β€Ή
66. Surat dari Lestari

Surat dari Lestari

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,905 kata

Ilustrasi Surat dari Lestari

Pagi itu, aku bangun bukan karena alarm, melainkan karena suara Ibu di dapur yang sudah lebih dulu menyalakan kompor, seperti perempuan yang tidak bisa diam ketika pikirannya berlari. Semalam kami tidak tidur, dan pagi terasa seperti kelanjutan malam yang sama, hanya dengan cahaya yang berbeda.

Pukul delapan, Kompol Ratna menelepon. Suaranya tegas tapi tidak terburu-buru, seperti seseorang yang sudah mengatur langkahnya sebelum menelepon. "Rania, kami buka amplop itu di kantor, pagi ini, dengan disaksikan penyidik dan tim forensik. Saya ingin kau dan Bimo ada di sini. Ibumu boleh ikut, tapi keterangannya kami ambil dulu di ruangan lain. Datang jam sepuluh. Jangan bicara pada siapa pun soal isi amplop sebelum kita membacanya bersama. Termasuk Reza. Termasuk keluargamu. Mengerti?"

"Mengerti, Bu," kataku. Aku menatap Bimo yang sedang menuang teh untuk Ibu. Ia mengangguk, seolah sudah mendengar separuh percakapan dari ekspresi wajahku.

Perjalanan ke kantor polisi terasa aneh. Matahari bersinar biasa, jalanan ramai seperti biasa, pedagang sudah menggelar dagangan seperti biasa. Dunia di luar mobil tidak tahu bahwa di dalam kantong bukti di kantor polisi ada sebuah amplop yang bisa mengubah arah seluruh perkara ini. Atau mungkin dunia tahu, dan hanya pura-pura tidak tahu, seperti yang dilakukan semua orang di sekitarku selama ini.

Di ruang penyidik, Kompol Ratna menunggu bersama Brigadir Bayu dan seorang penyidik perempuan yang kukenali dari malam penangkapan Darmawan. Di atas meja, di dalam kantong bukti, amplop putih itu tergeletak. Di sampingnya, ada sebuah berkas tipis dan sebuah foto yang sudah dicetak dari hasil forensik digital: foto panggilan semalam, nomornya, dan nama pendaftarnya.

"Sebelum kita buka," kata Kompol Ratna, menatapku lurus-lurus, "saya ingin kau tahu satu hal dulu. Pelacakan semalam belum selesai. Nomor atas nama Harun itu memang tidak pernah dipakai selama tujuh tahun, tapi semalam ia aktif dari sebuah lokasi yang berpindah-pindah di pinggiran kota. Kami belum bisa menguncinya. Dan satu hal lagi: panggilan itu tidak direkam secara utuh oleh sistem kami, karena sambungannya diputus dari sisi penelepon sebelum alat kami sempat mengunci. Yang kita punya hanyalah kesaksian kalian berempat yang mendengarnya. Itu cukup untuk penyidikan, tapi belum cukup untuk pengadilan. Paham?"

Aku mengangguk. "Paham, Bu."

"Baik. Sekarang kita buka."

Brigadir Bayu membuka kantong bukti dengan sarung tangan, mengeluarkan amplop itu, dan membukanya dengan pisau kertas, perlahan, seperti seseorang yang membuka sesuatu yang rapuh. Di dalamnya ada dua lembar: selembar surat tulisan tangan, dan selembar foto.

Foto itu dulu yang kulihat. Foto seorang laki-laki tua, berambut putih, duduk di kursi kayu di sebuah ruangan yang remang, wajahnya lelah tapi matanya terbuka, menatap kamera. Di belakangnya, dindingnya polos, tidak ada jendela, tidak ada petunjuk apa pun tentang tempat itu. Tangannya memegang sebuah koran, dan tanggal di koran itu terbaca samar: koran tiga hari yang lalu.

"Ini Harun," kata Bimo pelan, suaranya berat. "Masih hidup. Tiga hari yang lalu, ia masih hidup."

Aku menggenggam tepi meja agar tanganku tidak gemetar. Harun masih hidup. Setelah semua ketakutan kami semalam, setelah semua bayangan terburuk yang melintas di kepalaku, laki-laki tua itu masih hidup, masih bernapas, masih memegang koran di sebuah ruangan yang entah di mana.

Lalu Kompol Ratna membaca surat itu, dengan suara yang tenang dan datar, seperti penyidik yang sudah terbiasa membaca surat-surat yang isinya bisa menghancurkan seseorang.

Surat itu ditulis oleh Lestari. Tulisan tangannya rapi, dingin, sama seperti yang kulihat di kertas ancaman di rumah Harun. Tapi isinya sama sekali berbeda dari ancaman.

"Rania," begitu surat itu dimulai, "kalau kau membaca ini, berarti aku sudah cukup berani untuk datang, atau sudah cukup putus asa untuk berhenti bersembunyi. Aku tidak meminta kau memaafkanku. Aku tidak pantas dimaafkan, karena aku diam terlalu lama. Tapi aku meminta kau mendengarku, karena hanya kau yang masih bisa menghentikan ini sebelum ada yang mati."

Surat itu berlanjut, dan semakin Kompol Ratna membaca, semakin aku merasa lantai di bawahku bergeser, pelan tapi pasti.

Lestari menulis bahwa ia menikah dengan Darmawan bukan karena cinta, melainkan karena utang keluarganya yang sudah menumpuk sejak ayahnya meninggal. Darmawan melunasi utang itu, dan sebagai gantinya, Lestari menjadi bagian dari urusannya: mengurus surat-surat, menemui orang-orang, menyampaikan pesan-pesan yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya. Ia tahu Darmawan mengincar warkah kakek Prawiro, tapi ia mengira itu sekadar sengketa tanah biasa, sengketa yang bisa diselesaikan dengan uang. Ia tidak tahu bahwa di balik warkah itu ada orang-orang yang tanahnya dirampas dengan kertas palsu, dan ada nama-nama yang akan kehilangan segalanya kalau warkah itu jatuh ke tangan yang salah.

Ia menulis bahwa malam kematian kakek Prawiro, ia memang datang ke rumah kami, dan memang ia yang mengatakan kalimat itu: kalau Bapak tidak mau menyerahkannya dengan baik-baik, keluarga Bapak yang akan membayarnya. Ia menulis kalimat itu dengan tangan gemetar, kata Kompol Ratna, huruf-hurufnya lebih tebal di bagian itu, seperti penanya ditekan terlalu keras. "Aku mengucapkan kalimat itu karena Darmawan menyuruhku mengucapkannya, kata demi kata, dan aku takut padanya malam itu. Aku tidak tahu kakekmu akan jatuh. Aku tidak tahu jantungnya akan berhenti di hadapanku. Aku berdiri di sana, dan aku tidak menolong, karena aku membeku. Itu dosaku, dan aku tidak akan pernah memintamu memaafkannya. Aku hanya ingin kau tahu: aku bukan yang merencanakan malam itu. Aku hanya perempuan yang takut, yang mengucapkan kalimat orang lain, dan kalimat itu membunuh seseorang."

Ruangan itu sunyi setelah kalimat terakhir itu dibaca. Aku tidak menangis. Aku tidak tahu harus merasa apa. Marah? Kasihan? Lega karena akhirnya ada pengakuan? Semua perasaan itu datang bersamaan, dan tidak ada satu pun yang menang.

Tapi surat itu belum selesai. Bagian terakhirnya adalah bagian yang membuat Kompol Ratna berhenti membaca, menatapku, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

"Ada satu nama yang belum pernah kusebutkan pada siapa pun, karena menyebutkannya berarti aku tidak akan pernah aman lagi. Nama itu adalah orang yang menyuruh Darmawan sejak awal, yang memberi Darmawan uang untuk membeli tanah-tanah itu, yang memintanya mengambil warkah kakekmu sebelum warkah itu sampai ke pengadilan. Orang itu bukan orang jauh, Rania. Ia ada di sekitarmu, di lingkaran yang kau percaya. Ia yang mengirim pesan padamu semalam, lewat nomor Harun yang ia rampas, supaya kau takut membuka pintu untukku. Karena kalau kau membukanya, aku akan menyebutkan namanya. Dan nama itu akan menghancurkan lebih dari sekadar perkara ini."

Surat itu tidak menyebutkan nama itu. Tidak ada nama di bagian mana pun. Hanya satu kalimat terakhir, yang ditulis dengan huruf yang lebih besar dari yang lain, seperti peringatan yang digarisbawahi tiga kali.

"Jangan cari aku di rumah. Cari aku di tempat orang berdoa, tempat suamiku tidak pernah mau datang. Aku akan ada di sana besok pagi, sebelum matahari terbit, sendirian. Bawa polisi yang kau percaya, tapi jangan bawa siapa pun dari lingkaranmu. Karena satu dari mereka adalah orangnya."

Kompol Ratna meletakkan surat itu di atas meja, perlahan, seperti meletakkan sesuatu yang panas. "Satu dari lingkaranmu," ulangnya. "Itu tuduhan yang sangat berat, Rania. Dan ia sengaja tidak menulis nama. Ia ingin mengatakannya langsung, di tempat yang ia pilih, dengan syaratnya sendiri."

Bimo mengembuskan napas panjang. "Tempat orang berdoa, tempat suaminya tidak pernah mau datang. Masjid? Musala? Gereja? Ada banyak tempat seperti itu di kota ini."

"Besok pagi, sebelum matahari terbit," kata Brigadir Bayu, mencatat. "Ia memberi kita waktu kurang dari dua puluh empat jam. Dan ia meminta kita tidak membawa siapa pun dari lingkaran Rania. Itu berarti tidak ada Reza, tidak ada orang tua Bimo, tidak ada siapa pun yang selama ini mendampingi Rania."

Aku menatap foto Harun di atas meja. Laki-laki tua itu menatap balik ke arahku dari balik kertas foto, matanya lelah, korannya tiga hari yang lalu. Di mana pun ia sekarang, ia masih menunggu seseorang menemukannya. Dan satu-satunya orang yang mengaku tahu di mana ia berada adalah perempuan yang selama ini kami anggap sebagai musuh terbesar kami.

"Bu," kataku akhirnya, "aku akan datang besok pagi. Dengan Ibu Kompol dan Brigadir Bayu. Hanya kita. Tidak ada orang lain."

Kompol Ratna mengangguk, tapi wajahnya tidak menunjukkan kelegaan. "Rania, saya harus jujur. Ini bisa menjadi jebakan. Lestari bisa saja bekerja sama dengan orang itu, dan tempat itu bisa menjadi tempat kalian disergap. Atau surat ini bisa jadi benar, dan besok pagi adalah satu-satunya kesempatan kita untuk mendengar nama itu sebelum Lestari ikut menghilang seperti Harun."

Ia berdiri, berjalan ke arah jendela, menatap jalanan di bawah. "Karena itu, kita siapkan dua lapis. Kalian datang seperti yang ia minta: kau, saya, dan Bayu. Tapi di luar, tanpa sepengetahuan siapa pun, tim kami sudah berjaga sejak tengah malam. Kalau ini jebakan, kita yang menjebak mereka. Kalau ini benar, nama itu akan kita dengar, dan kita lindungi Lestari sejak detik itu juga."

Aku mengangguk, tapi tenggorokanku terasa tercekat. "Dan Harun, Bu? Foto ini membuktikan ia masih hidup. Tapi di mana?"

"Foto ini tidak punya petunjuk lokasi," kata Brigadir Bayu, menunjuk dinding polos di belakang Harun. "Tapi korannya memberi kita petunjuk waktu. Tiga hari yang lalu. Artinya, siapa pun yang menahannya, masih memberinya makan, masih memberinya koran, masih memperlakukannya sebagai tawanan yang berharga, bukan sebagai beban. Orang tidak merawat tawanan seperti itu kalau mereka berniat membunuhnya. Mereka merawatnya karena ia masih berguna. Dan itu berarti kita masih punya waktu."

Perkataan itu seharusnya menenangkan, tapi justru membuatku merinding. Harun masih berguna. Berguna untuk apa? Sebagai umpan? Sebagai saksi yang bisa dibungkam kapan saja? Sebagai alat tukar untuk sesuatu yang belum kami ketahui?

Sore harinya, setelah kembali ke rumah, aku duduk di teras bersama Ibu dan Bimo, menceritakan semuanya dengan jujur, seperti yang sudah kujanjikan pada diriku sendiri: tidak ada lagi rahasia di antara kami. Ibu mendengarkan dengan wajah yang sulit kubaca. Ia tidak menangis ketika mendengar pengakuan Lestari soal malam kematian kakek. Ia hanya mengangguk pelan, seperti seseorang yang sudah lama menduga kebenaran itu, tapi tetap sakit ketika mendengarnya diucapkan.

"Perempuan itu takut," kata Ibu akhirnya, suaranya pelan. "Ibu melihatnya malam itu, di matanya. Ia takut pada suaminya sendiri. Ibu tidak memaafkannya, Nak. Tapi Ibu mengerti rasa takut itu. Ibu pernah merasakannya, selama belasan tahun, setiap kali Ibu menutup pintu rumah dan berharap tidak ada yang mengetuk."

Bimo menggenggam tanganku. "Besok pagi, sebelum matahari terbit, kita pergi. Aku akan mengantarmu ke titik kumpul, lalu aku mundur. Itu syaratnya. Aku tidak akan ikut masuk, supaya Lestari tidak merasa dijebak. Tapi aku tidak akan jauh. Aku akan ada di luar, bersama tim."

Aku menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, aku melihat ketakutan yang tidak ia sembunyikan. Bukan ketakutan untuk dirinya sendiri. Ketakutan untukku, yang akan berjalan menuju pertemuan dengan perempuan yang pernah berdiri di ruang tengah rumah kakekku, di malam kakekku meninggal.

Malam itu, aku tidak bisa tidur lagi. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap jendela yang gelap, dan memikirkan satu kalimat dari surat itu, kalimat yang terus berputar di kepalaku seperti kaset yang tidak bisa dimatikan.

Satu dari mereka adalah orangnya.

Satu dari lingkaran yang kupercaya. Satu dari orang-orang yang selama ini duduk di ruang tengahku, minum teh bersamaku, memelukku dan berkata mereka akan menjagaku.

Aku memikirkan wajah-wajah itu satu per satu, dan setiap wajah terasa seperti tersangka sekaligus seperti keluarga. Dan di tengah pikiran itu, ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk, dari nomor yang sudah kusimpan, nomor yang sangat kukenali.

Pesan dari Reza. Hanya satu kalimat, tanpa pembuka, tanpa penjelasan.

"Ran, Ayahku baru saja menelepon seseorang bernama Arman, dan aku tidak sengaja mendengar Ayahku berkata: pastikan Lestari tidak sempat bicara besok pagi."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!