‹
82. Lembar Pertama Dibaca dan Nama yang Tak Diduga

Lembar Pertama Dibaca dan Nama yang Tak Diduga

Jodoh yang Salah Alamat • 1,345 kata

Ilustrasi Lembar Pertama Dibaca dan Nama yang Tak Diduga

Pintu itu belum sempat kututup ketika langkah kaki di luar semakin jelas.

Lestari mundur selangkah, seolah tubuhnya ingin bersembunyi lagi, tapi kali ini ia tidak lari. Ia berdiri di tengah ruang tamu, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya, matanya tertuju ke pintu. Ratna berdiri di dekatnya, bukan untuk menahannya, melainkan untuk memastikan ia tetap di tempatnya ketika kebenaran datang.

Pintu terbuka, dan Harun masuk. Wajahnya lebih lelah daripada semalam, jaketnya masih kusut yang sama, amplop cokelat yang lecek itu masih di tangannya. Tapi ia tidak sendirian. Di belakangnya, dengan langkah pelan dan punggung yang sedikit membungkuk, masuk tamu tua itu—orang yang semalam menyerahkan kain warkah itu padaku dan berkata bahwa warkah ini untuk membebaskan, bukan membalas dendam.

"Maaf aku terlambat," kata Harun. "Aku menjemputnya. Karena pagi ini, kita butuh semua orang yang pernah menyentuh dokumen itu berada di ruangan yang sama. Tidak ada lagi cerita yang disampaikan setengah-setengah."

Tamu tua itu menatapku, lalu menatap Lestari. "Kamu akhirnya datang juga," katanya pelan kepada Lestari. "Bertahun-tahun kamu menghindar. Pagi ini kamu tidak bisa menghindar lagi."

Lestari menelan ludah. "Aku tidak menghindar karena aku tidak peduli. Aku menghindar karena aku takut. Dan rasa takut itu yang membuatku melakukan semua kesalahan setelahnya."

Ratna mengangkat tangan, menghentikan semua orang yang hendak menyela. "Baik. Kita mulai dari yang paling penting. Bu Lestari, Anda bilang ada nama lain di dokumen itu yang tidak pernah disebut siapa pun, bahkan oleh Harun. Jelaskan. Sekarang, di depan semua orang."

Lestari menarik napas panjang. Tangannya gemetar, tapi suaranya, setelah kalimat pertama, menjadi lebih mantap, seperti orang yang akhirnya memutuskan untuk berhenti berlari.

"Waktu itu aku masih sangat muda," katanya. "Aku bekerja di kantor yang mengurus dokumen usaha. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya staf yang diminta membubuhkan nama sebagai saksi, karena saksi harus ada, dan aku ada di ruangan itu pada hari itu. Aku tidak mengerti sepenuhnya apa yang kutandatangani. Aku hanya tahu, dokumen itu menyelamatkan usaha keluarga Rania, dan sebagai gantinya ada janji perjodohan yang ditulis di dalamnya."

Ia menatapku. "Aku menyesal, Rania. Bukan karena aku menandatangani. Tapi karena setelah itu, aku diam. Aku melihat perjodohanmu diumumkan, aku melihatmu tersiksa, dan aku memilih diam karena aku takut namaku keluar. Lalu, ketika aku tidak tahan lagi melihatmu tersiksa, aku mulai menentang perjodohan itu—bukan dengan cara yang jujur, melainkan dengan cara yang melindungiku: aku menasihatimu agar tidak percaya pada tamu ini, agar tidak membuka kertas itu, agar kamu ragu. Aku bilang itu perlindungan. Padahal itu penjagaan atas rahasiaku sendiri."

Ruang tamu itu sunyi. Reza menunduk. Bimo menggenggam tanganku erat. Aku merasa marah, tapi marah itu bercampur dengan sesuatu yang lain: pengertian yang pahit. Lestari bukan monster. Ia manusia yang takut, dan ketakutannya telah mengubahnya menjadi orang yang menasihatiku dengan setengah kebenaran selama ini.

"Lalu nama lain itu?" tanya Ratna, tidak membiarkan suasana melunak terlalu lama. "Siapa nama lain yang tidak pernah disebut?"

Lestari menatap tamu tua itu. "Dia," katanya. "Bukan hanya aku saksinya. Dokumen itu disahkan oleh atasanku di kantor itu. Orang yang memeriksa, menandatangani pengesahan, dan menyimpan salinannya. Orang itu adalah dia—tamu yang semalam mengantarkan warkah itu padamu, Rania. Ia bukan sekadar kurir yang dititipi bungkus dan cincin. Ia orang yang sejak awal tahu isi dokumen itu, dan ia yang selama ini diam karena ia juga takut jabatannya, namanya, dan masa lalunya ikut terbongkar."

Tamu tua itu tidak membantah. Ia menunduk, lalu mengangguk pelan. "Benar," katanya. "Aku yang mengesahkan dokumen itu. Dan aku yang dititipi ibumu untuk mengantarkan warkah ini, karena ibumu tahu, suatu hari dokumen itu harus dibuka oleh orang yang tepat, bukan oleh orang yang takut. Aku datang terlambat, Rania. Aku minta maaf."

Aku menatap kedua orang tua itu—Lestari yang menjadi saksi, tamu tua yang mengesahkan—dan tiba-tiba aku mengerti kenapa Harun menatap Lestari semalam ketika Ratna bertanya apakah nama di lembar kedua masih hidup. Bukan hanya satu nama yang dipertaruhkan. Ada jaringan nama, jaringan ketakutan, yang saling mengunci satu sama lain selama puluhan tahun.

"Baik," kata Ratna. "Sekarang kita buka. Lembar pertama dulu, seperti yang dijanjikan. Rania, ambil kain warkahmu."

Tanganku gemetar ketika membuka laci dan mengambil kain itu. Kain itu masih sama, lipatannya masih sama, tapi rasanya berbeda: semalam ia terasa seperti bom, pagi ini ia terasa seperti surat yang akhirnya boleh dibaca. Aku membukanya perlahan di atas meja, di depan Bimo, Ratna, Reza, Harun, Lestari, dan tamu tua itu. Semua mata tertuju pada kertas itu, tapi tidak ada yang merebutnya dariku. Ini surat ibuku. Ini giliranku.

Aku membaca lembar pertama dengan suara yang bergetar, tapi jelas.

Ibuku menulis bahwa ia tidak ingin aku menyalahkan ayahku. Ayahku, tulisnya, adalah orang yang berusaha menyelamatkan keluarganya dengan cara yang ia bisa pada waktu itu, dan cara itu ternyata mengikat masa depanku. Ibuku menulis bahwa ia tahu perjodohan ini akan menyakitiku, dan karena itu ia menulis warkah ini: supaya suatu hari aku tahu, memilih hidupku sendiri bukan pengkhianatan. Ia menyebutnya pembebasan, persis seperti yang dikatakan tamu tua itu semalam. Ia menulis bahwa ia mencintaiku, bahwa ia tidak ingin namanya, atau nama siapa pun, menjadi rantai di leherku.

Ketika aku selesai membaca, air mataku jatuh ke atas kertas itu, dan Bimo menghapusnya dengan ujung jarinya, hati-hati, seolah kertas itu adalah sesuatu yang suci. Reza menunduk, menghapus matanya sendiri. Bahkan Ratna, yang selama ini tampil keras, memalingkan wajahnya sebentar.

"Terima kasih, Bu," bisikku. "Aku dengar. Aku akhirnya dengar."

Ratna membiarkan keheningan itu bertahan sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih pelan dari biasanya, "Rania, apa yang baru kamu baca itu penting. Ibumu tidak menulis surat ini untuk menyalahkan siapa-siapa. Ia menulisnya supaya kamu tidak membawa rasa bersalah orang tuamu ke dalam hidupmu sendiri. Ingat itu, apa pun yang tertulis di lembar kedua nanti."

Aku mengangguk, melipat lembar pertama itu kembali dengan hati-hati, seolah aku sedang melipat kembali suara ibuku ke dalam kain. Reza menatapku dan berkata, "Rania, setelah ini, apa pun yang terjadi, aku tidak akan memaksakan janji itu lagi. Ayahku juga sudah bilang begitu. Kita selesaikan dokumen ini, lalu kita bicara sebagai dua orang dewasa, bukan sebagai dua orang yang diikat janji."

Lestari menatapku dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak minta kamu memaafkanku pagi ini," katanya. "Aku hanya minta kamu percaya satu hal: aku datang karena aku tidak mau lagi menjadi alasan kamu takut. Kalau namaku memang ada di lembar kedua, aku akan menghadapinya. Kalau namaku tidak ada di sana, aku juga akan menghadapinya. Yang penting, tidak ada lagi yang disembunyikan di ruangan ini."

Harun melangkah maju, amplop cokelat itu di tangannya. "Sekarang lembar kedua," katanya. "Seperti yang kujanjikan, aku membawanya. Aku tidak membukanya semalam karena aku tahu, sekali nama ini dibaca, tidak ada yang bisa berpura-pura tidak tahu lagi."

Ia menyerahkan amplop itu bukan padaku, melainkan kepada Lestari. "Kamu yang dulu menuliskan namamu sebagai saksi," katanya. "Kamu yang berhak membaca nama ini pertama kali, sebelum orang lain. Supaya kamu tahu, apakah yang kamu takutkan selama ini benar-benar ada di sini, atau hanya bayanganmu sendiri."

Lestari menerima amplop itu dengan kedua tangan yang gemetar. Ia membukanya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang sudah menguning, dan membacanya dalam diam. Wajahnya berubah—bukan menjadi lega, bukan menjadi takut seperti yang kuduga, melainkan menjadi bingung, lalu pucat, seperti orang yang membaca sesuatu yang sama sekali tidak sesuai dengan ingatannya.

Ia menatap Harun, lalu menatapku, lalu kembali ke kertas itu.

"Ini—" suaranya pecah. "Ini bukan nama yang kukira. Nama di lembar kedua ini bukan nama yang kutulis sebagai saksi, bukan nama yang selama ini kutakuti. Ini nama orang lain. Nama yang—" ia berhenti, menatap pintu yang masih terbuka, "—nama yang seharusnya tidak ada di dokumen ini sama sekali."

Dan di saat itulah, dari ambang pintu yang masih terbuka, terdengar suara seseorang yang kami semua kenal, suara yang tidak kami undang pagi ini, berkata dengan tenang, "Kalau begitu, biarkan aku yang menjelaskan kenapa namaku ada di sana."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!