Kotak dari Kakek
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,474 kata
Aku tidak tidur semalaman. Telepon dari Surya terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak β "Datanglah ke rumahku besok pagi, Nak. Sendiri." Satu kata itu: sendiri. Setelah semua yang terjadi β gudang tua itu, Dedi, ancaman terhadap Ibu β kata "sendiri" terdengar seperti undangan menuju bahaya. Tapi ini pesan kakek. Dan aku sudah berjalan terlalu jauh untuk berbalik sekarang.
Pagi buta aku sudah duduk di dapur, menatap cangkir teh yang tidak kuminum. Ibu keluar dari kamar dengan daster batiknya, rambutnya masih acak-acakan, dan langsung tahu ada yang tidak beres. "Kau tidak tidur," katanya. Itu bukan pertanyaan.
Aku menceritakan telepon Surya semalam β semuanya, kecuali bagian yang membuatku takut. Ibu mendengarkan sambil menuang teh untuk dirinya sendiri, tangannya tenang seperti kemarin di polres. Perempuan yang dua belas tahun hidup dalam ketakutan itu kini terlihat seperti orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk ditakuti. "Kakekmu tidak akan menjebakmu, Rania," katanya pelan. "Kalau dia bilang sendiri, pasti ada alasannya."
"Tapi bagaimana kalauβ" "Tidak ada bagaimana." Ibu menatapku lurus-lurus. "Kau cucunya. Kotak itu untukmu." Ia berhenti sejenak. "Tapi Bimo mengantarmu sampai depan pagar. Itu tidak bisa ditawar."
Bimo datang setengah jam kemudian dengan motornya, jaketnya masih basah oleh embun pagi. Aku menceritakan semuanya di teras sementara Ibu menyiapkan bekal yang tahu-tahu tidak akan kumakan. Bimo mendengarkan tanpa menyela, lalu mengangguk sekali. "Aku tunggu di depan pagar," katanya. "Duduk di beranda kalau boleh. Tapi aku tidak akan membiarkanmu masuk ke rumah orang sendirian tanpa ada yang tahu kau ada di dalam."
Perjalanan ke rumah Surya hanya lima belas menit, tapi terasa seperti satu jam. Jalan desa masih sepi; kabut tipis menggantung di atas sawah seperti kain kasa. Aku memeluk pinggang Bimo lebih erat dari biasanya, dan dia tidak bertanya kenapa. Kadang dia tahu kapan harus diam β dan itu salah satu dari seribu alasan aku mencintainya.
Rumah Surya berdiri di ujung gang buntu β rumah panggung kayu jati yang sudah berumur, dikelilingi pohon mangga besar yang rindang. Surya sudah menunggu di beranda, seperti orang yang juga tidak tidur semalaman. Ia melambaikan tangan, dan senyumnya terlihat dipaksakan.
"Nak Rania," sapanya, menjabat tanganku dengan kedua tangannya. Matanya beralih ke Bimo yang mematikan mesin motor di depan pagar. "Bimo ikut juga?"
"Dia menunggu di sini, Pak," kataku cepat. "Di depan. Tidak masuk ke dalam."
Surya mengangguk β lega, atau mungkin bersalah. "Maaf ya, Nak. Bukan aku tidak percaya. Tapi almarhum kakekmu berpesan keras soal ini." Ia menoleh ke Bimo. "Bimo, tunggu di beranda depan saja ya. Istriku buatkan teh."
Bimo menatapku, dan aku mengangguk kecil. "Aku di sini," katanya pelan β tiga kata yang selalu berhasil menenangkanku, bahkan sekarang.
Aku mengikuti Surya masuk ke rumah yang gelap dan sejuk, melewati ruang tamu penuh foto keluarga tua dalam bingkai kayu, menuju sebuah ruangan kecil di belakang. Di sanalah brankas besi tua itu berdiri β brankas tempat buku kas kakek disimpan bertahun-tahun. Tapi Surya tidak membuka brankas. Ia membuka lemari kayu di sampingnya, dan dari rak paling bawah ia mengangkat sebuah kotak kayu dengan kedua tangan.
Kotak itu seukuran kotak sepatu, terbuat dari kayu jati tua dengan sudut-sudut kuningan yang sudah menghijau dimakan waktu. Ada gembok kecil di depannya β dan debu dua belas tahun di atas tutupnya. Surya meletakkannya di meja dengan hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.
"Dua belas tahun," gumamnya. "Dua belas tahun aku menyimpan ini dan tidak berani membukanya." Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci kecil yang diikat tali rafia. "Kuncinya juga dititipkan. Almarhum bilang: jangan pernah dibuka, jangan pernah ditanyakan, sampai waktunya tiba."
Tanganku gemetar saat menerima kunci itu. Gemboknya berderit pelan β lalu terbuka. Aku mengangkat tutup kotak itu perlahan-lahan, dan napasku tertahan.
Di dalamnya hanya ada dua benda: sebuah amplop cokelat tebal yang sudah menguning di tepinya, dan sebuah foto hitam-putih berukuran kartu pos yang diletakkan menghadap ke bawah. Tidak ada emas. Tidak ada uang. Hanya kertas β dan kertas tidak pernah bisa berbohong selama dua belas tahun.
Aku membuka amplop itu dengan jari-jari yang masih gemetar. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas folio penuh tulisan tangan yang kukenali seketika β tulisan kakek, miring dan tegas, tulisan yang dulu selalu menemaniku belajar berhitung di beranda rumahnya. Di sudut kanan atas lembar pertama tertulis tanggal: dua belas tahun lalu. Semalam sebelum ia meninggal.
"Nak Rania, cucuku," kubaca dengan suara bergetar. "Kalau kau membaca surat ini, berarti Nadia sudah tidak bisa menyakitimu lagi. Surya hanya boleh memberikan kotak ini kalau syarat itu terpenuhi. Aku mengenal Surya β dia akan menepati janjinya, seperti dia selalu menepati semua janjinya padaku."
"Ada yang harus kau tahu, dan aku minta maaf karena kau harus mengetahuinya dari kakekmu yang sudah mati. Malam itu, aku memanggil Nadia ke rumah. Aku sudah tahu dia menggelapkan uang penjualan tanah β sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun, dari hasil keringatku sendiri. Aku ingin memberinya satu kesempatan terakhir untuk mengaku."
"Dia tidak mengaku. Dia marah. Dia mendorongku di tangga β dan aku jatuh. Saat aku tergeletak di bawah, sebelum semuanya gelap, aku mendengar suara laki-laki di tangga bawah. Aku tidak melihat wajahnya, Nak. Tapi aku melihat tangannya. Cincin perak bermata batu hitam. Aku ingat betul, karena cincin seperti itu tidak banyak beredar."
"Aku tidak pernah memberitahu siapa pun soal suara itu. Bukan karena aku melindungi Nadia β tapi karena aku melindungi diriku sendiri dari rasa bersalah. Akulah yang membuatnya seperti ini, Rania. Waktu ibumu lahir, aku memberinya segalanya: waktu, perhatian, kasih sayang. Waktu Nadia lahir, aku sedang sibuk membangun usaha. Aku menebus ketidakhadiranku dengan uang β dan uang mengubah anakku menjadi orang yang berani mendorong ayahnya sendiri demi uang."
"Di bawah surat ini ada foto. Itu Gatot, suami Nadia. Lihat cincin di jari manisnya β sama seperti yang kulihat malam itu. Kalau suatu hari cincin itu muncul di jari orang lain, berarti orang itulah yang ada di rumah kita malam aku jatuh. Jangan percaya padanya, Nak. Jangan pernah sendirian dengannya."
"Sampaikan pada ibumu: maafkan aku. Aku menitipkan beban terlalu besar di pundaknya β surat wasiat itu, rahasia itu, ketakutan itu. Ibumu perempuan paling berani yang pernah kukenal, lebih berani dari aku. Dan untukmu, cucuku: kakek mencintaimu. Pilihanmu sudah benar. Jaga ibumu, jaga Bimo baik-baik. β Kakek."
Air mataku jatuh ke kertas itu sebelum aku sempat menahannya. Aku buru-buru mengusapnya dengan lengan bajuku β jangan sampai tintanya luntur, jangan sampai dua belas tahun penantian rusak oleh air mataku sendiri. Surya diam saja di kursinya, menatap lantai. Orang tua itu menangis tanpa suara.
Dengan tangan yang masih basah, aku membalik foto hitam-putih itu. Seorang pria muda berkumis tipis merangkul bahu kakek β keduanya tertawa ke arah kamera, terlihat akrab seperti ayah dan anak. Dan di jari manis pria itu, bahkan dalam foto hitam-putih yang sudah pudar, aku bisa melihatnya dengan jelas: cincin dengan batu yang tampak lebih gelap dari sekelilingnya.
Di balik foto itu ada tulisan tangan kakek β lebih gemetar dari biasanya, mungkin ditulis belakangan, mungkin dengan tangan yang sudah lemah: "Gatot β maafkan aku."
"Pak Surya," suaraku serak. "Gatot ini... suami Bu Nadia?"
Surya mengangguk pelan. "Meninggal lima tahun lalu. Jantung. Orang baik, Nak β sayang sekali dapat istri seperti itu. Dulu dia sering ke sini, menemani almarhum main catur di beranda."
"Cincinnyaβ" "Aku tidak tahu soal cincin, Nak. Aku tidak pernah memperhatikan perhiasan orang." Surya menatapku dengan mata berkaca-kaca. "Tapi kalau almarhum menulis seperti itu di suratnya..."
Aku melipat surat itu kembali dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam tas selempangku bersama foto itu. Kotak kayunya kubiarkan di atas meja β biar Surya yang menyimpannya, atau mungkin akan kubawa pulang lain waktu. Kepalaku penuh dengan satu pertanyaan yang berputar-putar tanpa henti: kalau Gatot sudah meninggal lima tahun lalu, di jari siapa cincin itu sekarang?
"Pak Surya," kataku sebelum berdiri. "Selama dua belas tahun ini... pernah ada yang menanyakan kotak ini? Atau menanyakan soal titipan kakek?"
Wajah Surya berubah. Bukan terkejut β lebih seperti orang yang ketahuan menyimpan rahasia kedua. Ia melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada yang mendengar, lalu kembali menatapku dengan wajah tegang.
"Ada, Nak," bisiknya. "Minggu lalu."
Dingin menjalar di tengkukku. "Siapa?"
"Laki-laki. Kumis tipis, umur empat puluhan. Dia tanya apa almarhum kakekmu pernah menitipkan sesuatu padaku." Surya meremas-remas tangannya sendiri. "Aku bilang tidak ada. Aku bohong, Nak β maafkan aku. Tapi pesan almarhum jelas: kotak ini hanya untuk cucunya."
"Lalu dia pergi begitu saja?" "Pergi. Tapi sebelum pergi..." Surya berhenti, dan aku melihat ketakutan yang nyata di matanya β ketakutan orang tua yang tahu dia melihat sesuatu yang seharusnya tidak dilihat. "Aku sempat melihat tangannya, Nak. Waktu dia menyalakan rokok di depan pagar."
"Di jari manisnya β cincin perak bermata batu hitam."