‹
83. Suara dari Pintu dan Nama Penjamin Lama

Suara dari Pintu dan Nama Penjamin Lama

Jodoh yang Salah Alamat • 1,459 kata

Ilustrasi Suara dari Pintu dan Nama Penjamin Lama

Suara itu tidak meninggi, tidak membentak, dan justru karena itulah seluruh ruang tamu seakan berhenti bernapas. Aku mengenal suara itu, meski aku tidak pernah mendengarnya di rumah ini, meski aku tidak pernah membayangkan akan mendengarnya pada pagi seperti ini. Bimo menegang di sampingku. Genggamannya pada tanganku mengerat, bukan karena ia takut padaku, melainkan karena ia sudah tahu, sebelum aku sempat menoleh, siapa yang berdiri di ambang pintu kami.

Aku menoleh perlahan. Di ambang pintu, dengan kemeja yang rapi tetapi wajah yang tampak seperti orang yang semalaman tidak tidur, berdiri Pak Hadi, ayah Bimo. Ia tidak masuk dengan tergesa-gesa. Ia berdiri di sana seperti orang yang sudah lama berdiri di luar, mendengarkan, menunggu saat yang tepat, dan akhirnya memutuskan bahwa menunggu lebih lama hanya akan menambah kebohongan. Di belakangnya, gang pagi itu tampak sepi, tetapi aku tahu kesunyian itu tidak akan bertahan lama. Pagi ini, rumah kami sudah terlalu penuh dengan kebenaran untuk bisa kembali sunyi.

"Pak Hadi?" Suaraku keluar lebih pelan daripada yang kumaksud. "Bapak—kenapa Bapak ada di sini?"

Pak Hadi melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan pelan, seolah ia tidak ingin suara pintu itu menambah kegaduhan. Ia menatap Lestari dulu, lalu Harun, lalu aku. "Karena Harun menghubungiku semalam," katanya. "Ia bilang, pagi ini lembar kedua akan dibuka, dan namaku mungkin akan dibaca di ruangan ini. Aku tidak mau namaku dibaca oleh orang lain, sementara aku bersembunyi di luar. Kalau namaku ada di sana, biar aku yang menjelaskan kenapa ia ada di sana."

Lestari masih memegang lembar kedua itu dengan kedua tangan. Kertasnya yang menguning tampak rapuh, tetapi kata-kata di atasnya jelas telah mengguncang seluruh tubuhnya. Ia menatap Pak Hadi seperti orang yang baru saja menemukan potongan terakhir dari teka-teki yang selama puluhan tahun ia susun dengan potongan yang salah. "Jadi benar," bisiknya. "Nama itu—nama Bapak."

"Benar," kata Pak Hadi. Ia tidak menghindar. Ia menatapku, dan di matanya tidak ada pembelaan yang dibuat-buat, hanya kejujuran orang tua yang sudah terlalu lama menyimpan sesuatu. "Rania, dulu, ketika usaha keluargamu hampir runtuh, aku ikut menandatangani dokumen itu sebagai penjamin. Bukan sebagai saksi seperti Bu Lestari. Sebagai penjamin. Artinya, kalau usaha itu gagal, aku ikut menanggungnya. Dan sebagai gantinya, di dalam dokumen yang sama, tertulis janji perjodohan itu."

Aku merasa lantai di bawah kakiku bergeser, bukan karena aku marah, melainkan karena selama ini aku mengira perjodohan ini hanya mengikat dua keluarga: keluargaku dan keluarga Reza. Ternyata, sejak awal, ada keluarga ketiga yang ikut terikat, keluarga yang selama ini berdiri di sisiku tanpa pernah bercerita. Aku menatap Bimo. Wajahnya pucat, tetapi ia tidak tampak terkejut sepenuhnya. Ia tampak seperti orang yang baru saja mendengar kebenaran yang selama ini ia curigai, tetapi tidak pernah berani ia tanyakan langsung kepada ayahnya sendiri.

"Bimo, kamu sudah tahu?" tanyaku pelan.

Bimo menggeleng, lalu mengangguk, lalu menggeleng lagi, seperti orang yang tidak tahu harus menjawab apa. "Aku pernah melihat nama Ayah di kertas-kertas lama di rumah," katanya akhirnya. "Aku masih kecil waktu itu. Aku tidak mengerti. Ayah bilang itu urusan usaha orang dewasa, dan aku tidak bertanya lagi. Semalam, setelah Harun menelepon Ayah, Ayah baru bercerita padaku. Sebagian. Tidak semuanya."

Ratna, yang sejak tadi berdiri tegak seperti penjaga sidang, melangkah maju. "Pak Hadi, silakan duduk," katanya, dengan suara yang tegas tetapi tidak menghakimi. "Kita sudah sepakat pagi ini: tidak ada lagi cerita setengah-setengah. Kalau Bapak penjaminnya, jelaskan semuanya. Kenapa Bapak mau menandatangani sesuatu yang mengikat anak orang lain?"

Pak Hadi duduk di kursi paling ujung, dekat pintu, seolah ia masih memberi dirinya jalan untuk pergi kalau ruangan ini menolaknya. Ia menghela napas panjang. "Waktu itu aku dan ayah Rania berteman dekat," katanya. "Usahanya bukan sekadar usaha. Itu hidup keluarganya. Pegawainya banyak, dan kalau runtuh, banyak keluarga ikut runtuh. Aku punya sedikit tabungan, punya nama yang masih dipercaya di kantor itu, dan aku pikir, dengan menjadi penjamin, aku bisa menyelamatkan mereka. Aku tidak membaca janji perjodohan itu dengan saksama. Atau, lebih jujur, aku membacanya, tetapi aku pikir janji itu hanya formalitas, tulisan di atas kertas yang nanti bisa dibicarakan lagi kalau anak-anak sudah besar. Aku salah. Tulisan itu ternyata dipegang erat oleh orang-orang yang berkepentingan, dan ketika Rania besar, tulisan itu dipakai untuk mengikatnya."

Harun, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. "Itulah kenapa aku menghubunginya," katanya. "Karena dokumen ini tidak bisa dibatalkan hanya dengan niat baik. Ia punya penjamin. Dan penjamin itu masih hidup, masih bisa bicara, dan masih bisa menarik tanda tangannya. Kalau Pak Hadi tidak ada di sini, apa pun yang kita putuskan pagi ini akan selalu bisa digugat lagi nanti."

Lestari menunduk. "Jadi selama ini aku takut pada nama yang salah," katanya, suaranya getir. "Aku takut namaku sebagai saksi akan menyeretku, padahal nama yang mengikat dokumen ini bukan namaku. Aku menasihati Rania dengan setengah kebenaran, aku membuatnya ragu pada tamu ini, pada warkah ini, padahal yang seharusnya aku lakukan sejak awal adalah jujur bahwa aku hanya saksi kecil, bukan orang yang mengikatnya."

Aku menatap Lestari, dan untuk pertama kalinya pagi itu, marahku padanya melunak menjadi sesuatu yang lebih sedih. Ia bukan orang jahat. Ia orang yang takut, dan ketakutannya membuatku bertahun-tahun berjalan dalam keraguan. Tetapi pagi ini ia datang, ia berdiri di tengah ruang tamu, dan ia tidak lari lagi. Itu pun sudah sesuatu.

Reza, yang sejak tadi duduk diam di sudut, mengangkat wajahnya. "Pak Hadi," katanya, "kalau Bapak penjaminnya, apakah itu berarti Bapak juga punya hak untuk membatalkan perjodohan ini?"

Pak Hadi mengangguk pelan. "Secara dokumen, ya. Penjamin bisa menarik jaminannya, dan kalau jaminan ditarik, janji yang melekat padanya ikut gugur. Tapi tidak sesederhana itu. Dokumen ini dibuat di kantor yang sama dengan Bu Lestari dan tamu tua ini. Ada prosedur, ada saksi, ada pihak yang menyimpan salinannya. Aku tidak bisa hanya berkata 'aku menarik tanda tanganku' lalu semuanya selesai. Dan—" Ia berhenti. Ia menatap Harun, lalu menatap tamu tua itu, lalu menatapku dengan pandangan yang membuat dadaku mengencang. "Dan ada satu hal lagi di dalam dokumen ini yang belum terungkap. Sesuatu yang bahkan Harun belum membacanya sampai habis, karena ia hanya ada di lampiran, bukan di lembar utama."

Aku teringat kembali semua hal kecil yang selama ini tidak pernah kusambungkan. Bimo yang dulu, ketika kami masih remaja, pernah berkata bahwa ayahnya sangat menghormati ayahku, sampai-sampai ia rela meminjamkan namanya untuk urusan apa pun. Waktu itu aku mengira itu hanya cara Bimo memuji ayahnya. Sekarang aku mengerti, itu bukan pujian kosong. Itu adalah potongan kebenaran yang disampaikan seorang anak tanpa menyadari betapa beratnya potongan itu. Bimo tumbuh di rumah yang namanya terikat pada keluargaku, dan ia tidak pernah tahu, sampai semalam, bahwa ikatan itu jugalah yang membuat hubunganku dengannya terasa begitu sulit dijelaskan kepada orang lain.

Harun menambahkan penjelasan yang membuat gambaran itu semakin utuh. Ia bercerita bahwa semalam, setelah ia memutuskan untuk membawa amplop itu pagi ini, ia sadar bahwa membuka lembar kedua tanpa penjaminnya hadir hanya akan menimbulkan tuduhan baru. Orang bisa berkata ia memalsukan nama, atau ia membaca nama itu dengan cara yang salah. Karena itu ia menelepon Pak Hadi, bukan untuk meminta izin, melainkan untuk meminta kehadiran. "Aku bilang padanya," kata Harun, "kalau namamu dibaca di ruangan ini tanpa kamu ada di sana, kamu tidak akan pernah bisa menjelaskan dirimu. Datanglah, dan jelaskan sendiri." Pak Hadi mengangguk membenarkan, dan aku melihat, untuk pertama kalinya, rasa hormat yang tulus di antara dua lelaki yang selama ini sama-sama memikul dokumen ini dari sisi yang berbeda.

Lestari menatap Pak Hadi dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Jadi Bapak juga takut," katanya, bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai pengakuan bahwa ia tidak sendirian dalam ketakutannya. "Aku mengira hanya aku yang takut. Ternyata kita semua takut, hanya saja kita takut pada hal yang berbeda, dan ketakutan itu membuat kita saling menjaga rahasia, padahal rahasia itu justru yang mengikat Rania."

Pak Hadi mengangguk. "Benar, Bu. Aku takut nama keluargaku rusak. Bu Lestari takut namanya sebagai saksi terbongkar. Tamu tua ini takut jabatannya dipertanyakan. Dan ketakutan kami bertiga, yang saling mengunci, membuat dokumen ini tidak pernah dibuka dengan jujur selama puluhan tahun. Pagi ini, kita memutus kunci itu, satu per satu, dengan cara datang dan bicara."

Ruang tamu itu kembali sunyi, tetapi sunyi kali ini berbeda: bukan sunyi karena terkejut, melainkan sunyi karena semua orang menahan napas, menunggu kalimat berikutnya. Bimo menggenggam tanganku lebih erat. Reza menegakkan punggungnya. Ratna menyipitkan mata. Dan Pak Hadi, dengan suara yang lebih pelan daripada sebelumnya, berkata, "Sebelum kita bicara soal pembatalan, kalian harus tahu dulu apa yang tertulis di lampiran itu. Karena lampiran itulah yang selama ini membuat semua orang takut untuk membukanya."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!