β€Ή
62. Malam yang Disimpan Ibu

Malam yang Disimpan Ibu

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,532 kata

Ilustrasi Malam yang Disimpan Ibu

"Aku harus bicara dengan Ibu. Malam ini juga."

Kalimat itu masih menggantung di udara ruang tamu rumah nomor 21 ketika Bimo menggenggam tanganku lebih erat. Ia tidak bertanya apakah aku yakin. Ia tidak memintaku menunggu sampai besok. Ia hanya menatap Kompol Ratna, mengangguk singkat, dan berkata, "Kami antar Rania ke rumah orang tua saya. Ibu ada di sana."

Kompol Ratna mengangguk. "Dua anggota saya ikut dari belakang. Jangan berhenti di mana pun. Kalau ada yang mengikuti, jangan turun dari mobil."

Perjalanan dari Jalan Kenanga ke rumah orang tua Bimo terasa seperti perjalanan paling panjang dalam hidupku. Di luar jendela mobil, kota bergerak seperti biasa: warung yang mulai menutup, anak-anak yang pulang mengaji, lampu-lampu jalan yang menyala satu per satu. Di dalam mobil, tidak ada yang bicara. Reza menyetir dengan kedua tangan menggenggam setir begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Bimo duduk di sampingku di kursi belakang, tangannya tidak pernah lepas dari tanganku. Sesekali ia meremasnya pelan, seolah mengingatkanku bahwa aku masih bernapas, bahwa aku masih di sini, bahwa pagi yang mengerikan itu sudah lewat.

Padahal belum. Belum lewat sama sekali. Karena bisikan Darmawan masih berputar di kepalaku, kata demi kata, seperti kaset yang tidak bisa dimatikan. Tanyakan pada ibumu. Malam kakekmu meninggal, siapa yang datang ke rumah kalian malam itu. Ibumu tahu. Dia selalu tahu.

Aku memikirkan ibuku. Perempuan yang membesarkanku sendirian setelah kakek pergi, yang membuka butik kecilnya dari nol, yang menyematkan kuntum melati di sakuku setiap kali aku menghadapi sesuatu yang besar. Perempuan yang selalu menjawab pertanyaanku dengan jujur, kecuali satu hal: malam kematian kakek Prawiro. Setiap kali aku bertanya, ia selalu mengalihkan pembicaraan. Dulu aku mengira itu karena duka. Sekarang aku tahu ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang ia simpan selama belasan tahun, sendirian.

Ketika mobil berhenti di depan rumah orang tua Bimo, Ibu sudah menunggu di teras. Entah bagaimana ia tahu kami datang. Mungkin polisi yang berjaga di depan sudah memberitahunya. Mungkin ia memang tidak pernah benar-benar tidur sejak pagi tadi. Ia berdiri di ambang pintu dengan selendang melilit bahunya, wajahnya pucat, matanya mencari wajahku di antara kerumunan.

"Rania," katanya, dan suaranya pecah di tengah jalan.

Aku turun dari mobil dan berlari memeluknya. Untuk beberapa detik yang panjang, kami hanya berdiri begitu saja di teras, sementara Bimo dan Reza menunggu di belakang dengan sopan, memberi kami ruang. Aroma ibuku, aroma sabun dan melati yang selalu menempel di bajunya, membuat mataku panas. Aku hampir menangis di sana, di pelukannya, seperti anak kecil yang pulang setelah jatuh dari sepeda. Tapi aku menahannya. Malam ini bukan malam untuk menangis. Malam ini adalah malam untuk mendengar kebenaran.

"Bu," kataku pelan ketika kami masuk ke dalam rumah, "kita bicara berdua. Di kamar tamu. Sekarang."

Ibu menatapku lama. Ia melihat sesuatu di wajahku, sesuatu yang membuatnya tidak membantah. Ia mengangguk, lalu mengikutiku ke kamar tamu, menutup pintu di belakang kami dengan hati-hati. Di luar, aku mendengar suara Bimo berbicara pelan dengan ayahnya, dan suara ibunya Bimo menyuguhkan teh. Dunia di luar pintu itu terasa jauh sekali.

Kami duduk berhadapan di atas tempat tidur kamar tamu. Lampu kamar itu temaram, hangat. Di atas meja kecil di samping tempat tidur ada segelas air putih yang belum tersentuh dan sebuah foto lama: aku kecil, duduk di pangkuan kakek Prawiro di beranda rumah lama kami, tertawa dengan gigi ompong.

Aku menggenggam tangan Ibu. Tangannya dingin.

"Bu," kataku, "tadi pagi Darmawan ditangkap. Polisi sudah membawanya. Warkahnya aman. Tapi sebelum dibawa pergi, dia membisikkan sesuatu padaku."

Ibu tidak bergerak. Ia menatapku, menunggu.

"Dia bilang, malam kakek meninggal, ada tamu di rumah kita. Tamu yang tidak pernah kita ceritakan ke siapa pun. Dan Ibu tahu siapa tamu itu."

Keheningan yang jatuh setelah kalimat itu terasa berat, seperti selimut basah. Ibu menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tidak menangis. Ia menatap foto di meja itu, lalu menatapku lagi, dan aku melihat di matanya sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: rasa bersalah yang sudah terlalu lama dipendam, dan kelegaan seorang perempuan yang akhirnya boleh meletakkan beban itu.

"Rania," katanya dengan suara yang sangat pelan, "maafkan Ibu. Ibu tidak pernah berbohong padamu. Ibu hanya... tidak pernah menyelesaikan ceritanya."

"Bu, ceritakan sekarang. Semua."

Ibu mengangguk. Ia menggenggam tanganku lebih erat, seperti orang yang membutuhkan pegangan untuk melompat.

"Malam itu," ia memulai, "kakekmu sedang tidak enak badan sejak sore. Jantungnya sudah lama bermasalah, Nak, kau tahu itu. Dokter sudah berkali-kali bilang ia harus istirahat total. Tapi kakekmu keras kepala. Malam itu ia masih duduk di ruang tengah, memeriksa surat-suratnya, seperti biasa."

Aku mengangguk. Aku ingat kakek selalu begitu: surat-surat di meja, kacamata di ujung hidung, teh yang sudah dingin karena lupa diminum.

"Sekitar jam sembilan malam," lanjut Ibu, "seseorang mengetuk pintu. Seorang perempuan. Berkebaya cokelat, sanggulnya rapi, sopan sekali. Ia bilang ia saudara jauh dari pihak keluarga ayahnya Darmawan. Ia bilang ia datang untuk membicarakan urusan tanah, baik-baik, tanpa ribut-ribut."

Jantungku berdetak lebih cepat. Deskripsi itu persis sama dengan deskripsi ibunya Bimo tentang perempuan yang datang kemarin malam. Perempuan yang sama. Lestari.

"Ibu membukakan pintu," kata Ibu, suaranya bergetar. "Kakekmu menyuruhnya masuk. Mereka bicara di ruang tengah. Awalnya tenang. Lalu suara mereka meninggi. Perempuan itu meminta kakekmu menyerahkan sesuatu. Surat. Warkah. Ia bilang itu hak keluarganya. Kakekmu menolak. Ia bilang kebenaran tidak bisa dibeli dengan sopan santun."

Ibu berhenti, mengusap matanya dengan punggung tangan.

"Lalu kakekmu memegangi dadanya. Ia jatuh dari kursinya. Ibu berlari, Ibu memanggil namanya, Ibu menelepon tetangga untuk memanggil dokter. Tapi perempuan itu... ia berdiri saja di sana, Nak. Ia tidak menolong. Ia tidak panik. Ia hanya menatap kakekmu, lalu berkata satu kalimat yang tidak pernah bisa Ibu lupakan."

"Apa, Bu?"

Ibu menatapku, dan air matanya akhirnya jatuh.

"Ia bilang, 'Kalau Bapak tidak mau menyerahkannya dengan baik-baik, keluarga Bapak yang akan membayarnya.' Lalu ia pergi, begitu saja, sebelum dokter datang. Kakekmu meninggal malam itu juga, di ruang tengah itu, di tangan Ibu."

Aku merasa seperti lantai di bawahku bergeser. Selama belasan tahun, aku mengira kakekku meninggal dengan tenang dalam tidurnya, seperti yang selalu diceritakan orang-orang dengan nada menghibur. Ternyata ia meninggal setelah bertengkar dengan perempuan yang kini kuketahui bernama Lestari, istri Darmawan. Dan ibuku menyaksikan semuanya, sendirian, lalu memikulnya sendirian.

"Kenapa Ibu tidak pernah cerita?" bisikku. "Kenapa Ibu diam selama ini?"

"Karena kakekmu, sebelum mengembuskan napas terakhirnya, menggenggam tangan Ibu dan berbisik," kata Ibu, "simpan warkahnya, Nak. Jangan biarkan mereka mengambilnya. Dan jangan ceritakan malam ini ke siapa pun sampai warkahnya aman. Karena kalau mereka tahu kau melihatnya, mereka akan datang padamu."

Ibu menggeleng pelan. "Ibu takut, Rania. Ibu takut padamu. Kau masih kecil waktu itu. Ibu pikir, kalau Ibu diam, mereka akan mengira Ibu tidak tahu apa-apa, dan mereka akan membiarkan kita hidup tenang. Dan bertahun-tahun, itu berhasil. Mereka tidak datang. Sampai... sampai kau menemukan warkah itu."

Aku memeluk ibuku erat-erat. Tubuhnya gemetar di pelukanku, seperti tubuhku sendiri yang gemetar di rumah nomor 21 tadi pagi. Dua perempuan yang sama-sama menyimpan ketakutan terlalu lama, akhirnya saling memeluk di kamar tamu yang temaram.

"Bu," kataku, "Ibu tidak salah. Ibu melindungi aku, seperti kakek melindungi warkah itu. Tapi sekarang warkahnya sudah aman. Sudah disegel polisi. Darmawan sudah ditangkap. Jadi Ibu tidak perlu diam lagi."

Ibu mengangguk di bahuku. "Ibu tahu. Dan ada satu hal lagi yang harus kau tahu, Nak."

Ia melepaskan pelukanku, berdiri, dan berjalan ke arah lemari pakaian di sudut kamar. Dari balik tumpukan selendang, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil yang sudah menguning di ujung-ujungnya. Amplop itu tidak disegel. Di depannya, dengan tulisan tangan yang kukenali sebagai tulisan kakekku, tertulis satu kata: RANIA.

"Tiga hari sebelum meninggal," kata Ibu sambil menyerahkan amplop itu padaku, "kakekmu memberikannya padaku. Ia bilang, berikan ini pada Rania kalau ia sudah cukup besar untuk mengerti. Ibu menyimpannya selama ini, menunggu waktu yang tepat. Ibu rasa... waktunya sekarang."

Tanganku gemetar saat menerima amplop itu. Kertasnya tipis, ringan, tapi terasa berat seperti batu di telapak tanganku. Aku menatap tulisan kakekku, dan tenggorokanku tercekat. Selama ini, kakek tidak hanya meninggalkan warkah. Ia meninggalkan sesuatu untukku secara pribadi.

"Bu," kataku, "boleh aku buka sekarang?"

Ibu menggeleng dengan cepat, matanya melebar. "Jangan di sini, Nak. Jangan malam ini, di rumah orang lain, dengan semua yang terjadi hari ini." Ia menggenggam tanganku, tatapannya tajam dan memohon sekaligus. "Bawa pulang. Buka besok pagi, di rumah kita sendiri, saat kau sudah tenang. Janji sama Ibu."

Aku mengangguk, meskipun rasa penasaranku membakar. Aku menyelipkan amplop itu ke dalam saku jaketku, di samping kuntum melati yang sudah hancur.

Saat itulah, dari luar kamar, terdengar suara ketukan di pintu depan rumah. Bukan ketukan biasa. Tiga ketukan, pelan, teratur, seperti seseorang yang tahu persis bahwa kami sedang membicarakan hal yang tidak boleh didengar orang lain.

Ibu dan aku saling menatap. Wajah Ibu memutih.

Karena polisi yang berjaga di depan rumah seharusnya tidak mengetuk seperti itu. Dan Bimo serta Reza ada di dalam rumah, bukan di luar pintu.

Ketukan itu terdengar lagi. Tiga kali. Pelan. Sabar. Menunggu.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!