β€Ή
58. Salinan Kedua

Salinan Kedua

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,357 kata

Ilustrasi Salinan Kedua

"Telepon ibumu. Sekarang."

Bimo bahkan tidak menunggu mobil Reza berhenti sempurna di depan polsek. Aku menekan nomor Ibu dengan jari gemetar β€” satu nada, dua nada, tiga nada. Tidak diangkat.

"Ibu angkat, tolong angkat..." bisikku.

Nada keempat. Kelima. Ponselku hampir terlepas ketika akhirnyaβ€”

"Halo? Ran?"

Aku hampir menangis lega. "Bu! Kenapa lama banget diangkatnya?"

"Astaga, kamu ini. Ibu lagi di kamar mandi, Nak." Suara Ibu terdengar bingung. "Ada apa sih? Kamu bikin Ibu khawatir saja."

Aku bertukar pandang dengan Bimo. "Bu, dengarkan aku baik-baik. Malam ini juga, Ibu ikut aku. Ibu nginap di rumah temanku dulu beberapa hari."

"Nginep? Kenapa tiba-tibaβ€”"

"Bu, tolong. Jangan tanya dulu." Suaraku bergetar. "Percaya sama aku sekali ini saja."

Hening sejenak di seberang. Lalu Ibu menghela napas β€” napas panjang seorang ibu yang memutuskan untuk percaya meski tidak mengerti. "Ya sudah. Ibu siap-siap. Kamu mau Ibu bawa apa?"

"Sedikit saja. Baju ganti dan obat Ibu."

Kami meluncur ke rumah Ibu dengan Reza menyetir seperti pembalap β€” menerobos lampu kuning, menyalip di tikungan. Sepanjang jalan aku tidak berhenti menelepon Ibu, memastikan dia tetap di telepon sampai kami tiba.

Rumah kecil itu gelap kecuali lampu teras. Ibu sudah menunggu di ruang tamu dengan tas jinjing kecil, wajahnya cemas tapi tegar. Begitu melihatku, ia langsung memelukku erat.

"Kamu kurus, Nak," bisiknya di rambutku.

"Aku baik-baik saja, Bu."

Ibu menatap Bimo dan Reza bergantian, lalu tersenyum pada Bimo β€” senyum yang sudah lama kukenal, senyum restu yang tidak pernah diucapkannya dengan kata-kata. "Bimo. Jaga anak Ibu ya."

"Siap, Bu," jawab Bimo, suaranya mantap.

"Tante ikut kami," kata Reza sopan. "Tempatnya aman."

Ibu mengangguk, lalu pandangannya jatuh pada tanaman melati di samping gerbang β€” melati yang kutanam bersama kakek. Ia memetik satu kuntum, menyelipkannya di saku bajuku seperti dulu waktu aku kecil. "Biar kakek ikut menjagamu," katanya pelan.

Tenggorokanku tercekat. Aku ingin menceritakan semuanya β€” tentang surat kakek, tentang map kuning, tentang ancaman itu. Tapi melihat wajah tenangnya, aku menelan semua kata itu kembali. Beberapa kebenaran lebih berat untuk didengar daripada untuk dipikul.

"Bu," kataku akhirnya, menggenggam tangannya, "kakek pernah bilang sesuatu padaku waktu kecil. Katanya, 'Rania, kalau kamu takut, ingat β€” ketakutan itu cuma tanda kamu sedang melakukan hal yang benar.'"

Ibu tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Kakekmu dan kata-katanya yang sok bijak itu."

Kami mengantar Ibu ke rumah orang tua Bimo β€” sebuah rumah sederhana yang hangat, di mana ibunya Bimo langsung memeluk ibuku seperti saudara lama dan menyuguhkan teh manis panas. Melihat ibuku duduk aman di ruang tamu itu, dikelilingi orang-orang baik, beban di dadaku sedikit terangkat.

Baru kami hendak pulang, ponselku berdering. Pak Sutrisno.

"Nak Rania," suaranya lirih dan terburu-buru. "Maaf menelepon selarut ini. Aku tidak bisa tidur. Ada yang harus kusampaikan β€” tapi tidak lewat telepon. Datanglah ke rumah anakku di Bekasi. Sekarang. Aku tunggu."

"Pak, ada apaβ€”"

"Datang saja, Nak. Ini soal map kuning itu."

Telepon ditutup. Aku menatap Bimo dan Reza. "Bekasi. Sekarang."

Perjalanan satu jam terasa seperti selamanya. Rumah putri Pak Sutrisno sederhana dan rapi. Pak Sutrisno sendiri menunggu di teras, berselimut sarung, wajahnya lebih tenang daripada sore tadi β€” tapi matanya menyala dengan sesuatu yang belum kulihat sebelumnya: tekad.

"Masuk," katanya. "Putriku sudah tidur. Yang akan kubicarakan ini... hanya untuk kita."

Di ruang tamu yang remang, ia menatap kami bergantian. "Sore tadi aku belum cerita semuanya. Bukan karena aku tidak percaya β€” tapi karena aku takut. Takut kalau yang kudengar ini... bocor lagi."

"Apa maksud Bapak, Pak?" tanya Bimo.

Pak Sutrisno menarik napas panjang. "Notaris yang baik tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang, Nak. Waktu aku membuat salinan warkah asli dua belas tahun lalu... aku membuat DUA salinan."

Ruangan itu sunyi.

"Yang satu kusimpan di lemari arsip kantorku β€” yang diambil perempuan itu kemarin. Yang kedua..." Ia menatapku lekat-lekat. "Yang kedua tidak pernah kuceritakan ke siapa pun. Bahkan ke putriku sendiri."

"Di mana, Pak?" Suaraku nyaris tak keluar.

"Di rumahku. Di kamar." Pak Sutrisno tersenyum pahit. "Di balik panel belakang lemari pakaian almarhumah istriku. Pencuri mencari brankas, Nak. Tidak ada pencuri yang menggeledah lemari baju perempuan tua."

Aku teringat foto di koridor β€” perempuan berkebaya hijau yang tersenyum lembut. "Tapi rumah Bapak kan sedangβ€”"

"Aku sudah telepon Kompol Ratna. Beliau mengizinkan kita masuk dengan pengawalan β€” olah TKP awal sudah selesai, dan beliau menempatkan satu anggota berjaga di sana." Pak Sutrisno berdiri, tubuh rentanya tiba-tiba tegak. "Ayo. Sebelum Darmawan sadar dia hanya dapat setengah."

Kami tiba di Jalan Kenanga 8 lewat tengah malam. Rumah itu tampak lebih menyeramkan dalam gelap β€” pita kuning polisi berkibar pelan di pagar. Seorang petugas muda menyambut kami dan mengantar masuk.

Kamar Pak Sutrisno masih berantakan seperti sore tadi. Tapi kini, di bawah cahaya lampu, aku bisa melihat detail yang tadi terlewat: ranjang kayu berukir, foto pernikahan di dinding, dan di sudut β€” sebuah lemari pakaian kayu jati yang tua tapi terawat, dengan ukiran bunga di pintunya.

Pak Sutrisno mendekatinya pelan, tangannya yang keriput mengelus ukiran itu seperti mengelus pipi seseorang. "Lima belas tahun," bisiknya. "Lima belas tahun dia pergi, dan aku tidak pernah memindahkan apa pun dari lemari ini. Bajunya masih di sini. Minyak melatinya masih di sini."

Ia membuka pintu lemari. Aroma melati yang lembut langsung menyeruak β€” aroma seorang perempuan yang sudah lama tiada tapi cintanya masih tinggal di kayu-kayu ini. Dengan tangan gemetar, Pak Sutrisno menekan sisi kanan panel belakang lemari. Terdengar bunyi klik pelan β€” mirip bunyi laci rahasia di ruang kerja Pak Wiratama, dan aku merinding.

Panel itu bergeser. Di baliknya, terbungkus plastik bening: sebuah map kuning.

Tanganku gemetar saat menerimanya. Plastiknya sudah menguning dimakan usia, tapi isinya utuh. Aku membukanya dengan hati-hati di bawah cahaya lampu β€” dan di sana: warkah notaris dengan kop resmi, tanda tangan para pihak yang masih jelas, stempel notaris Pak Sutrisno, dan tanggal yang mendahului AJB palsu itu dua minggu.

"Ini dia," bisik Reza, suaranya bergetar. "Ini yang asli."

Pak Sutrisno menangis dalam diam β€” air mata lelaki tua yang dua belas tahun menahan napas. "Maafkan aku, Prawiro," bisiknya ke udara. "Dua belas tahun aku jadi pengecut. Tapi salinanmu selamat. Aku menjaganya."

Aku memeluknya erat. "Bapak tidak pengecut, Pak. Bapak menyimpan kebenaran ini dua belas tahun tanpa pernah menjualnya, tanpa pernah menyerah. Itu bukan pengecut. Itu penjaga."

Kami baru melangkah keluar dari kamar itu β€” map kuning dalam pelukanku, untuk pertama kalinya malam ini aku merasa bisa bernapas lega β€” ketika ponselku berdering.

Nomor tidak dikenal.

Aku menatap Bimo. Dia mengangguk. Aku mengangkatnya β€” dan menekan pengeras suara.

Hening dua detik. Lalu sebuah suara β€” halus, tua, terkendali, dengan wibawa yang membuat bulu kudukku berdiri:

"Selamat malam, Nak Rania. Ini Darmawan."

Darahku membeku. Bimo langsung meraih ponselku, mendekatkannya agar kami semua bisa mendengar. Reza membeku di tempat. Pak Sutrisno memegangi dadanya.

"Kau tidak perlu takut," lanjut suara itu, hampir... ramah. "Aku hanya ingin bicara baik-baik. Sutrisno menyimpan dua salinan, bukan satu. Orang tua memang pelupa β€” dia lupa memberitahumu kemarin sore."

Tanganku mencengkeram ponsel sampai buku-bukuku memutih. Dia tahu. Dia tahu tentang salinan kedua.

"Bawa map itu padaku besok pagi. Sendiri." Nada ramah itu menghilang, berganti baja. "Atau... kau tahu apa yang terjadi pada orang-orang yang menyimpan barang milikku terlalu lama."

Klik. Telepon ditutup.

Kami berdiri mematung di koridor rumah tua itu, pita kuning polisi berkibar di luar jendela. Map kuning terasa tiba-tiba berat seperti batu di pelukanku.

Aku menatap Bimo. Menatap Reza. Menatap Pak Sutrisno.

"Dia tahu tentang salinan kedua," kataku pelan. "Padahal tidak satu pun dari kita menyebutkannya lewat telepon. Pak Sutrisno baru memberitahu kita..." aku menelan ludah, "lima belas menit yang lalu. Di ruangan ini."

Bimo memahami maksudku sebelum aku mengatakannya. Wajahnya mengeras.

"Jadi," bisikku, "seseorang sudah mendengarkan sejak awal. Dan orang itu... tahu persis di mana kita berada malam ini."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!