β€Ή
98. Suara di Balik Pintu

Suara di Balik Pintu

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,525 kata

Ilustrasi Suara di Balik Pintu

Tiga ketukan itu jatuh di pintu depan seperti detak jantungku sendiri, pelan, teratur, dan mustahil diabaikan. Surat ibu masih tergeletak di pangkuanku, tintanya seolah masih basah, dan kalimat terakhirnya berputar-putar di kepalaku tanpa henti: jangan percaya pada orang yang pertama kali memberitahumu tentang surat itu. Aku menatap Paman Raka yang berdiri kaku di sudut ruangan, wajahnya pucat seperti orang yang baru saja melihat hantu, lalu menatap Bimo yang jemarinya mencengkeram lenganku dengan erat, seolah aku bisa lenyap kalau ia melepaskannya sedetik saja.

"Jangan dijawab dulu," bisik Bimo lagi, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. "Ran, tolong. Jangan buka pintu itu sebelum kita tahu siapa dia."

Tapi aku sudah tahu. Itulah masalahnya. Suara dari balik pintu itu bukan suara orang asing. Bukan suara perempuan tamu misterius yang pagi tadi datang tanpa diundang dan meninggalkan surat ibu di meja ini. Suara itu suara seseorang yang sudah bertahun-tahun hidup begitu dekat denganku, seseorang yang kukenal sampai ke cara ia menghela napas sebelum bicara, sehingga tak pernah sekalipun terlintas di benakku untuk mencurigainya. Dan justru karena itulah lututku terasa lemas.

"Rania," suara itu memanggil lagi, lebih pelan sekarang, nyaris seperti permohonan. "Aku tahu surat itu sudah dibuka. Sekarang giliran kotak kayunya. Jangan dibuka tanpa aku, karena isinya bukan untuk semua orang. Isinya hanya untuk kamu dan orang yang selama ini kamu percaya."

Kotak kayu kecil itu masih tergeletak di atas meja, bergembok mungil yang berkarat di tepinya, diam seperti binatang kecil yang sedang tidur. Sejak kapan kotak itu ada di rumah ini? Aku sudah melewati meja itu ribuan kali dan tidak pernah memperhatikannya. Atau mungkin aku hanya tidak pernah mau memperhatikannya, seperti banyak hal lain di rumah ini yang sengaja kubiarkan tak terlihat.

"Reza," ucapku tanpa sadar, nama itu lolos begitu saja dari bibirku sebelum sempat kupikirkan. "Itu suara Reza."

Bimo menoleh cepat, matanya membelalak. "Reza? Ngapain dia ke sini? Jam segini?"

Paman Raka menggeleng pelan, tangannya terangkat seperti hendak menghentikanku, tapi tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Wajahnya bukan lagi wajah paman yang biasanya tenang dan suka bercanda. Ada rasa bersalah di sana, dan ada kelegaan yang aneh, seperti orang yang akhirnya tidak perlu lagi menyimpan rahasia sendirian, meski rahasia itu akan melukainya.

"Dia tidak boleh masuk," kata Paman Raka akhirnya, suaranya berat. "Belum. Rania, dengarkan paman sekali ini saja. Orang yang masuk tanpa diundang pagi tadi belum selesai dengan rumah ini. Kalau Reza masuk sekarang, semuanya akan jadi lebih rumit."

"Lebih rumit dari apa, Paman?" tanyaku, dan suaraku sendiri terdengar asing di telingaku, tajam dan bergetar. "Lebih rumit dari surat ibu yang baru kubaca setelah bertahun-tahun disembunyikan? Lebih rumit dari perjodohan yang diputuskan tanpa pernah ada yang bertanya padaku mau atau tidak?"

Paman Raka menunduk. "Aku akan menceritakan semuanya. Aku janji. Tapi tidak di sini, tidak sekarang, tidak dengan Reza di balik pintu dan kotak itu masih terkunci di atas meja."

Ketukan ketiga terdengar, kali ini disertai suara kunci yang diputar dari luar. Aku terlonjak. Pintu depan tidak dikunci. Ibu selalu bilang pintu rumah ini tidak pernah dikunci untuk keluarga, dan Reza, entah sejak kapan, sudah dianggap keluarga. Bunyi engsel pintu yang berderit pelan membuat Bimo langsung berdiri dan menarikku ke belakangnya, seolah tubuhnya bisa menjadi dinding antara aku dan apa pun yang akan masuk.

Reza berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang kusut dan rambut yang berantakan, seperti orang yang berlari jauh atau tidak tidur semalaman. Di tangannya tidak ada apa-apa, tidak ada bunga, tidak ada bingkisan, tidak ada alasan yang bisa kujadikan pegangan. Matanya langsung menemukan mataku, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang belum pernah kulihat darinya selama ini: ketakutan yang jujur, tanpa topeng, tanpa kalimat manis yang biasa ia susun rapi sebelum bicara.

"Maaf aku masuk tanpa mengetuk lebih lama," katanya, napasnya tersengal. "Tapi perempuan itu datang ke rumahku juga pagi ini. Perempuan yang mengantar surat ibumu. Dia bilang kalau surat itu sudah dibuka, aku harus ke sini sebelum kotak kayunya dibuka. Dia bilang hanya aku yang tahu kenapa kotak itu ada di rumah ini."

Perempuan itu. Jadi dia bukan hanya datang ke rumahku. Dia mendatangi Reza juga, dengan pesan yang berbeda, dengan arah yang berbeda, seperti seseorang yang sedang menggerakkan kami semua di atas papan yang hanya dia yang bisa melihat seluruh petaknya.

"Siapa dia?" tanyaku, suaraku akhirnya pecah. "Siapa perempuan itu, Reza? Kenapa dia tahu tentang surat ibu? Kenapa dia tahu tentang kotak ini?"

Reza melangkah masuk, pelan, dan menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati, seolah takut suara pintu itu akan membangunkan sesuatu. "Namanya Ratna," katanya. "Dan sebelum kamu marah, dengarkan aku dulu. Ratna itu teman ibu. Teman sejak mereka masih muda, jauh sebelum ibu menikah dengan ayahmu. Dia yang menyimpan surat ibumu selama ini, karena ibu menitipkannya padanya, bukan pada Paman Raka."

Aku menoleh ke Paman Raka. Wajahnya tidak membantah. Ia hanya memejamkan mata, dan dalam diamnya aku mendengar pengakuan yang lebih keras daripada seribu kata.

"Ratna datang pagi ini bukan tanpa diundang," lanjut Reza. "Dia datang karena ibu memintanya. Bertahun-tahun lalu, sebelum ibu meninggal, ibu berpesan padanya: kalau Rania sudah cukup dewasa untuk memilih sendiri, antar surat itu. Dan kalau surat itu sudah dibuka, bawa Reza ke kotak kayunya, karena isi kotak itu hanya boleh dibuka oleh Rania dan orang yang dipercaya ibunya."

"Dan orang itu kamu?" suara Bimo akhirnya keluar, dingin dan tajam. "Kamu pikir kamu orang yang dipercaya ibumu?"

Reza menatap Bimo tanpa gentar. "Bukan aku yang memutuskan, Bimo. Ibumu yang memutuskan. Dan aku tidak datang ke sini untuk merebut apa-apa. Aku datang karena Ratna bilang kalau kotak itu dibuka tanpa aku, Rania tidak akan pernah tahu seluruh ceritanya."

Aku menatap kotak kayu itu lagi. Gembok mungilnya berkilat redup di bawah lampu ruang tamu. Selama ini aku mengira perjodohan dengan Reza adalah keputusan ayah dan keluarganya, keputusan yang dibuat di atas kepalaku tanpa pernah bertanya. Tapi kalau ibu yang menitipkan kotak ini, kalau ibu yang memilih Reza untuk berdiri di sampingku saat kotak ini dibuka, maka mungkin ada bagian dari cerita ini yang tidak pernah diceritakan siapa pun padaku.

"Ran, jangan," kata Bimo, jemarinya masih mencengkeram lenganku. "Ibumu juga menulis jangan percaya pada orang yang pertama kali memberitahumu tentang surat itu. Siapa yang pertama kali memberitahumu, Ran? Ratna. Perempuan itu. Dan sekarang Reza berdiri di sini mengulang kata-katanya. Kamu tidak melihat polanya?"

Aku melihat polanya. Justru karena itulah aku semakin bingung. Dua peringatan kini saling berhadapan di kepalaku: peringatan ibu untuk tidak percaya pada Ratna, dan pesan Ratna bahwa kotak ini hanya boleh dibuka bersama Reza. Salah satu dari mereka berbohong, atau salah satu dari mereka hanya tahu separuh kebenaran. Dan aku tidak tahu separuh yang mana yang sedang berdiri di ruang tamuku sekarang.

Paman Raka akhirnya bergerak. Ia berjalan ke meja, meletakkan tangannya di atas kotak kayu itu, dan menatapku lama. "Rania," katanya pelan. "Kotak ini milik ibumu. Kuncinya ada padaku selama ini, dan aku menyimpannya karena ibumu memintaku menjaganya sampai kamu siap. Ratna benar tentang satu hal: kotak ini memang hanya boleh dibuka kalau kamu sudah tahu isi surat itu. Dan kamu sudah membacanya."

Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil yang sudah menguning. Tangannya bergetar saat menyerahkannya padaku. "Tapi paman juga benar tentang satu hal," lanjutnya, suaranya nyaris berbisik. "Sekali kotak ini dibuka, tidak ada jalan kembali. Apa pun yang ada di dalamnya, kamu tidak bisa pura-pura tidak pernah melihatnya."

Aku menerima kunci itu. Dingin, kecil, dan beratnya tidak seberapa, tapi rasanya seperti memegang seluruh hidupku. Bimo menatapku dengan mata yang memohon. Reza menatapku dengan mata yang menunggu. Paman Raka menatapku dengan mata seseorang yang sudah tahu bahwa apa pun yang kulakukan selanjutnya, ia tidak akan bisa lagi melindungiku dari akibatnya.

Aku memasukkan kunci itu ke gembok mungil dan memutarnya. Bunyi kliknya kecil, hampir tidak terdengar, tapi di telingaku bunyi itu seperti pintu penjara yang dibuka setelah bertahun-tahun terkunci. Perlahan, dengan tangan yang bergetar, aku mengangkat tutup kotak kayu itu.

Di dalamnya ada tiga benda: sepucuk surat kedua dari ibu, dilipat rapi dan diikat dengan pita biru yang warnanya sudah pudar; sebuah foto lama yang tepinya menguning, memperlihatkan dua perempuan muda yang tertawa di bawah pohon besar; dan sebuah kunci kuningan yang lebih besar, dengan label kertas kecil yang tulisannya kukenali sebagai tulisan tangan ibu: Rumah lama, laci bawah.

Aku mengambil foto itu. Dua perempuan muda itu tertawa lepas, kepala mereka saling bersandar, dan salah satunya jelas ibuku di masa muda. Perempuan yang satunya lagi memiliki mata dan senyum yang sangat kukenali, meski aku baru melihatnya beberapa kali dalam hidupku. Itu ibu Reza.

Aku hendak membalik foto itu untuk melihat tulisan di belakangnya ketika mataku menangkap sesuatu yang lain, terselip di bawah lipatan surat kedua, hampir tidak terlihat: selembar kertas kecil yang terlipat empat, dengan tulisan tangan yang membuat darahku berhenti mengalir seketika. Tulisan itu bukan tulisan ibu. Bukan tulisan Ratna. Bukan tulisan Reza.

Itu tulisan Bimo.

Dan di atasnya, hanya ada satu kalimat pendek: Maaf, Ran. Aku sudah baca surat ini duluan.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!