β€Ή
7. Di Balik Kaca Gelap

Di Balik Kaca Gelap

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,204 kata

Ilustrasi Di Balik Kaca Gelap

Rania menatap langit-langit kamarnya sampai jam tiga pagi.

Pergi β€” atau tidak. Sendiri β€” atau bersama Reza. Setiap pilihan terasa seperti memilih cara mati yang berbeda: pergi sendiri berarti berjalan masuk ke perangkap dengan mata terbuka; membawa Reza berarti mempertaruhkan nyawa Bimo pada janji seorang penelepon anonim.

Menjelang subuh, ia membuat keputusan β€” keputusan yang mengejutkannya sendiri. Ia akan memberi tahu Reza. Tapi dengan syaratnya.

"Aku pergi jam sepuluh. Kamu tunggu di lantai satu. Tidak lebih dekat. Kalau aku tidak turun dalam tiga puluh menit, telepon polisi."

Balasan Reza: "Aku tidak suka ini."

"Aku juga."

"Oke. Lantai satu. Tiga puluh menit."

Rania menatap percakapan itu lama. Di bilik toilet vila Hendra dua malam lalu, ia bersumpah tidak akan mempercayai siapa pun β€” bahkan Reza. Sekarang ia mempercayakan nyawanya pada lelaki itu dari jarak dua lantai. Kepercayaan, pikirnya, ternyata seperti gula dalam teh: larut sedikit demi sedikit, bukan segelas langsung.

Pagi itu ia berbohong pada Ibunya untuk pertama kalinya dengan lancar β€” "ada kelas pengganti, Bu" β€” dan kebohongan yang mudah itu menakutkannya, sama seperti malam di vila Hendra. Ia mulai terbiasa. Dan ia membenci betapa cepatnya manusia beradaptasi dengan kegelapan.

Reza menjemputnya dengan mobil β€” bukan mobil mewah bermerek, melainkan sedan tua yang ternyata miliknya sendiri. "Mobil ayahku terlalu mencolok untuk misi rahasia," katanya dengan senyum kaku yang tidak menyembunyikan ketegangannya.

Di perjalanan tidak banyak bicara. Reza menyetir dengan satu tangan di setir, satu tangan mengetuk-ngetuk pahanya β€” kebiasaan gugup yang belum pernah Rania lihat darinya. Rania memegang tasnya erat-erat. Di dalamnya: foto Bimo, struk transfer, dan gantungan kunci R & B. Jimat-jimat kecil melawan ketakutan besar.

"Rania," kata Reza saat mereka sampai di lobi Mal Artha. "Kamu tidak harusβ€”"

"Aku harus." Ia menatapnya. "Tiga puluh menit."

"Tiga puluh menit," Reza mengangguk, dan untuk sesaat tangannya terangkat β€” seolah hendak menyentuh bahu Rania, lalu turun kembali. "Hati-hati."

Rania naik eskalator ke lantai tiga dengan kaki yang terasa bukan miliknya. Parkiran lantai tiga sepi β€” baru beberapa mobil terparkir, udara berbau beton dan bensin. Di ujung terjauh, sebuah mobil hitam terparkir dengan mesin menyala pelan. Kaca gelap. Sama seperti di depan toilet vila itu.

Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin satpam di ujung sana bisa mendengarnya.

Ia mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Setiap langkah terasa seperti menyeberangi jurang dengan tali yang semakin menipis.

Kaca belakang turun dengan bunyi mendesing halus.

Perempuan. Tiga puluhan, blazer abu-abu rapi, rambut disanggul ketat, wajah cantik yang dingin seperti patung marmer. Ia menatap Rania dari dalam mobil dengan mata yang menilai β€” persis seperti Ibu Ratna menilai gaunnya malam itu, tapi sepuluh kali lebih tajam.

"Masuk, Nduk," katanya. "Kita bicara sebentar saja."

Rania tidak bergerak. "Siapa kamu?"

"Aku Nadia." Perempuan itu tersenyum tipis β€” senyum yang tidak menghangatkan apa-apa. "Masuklah. Bimo baik-baik saja, dan akan tetap begitu β€” selama kamu bekerja sama."

Nama itu menghantam Rania seperti tamparan. Nadia. Nama yang ia tulis berulang-ulang sampai kertas catatannya robek. Asisten pribadi Pak Hendra. Tangan dingin di balik semua "pekerjaan yang tidak tercatat".

Rania masuk ke mobil. Pintu terkunci otomatis dengan bunyi klik yang terdengar seperti vonis. Di kursi depan, seorang lelaki berjas duduk diam menghadap ke depan β€” sopir, atau pengawal, atau keduanya. Bau kulit dan parfum mahal memenuhi kabin.

"Di mana Bimo?" tanya Rania, memaksa suaranya tidak bergetar.

"Di tempat yang aman. Di luar kota." Nadia menyilangkan kakinya dengan anggun. "Pak Hendra tidak suka variabel tak terduga menjelang pengumuman media minggu depan. Dan lamaran tiga minggu lagi harus berjalan lancar. Kamu mengerti maksudku, kan?"

"Kenapa aku harus percaya kamu tidak menyakitinya?"

Nadia tersenyum β€” dan senyum kali ini lebih dingin dari sebelumnya. "Karena kalau kami mau menyakitinya, Nduk, kamu tidak akan menerima foto. Kamu akan menerima kabar duka."

Dingin merambat di tulang belakang Rania. Ia memikirkan struk transfer dua ratus juta di sakunya β€” uang yang masuk tanpa diminta, jerat yang dipasang pada lelaki yang menolak dibeli. Sekarang ia mengerti polanya: mereka tidak membeli orang. Mereka membuat orang berhutang β€” dengan uang, dengan ketakutan, dengan nyawa orang yang dicintai.

"Kenapa repot-repot?" tanya Rania, suaranya lebih tajam dari yang ia duga. "Kenapa tidak langsung... menyingkirkan kami? Kalian bisa, kan?"

Nadia menatapnya lama β€” dan untuk sesaat, topeng dingin itu retak, memperlihatkan sesuatu yang mirip kelelahan. "Karena Pak Hendra butuh pernikahan ini terlihat sempurna. Media, rekan bisnis, semuanya menonton. Skandal itu mahal, Nduk. Jauh lebih mahal dari dua ratus juta." Topeng itu kembali terpasang. "Jadi kita semua akan bermain cantik. Kamu tersenyum di depan kamera. Reza menggandeng tanganmu. Dan Bimo..." ia melirik surat di tangan Rania, "menunggu dengan sabar di tempatnya yang aman."

"Aturannya sederhana," lanjut Nadia, menghitung dengan jari-jarinya yang lentik. "Satu: kamu berhenti mencari Bimo. Dua: kamu berhenti bertanya soal mobil hitam, soal transfer, soal apapun. Tiga: lamaran berjalan lancar, pengumuman media berjalan lancar, dan setelah namamu resmi tercetak di samping nama Reza β€”" ia berhenti, menatap Rania lurus, "Bimo tidak lagi penting bagi siapapun. Dia akan dikembalikan. Utuh."

"Dan kalau aku menolak?"

"Kamu tidak akan." Nadia membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu, dan meletakkannya di telapak tangan Rania.

Selembar kertas kecil. Tulisan tangan yang sangat dikenalnya β€” tulisan yang sama seperti di buku tabungan cincin perak:

"Aku baik-baik saja. Jangan cari aku. β€” B."

Tangan Rania gemetar. Bukti hidup β€” atau bukti bahwa Bimo dipaksa menulis. Ia tidak bisa membedakannya, dan ketidakmampuan itulah yang paling menyiksa.

"Satu hal lagi." Nadia mencondongkan tubuhnya, suaranya turun setengah oktaf. "Aku tahu sandiwara kalian. Kamu dan Reza."

Dunia berhenti berputar.

"Pak Hendra belum tahu," lanjut Nadia pelan. "Jagalah agar tetap begitu. Demi Bimo." Jeda yang disengaja. "Demi ayahmu. Demi... usaha ayahmu yang arusnya tinggal tiga bulan."

Ancaman itu diucapkan dengan kelembutan seorang perawat yang menyuntikkan racun. Rania merasakan mual naik ke tenggorokannya.

"Dan Reza," kata Nadia, "tidak boleh tahu kamu ke sini. Kalau dia tahu, dia akan bertindak seperti biasa β€” gegabah, emosional, seperti ibunya. Dan tindakannya akan membuat semuanya lebih buruk." Ia menatap Rania dengan sesuatu yang hampir mirip iba. "Untuk Bimo."

Pintu terbuka otomatis. Pertemuan selesai.

Rania turun dengan kaki lemas. Sebelum pintu tertutup, Nadia berkata satu kalimat terakhir: "Kamu pintar, Nduk. Tetaplah pintar."

Mobil hitam itu melaju pergi, menuruni tanjakan parkiran tanpa suara β€” seperti hantu yang selesai menakut-nakuti dan kembali ke kegelapan.

Rania berdiri terpaku, surat Bimo di genggamannya basah oleh keringat. Tiga puluh menit? Ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama. Ia setengah berlari menuju eskalator, menuruni dua lantai dengan napas tersengal.

Reza sudah menunggunya di lobi, wajahnya panik. "Kamu pucat. Siapa itu? Apa yang merekaβ€”"

Rania menatap surat di tangannya β€” lalu menatap Reza. Janji pada Nadia berperang melawan aliansi dengan Reza di dalam kepalanya. Ia memilih jalan tengah: setengah kebenaran.

"Orang suruhan ayahmu," katanya pelan. "Bimo... masih hidup. Itu saja yang boleh aku tahu."

"Raniaβ€”" Reza meraih tangannya, dan sentuhan itu β€” hangat, manusiawi, nyata β€” hampir meruntuhkan pertahanannya. "Ceritakan semuanya. Kita hadapi sama-sama."

Saat itulah ponsel Rania bergetar.

Pesan dari nomor tak dikenal. Isinya cuma dua kata:

"Pintar. Tetap begitu."

Mereka mengawasinya. Bahkan sekarang. Bahkan di lobi mal yang ramai ini, di antara puluhan orang yang lalu-lalang tanpa curiga.

Rania menunjukkan pesan itu pada Reza. Wajah Reza mengeras β€” rahangnya mengetat, matanya menyala dengan kemarahan yang dingin dan terkendali.

"Kita perlu bicara," katanya pelan. "Sekarang. Soal Bimo β€”" ia berhenti, melirik sekeliling lobi seolah dinding-dindingnya punya telinga, "aku menemukan sesuatu."

Dan Rania sadar, dengan rasa dingin yang merambat dari ujung kaki sampai ubun-ubun: permainan ini baru saja memasuki babak yang bahkan Nadia tidak menceritakan padanya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!