Siapa Nadia
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,244 kata
Nama itu tidak membiarkan Rania tidur: Nadia.
Ia mengucapkannya dalam hati berkali-kali, seolah pengulangan bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang tidak berbahaya. Nadia. Siapa Nadia? Mantan? Selingkuhan? Atau hanya... bukan siapa-siapa, dan Reza hanya meniupkan asap ke dalam api?
Sore berikutnya Rania datang ke Kopi Senja lebih awal. Ia duduk di meja nomor empat, memesan cokelat panas yang tidak ia minum, dan memperhatikan Bimo dari kejauhan. Bimo tertawa bersama rekan kerjanya, normal seperti biasa. Tapi kemudian Rania menyadarinya: ponsel Bimo tergeletak tengkurap di atas bar. Kebiasaan baru. Sejak kapan?
Saat makan siang berdua, Bimo lebih sering melirik ponselnya daripada menatap Rania. "Kerjaan," katanya cepat, menyelipkan ponsel ke saku. Ia bercerita mengambil shift tambahan β "Buat masa depan kita, Ran." β dan kata "masa depan" itu tiba-tiba terdengar seperti utang yang harus dibayar, bukan janji yang dinanti.
Di kampus, Rania tidak bisa fokus. Suara dosen terdengar seperti dengung jauh. Di kertas catatannya, tanpa sadar ia menulis satu nama berulang-ulang: NADIA NADIA NADIA β lalu mencoretnya dengan kasar sampai kertasnya robek.
Siang itu ia menelepon Ibunya, mencoba terdengar santai. "Bu, acara dengan keluarga Pak Hendra itu kapan?" Hening sejenak. "Ayahmu yang mengatur, Nak. Ibu hanya ikut." β "Ibu setuju?" β "Ayahmu hanya ingin yang terbaik untukmu." Jawaban yang bukan jawaban. Rania menutup telepon dengan rasa hampa yang familiar.
Rania memutuskan satu hal: sebelum makan malam keluarga yang menentukan itu tiba, ia harus menuntaskan urusannya dengan Reza. Detail rencana pura-pura itu harus jelas. Ia memilih tempatnya sendiri β sebuah warung soto di gang sempit dekat kampus. Ujian kecil: kalau Reza benar-benar bukan pangeran menara gading, ia akan datang.
Reza datang. Kemeja polos, tanpa sopir, tanpa jam tangan mewah. Ia menyapa pemilik warung seperti pelanggan lama: "Bu Lastri, soto campur seperti biasa. Nggak pakai jeruk."
Ia makan dengan lahap, seperti orang yang benar-benar lapar. Rania yang berniat menginterogasi justru kehabisan kata-kata.
"Kamu sering ke sini?" tanyanya akhirnya.
"Dari zaman aku magang dan ayahku memotong uang sakuku karena aku menolak masuk ke perusahaannya," jawab Reza ringan. "Bu Lastri satu-satunya yang memberiku makan gratis waktu itu. Katanya, 'anak kurus begini jangan gengsi lapar.'"
Untuk pertama kalinya, Rania melihat Reza tersenyum β sungguhan.
Bu Lastri menatap Rania dengan mata berbinar. "Dibawa juga akhirnya ceweknya, To?" Reza tersedak sotonya. "Bu! Dia bukanβ kami cumaβ urusan kerja." Bu Lastri tertawa, mengedip pada Rania. "Iya, iya, 'urusan kerja'." Rania menahan senyum β untuk pertama kalinya melihat pewaris Hendra Corp salah tingkah seperti anak magang.
Di tengah makan, Reza menunjukkan foto di ponselnya β seorang perempuan berwajah lembut dengan senyum mirip Reza. "Ibuku," katanya pelan. "Guru SD. Dia yang mengajariku... bahwa orang tidak diukur dari rekeningnya." Ia mengunci layar cepat-cepat, seolah malu menunjukkan sisi rapuhnya. Rania tidak mengejarnya. Ia hanya mengerti: mereka berdua sama-sama yatim β Rania yatim perhatian ayahnya, Reza yatim kasih sayang ibunya.
Percakapan mengalir ke tempat yang tak diduga. Ibu Reza meninggal saat ia enam belas tahun. Dua tahun kemudian ayahnya menikahi sekretarisnya sendiri. Rumah berubah menjadi ruang rapat; makan malam berubah menjadi laporan keuangan. Reza kabur ke luar negeri, kuliah, dan membangun proyek panel surya kecil untuk desa-desa β proyek yang tiga bulan lagi akan mendapat lisensi resminya, dan saat itulah ia tidak butuh uang ayahnya lagi.
"Lewat yayasan kecil, aku biayai sekolah anak-anak buruh pabrik," kata Reza, mengaduk sotonya. "Ibuku guru. Dia pasti lebih mau aku meneruskan itu daripada merger."
Rania menatap lelaki di hadapannya β pewaris konglomerat yang makan soto di warung gang β dan merasakan sesuatu yang berbahaya: simpati.
Mereka memfinalkan rencana. Di makan malam keluarga, mereka akan bersikap sopan namun menjaga jarak di depan umum. Informasi bertukar lewat pertemuan "kebetulan" yang terjadwal. Target: mengulur pertunangan sampai lisensi proyek Reza keluar, lalu kedua keluarga mendapat alasan untuk membatalkannya tanpa perang terbuka.
"Kamu nggak takut sama ayahmu?" tanya Rania.
"Setiap hari," kata Reza, dan sesaat ia tampak benar-benar berusia dua puluh enam β muda, lelah, manusiawi.
Menjelang magrib, Rania mengajak Bimo ke taman mereka β taman dengan pohon beringin tua tempat Bimo pertama kali berkata "aku sayang kamu" tiga tahun lalu, dengan suara bergetar dan tangan berkeringat.
Langit jingga. Rania mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto itu. "Kamu pernah ke kantor Hendra Corp?"
Bimo membeku. "Dari mana kamuβ"
"Jawab aja. Pernah atau nggak?"
"Itu bukan aku."
Rania memperbesar foto: jaket denim itu, bekas luka di alis kiri β luka masa kecil saat Bimo jatuh dari pohon rambutan. Hening yang panjang. Burung-burung pulang ke dahan beringin.
"Iya," kata Bimo akhirnya, suaranya parau. "Aku ke sana."
Ceritanya keluar tersendat-sendat. Dua minggu lalu, setelah mendengar desas-desus perjodohan dari Ibu Rania, Bimo nekat datang ke menara Hendra Corp untuk memohon agar pertunangan itu dibatalkan. Ia menunggu tiga jam di lobi. Pak Hendra akhirnya menemuinya lima menit β tertawa β lalu menawarkan uang: dua ratus juta rupiah untuk menghilang dari hidup Rania.
"Aku nolak, Ran. Demi Tuhan, aku nolak." Mata Bimo berkaca-kaca. "Aku nggak cerita ke kamu karena... aku mau menyelesaikannya seperti laki-laki. Aku nggak mau kamu menanggung malu karena pacarmu mengemis ke calon mertuamu."
"Dia bilang apa? Persisnya?" desak Rania.
Bimo menatap tangannya sendiri. "Dia bilang... 'anak sepertimu gampang diganti.' Katanya, dua ratus juta cukup untuk memulai hidup baru di kota lain. Asal jauh dari kamu." Suaranya pecah. "Aku hampir memukulnya, Ran. Tapi aku ingat wajahmu. Aku pergi."
"Nadia?" tanya Rania pelan.
"Staf HR di sana. Dia yang meloloskan aku masuk tanpa janji. Dia kasihan padaku, Ran. Cuma itu."
Kelegaan membanjiri dada Rania, diikuti rasa bersalah yang menusuk. Ia memeluk Bimo erat-erat di bawah pohon beringin, keduanya menangis sedikit, daun-daun berdesir di atas mereka. Sesaat, dunia kembali sederhana.
Di tengah pelukan itu, ponsel di saku Rania bergetar pelan. Ia melirik sekilas β pesan dari nomor tak dikenal: "Jangan lupa. Makan malam besok. Tetap pada rencana. β R." Jantung Rania mencelos. Ia buru-buru mengunci layar sebelum Bimo sempat melihat, dan senyumnya terasa seperti topeng yang retak. Inilah harga menjadi sekutu Reza: berbohong pada orang yang paling ia cintai, tepat di saat ia memeluknya.
"Aku nggak akan ke mana-mana, Ran," bisik Bimo. "Dua ratus juta nggak bisa beli tiga tahun kita."
Mereka duduk lama di bawah beringin sampai langit menggelap. Bimo bercerita tentang rencana kecilnya: menabung untuk cincin β bukan berlian, "cincin perak cukup, yang penting melingkar" β dan Rania tertawa sambil menangis. Untuk satu jam, tidak ada Hendra, tidak ada Reza, tidak ada Nadia. Hanya mereka berdua dan jangkrik.
Tapi dalam perjalanan pulang, sebuah pikiran dingin menggerogoti kelegaan itu: Reza tahu kebenarannya tidak bersalah. Reza memberinya pertanyaan, bukan kebohongan. Mengapa membingkainya sebagai rahasia? Kecuali... Reza memang ingin Rania meragukan Bimo. Kecuali sang "sekutu" sedang memainkan permainannya sendiri.
Di ruang tamu, Ibu duduk merajut dengan pandangan kosong. "Ayahmu di ruang kerja," bisiknya. "Dia... tidak makan malam." Dari celah pintu, Rania melihat Ayahnya duduk membungkuk di depan tumpukan kertas, kepala di tangan. Lelaki tegak itu tampak kecil malam ini.
Rania jongkok di samping ibunya, menyandarkan kepala di lutut Ibu seperti waktu kecil. "Bu... kalau disuruh milih antara cinta dan bakti, Ibu milih apa?" Ibu berhenti merajut. Lama. "Ibu memilih... tidak membiarkan anak Ibu memilih sendirian," bisiknya β jawaban paling jujur yang pernah Rania dengar darinya. Air mata Rania jatuh diam-diam. Untuk pertama kalinya, ia merasa ibunya berdiri di pihaknya β meski hanya lewat kata-kata yang nyaris tak terdengar.
Malam itu telepon rumah berdering. Suara Ayah β bergetar, sesuatu yang belum pernah Rania dengar seumur hidupnya.
"Nak... besok makan malam di rumah Pak Hendra. Ayah mohon, datang. Ini soal perusahaan. Soal... semuanya."
Ayah tidak pernah memohon. Ayah adalah lelaki yang selalu tegak, bahkan saat Ibu menangis, bahkan saat usahanya hampir bangkrut lima tahun lalu. Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua puluh satu tahun hidupnya, Rania mendengar ayahnya β menangis di ujung telepon.