β€Ή
100. Kunci Rumah Lama

Kunci Rumah Lama

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,517 kata

Ilustrasi Kunci Rumah Lama

Aku tidak membuka pintu itu. Setidaknya, tidak segera. Tiga ketukan itu masih bergema di kepalaku, dan suara perempuan di balik pintu itu, suara yang sama persis dengan suara perempuan pagi tadi namun terasa berbeda entah di mana letak bedanya, membuat seluruh tubuhku membeku di tempat. Bimo sudah berdiri dan menarikku menjauh dari pintu. Reza melangkah ke depan, seolah tubuhnya bisa menjadi penghalang antara aku dan apa pun yang ada di luar. Paman Raka hanya berdiri di dekat meja, wajahnya pucat, tangannya masih bertumpu di atas kotak kayu yang kini terbuka dan kosong separuh.

"Kamu sudah membuka kotak yang salah," suara itu mengulang dari balik pintu, tenang dan sabar, seperti seorang guru yang sedang menunggu muridnya memahami pelajaran. "Kotak yang kamu buka itu hanya kotak pertama. Kotak yang benar tidak ada di rumah ini. Kotak itu ada di rumah lama, di laci bawah yang hanya bisa dibuka dengan kunci kuningan yang sekarang ada di tanganmu."

Aku menunduk. Kunci kuningan itu masih tergeletak di dalam kotak kayu, di samping pita biru yang sudah terlepas. Label kertas kecilnya masih terbaca jelas: Rumah lama, laci bawah. Jadi kunci ini bukan sekadar kenang-kenangan. Kunci ini adalah petunjuk, dan petunjuk itu baru saja dibacakan ulang oleh suara di balik pintu, seolah perempuan itu tahu persis apa yang ada di dalam kotak yang baru saja kubuka, padahal ia tidak pernah melihat isinya.

"Jangan percaya dia, Ran," bisik Bimo di telingaku, suaranya mendesak. "Perempuan ini bukan Ratna yang asli. Bimo sudah bilang, kan? Dia kembarannya. Dia datang pagi ini, dia mengantar surat itu, dia mendatangi Reza, dia mengatur kita semua seperti bidak. Jangan buka pintu itu."

"Tapi dia benar tentang kunci ini," jawabku pelan. "Dia tahu ada laci bawah di rumah lama. Dia tahu kunci ini ada di dalam kotak. Bagaimana dia bisa tahu kalau dia tidak ada hubungannya dengan semua ini?"

"Karena dialah yang menyimpan kotak yang benar," kata Paman Raka tiba-tiba, suaranya berat dan lelah. "Bukan Ratna yang asli. Kembarannya. Dialah yang selama ini menyimpan kotak kedua, dan dialah yang menunggu kamu membuka kotak pertama, supaya kamu tahu bahwa ada kotak kedua yang harus dibuka."

Aku menatap Paman Raka, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. "Paman tahu semua ini dari tadi? Paman tahu perempuan pagi itu bukan Ratna, tahu ada dua kotak, tahu ada rumah lama dan laci bawah, dan Paman diam saja?"

Paman Raka mengangguk, dan anggukan itu terasa seperti pengakuan yang paling menyakitkan malam ini. "Aku diam karena ibumu memintaku diam. Ibumu tahu ada dua Ratna, dan ibumu tahu hanya satu dari mereka yang bisa dipercaya. Ibumu menitipkan surat pertama pada Ratna yang asli, dan kotak pertama padaku. Tapi kotak kedua, kunci rumah lama, dan surat terakhir ibumu, semuanya dititipkan pada Ratna yang kedua, karena ibumu percaya dia akan datang pada waktunya, dengan caranya sendiri, dan tidak ada yang bisa mempercepatnya."

"Kenapa ibu melakukan semua ini?" tanyaku, suaraku akhirnya pecah. "Kenapa ibu tidak menuliskan semuanya dalam satu surat saja? Kenapa harus ada kotak pertama, kotak kedua, rumah lama, laci bawah, dua perempuan yang wajah dan suaranya sama? Kenapa ibu membuatku harus menebak-nebak seperti ini?"

"Karena ibumu mengenalmu, Rania," jawab Paman Raka lembut. "Ibumu tahu kamu tidak akan pernah percaya pada kebenaran yang datang terlalu mudah. Kamu hanya akan percaya pada kebenaran yang kamu temukan sendiri, selangkah demi selangkah, meski langkah itu menyakitkan. Dan ibumu juga tahu bahwa kebenaran tentang perjodohan ini, tentang ayahmu, tentang keluarga Reza, tidak bisa ditulis dalam satu surat. Kebenaran itu harus kamu alami sendiri."

Di balik pintu, suara perempuan itu terdengar lagi, kali ini lebih lembut. "Rania, aku tidak akan masuk kalau kamu tidak mengizinkan. Aku hanya akan berdiri di sini dan menunggu. Tapi dengarkan aku sekali ini saja. Kotak kedua berisi surat terakhir ibumu, surat yang ditulisnya tiga hari sebelum ia pergi. Di surat itu ada nama seseorang, dan nama itu akan menjelaskan kenapa ayahmu begitu bersikeras menjodohkanmu dengan Reza, kenapa keluarga Reza tidak pernah mundur selangkah pun, dan kenapa Bimo tidak pernah benar-benar diterima di rumah ini."

Nama seseorang. Satu nama yang bisa menjelaskan semuanya. Dadaku berdegup begitu kencang sampai aku bisa mendengarnya sendiri. Bimo menatapku, matanya memohon agar aku tidak percaya. Reza menatapku, matanya penuh pertanyaan yang sama dengan pertanyaanku. Paman Raka menatapku, matanya seperti berkata bahwa apa pun yang kupilih, ia akan tetap berdiri di sisiku.

Aku melangkah ke pintu. Bimo mencoba menahanku, tapi kali ini aku melepaskan genggamannya dengan lembut. Bukan karena aku tidak lagi mempercayainya, tapi karena aku sudah terlalu lama membiarkan orang lain memutuskan kebenaran mana yang boleh kudengar. Malam ini, untuk pertama kalinya, aku ingin mendengar semuanya dengan telingaku sendiri, melihat semuanya dengan mataku sendiri, dan memutuskan sendiri mana yang benar.

Aku membuka pintu itu perlahan.

Perempuan yang berdiri di ambang pintu memang memiliki wajah yang sama dengan perempuan pagi tadi. Sama persis. Rambut yang sama, mata yang sama, bahkan cara ia berdiri pun sama. Tapi ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Perempuan pagi tadi bergerak seperti seseorang yang sedang terburu-buru menyelesaikan tugas. Perempuan di depanku sekarang berdiri tenang, seperti seseorang yang sudah menunggu sangat lama dan akhirnya tiba di tempat yang seharusnya.

"Terima kasih sudah membuka pintu," katanya, dan senyumnya tipis, lelah, tapi tulus. "Namaku Ratna. Ratna yang kedua, kalau kamu mau membedakan kami seperti itu. Dan sebelum kamu bertanya apa-apa, aku akan menjawab pertanyaan yang paling penting: Ratna yang asli, kakakku, tidak bisa datang pagi ini karena dia sedang sakit, dan dia memintaku menggantikannya. Dia yang menyimpan surat pertama ibumu. Aku yang menyimpan kotak kedua. Kami berdua hanya menjalankan pesan ibumu, dengan cara kami masing-masing."

"Kenapa ibu menitipkan kotak kedua padamu?" tanyaku. "Kenapa bukan pada Paman Raka? Kenapa bukan pada Ratna yang asli?"

"Karena kotak kedua berisi nama yang tidak boleh dibaca oleh siapa pun sebelum kamu," jawabnya. "Bukan Paman Raka, bukan Reza, bukan Bimo. Hanya kamu. Dan ibumu tahu, kalau kotak itu ada di rumah ini, seseorang pasti akan membukanya sebelum waktunya. Jadi ibumu menyembunyikannya di rumah lama, di laci yang hanya bisa dibuka dengan kunci yang baru saja kamu temukan. Kunci itu, Rania, adalah satu-satunya jalan menuju surat terakhir ibumu."

Aku menatap kunci kuningan di tanganku. Tiba-tiba kunci itu terasa jauh lebih berat daripada sebelumnya. Di dalamnya, di rumah lama, di laci bawah, ada surat terakhir ibu, dan di surat itu ada sebuah nama. Nama yang menjelaskan perjodohan ini, nama yang menjelaskan kenapa Bimo tidak pernah diterima, nama yang mungkin akan mengubah seluruh cara aku melihat ayahku, keluargaku, dan diriku sendiri.

"Aku ikut denganmu," kata Bimo tiba-tiba, melangkah ke sampingku. "Ke rumah lama. Malam ini juga. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian."

"Aku juga ikut," kata Reza, suaranya tegas. "Bukan karena aku calon jodohmu, bukan karena aku punya hak apa-apa. Tapi karena ibu juga menitipkan sesuatu padaku, dan aku baru berani mengatakannya sekarang. Ibu berpesan, kalau suatu hari Rania pergi ke rumah lama, pastikan dia tidak pergi sendirian, siapa pun yang menemaninya."

Aku menatap mereka berdua, dua laki-laki yang mencintaiku dengan cara yang berbeda, dua laki-laki yang sama-sama menyimpan rahasia dariku, dua laki-laki yang malam ini sama-sama berdiri di sisiku ketika aku paling membutuhkannya. Surat ibu berkata: pilihlah orang yang membuatmu tetap menjadi dirimu sendiri. Tapi malam ini, aku belum bisa memilih. Malam ini, aku hanya bisa melangkah, dan melihat ke mana langkah itu membawaku.

Rumah lama itu hanya berjarak dua puluh menit dari sini, rumah tempat ibu menghabiskan masa kecilnya, rumah yang sudah lama kosong dan hanya dibersihkan sesekali oleh Paman Raka. Kami berlima pergi bersama: aku, Bimo, Reza, Paman Raka, dan Ratna yang kedua. Perjalanan itu sunyi, tidak ada yang bicara, hanya suara mesin mobil dan napasku sendiri yang terdengar terlalu keras di telingaku.

Ketika kami tiba, rumah lama itu berdiri gelap di ujung jalan, jendelanya tertutup, halamannya dipenuhi dedaunan kering. Paman Raka membuka pintu depan dengan kunci yang sudah lama ia simpan, dan bau kayu tua serta debu langsung menyambut kami. Di ruang tengah, di bawah tangga, ada sebuah lemari tua, dan di bagian bawahnya ada laci yang terkunci.

Aku berlutut di depan laci itu. Kunci kuningan di tanganku bergetar, tapi aku memasukkannya ke lubang kunci dan memutarnya perlahan. Bunyi kliknya terdengar lebih keras daripada bunyi gembok kotak pertama tadi. Aku menarik laci itu, dan di dalamnya ada sebuah kotak kayu kedua, lebih kecil, lebih tua, dengan ukiran bunga di tutupnya yang sudah memudar.

Di atas kotak itu ada sepucuk surat, dan di amplopnya tertulis namaku dengan tulisan tangan ibu: Untuk Rania, dibaca sendirian.

Aku mengangkat surat itu, dan tanganku berhenti di tengah jalan, karena di bawah surat itu, terselip sebuah foto lain, foto yang tidak ada di kotak pertama. Foto itu memperlihatkan ibuku yang masih muda, berdiri di samping seorang laki-laki muda yang wajahnya sangat kukenali, meski aku belum pernah melihatnya dalam foto keluarga mana pun. Laki-laki itu tersenyum ke arah kamera, tangannya memegang tangan ibuku dengan erat.

Dan laki-laki itu adalah ayah Reza.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!