di sana. Dan Rania, matikan ponselmu. Bukan karena aku takut, tetapi karena selama ponsel itu menyala, orang itu bisa tahu di mana kita berada, bahkan tanpa menelepon."

Aku mematikan ponselku, dan kami berjalan bersama ke arah rumah Wiryo, dengan langkah yang cepat tetapi tidak berlari, supaya tidak menarik perhatian. Paman Raka berjalan di depan, menunjukkan jalan, dan aku berjalan di belakangnya, sambil memperhatikan punggungnya, punggung seorang lelaki tua yang sudah puluhan tahun bekerja di bengkel, yang sekarang berjalan dengan mantap, seperti orang yang sudah memutuskan untuk tidak bersembunyi lagi.

Rumah Wiryo itu kecil, dengan halaman yang ditumbuhi pohon mangga, dan di dalamnya, ada seorang lelaki tua yang lain, yang menyambut kami dengan anggukan, tanpa banyak bertanya. Wiryo, pikirku. Orang yang dipercaya Paman Raka sepenuhnya, orang yang tidak memihak siapa pun, orang yang memberi tempat bagi pamanku untuk berpikir. Ia mempersilakan kami duduk di ruang tamu yang sederhana, menuang teh, lalu pergi ke dapur, memberi kami ruang untuk bicara.

Baru setelah pintu dapur tertutup, Paman Raka mulai bercerita, dengan suara yang pelan, tetapi jelas, seperti orang yang sudah menyimpan cerita ini selama tiga minggu, dan akhirnya menemukan orang yang tepat untuk mendengarnya.

"Tiga minggu yang lalu," katanya, "perempuan itu datang ke bengkelku, bersama seorang lelaki yang menunggu di dalam mobil, yang tidak pernah turun. Ia berkata, ia adalah keluarga jauh, dan ia membawa kabar: keponakanku, yaitu kamu, Rania, akan datang dengan dokumen pembatalan, dan aku harus berhati-hati, karena dokumen itu palsu, karena kamu sudah dipengaruhi oleh seseorang yang ingin menguasai warkah ibumu. Ia memintaku untuk tidak menandatangani apa pun, untuk pergi dan bersembunyi, sampai keadaan tenang, sampai ia yang akan mengatur semuanya."

Aku mendengarkan dengan hati yang berdebar, karena cerita itu persis seperti yang kutakutkan: versi yang salah, yang disampaikan lebih dulu, supaya ketika versi yang benar datang, ia sudah tidak dipercaya lagi.

"Tetapi aku tidak langsung percaya," lanjut Paman Raka. "Aku bertanya padanya, dari mana ia tahu tentang warkah ibumu, dari mana ia tahu tentang pembatalan, dari mana ia tahu namaku. Dan ia menjawab dengan sesuatu yang membuatku merinding, Rania. Ia menjawab, ia tahu karena ia ada di rumahmu pada pagi hari ketika dokumen itu dibuka, ia ada di ruangan itu, ia mendengar semuanya, dan ia yang akan memastikan dokumen itu tidak pernah sampai ke tanganku dalam keadaan yang benar."

Aku menatap Bimo, dan Bimo menatapku, dan kami berdua mengerti hal yang sama: perempuan itu, atau orang yang mengutusnya, memang ada di ruang tamuku kemarin pagi. Ia mendengar rencanaku pergi ke Solo, ia mendengar tentang surat ibuku, ia mendengar tentang buku catatan, dan ia bergerak lebih cepat daripada kami, mendatangi Paman Raka tiga minggu yang lalu, jauh sebelum dokumen itu dibuka di ruang tamuku, yang berarti, ia sudah tahu tentang pembatalan ini jauh sebelum aku sendiri tahu, jauh sebelum kemarin pagi.

"Paman," kataku, "apakah perempuan itu menyebut siapa yang mengutusnya? Apakah ia menyebut nama?"

Paman Raka mengangguk pelan. "Ia menyebut nama, Rania. Tetapi ia menyebutnya dengan cara yang membuatku tidak bisa langsung percaya, karena nama itu adalah nama seseorang yang selama ini kamu percayai, seseorang yang ada di dekatmu, seseorang yang kalau aku menyebut namanya sekarang, kamu mungkin tidak akan percaya padaku, dan kamu akan mengira aku sudah dipengaruhi oleh orang lain."

Ia berhenti, menatapku, dan aku melihat di matanya, keraguan yang sama seperti keraguanku: keraguan orang yang hendak mengatakan kebenaran yang menyakitkan, dan takut kebenaran itu justru menghancurkan orang yang hendak ia lindungi.

"Paman, katakan saja," kataku, dengan suara yang kujaga tetap tenang, meskipun tanganku gemetar di atas meja. "Aku sudah cukup dewasa untuk mendengar kebenaran, meskipun kebenaran itu menyakitkan. Dan aku lebih memilih mendengarnya dari Paman, daripada mendengarnya dari orang yang mengancamku."

Paman Raka menghela napas panjang, dan ketika ia akhirnya membuka mulutnya, aku menahan napas, karena aku tahu, nama yang akan keluar dari mulutnya akan mengubah segalanya: mengubah caraku memandang orang-orang di sekitarku, mengubah caraku memandang rumahku sendiri, mengubah caraku memandang tiga hari terakhir ini.

Tetapi sebelum nama itu sempat terucap, pintu depan rumah Wiryo terbuka dengan keras, dan seseorang masuk dengan langkah yang tergesa-gesa, seseorang yang tidak mengetuk, seseorang yang tidak menunggu dipersilakan, seseorang yang langsung berdiri di ambang pintu ruang tamu, dengan napas yang terengah-engah, dan dengan wajah yang membuatku, Bimo, dan Paman Raka sama-sama berdiri dari kursi kami.

Orang itu adalah Reza. Reza, yang seharusnya tidak tahu kami di Klaten, Reza yang hanya kukirimi pesan singkat bahwa kami menuju Klaten, Reza yang seharusnya menunggu kabar dariku sore ini, sekarang berdiri di depan kami, dengan mata yang merah, dengan tangan yang gemetar, dan dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya dengan terbata-bata, seperti orang yang berlari jauh untuk menyampaikan kabar yang tidak bisa menunggu.

"Rania," katanya, "maafkan aku datang tanpa diundang. Aku mengikuti kalian dari Solo, karena aku khawatir. Tetapi aku bukan datang untuk menghalangimu. Aku datang karena ada kabar dari rumah, kabar yang harus kamu dengar sekarang juga, sebelum kamu menandatangani apa pun, sebelum kamu memutuskan apa pun."

Ia berhenti, menelan ludah, menatap Paman Raka, menatap Bimo, lalu menatapku, dan kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan itu terdiam, karena kalimat itu bukan tentang pembatalan, bukan tentang warkah, bukan tentang ancaman, melainkan tentang sesuatu yang jauh lebih dekat, jauh lebih pribadi, dan jauh lebih mendesak.

"Ratna meneleponku," kata Reza, "dan ia berkata, ada seseorang yang datang ke rumahmu pagi ini, seseorang yang mengaku keluarga, seseorang yang membawa surat, dan orang itu sekarang sedang menunggu di rumahmu, menunggu kamu pulang, dengan membawa sesuatu yang katanya hanya boleh dibuka oleh kamu sendiri, di depan Paman Raka, dan di depan semua orang yang ada di ruangan itu kemarin pagi."

Aku menatap Reza, menatap Paman Raka, menatap Bimo, dan aku tidak tahu harus berkata apa, karena kabar itu mengubah segalanya lagi: selama kami di Solo dan Klaten, mencari Paman Raka, seseorang yang lain datang ke rumahku, menunggu di sana, membawa sesuatu yang hanya boleh kubuka di depan semua orang, di depan orang-orang yang kemarin pagi duduk di ruang tamuku, di depan orang yang mungkin, selama ini, adalah pengancammu sendiri.

Paman Raka berdiri, menggenggam tanganku, dan berkata dengan suara yang mantap, "Kalau begitu, kita pulang, Rania. Kita pulang bersama, kamu, aku, dan Bimo, dan kita buka apa pun yang dibawa orang itu, di depan semua orang, supaya tidak ada lagi yang bisa bersembunyi di balik nomor tak dikenal, di balik mobil hitam, di balik ancaman. Sudah cukup bersembunyi. Sudah waktunya semua orang melihat kebenaran dengan mata mereka sendiri."

Aku mengangguk, dan kami bersiap untuk pulang, tetapi sebelum kami sempat melangkah keluar dari rumah Wiryo, ponsel Bimo bergetar, dan ketika Bimo membacanya, wajahnya berubah pucat, karena pesan itu, yang dikirim dari nomor yang tidak dikenal, berbunyi singkat, tetapi membuatku merasa seluruh perjalanan ini belum selesai, dan mungkin, baru saja dimulai lagi: "Jangan pulang. Orang yang menunggu di rumahmu bukan keluarga. Ia adalah orang yang sama yang selama ini mengancammu, dan ia sudah tahu kamu akan pulang bersama Paman Raka."

Aku menatap pesan itu, menatap Reza yang masih berdiri di ambang pintu, menatap Paman Raka yang menggenggam tanganku, dan aku sadar, dengan rasa ngeri yang belum pernah sebesar ini, bahwa kepulangan kami, yang seharusnya menjadi akhir dari perjalanan ini, justru bisa menjadi awal dari bahaya yang paling besar, karena orang yang menunggu di rumahku, siapa pun ia, sudah tahu kami akan pulang, dan ia sudah menunggu, bukan untuk menyambut, melainkan untuk menghentikan kami, dengan cara yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!