β€Ή
46. Tamu yang Tidak Diundang

Tamu yang Tidak Diundang

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,547 kata

Ilustrasi Tamu yang Tidak Diundang

Mobil Bimo berhenti di depan rumah dengan bunyi rem yang terlalu keras untuk malam yang seharusnya tenang. Di halaman, di bawah cahaya lampu teras yang kekuningan, sebuah mobil sedan hitam mengkilap terparkir miring β€” plat nomornya tidak kukenal, tapi aku tidak perlu mengenalnya.

Aku tahu siapa yang ada di dalam rumahku.

"Rania." Bimo menahan lenganku sebelum aku keluar. "Aku ikut masuk."

"Tidak." Aku menggeleng. "Kalau dia melihatmu, dia akan tahu kita bergerak bersama. Biarkan aku hadapi sendiri. Kau tunggu di sini β€” mesin tetap hidup."

Bimo menatapku lama. Lalu mengangguk, meski rahangnya mengeras. "Lima menit. Kalau kau tidak keluar, aku masuk."

Aku mengangguk, meraih tasku β€” tempat buku catatan batik kakek tersimpan β€” dan berjalan menuju pintu rumahku dengan kaki yang terasa seperti terbuat dari timah.

Ruang tamu terang benderang. Ibu duduk di sofa, pucat seperti kain kafan, tangannya meremas-remas ujung kerudungnya. Dan di kursi rotan kakek β€” kursi yang tidak pernah diduduki siapa pun sejak kakek meninggal β€” duduk Pak Darmawan.

Tersenyum.

"Rania!" katanya hangat, seolah kami keluarga yang sudah lama tidak bertemu. "Akhirnya. Ibumu bilang kau pergi dengan teman-temanmu. Anak muda memang harus punya kehidupan sosial, ya."

Aku berdiri di ambang pintu, tasku terasa seperti bom waktu di bahuku. "Pak Darmawan. Ada perlu apa malam-malam begini?"

"Duduk, Nduk, duduk." Ia menepuk sofa di sebelah Ibu. "Aku cuma mampir. Silaturahmi. Kasihan ibumu sendirian sejak... sejak Hendra..." Ia menghela napas dengan teatrikal. "Kasihan Hendra. Aku sudah bilang padanya dulu, jangan terlalu berani. Tapi dia tidak pernah dengar."

Tanganku mengepal di sisi tubuhku. Berani. Dia menyebut ayahku berani β€” ayahku yang sekarang entah di mana setelah ditangkap di depan ratusan tamu.

"Ada yang bisa saya bantu, Pak?" kataku, tetap berdiri.

Darmawan tersenyum lebih lebar. "Langsung saja, ya? Baiklah. Aku dengar kau ke rumah lama kakekmu tadi malam."

Jantungku berhenti.

Ibu menunduk semakin dalam.

"Hati-hati, Nduk," lanjut Darmawan, suaranya lembut seperti beludru yang menyembunyikan silet. "Rumah tua itu... lantainya rapuh. Bisa ambruk kalau diinjak sembarangan." Ia menyeruput tehnya dengan santai. "Dan kau tahu? Rumah kosong itu... banyak yang memperhatikan. Tetangga. Orang lewat. Orang-orangku."

Orang-orangku. Dia bahkan tidak repot-repot menyembunyikannya.

"Cuma kangen kakek, Pak," kataku, dan aku bangga suaraku stabil. "Rumah itu kosong. Cuma debu dan sarang laba-laba."

"Oh, tentu. Tentu." Darmawan mengangguk-angguk. Lalu matanya β€” mata yang tiba-tiba kehilangan semua kehangatan β€” menatapku lurus-lurus. "Tapi kalau... kalau kau menemukan kertas-kertas tua kakekmu di sana. Surat-surat. Dokumen-dokumen." Ia meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang terlalu keras. "Kertas tua itu mudah terbakar, Nduk. Mudah hilang. Mudah... disalahgunakan untuk fitnah."

Ancaman itu menggantung di udara seperti asap.

"Serahkan saja padaku," katanya, kembali tersenyum. "Aku yang menyimpan. Aku yang membereskan. Masalah tanah Cikarang itu sudah berlarut-larut β€” kasihan ibumu, kasihan Hendra. Aku datang sebagai..." Ia menyebar tangannya. "Sebagai penyelamat keluarga ini."

Penyelamat. Kata itu β€” kata yang persis ditulis kakek dua belas tahun lalu: *dia akan datang sebagai penyelamat dan membelinya dengan harga murah.*

Aku menatap lelaki di kursi kakekku ini, dan untuk pertama kalinya aku melihatnya dengan jelas: bukan rekan bisnis ayah yang ramah. Bukan tamu silaturahmi. Tapi predator yang sudah menunggu dua belas tahun β€” menunggu kakek mati, menunggu aku dewasa, menunggu ibuku lelah.

Persis seperti yang ditulis kakek.

"Terima kasih tawarannya, Pak," kataku pelan. "Tapi saya tidak menemukan apa-apa. Rumah itu memang kosong."

Darmawan menatapku lama. Senyumnya tidak goyah β€” tapi matanya berubah. Dingin. Menghitung.

"Baiklah," katanya akhirnya, berdiri. Ia merapikan jasnya. "Kalau begitu aku pamit. Jaga ibumu baik-baik, Nduk." Ia berhenti di pintu, menoleh. "Oh, satu lagi. Reza titip salam. Anak itu... khawatir padamu. Kau seharusnya menjawab teleponnya. Laki-laki yang khawatir itu laki-laki yang sayang."

Lalu ia pergi, meninggalkan aroma parfum mahalnya yang menusuk di ruang tamu kami.

Ibu langsung menangis begitu pintu tertutup. Bukan isakan β€” tapi tangisan diam, bahu bergetar, air mata jatuh tanpa suara. Tangisan orang yang sudah terlalu lelah untuk bersuara.

"Bu..." Aku duduk di sebelahnya, memeluknya.

"Jangan lawan dia, Nduk," bisik Ibu di antara air matanya. "Kumohon. Jangan."

"Bu, diaβ€”"

"Dia yang membayar pengacara ayahmu." Ibu mengangkat wajahnya yang basah. "Dia yang membayar utang-utang kita sejak ayahmu ditangkap. Listrik. Air. Uang sekolah... semua." Tangannya mencengkeram lenganku. "Ibu berutang budi padanya, Nduk. Kita berutang nyawa padanya. Jangan lawan dia. Kita tidak akan menang."

Aku memeluk ibuku erat-erat, dan di dalam pelukan itu, aku merasakan sesuatu yang dingin merayap di dadaku: inilah caranya. Inilah cara Darmawan bekerja. Bukan dengan ancaman terang-terangan β€” tapi dengan utang budi. Dengan kebaikan yang dihitung seperti investasi. Ibu bukan pion yang dibeli dengan uang seperti Nadia. Ibu dibeli dengan rasa bersalah.

Malam itu, setelah Ibu tertidur β€” atau pura-pura tertidur β€” aku duduk di kamarku dengan buku catatan batik kakek terbuka di pangkuanku.

Halaman demi halaman. Tulisan tangan kakek yang tegas dan miring. Nama. Tanggal. Jumlah.

*Lurah S. β€” 15 juta β€” tanda tangan AJB 1991.* *Camat W. β€” 40 juta β€” percepat sengketa.* *Notaris H. β€” 75 juta β€” arsip.*

Daftar itu panjang. Menjijikkan. Sistematis.

Lalu, di halaman tengah, tanganku berhenti.

*N. β€” 2 juta/bulan β€” mulai Juli.*

Juli. Bulan Gatot mati.

Di bawahnya, bulan demi bulan, tahun demi tahun β€” sampai bulan ini. Dua belas tahun. Dua juta per bulan, dua belas tahun, tanpa pernah putus.

N. Nadia.

Darmawan membayar Nadia sejak bulan suaminya mati. Dua belas tahun uang tutup mulut. Atau... uang duka yang dibeli.

"Jadi itu harga dukamu, Nadia," bisikku.

Aku menutup buku itu dengan tangan gemetar. Joko benar: jawabannya ada di rumah Nadia. Surat-surat Gatot. Kebenaran tentang telepon malam itu.

Ponselku bergetar. Pesan dari Reza:

*Kau di rumah? Aku di depan gang. Aku perlu bicara. Lima menit saja.*

Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku bangkit, menyelinap keluar tanpa membangunkan Ibu.

Reza berdiri di bawah lampu jalan di ujung gang, bersandar di motornya. Ia terlihat... lelah. Bukan Reza yang rapi dan wangi seperti biasanya β€” kausnya kusut, rambutnya berantakan.

"Kau gila? Tengah malam begini?" kataku.

"Aku tidak bisa tidur." Ia menatapku. "Darmawan ke rumahmu, kan? Tadi."

Aku tidak menjawab. Itu jawaban yang cukup.

Reza menghela napas. "Rania. Aku harus jujur padamu." Ia menatap sepatunya. "Perjodohan kita... itu bukan ide ayahku. Itu ide Darmawan."

Darahku dingin. "Apa?"

"Ayahku berutang padanya. Banyak." Reza tertawa pahit. "Darmawan bilang, kalau aku menikahimu, utang itu dianggap lunas. Tanah Cikarang itu... dia mau tanah itu, Rania. Dan dia pikir kalau aku jadi menantunyaβ€”" Ia berhenti, mengoreksi dirinya sendiri. "Kalau aku menikahimu, keluargamu akan lebih mudah... diatur."

Aku menatapnya. Lelaki yang seharusnya menjadi suamiku. Lelaki yang tangannya menggenggam tanganku di depan penghulu seperti dua tawanan.

"Kau juga wayang," kataku pelan.

"Kita semua wayang," kata Reza. "Bedanya, aku baru sadar sekarang." Ia menatapku lurus-lurus. "Jangan simpan apa pun di rumahmu, Rania. Dia punya cara untuk masuk ke mana saja. Dan..." Ia ragu. "Jangan percaya telepon dari nomor tidak dikenal."

"Rezaβ€”"

Lampu depan mobil menyala di belakangku. Bimo.

Bimo turun dari mobilnya, wajahnya keras. Ia menatap Reza, lalu menatapku.

"Kau menemuinya diam-diam?" Suara Bimo datar. Terlalu datar.

"Bimo, bukan seperti ituβ€”"

"Lima menit, katamu." Bimo tidak menatapku. Matanya terkunci pada Reza. "Lima menit sudah lewat satu jam yang lalu."

"Bimoβ€”"

"Aku menunggu di mobil seperti orang bodoh," kata Bimo, dan sekarang aku mendengar retakan di suaranya. "Sementara kau di sini... dengannya."

Reza mengangkat tangannya. "Bimo, aku cumaβ€”"

"Kau cuma apa?" Bimo melangkah maju. "Kau cuma menelepon pacarku tengah malam? Kau cuma menemuinya diam-diam?"

"Cukup!" Aku berdiri di antara mereka. "Berhenti! Kalian berdua!"

Mereka terdiam. Di bawah lampu jalan yang kekuningan, dua lelaki itu menatapku β€” satu dengan marah, satu dengan sedih. Dan aku... aku terlalu lelah untuk memilih.

"Aku tidak punya waktu untuk cemburu, Bimo," kataku, suaraku bergetar. "Aku butuh kau percaya padaku. Itu saja. Percaya."

Bimo menatapku lama. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia berbalik, masuk ke mobilnya, dan pergi β€” meninggalkan aku dan Reza berdiri di ujung gang yang sepi.

Reza menatapku. "Aku... aku pergi juga."

"Reza." Aku menahannya. "Terima kasih. Untuk peringatannya."

Ia mengangguk kecil, menyalakan motornya, dan menghilang ke dalam malam.

Aku berjalan pulang sendirian, dengan buku catatan kakek di tasku dan hati yang terasa seperti kaca retak.

Di kamarku, aku mengeluarkan bungkusan kain minyak dari lemari β€” AJB asli, putusan 1998, fotokopi palsu, kaset, buku catatan. Semuanya ada. Semuanya nyata.

Aku baru saja akan menyembunyikannya kembali saat ponselku bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Pesannya pendek:

*Kami tahu kau punya kaset dan buku catatannya. Serahkan besok jam 10 pagi di Kafe Sore. Sendiri. Atau pacarmu yang bayar.*

Tanganku dingin. Kafe Sore β€” tempat Bimo kerja. Mereka tahu. Mereka tahu segalanya.

Aku membuka pesan terakhir dari Bimo, dikirim satu jam lalu:

*Jaga dirimu. Aku sayang kamu.*

Aku menatap kedua pesan itu bergantian β€” ancaman dan cinta, bersebelahan di layar kecilku.

Lalu aku menghapus air mataku, mengunci pintu kamarku, dan mulai berpikir.

Berani yang cerdik, kata kakek.

Baik. Mari kita lihat siapa yang lebih cerdik.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!