Orang Dalam
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,258 kata
Pukul 06.40 kami menerobos masuk ke ruang kerja Komisaris Ratna β dan hal pertama yang kulihat adalah wajah Ayah yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari semalam.
Ayah duduk di kursi hadap meja, Yudi berdiri di belakangnya dengan wajah tegang. Komisaris Ratna β perempuan tegap berseragam lengkap β langsung berdiri begitu melihat kami.
"Rania? Bimo? Kalian seharusnyaβ"
"Rencananya bocor, Bu." Aku meletakkan kotak kayu berukir itu di atas mejanya dengan bunyi gedebuk pelan. "Ada orang dalam. Arif sudah tahu isi amplop itu sejak tadi malam."
Ruangan itu sunyi selama tiga detik yang terasa seperti selamanya.
Ratna menatap kotak itu, lalu menatapku. "Dari mana kamu dapat ini?"
"Dari kakak kandung Arif. Namanya Nadia." Aku menyerahkan kunci kuningan itu. "Di dalamnya ada salinan halaman buku kas kakek dan surat-surat ayah mereka. Bu, tolong buka dan baca. Kita tidak punya banyak waktu."
Ratna memutar kunci itu tanpa bertanya lagi. Di dalam kotak: setumpuk fotokopian kertas tua dan beberapa lembar surat menguning, plus selembar kertas terlipat dengan tulisan tangan perempuan yang rapi.
Ratna membaca surat-surat Pak Wirat dengan cepat, wajahnya semakin tegang di setiap baris. Lalu ia membuka lipatan kertas itu dan membacakan dengan suara pelan:
"'Maafkan aku karena menjadi saudara dari seorang monster. Tapi dia tetap adikku β satu-satunya keluarga yang kupunya. Tolong hentikan dia sebelum dia menghancurkan dirinya sendiri. Dan tolong... jangan biarkan dia tahu aku yang memberitahumu. β N.'"
Ayah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Yudi mengumpat tertahan.
"Bu," kataku, "Nadia bilang Arif membayar seorang polisi. Seorang briptu. Dia tahu setiap rencana Ibu."
Ratna terdiam. Perlahan, ia duduk kembali ke kursinya. "Yang tahu isi amplop itu..." Ia menghitung dengan jarinya. "Aku. Kalian berempat. Dan tiga anggotaku yang ikut briefing jam lima pagi."
"Siapa saja?" tanya Bimo cepat.
"Bripka Tono, Aipda Sari, dan..." Ratna berhenti. Wajahnya berubah. "Briptu Hendra."
"Kenapa berhenti di nama itu, Bu?"
"Karena dua puluh menit lalu dia izin ke toilet." Suara Ratna dingin seperti es. "Dan belum kembali sampai sekarang. Padahal dialah yang menyiapkan ruang briefing pagi ini β dia yang memegang daftar rencana operasi."
Ia menekan tombol interkom di mejanya. "Rudi, ke ruangan saya sekarang. Bawa Briptu Hendra β katakan ada tugas administrasi mendadak yang membutuhkan dia. Jangan beri tahu alasan sebenarnya."
Ia meletakkan gagang telepon. "Propam akan menangani dia. Mulai detik ini, dia keluar dari operasi." Ia menatap kami satu per satu. "Rencana berubah. Penyerahan jam delapan tetap jalan β tapi sekarang itu perangkap yang sesungguhnya. Pak Darmanβ"
Ayah mengangkat wajahnya. "Saya tetap pergi."
"Dengan rompi antipeluru di balik kemeja, kamera kancing, dan tim saya menyebar dalam radius dua ratus meter." Ratna menatapnya tajam. "Bukan untuk diperdebatkan, Pak."
Aku meraih tangan Ayah. "Bu Ratna," kataku, "satu hal lagi. Ibu saya. Lindungi ibu saya. Kalau Arif tahu rencananya bocor, dia bisaβ"
"Sudah saya pikirkan." Ratna mengangkat radio. "Unit 4, ke rumah Ibu Rania sekarang. Amankan beliau dan bawa ke kantor. Ulangi: amankan dan bawa ke kantor."
"Siap, Komandan. Meluncur sekarang."
Sedikit beban terangkat dari dadaku. Sedikit.
Lalu aku menoleh ke Ayah. Kotak kayu itu masih terbuka di atas meja, surat-surat Pak Wirat berserakan. Ada pertanyaan yang harus kutanyakan β pertanyaan yang dititipkan Nadia lewat bisikan terakhirnya.
"Ayah," kataku pelan. "Tanah di Cikarang. Tahun 1994. Ayah tahu yang sebenarnya, kan?"
Wajah Ayah β wajah yang kukenal seumur hidupku β retak seperti kaca.
"Rania..."
"Jangan bohong padaku, Yah. Aku mohon. Tidak pagi ini."
Ayah menatap surat-surat di atas meja itu lama sekali. Lalu, dengan suara yang terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh, ia mulai bicara.
"Kakekmu membeli tanah itu dengan sah. Ada kuitansinya β kamu lihat sendiri salinannya di kotak itu. Pak Wirat... dia tetangga kakekmu. Mereka berteman baik." Ayah menelan ludah. "Uang hasil penjualan itu habis di meja judi dalam dua tahun. Ayah tahu. Ayah masih muda waktu itu, tapi ayah tahu β karena kakekmu bercerita sambil menangis, merasa bersalah padahal dia tidak salah apa-apa."
"Terus kenapa Ayah diam saja?" Suaraku meninggi tanpa kusadari. "Kenapa Ayah membiarkan keluarga itu membenci kita selama puluhan tahun?"
"Karena ayah pengecut, Nak." Air mata mengalir di pipi Ayah. "Karena ayah merasa berhutang β bukan uang, tapi keberanian untuk berkata jujur. Ayah menyimpan buku kas itu seperti menyimpan dosa. Setiap kali ayah ingin membakarnya, ayah ingat wajah kakekmu." Ia menatapku, hancur. "Maafkan ayah."
Aku ingin marah. Aku ingin berteriak. Tapi yang keluar justru air mataku sendiri. Aku memeluk Ayah β ayahku yang keras kepala, ayahku yang menjodohkanku dengan Reza tanpa bertanya, ayahku yang pengecut dan manusiawi.
Pintu ruangan terbuka.
Reza berdiri di sana β rapi seperti biasa dengan kemeja birunya, tapi wajahnya pucat dan matanya sembab. Di tangannya ada sebuah map cokelat.
"Maaf mengganggu," katanya. "Aku harus bicara dengan kalian."
Bimo menegang di sisiku. Aku merasakan tangannya β yang sejak tadi menggenggam tanganku di bawah meja β mengerat.
"Semalam aku ditelepon seseorang," kata Reza, suaranya datar. "Dia bilang, kalau pertunanganku dengan Rania dilanjutkan, perusahaan ayahku akan dihancurkan. Satu per satu. Dia tahu nama-nama klien kami."
"Arif," desis Yudi.
"Tapi bukan itu yang membawaku ke sini." Reza meletakkan map cokelat itu di atas meja, di samping kotak kayu Nadia. "Tadi malam aku tidak bisa tidur. Aku mengobrak-abrik lemari arsip ayahku. Dan aku menemukan ini."
Ia membuka map itu. Di dalamnya: selembar akta tua dengan kop notaris dan stempel yang masih jelas terbaca.
"Kakekku seorang notaris," kata Reza pelan. "Dan akta ini β minuta akta jual beli tanah di Cikarang, tahun 1994 β dibuat di hadapannya. Penjual: Wirat bin Sastrowiryo. Pembeli: ayah dari Pak Darman." Ia menatap Ayah. "Sah. Lunas. Disaksikan. Tidak ada perampasan apa pun."
Ruangan itu sunyi.
Dua bukti. Surat-surat Pak Wirat dari Nadia, dan akta notaris dari Reza. Kebenaran yang sama, dari dua arah yang berbeda.
"Aku di sini bukan untuk merebutmu kembali, Rania," kata Reza β dan aku tahu kalimat itu juga ditujukan untuk Bimo. "Aku di sini karena ini sekarang menyangkut nama keluargaku juga."
Reza menatap Bimo. Bimo menatap Reza. Dua laki-laki yang mencintaiku dengan cara yang berbeda.
Lalu Reza tersenyum β senyum kecil yang patah tapi tulus. "Kamu beruntung, Bimo. Jaga dia baik-baik."
Bimo mengangguk, tanpa kemenangan di wajahnya. Hanya hormat. "Aku akan."
Dan aku β aku hanya bisa menatap Reza dengan air mata yang kembali mengalir, untuk laki-laki baik yang bukan jodohku.
Pukul 07.50 kami berada di posisi.
Taman kecil di ujung jalan itu sepi seperti yang diperkirakan. Ayah duduk di bangku kayu dengan amplop cokelat di pangkuannya β amplop berisi surat tantanganku, umpan yang sudah diketahui musuh. Di balik kemejanya, rompi antipeluru. Di kancing kemejanya, kamera mungil.
Aku duduk di mobil komando bersama Komisaris Ratna, menatap monitor. Bimo dan Yudi ada di mobil kedua, lima puluh meter di belakang. Reza memilih tinggal di kantor β "Seseorang harus menjaga bukti-bukti itu," katanya.
Pukul 07.58, sebuah motor berhenti di tepi taman.
Pengendaranya melepas helm β anak muda, mungkin sembilan belas tahun, wajahnya tegang dan pucat. Dia memandang berkeliling dengan gelisah, lalu berjalan mendekati Ayah.
Bukan Arif. Anak buahnya.
Ponsel Ayah berdering. Melalui alat penyadap, kami mendengar semuanya.
"Selamat pagi, Pak Darman." Suara laki-laki, berat dan lelah. "Amplopnya palsu, kan? Orang saya memberi tahu saya tadi malam. Surat yang ditulis anak perempuan Bapak itu... menyentuh. 'Sampai jumpa di pengadilan.'" Ia tertawa pendek. "Baik. Kita jumpa. Tapi bukan di pengadilan."
Ayah menggenggam ponselnya erat. "Apa maumu, Arif?"
"Bapak ikut dengan anak saya. Sekarang. Atau..."
Bunyi notifikasi. Sebuah foto terkirim ke ponsel Ayah β dan terpampang di monitor kami.
Rumah Ibu. Pintu depannya terbuka lebar, cahaya pagi tumpah dari dalam. Sepi. Terlalu sepi.
"Itu rumah ibumu, Rania." Suara Arif terdengar seperti bisikan iblis. "Pintunya terbuka. Seperti hatiku yang terbuka untuk keluargamu selama ini."
Tanganku mencengkeram lengan kursi. "Itu... itu rumah Ibu..."
Ratna meraih radionya. "Unit 4! Status! Kalian sudah sampai di rumah Ibu?"
Statis. Lalu β suara terputus-putus: "Komandan... kami di lokasi. Pintu depan terbuka. Rumah... rumah kosong."
Duniaku runtuh.
"IBU!"