Pesan dari Nomor Tak Dikenal
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,337 kata
Mobil hitam itu sudah tidak ada saat Rania berkedip.
Ia menatap jalanan kosong di bawah lampu jalan selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam β setengah berharap mobil itu kembali, setengah berharap ia cuma berhalusinasi karena kurang tidur dan terlalu banyak ketakutan. Ponsel di tangannya masih menampilkan pesan itu, huruf-hurufnya terbakar di retinanya: "Bimo baik-baik saja. Untuk sekarang. Kalau kamu mau dia TETAP baik-baik saja β lihat ke jendela."
Jemarinya bergerak sendiri: tangkapan layar. Bukti. Kalau sesuatu terjadi, setidaknya ada sesuatu yang tersisa selain kata-katanya.
Ia membasuh wajah dengan air dingin sampai kulitnya terasa kebas, merapikan gaun hijau zamrud yang konyol itu, dan kembali ke ruang makan dengan senyum yang ditempel seperti perangko. Tidak ada yang memperhatikan kepergiannya yang terlalu lama β kecuali Reza. Alisnya terangkat sekilas, pertanyaan tanpa suara: ada apa? Rania menggeleng sangat halus. Nanti. Belum sekarang.
Pak Hendra mengangkat gelasnya, dan ruangan itu hening seperti menunggu vonis. "Untuk merayakan kerja sama dua keluarga," katanya dengan suara yang biasa dipakai untuk menutup kesepakatan miliaran rupiah, "lamaran resmi tiga minggu lagi. Minggu depan kita umumkan ke media. Untuk Reza dan Rania!"
Tepuk tangan membahana. Ibu meremas tangan Rania β permintaan maaf tanpa kata, untuk kesekian kalinya malam ini. Ayah menatap kosong ke gelasnya, dan Rania melihat lelaki yang dulu mengajarinya naik sepeda itu tampak seperti seseorang yang baru saja menandatangani surat kematiannya sendiri.
Hidangan penutup terasa seperti pasir di mulut Rania. Ibu Ratna mengajaknya bicara basa-basi soal kuliah, soal dosen, soal cuaca β dan Rania menjawab dengan autopilot, heran pada dirinya sendiri betapa mudahnya berbohong sekarang. Di seberang meja, Reza nyaris tidak menyentuh makanannya. Sekali, tatapan mereka bertemu, dan Rania sadar lelaki itu juga sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Dua orang asing, terikat rencana yang sama, sama-sama tenggelam.
Saat pamit di teras vila, Pak Hendra menepuk bahu Ayah dengan keakraban seorang pemilik pada barang barunya. "Bambang, kita keluarga sekarang." Ayah mengangguk seperti boneka yang talinya ditarik.
Di mobil pulang, tidak ada yang bicara. Ibu menatap jendela dengan mata kosong. Ayah menyetir dengan kedua tangan mencengkeram setir terlalu erat, buku-buku jarinya memutih. Rania duduk di belakang, ponselnya terasa seperti bara api di dalam tas. Tiga pesan dari Bu Sari. Satu pesan dari nomor tak dikenal. Satu mobil hitam yang berkedip dua kali lalu hilang ditelan malam.
Di rumah, Ayah langsung masuk ke ruang kerja tanpa sepatah kata. Ibu duduk di ruang tamu, mengambil rajutannya β atau pura-pura merajut; tangannya diam di pangkuan, benang wol tidak bergerak satu sentimeter pun.
Rania mengunci pintu kamarnya dan menatap tangkapan layar itu lama. Pikirannya berpacu menyusun pilihan, satu per satu gugur: lapor polisi? Tidak ada tindak kejahatan yang bisa dibuktikan β cuma pesan teks dan mobil yang sudah pergi. Cerita ke Ayah dan Ibu? Mereka sudah tenggelam; menambah beban mereka sama saja mendorong kepala mereka lebih dalam ke air. Reza?
Ia ingat janjinya pada diri sendiri di bilik toilet: tidak akan mempercayai siapa pun. Tapi ia juga ingat tangan Reza yang bergetar halus di atas meja makan. Orang yang mengancam tidak gemetar. Orang yang takut β ya.
Tengah malam, saat rumah sudah sunyi, ia mengetik pesan: "Besok jam sepuluh. Warung Bu Lastri. Sendiri."
Balasan datang satu menit kemudian. Singkat: "Oke."
Rania tidak tidur malam itu. Ia berbaring menatap langit-langit, mendengarkan suara rumah β derit kayu, dengung kulkas, dan sekali, sekitar jam tiga pagi, suara langkah Ayah di koridor, berhenti lama di depan pintu kamarnya, lalu menjauh. Ia memejamkan mata dan berpura-pura tidak mendengar ayahnya menangis pelan di ruang kerja.
Pagi harinya ia tiba di warung soto Bu Lastri lebih dulu, duduk di sudut yang sama seperti kemarin. Bu Lastri menyambutnya dengan mata berbinar. "Loh, Nduk, kok sendirian? Mas Reza-nya mana?"
"Sebentar lagi datang, Bu," jawab Rania, dan heran betapa natural kalimat itu terdengar β seolah mereka memang pasangan yang janjian makan soto, bukan dua orang yang terikat kontrak kepura-puraan.
Reza datang tepat jam sepuluh, kemeja polos, wajah kurang tidur. Ia duduk tanpa basa-basi. "Kamu kelihatan seperti habis begadang seminggu."
"Aku memang begadang seminggu dalam semalam." Rania menggeser ponselnya ke seberang meja. "Baca."
Reza membaca. Rahangnya mengeras, dan ada sesuatu yang menyala di matanya β bukan rasa bersalah. Marah.
"Bukan aku," katanya cepat.
"Aku tahu," kata Rania pelan, mengejutkan dirinya sendiri. "Kalau kamu yang kirim, kamu nggak akan kelihatan semarah ini."
Reza mengembuskan napas panjang, menyandarkan punggung ke kursi plastik. "Ayahku punya kebiasaan," katanya akhirnya, suaranya rendah. "Kalau ada 'masalah' β" ia membuat tanda kutip dengan jari di udara, "dia menyelesaikannya. Orang-orangnya rapi. Mobil hitam, kaca gelap, pesan yang tidak meninggalkan jejak. Itu gaya mereka."
"Kamu pernah lihat mereka bekerja?"
Reza diam lama. Di wajan, Bu Lastri mengaduk kuah soto yang mendidih. "Waktu aku tujuh belas tahun, ada wartawan yang mau menulis soal ibuku. Soal kenapa dia tidak pernah muncul di acara perusahaan." Ia menatap meja. "Tiga hari kemudian wartawan itu mencabut tulisannya dan pindah kota. Aku tidak pernah tahu caranya. Aku juga tidak mau tahu."
Rania merinding sampai ke ujung jari. "Jadi Bimoβ"
"Aku tidak tahu." Reza menatapnya lurus. "Tapi aku akan cari tahu. Rania β aku memang tidak mencintaimu, kita sepakat soal itu sejak awal. Tapi aku tidak akan membiarkan ayahku menyakiti orang yang kamu sayangi cuma untuk memenangkan permainannya."
Bu Lastri datang membawa dua mangkuk soto campur tanpa diminta. "Makan dulu, baru perang," katanya bijak, lalu kembali ke wajannya.
Di antara suapan, Rania bertanya hal yang mengganjalnya sejak kemarin. "Waktu itu kamu menyebut satu nama. Nadia. Siapa dia?"
Sendok Reza berhenti di udara. "Jadi kamu ingat."
"Aku menulisnya sampai kertas catatanku robek. Siapa dia, Reza?"
"Asisten pribadi ayahku." Reza meletakkan sendoknya. "Semua 'pekerjaan yang tidak tercatat' β" tanda kutip jari itu lagi, "lewat dia. Jadwal, pembayaran, orang-orang yang harus 'dihubungi'. Kalau mobil hitam itu memang orang ayahku, Nadia yang mengaturnya."
Rania mencatat nama itu di kepalanya seperti menancapkan paku ke dinding. Nadia.
"Kenapa kamu membantuku?" tanya Rania akhirnya. "Kamu bisa diam saja. Pernikahan ini tetap jalan, ayahmu senang, kamu aman."
Reza tersenyum tipis β senyum yang tidak mencapai matanya. "Karena aku kenal rasanya jadi pion." Ia berhenti, mengaduk sotonya yang mulai dingin. "Ibuku selalu bilang: orang tidak diukur dari rekeningnya. Kalau aku diam saja saat ayahku menghancurkan hidup orang lain, aku sama saja mengiyakan semua yang dia lakukan pada ibuku dulu."
Untuk pertama kalinya, Rania melihat Reza bukan sebagai pewaris, bukan sebagai sekutu terpaksa β tapi sebagai seseorang yang juga sedang berduka, dengan caranya sendiri yang pendiam.
Mereka menyusun langkah dengan cepat dan pelan, seperti dua orang merakit bom waktu: Rania mencari lewat jalurnya β kafe, kos Bimo, teman-temannya. Reza lewat jalurnya β mencari tahu soal mobil itu dan soal Nadia, tanpa melibatkan Pak Hendra. Tidak ada yang boleh tahu mereka bekerja sama.
"Dan satu hal," kata Reza saat mereka berdiri hendak pergi. "Jangan ke mana-mana sendirian malam-malam. Kalau sesuatu terjadi padamu, rencanaku ikut hancur."
"Rencanamu?"
"Rencana KITA," koreksinya, dan ada senyum kecil yang hampir hangat di sana β senyum yang membuat Rania buru-buru memalingkan wajah.
Di ojek pulang, Rania menggenggam gantungan kunci kayu berinisial R & B di sakunya. Kayunya hangat. Untuk pertama kalinya sejak semalam, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian di dalam perang ini.
Perasaan itu bertahan tepat sampai ia tiba di depan pagar rumahnya.
Terselip di antara jeruji pagar, sebuah amplop cokelat tanpa nama. Jantung Rania berhenti berdetak sesaat. Ia melihat ke kiri dan kanan jalan β sepi, hanya anak-anak yang bermain layangan di ujung gang. Dengan tangan gemetar ia mengambil amplop itu dan membukanya di teras.
Di dalamnya: sebuah foto. Bimo β duduk di sebuah warung pinggir jalan yang tidak dikenalnya, wajahnya tegang, menatap lurus ke kamera seperti seseorang yang dipaksa berpose. Di balik foto, tulisan tangan yang rapi dan dingin: "Berhenti mencari, atau dia tidak pulang."
Darah surut dari wajah Rania. Ia membalik foto itu berkali-kali, seolah sisi sebaliknya bisa berubah menjadi sesuatu yang tidak menakutkan.
Ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal β nomor yang sama seperti semalam. Dengan tangan gemetar ia mengangkat. Hening. Lalu bunyi tut β ditutup.
Mereka mengawasinya. Mereka tahu ia pergi ke warung soto. Mereka tahu ia bertemu Reza.
Rania berdiri di teras dengan foto Bimo di tangannya, dan untuk pertama kalinya ia mengerti aturan mainnya dengan jelas: ini bukan sekadar ancaman. Ini peringatan. Dan peringatan kedua tidak akan datang dalam bentuk foto.