Orang yang Paling Kamu Percaya
Jodoh yang Salah Alamat • 1,412 kata
Aku tidak tidur malam itu. Bukan karena kasurku tidak nyaman—justru sebaliknya, kasur di kamar lamaku terlalu akrab, terlalu penuh kenangan masa kecil, sampai setiap kali aku memejamkan mata aku merasa seperti ditelan oleh masa lalu yang belum selesai bicara.
Pukul dua pagi, aku masih menatap layar ponsel. Pesan dari "N." itu sudah kubaca entah keberapa kalinya. Klausul 7 ayat 4. Paraf basah. Aku yang pegang. Jangan percaya siapa pun—terutama orang yang paling kamu percaya.
Di ruang tamu, Bimo tidur di sofa—atau berpura-pura tidur. Ibu mengizinkannya menginap setelah semua yang terjadi kemarin; "biar ada yang jaga," katanya, dan aku tidak tahu apakah yang ia maksud menjaga rumah atau menjagaku dari pikiranku sendiri.
Orang yang paling kupercaya. Kalau pesan itu bicara tentangku, jawabannya jelas: Bimo. Laki-laki yang kucintai sejak SMA, yang diculik karena aku, yang berdiri di sampingku di atas panggung kemarin. Dan justru karena jawabannya terlalu jelas, aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Aku bangkit, berjalan ke dapur, menuang air putih. Dari jendela, langit Jakarta berwarna oranye kotor—tidak pernah benar-benar gelap, tidak pernah benar-benar terang. Seperti pikiranku malam ini.
"Kamu juga nggak bisa tidur?" Suara Bimo membuatku menoleh. Ia berdiri di ambang pintu dapur, rambutnya acak-acakan, matanya merah.
"Pesan itu," kataku. Tidak perlu dijelaskan lebih jauh.
Bimo mendekat, menyandarkan bahunya ke bahuku. "Aku mikirin hal yang sama. Dan aku benci ini, Ran. Aku benci karena satu SMS dari orang yang bahkan menjebakku bisa bikin kita saling..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
"Kita harus tahu isi klausul itu," kataku akhirnya. "Sebelum siapa pun menggunakannya untuk melawan kita. Besok pagi, kita ke tempat Bang Yudi."
Bimo mengangguk. "Dan soal pesannya—kita hadapin bareng. Jangan ada yang dipendam. Janji?"
"Janji." Tapi bahkan saat mengucapkannya, aku merasakan sesuatu yang kecil dan dingin di dadaku. Keraguan itu belum pergi. Ia hanya sedang menunggu.
Pagi harinya, Ibu membuatkan kami nasi goreng dengan telur mata sapi—makanan paling normal di dunia, di tengah hidup yang sudah tidak normal sama sekali. "Hati-hati di jalan," katanya sambil memasukkan bekal ke tasku, seolah kami hanya akan pergi piknik. Aku memeluknya lama.
Bang Yudi tinggal di sebuah ruko kecil yang ruang tamunya disulap jadi pusat komando: dua laptop, tumpukan map, dan papan tulis putih penuh coretan nama dan garis penghubung. Bau kopi instan memenuhi ruangan.
"Klausul 7 ayat 4," Yudi mengulang sambil membuka laptop. "Kirim semua foto kontrak yang kamu punya, Ran. Semua."
Aku mengirim dua belas foto—semua halaman kontrak yang sempat kumotret di ruang kerja Hendra malam itu, dengan tangan gemetar dan jantung berdebar seperti mau copot. Yudi memindahkannya ke layar monitor, memperbesar satu per satu.
Halaman 1. Halaman 2. Halaman 3. Kami membaca cepat—klausul 1 sampai 6 adalah bahasa hukum standar: para pihak, maksud perjanjian, maskawin, kewajiban para pihak. Kering, formal, tidak mencurigakan. Lalu—
"Tunggu," kata Bimo, mencondongkan badan. "Ini halaman 6. Terus ini halaman 8. Mana halaman 7?"
Yudi menggulir lagi. Menghitung ulang dengan jarinya di layar. "Nggak ada. Foto-fotomu loncat dari 6 ke 8, Ran."
Dingin merayap di tengkukku. "Mungkin... mungkin waktu itu aku kelewat. Tanganku gemetar, lampunya redup, aku buru-buru—"
"Atau mungkin," kata Yudi pelan, "halaman 7 memang sengaja dipisah dari berkasnya. Halaman paling penting biasanya disimpan terpisah, biar nggak gampang kefoto orang."
Klausul 7 ayat 4. Satu-satunya salinan berparaf basah ada di tangan Nadia. Dan di foto-fotoku, halaman itu bahkan tidak pernah ada.
Bimo memperbesar bagian bawah halaman 6 sampai piksel-pikselnya pecah. Di sana, di margin yang hampir tidak terbaca, ada tulisan tangan dengan tinta biru: "Lihat Lampiran C. Rahasia. — N."
"N," bisikku. "Nadia. Dia yang nulis ini."
"Lampiran C juga nggak ada di foto-fotomu," kata Yudi. "Jadi yang kita tahu: ada satu halaman dan satu lampiran yang hilang, dan keduanya ada di tangan perempuan yang juga hilang."
Keheningan menggantung di ruangan itu, berat seperti asap. Lalu Bimo berkata, pelan tapi tegas, "Kita perlu ngomongin pesannya. Sekarang. Sebelum racunnya menyebar lebih jauh."
Aku tahu maksudnya. Pesan dari "N." itu bukan cuma soal dokumen. Itu soal kami. Soal fondasi kepercayaan yang kami bangun bertahun-tahun—dan satu kalimat yang mencoba meruntuhkannya dalam semalam.
"Orang yang paling kamu percaya," kata Yudi, menyandarkan punggung ke kursi. "Kalau aku jadi Nadia, dan aku mau mecah belah kalian, itu kalimat paling efektif di dunia. Satu kalimat, dan kalian mulai saling curiga. Perang selesai, tapi pasukannya bubar sendiri."
"Tapi kalau dia beneran mau ngasih peringatan?" tanyaku. "Kalau memang ada pengkhianat di antara kita?"
"Maka kita harus dengerin," kata Bimo. "Tapi dengan adil. Kita sebutin satu-satu, kita timbang baik-buruknya, dan kita nggak nuduh siapa-siapa tanpa bukti. Deal?"
Aku mengangguk. "Deal."
"Aku duluan," kata Bimo, dan rahangnya mengeras. "Orang yang paling kamu percaya itu aku, Ran. Dan Hendra bilang kemenangan kita dibangun di atas kebohonganku. Jadi tanya aja. Sekarang. Apa pun yang mau kamu tanyain, tanyain."
Aku menatapnya—mata itu, mata yang menenangkanku sejak kami masih berseragam putih abu-abu. "Malam di gudang itu," kataku akhirnya. "Kamu bilang denger Hendra nelpon soal rencana B. Kamu yakin nggak salah denger? Nggak... nggak ngarang buat nenangin aku?"
"Aku yakin." Bimo tidak berkedip. "Dan soal Nadia—aku udah cerita semuanya, nggak ada yang kututupin. Aku ikut dia ke kafe karena aku pikir dia mau bantu. Aku lengah, aku salah, aku ngaku. Kalau kamu mau marah soal itu, marah aja. Tapi jangan ragukan aku diam-diam. Itu lebih nyakitin."
Kata-katanya menamparku dengan lembut. Aku percaya padanya. Atau aku ingin percaya padanya. Di titik ini, aku bahkan tidak tahu lagi bedanya—dan itu membuatku takut.
"Paman Darman," kata Yudi, menulis nama itu di papan tulis dengan spidol hitam. "Dia yang tahu persis di mana kontrak disimpan. Dia yang nyiapin baju ganti buat kamu dengan cepat banget kemarin. Dia yang pertama nyebut polisi."
"Dia pamanku," kataku cepat—terlalu cepat, terlalu defensif. "Dia yang ngerawat aku waktu Ayah meninggal. Dia yang nangis waktu meluk aku di ruang tunggu kemarin. Orang nggak bisa pura-pura nangis kayak gitu, Bang."
"Aku nggak nuduh," kata Yudi tenang. "Aku cuma nyatet. Itu bedanya. Lanjut—aku sendiri." Ia menulis namanya sendiri di papan tulis, dan aku terkejut.
"Bang Yudi sendiri," kata Bimo, menyambung. "Lu ngatur polisi dateng di momen yang pas banget—terlalu pas. Lu tahu Nadia narik tunai dalam jumlah besar padahal polisi aja belum tahu. Gimana lu bisa tahu secepat itu?"
Yudi tersenyum tipis, tidak tersinggung. "Kontak lama di bank—temen SMA yang sekarang jadi supervisor. Dan soal timing polisi: aku udah nyiapin laporan sejak semalam, tinggal nunggu momen yang tepat biar Hendra nggak bisa kabur. Kalau itu bikin aku kelihatan mencurigakan, ya... aku nggak bisa bela diri selain dengan hasil kerja."
"Terus Reza," kataku pelan. Nama terakhir itu terasa berat di lidahku. "Anaknya Hendra. Darah dagingnya. Dia berbalik di panggung kemarin, tapi..."
"Tapi dia juga satu-satunya yang tahu isi kontrak dari sisi keluarga," sambung Bimo. "Dan dia yang paling gampang dihubungi ayahnya. Satu telepon, satu ancaman ke ibunya yang lagi sakit—selesai."
Kami saling pandang. Empat nama di papan tulis putih itu. Empat orang yang berjuang bersama kami kemarin, yang berdiri di sisi kami saat Hendra diborgol. Dan satu pesan misterius yang meminta kami mencurigai salah satu dari mereka.
"Ini gila," bisikku. "Kemarin kita perang bareng-bareng. Sekarang kita duduk di sini saling..."
"Nggak saling apa-apa," potong Bimo. Ia meraih tanganku, menggenggamnya erat. "Dengerin aku, Ran. Pesan itu—entah dari Nadia atau bukan—tujuannya satu: bikin kita pecah. Kalau kita mulai nuduh tanpa bukti, kita yang ngerjain kerjaannya Hendra buat dia. Gratis."
Yudi mengangguk. "Bimo bener. Aturannya mulai hari ini: kita percaya, tapi kita verifikasi. Diam-diam. Nggak ada tuduhan, nggak ada interogasi, nggak ada drama. Kita awasin semuanya—termasuk satu sama lain—sampai kebenaran muncul sendiri."
Aku menghela napas panjang, merasa sedikit lebih ringan. "Oke. Terus soal klausulnya—gimana kita tahu isinya kalau halamannya hilang dan lampirannya hilang?"
"Kita cari Nadia," kata Yudi, menghapus papan tulis. "Sebelum Hendra menemukannya duluan. Karena kalau Hendra dapat kertas itu duluan—" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu. Kami semua tahu apa artinya.
Saat itulah ponsel Bimo berdering. Nomor tak dikenal. Tidak ada nama, tidak ada foto profil.
Bimo menatapku. Aku mengangguk pelan. Ia mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara.
Hening sesaat—hanya derau samar seperti angin. Lalu suara perempuan, pelan, seperti berbisik dari tempat yang sangat jauh: "Klausul 7 ayat 4 bukan tentang pernikahan, Rania."
Darahku berhenti mengalir. "Nadia? Nadia, ini kamu?"
"Itu tentang siapa yang mewarisi semuanya kalau pernikahan ini gagal." Klik. Sambungan terputus.
Kami bertiga saling menatap dalam diam. Di papan tulis yang sudah dihapus, seolah-olah empat nama itu masih menatap balik.
Dan untuk pertama kalinya sejak pesan "N." itu masuk, aku sadar satu hal yang membuat bulu kudukku berdiri: Nadia tidak sedang lari dariku. Dia sedang mengajakku bermain—dan aku tidak tahu apakah aku bidaknya, lawannya, atau hadiahnya.