‹
15. Panggung Dibalikkan

Panggung Dibalikkan

Jodoh yang Salah Alamat • 1,363 kata

Akad itu seharusnya menjadi momen paling sakral dalam hidup Rania. Nyatanya, ia tidak mendengar satu pun kalimat penghulu.

Yang ia dengar hanyalah detak jam di kepalanya, dan suara Bimo—suara yang tidak nyata, suara yang hanya hidup di ingatannya—berkata: aku juga punya sesuatu. Percaya padaku.

Reza duduk di sampingnya, tegak dan kaku seperti patung. Tangan kanannya menggenggam tangan Rania—bukan dengan mesra, melainkan seperti dua orang tawanan yang saling menguatkan sebelum dieksekusi. Di depan mereka, penghulu membacakan khutbah nikah dengan suara tenang. Di barisan depan, Pak Hendra tersenyum. Di barisan belakang, Bimo berdiri dengan amplop cokelatnya.

Dan di meja nomor dua belas, dekat panggung, Bang Yudi duduk dengan kamera tersembunyi di kancing kemejanya, menunggu sinyal.

"Saudara Reza bin Hartawan," kata penghulu, "saya nikahkan engkau dengan Rania binti..."

Rania menatap lurus ke depan. Bibirnya bergerak mengucapkan kalimat yang sudah dihafal: ijab kabul. Suaranya keluar dengan jelas, lantang, tanpa gemetar. Para tamu tersenyum haru. Beberapa mengusap air mata. Ibunya menangis di barisan kedua.

Sah.

Kata itu jatuh seperti palu godam. Tepuk tangan membahana. Reza menundukkan kepala—bukan karena haru, melainkan karena menahan sesuatu yang hendak meledak dari dadanya. Rania merasakan genggaman tangannya mengerat.

"Maaf," bisik Reza, begitu lirih hingga hanya Rania yang mendengar. "Maafkan aku."

"Belum selesai," bisik Rania balik. "Ingat rencana."

Karena inilah bagian yang tidak diketahui siapa pun kecuali mereka berempat—Rania, Reza, Paman Darman, dan Bang Yudi. Akad ini memang harus terjadi. Hendra harus merasa menang. Orang yang merasa menang akan lengah, dan orang yang lengah akan berjalan sendiri ke dalam perangkap.

Resepsi dimulai pukul dua belas. Musik, tawa, denting gelas. Rania dan Reza berdiri di pelaminan seperti sepasang boneka pajangan, menerima ucapan selamat dari antrean tamu yang tak berujung. Setiap jabat tangan adalah siksaan. Setiap "selamat ya, langgeng terus" adalah pisau kecil.

Pukul setengah satu, Hendra naik ke panggung. Ia mengambil mikrofon dengan gaya seorang pemilik—karena memang inilah pestanya, pestanya yang sesungguhnya.

"Bapak-bapak, Ibu-ibu, hadirin yang saya hormati," katanya, suaranya bergema ke seluruh aula. "Hari ini adalah hari bersejarah. Bukan hanya untuk dua keluarga, tapi untuk masa depan perusahaan kita. Pernikahan Reza dan Rania adalah simbol—simbol persatuan, simbol komitmen, simbol bahwa keluarga dan bisnis bisa berjalan beriringan menuju kejayaan."

Tepuk tangan. Hendra tersenyum lebar, lalu melirik ke arah pelaminan. "Reza, Rania—kemarilah. Berdirilah di samping saya."

Rania dan Reza saling pandang. Inilah saatnya. Lebih cepat dari yang direncanakan—jam menunjukkan pukul setengah satu, masih setengah jam sebelum tenggat—tapi panggung sudah tersedia, mikrofon sudah di tangan, dan ratusan pasang mata sudah tertuju.

Mereka naik ke panggung. Hendra merangkul bahu keduanya seperti ayah yang bangga. Bau parfum mahalnya menusuk hidung Rania.

"Nah," kata Hendra ke mikrofon, "mungkin pengantin kita mau menyampaikan sepatah dua patah kata?"

Ia menyodorkan mikrofon ke arah Reza. Senyumnya berkata: ucapkan yang manis-manis, Nak. Jangan macam-macam.

Reza mengambil mikrofon itu. Tangannya gemetar. Ia menatap lautan wajah di bawah—ratusan tamu, wartawan hiburan, relasi bisnis—lalu menatap ayahnya sendiri.

"Terima kasih, Pak," kata Reza. Suaranya serak. "Saya... saya memang mau bicara. Tapi bukan tentang kebahagiaan."

Seisi aula mendadak sunyi. Hendra masih tersenyum, tapi senyumnya mulai retak di pinggirnya.

"Reza," kata Hendra pelan, "mungkin kamu lelah. Biar Papa saja yang—"

"Tidak, Pak." Reza mengangkat mikrofon lebih tinggi. "Saya sudah lelah terlalu lama. Lelah pura-pura. Lelah jadi boneka. Dan hari ini, di depan semua orang, saya mau berhenti."

Ia menarik napas panjang. Rania bisa melihat keringat membasahi pelipisnya.

"Pernikahan ini," kata Reza, "bukan pernikahan atas dasar cinta. Ini transaksi. Ada kontrak di baliknya—kontrak yang memaksa saya menikahi Rania, dan memaksa Rania menikahi saya, demi menyelamatkan perusahaan Papa dari kebangkrutan. Klausul 7 ayat 4. Saya hafal di luar kepala, karena klausul itu yang menghancurkan hidup saya."

Gemuruh. Ratusan tamu mulai berbisik. Wartawan-wartawan hiburan yang tadinya santai kini menegakkan badan, kamera-kamera diarahkan ke panggung.

Wajah Hendra berubah. Senyumnya hilang sepenuhnya. "Reza! Turun dari panggung, sekarang!"

"Belum, Pak." Reza menoleh ke arah meja nomor dua belas. "Karena saya tidak bicara sendirian hari ini."

Dan pada saat itulah Bang Yudi berdiri.

Wartawan investigasi itu berjalan tenang menuju panggung, melewati barisan kursi yang kini hening total. Di tangannya ada amplop cokelat yang sama—amplop yang diserahkan Rania semalam di warung kopi pinggir jalan.

"Perkenalkan," kata Bang Yudi, mengambil mikrofon kedua dari panitia yang terpaku, "saya Yudi Pratama, wartawan. Dan saya membawa bukti."

Ia mengangkat amplop itu tinggi-tinggi. "Di dalam sini ada fotokopi klausul kontrak berparaf Nadia Rahma—iya, asisten pribadi Pak Hendra sendiri—yang membuktikan adanya pemaksaan perkawinan sebagai syarat kemitraan bisnis. Ada foto-foto lebam di tubuh Reza, hasil kekerasan yang dilakukan atas perintah ayahnya sendiri ketika Reza mencoba menolak. Ada kesaksian tertulis Reza, ditandatangani di atas materai. Dan ada foto-foto Vila Cemara—tempat di mana kontrak kotor ini pertama kali dirancang."

Setiap kalimat jatuh seperti bom. Aula yang tadinya riuh kini sunyi seperti kuburan.

Hendra melangkah maju, wajahnya merah padam. "Ini fitnah! Keamanan! Keamanan, seret orang ini keluar!"

Dua orang bertubuh besar—orang-orang Hendra—bergerak dari sisi aula. Tapi sebelum mereka mencapai panggung, sebuah suara lain terdengar dari barisan belakang.

"Tunggu."

Bimo berjalan maju menyusuri lorong tengah. Amplop cokelat di tangannya kini terlihat jelas oleh semua orang. Langkahnya tenang, tapi rahangnya mengeras.

"Saya Bimo," katanya, dan Rania merasakan lututnya lemas mendengar suara itu setelah sekian lama. "Saya pacar Rania. Pacar yang asli. Dan saya juga membawa sesuatu."

Ia naik ke panggung, berdiri di sisi Rania yang berlawanan dengan Reza. Tiga orang itu—Rania di tengah, Reza dan Bimo di sisinya—kini berdiri berhadapan dengan Hendra.

"Semalam saya dibawa oleh orang-orang Bapak," kata Bimo, menatap Hendra tanpa berkedip. "Dibawa ke sebuah gudang di daerah Cikarang. Mereka bilang, kalau saya berani muncul di pernikahan ini, saya nggak akan pulang utuh. Tapi..." Ia mengangkat amplopnya. "Mereka ceroboh. Salah satu dari mereka menjatuhkan ini di mobil. Isinya..."

Bimo membuka amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas. "Perintah tertulis. Ditandatangani oleh Pak Hendra sendiri. Perintah untuk mengamankan saya—bahasa halusnya—dan perintah untuk menyita ponsel Rania kalau dia macam-macam hari ini. Lengkap dengan nominal bayarannya."

Jeritan tertahan terdengar dari para tamu. Seorang wartawan berteriak, "Boleh difoto buktinya, Mas?"

"Silakan," kata Bimo. "Foto semuanya. Sebarkan."

Blitz kamera meledak dari segala arah. Hendra mundur selangkah, lalu selangkah lagi. Topengnya—topeng pengusaha dermawan, ayah bijaksana, raja yang tak tersentuh—retak, hancur, berjatuhan keping demi keping di depan ratusan pasang mata.

"Kalian..." Suaranya bergetar. Bukan karena takut—Hendra bukan orang yang mudah takut—melainkan karena marah yang meluap. "Kalian pikir kalian bisa menghancurkan saya? Saya membangun kerajaan ini dari nol! Kalian semua—" Ia menunjuk ke arah tamu-tamu, ke arah wartawan, ke arah anaknya sendiri. "Kalian semua makan dari tangan saya!"

"Dan tangan Bapak berlumuran darah," kata Rania.

Ini pertama kalinya ia bicara sejak naik ke panggung. Suaranya jernih, tenang, dan menggema ke seluruh aula melalui mikrofon yang masih dipegang Reza.

"Pak Hendra," kata Rania, menatap laki-laki itu lurus-lurus, "Bapak mengancam ibu saya. Bapak memukul anak Bapak sendiri. Bapak menculik pacar saya. Bapak memaksa dua orang yang tidak saling mencintai untuk menikah demi menyelamatkan perusahaan Bapak. Dan Bapak menyebut itu keluarga?"

Ia melepaskan genggaman Reza—bukan karena marah, melainkan karena ia tidak lagi membutuhkannya untuk berdiri tegak.

"Saya tidak takut lagi, Pak. Tenggat jam dua siang itu sudah lewat kepalanya—" Ia melirik jam di dinding aula. Pukul satu lewat empat puluh. "Dan paket bukti itu sudah di tangan wartawan. Bapak kalah."

Hendra menatapnya. Lama. Dan kemudian, perlahan, sesuatu yang menyeramkan terjadi: ia tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya.

"Kamu pikir ini selesai, Rania?" katanya pelan, tapi mikrofon menangkapnya. "Kamu pikir dengan begini kamu bebas? Kamu nggak tahu apa-apa. Kamu nggak tahu siapa yang..."

Ia berhenti. Melirik Bimo. Dan senyumnya melebar.

"Tanya pacarmu itu," kata Hendra, menunjuk Bimo dengan jari telunjuk yang gemetar karena amarah. "Tanya dia tentang malam sebelum dia hilang itu. Tanya dia kenapa dia gampang banget dibawa oleh orang-orang saya. Tanya dia—"

"Cukup!" potong Bimo, wajahnya memucat.

Tapi kerusakan sudah terjadi. Rania menoleh ke Bimo. Bimo menghindari tatapannya. Reza menatap Bimo dengan curiga. Ratusan pasang mata menyaksikan keretakan kecil yang baru saja dibuka Hendra di tengah kemenangan mereka.

Dan di tengah kekacauan itu—di tengah blitz kamera, bisik-bisik tamu, dan teriakan Hendra yang memanggil pengacaranya—Rania menyadari satu hal yang membuat darahnya dingin:

Hendra masih menyimpan satu kartu. Dan kartu itu bernama Bimo.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!