Konferensi Pers
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,218 kata
Senin, pukul enam pagi. Rania bangun sebelum alarm β dengan foto Bimo di bawah bantal dan gaun krem keemasan tergantung di lemari seperti baju zirah.
Ia mandi lama, membiarkan air panas menghantam bahunya sampai kulitnya memerah. Lalu ia berpakaian perlahan, setiap gerakan disengaja: gaun krem keemasan, kerudung yang rapi, riasan tipis tapi tegas. Di cermin, pantulan dirinya menatap balik β dan kali ini, matanya ikut tersenyum. Bukan senyum pengantin. Senyum pemain yang sudah menghafal seluruh papan.
HP butut bergetar di atas meja rias. Pesan dari Reza:
Paket diterima Bang Yudi tadi malam. Lengkap. Dia bilang: jam 2 siang.
Rania membalas: Paman Darman?
Orangnya sudah di sekitar Gudang 7 sejak subuh. Belum ada gerakan.
Rania mengembuskan napas. Paket bukti β foto klausul kontrak dengan paraf Nadia, foto lebam Reza, cincin Bimo, foto-foto Vila Cemara, dan kesaksian tertulis Reza β kini ada di tangan Bang Yudi, wartawan investigasi yang utangnya pada Paman Darman lebih besar daripada takutnya pada Hendra. Instruksinya jelas: Senin jam dua siang, kalau Rania tidak memberi kabar bahwa semuanya aman, paket itu naik ke redaksi. Penculikan. Pemaksaan. Klausul kontrak. Semuanya.
Satu hal lagi yang ia lakukan sebelum turun: ia mengeluarkan halaman kontrak yang dilipat itu dari tempat persembunyiannya, memotretnya sekali lagi dari semua sisi β lalu menyelipkannya ke dalam tas kecilnya. Asuransi ganda.
Di bawah, Ibu sudah menunggu dengan wajah tegang. Ayah duduk di ruang makan, menatap kosong ke cangkir kopinya β sejak Jumat malam, ia seperti itu: lelaki yang menandatangani kehancurannya sendiri dan tidak tahu cara membatalkannya.
"Ayah," kata Rania, mencium keningnya. "Hari ini, Ayah tidak perlu khawatir tentang apa-apa. Percaya sama Rania."
Ayahnya menatapnya β dan mengangguk, seperti anak kecil yang diberi janji.
Di mobil menuju hotel, Ibu menggenggam tangan Rania erat-erat. "Kamu cantik sekali, Nduk," bisiknya, matanya berkaca. "Ibu doakan semuanya lancar."
Rania menatap keluar jendela β kota yang baru bangun, pedagang membuka lapak, anak-anak berangkat sekolah. Dunia yang berjalan normal, tidak tahu bahwa di dalam mobil ini seorang perempuan berusia dua puluhan sedang berangkat perang dengan gaun pengantin sebagai baju zirahnya.
"Bu," kata Rania pelan, "apa pun yang terjadi hari ini β Ibu jangan panik. Percaya sama Rania."
Ibu menatapnya, bingung β tapi mengangguk.
β’ β’ β’
Ballroom hotel itu berkilau. Lampu kristal, karpet merah, dan lautan kamera β puluhan wartawan, fotografer, mikrofon berderet di podium seperti moncong senjata. Spanduk besar di belakang panggung. Rania tidak sempat membacanya baik-baik, tapi ia tahu isinya: pengumuman pertunangan.
Di barisan kursi undangan, ia melihat Reza β rapi berjas, lebam di pipinya disamarkan riasan, duduk di samping Paman Darman yang wajahnya keras seperti batu. Mata mereka bertemu sekilas. Reza mengangguk hampir tak terlihat: semuanya siap. Rania membalas dengan kedipan pelan: aku juga siap.
Pak Hendra naik ke podium dengan senyum paling manisnya. Jas abu-abu gelap yang sempurna. Ia bicara tentang keluarga, tentang nilai-nilai, tentang masa depan β kata-kata indah yang keluar dari mulut yang memenjarakan orang. Lalu ia mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan bertepuk tangan:
"Dan hari ini, dengan bangga, saya mengumumkan pertunangan Reza, putra saya, dengan Rania β serta tanggal pernikahan mereka: satu bulan dari hari ini."
Satu bulan. Tiga puluh hari.
Rania merasakan darahnya membeku β lalu mendidih. Tiga puluh hari. Persis batas klausul kontrak ayahnya. Hendra tidak memilih tanggal itu secara acak. Ia mengumumkannya di depan kamera sebagai pengunci: kalau Rania melawan setelah hari ini, ayahnya hancur dalam tiga puluh hari β dan semua orang sudah menyaksikan "kebahagiaan" ini.
Di sisi panggung, Nadia berdiri dengan tangan terlipat. Matanya tidak lepas dari Rania. Mengawasi. Menunggu kepatuhan.
"Dan sekarang," kata Hendra, "calon pengantin kita ingin menyampaikan sepatah dua patah kata."
Tepuk tangan. Lampu sorot. Rania berjalan ke podium dengan langkah mantap β gaun krem keemasannya berkilau di bawah cahaya. Ia mengatur mikrofon, menatap lautan kamera, dan tersenyum.
Senyum yang sudah ia latih semalaman. Senyum seorang pemburu.
"Terima kasih," katanya, suaranya jernih memenuhi ruangan. "Saya ingin berterima kasih, pertama-tama, kepada Om Hendra β yang dengan sangat murah hati memberikan pinjaman untuk menyelamatkan perusahaan ayah saya di masa sulit."
Ruagan itu hening sejenak. Beberapa wartawan saling pandang. Pinjaman? Itu tidak ada di rundown.
Senyum Hendra membeku β hanya sedetik, tapi Rania melihatnya. Di sisi panggung, Nadia menegakkan tubuh.
Rania melanjutkan, suaranya tetap manis: "Kebaikan seperti itu jarang ada. Dan saya ingin seluruh Indonesia menjadi saksi hari ini β" ia menatap lurus ke kamera televisi yang lampunya menyala merah, "β bahwa pertunangan ini terjadi atas dasar cinta dan ketulusan. Bukan karena tekanan. Bukan karena utang. Bukan karena ancaman apa pun."
Keheningan. Lalu bisik-bisik. Lalu kilatan kamera yang membabi buta.
Seorang wartawan di barisan depan mengangkat tangan, tidak menunggu dipersilakan: "Mbak Rania! Bisa dijelaskan maksud pinjaman itu? Apakah pertunangan ini ada kaitannya dengan bantuan bisnis?"
Hendra melangkah maju, senyumnya kembali terpasang β tapi Rania lebih dulu meraih mikrofon.
"Tidak ada kaitannya," kata Rania tegas, menatap wartawan itu β lalu ke seluruh ruangan. "Justru itu yang ingin saya tegaskan. Om Hendra membantu karena kebaikan hati. Dan saya berdiri di sini karena saya mau. Dua hal yang terpisah, dan saya ingin dicatat seperti itu."
Tepuk tangan membahana. Para wartawan mencatat dengan ganas.
Rania baru saja melakukan hal yang paling berbahaya dalam hidupnya: ia menaruh pinjaman Hendra ke dalam catatan publik β dan memaksa seluruh negeri menjadi saksi bahwa pertunangan ini "sukarela". Mulai detik ini, kalau Hendra menekan ayahnya dengan klausul itu, kalau sesuatu terjadi pada Rania atau keluarganya β semua orang akan bertanya. Rantai itu kini terlihat. Dan anjing yang rantainya terlihat tidak bisa menggigit diam-diam.
Hendra naik ke panggung, merangkul bahu Rania untuk foto β cengkeramannya terlalu kuat untuk sekadar pose. Lewat gigi yang terkatup dalam senyum, ia berbisik: "Kamu pintar. Tapi kepintaran ada harganya, Nduk."
"Semua ada harganya, Om," bisik Rania kembali, tersenyum ke kamera. "Om yang ngajarin saya."
β’ β’ β’
Satu jam kemudian, konferensi pers selesai. Rania lolos dari kerumunan wartawan dengan alasan berganti pakaian. Di koridor belakang ballroom yang sepi, ia menghela napas panjang β babak pertama menang. Tinggal menunggu kabar dari Gudang 7, laluβ
"Nduk."
Rania berbalik. Nadia berdiri di ujung koridor, sendirian. Di tangannya sebuah ponsel.
"Kamu pintar," kata Nadia, berjalan mendekat. Senyumnya tidak hangat β tapi ada sesuatu yang baru di dalamnya. Pengakuan. "Pintar sekali. Pinjaman di depan kamera. Saksi seluruh Indonesia." Ia berhenti dua langkah dari Rania. "Sayang sekali... kamu cuma pintar di depan kamera."
Nadia mengangkat ponselnya, menunjukkan sebuah foto.
Rania menatapnya β dan dunianya runtuh.
Foto itu: Bimo β diseret dua lelaki bertubuh besar ke bagasi mobil sedan hitam. Wajahnya pucat, matanya setengah terbuka. Di latarnya, terlihat samar dinding gudang dengan angka tujuh yang besar. Cap waktu di sudut foto: 11.46 β dua puluh menit yang lalu. Di tengah konferensi pers.
"Gudang itu kosong sekarang, Nduk," kata Nadia pelan. "Paketnya jalan."
Jari Nadia menggeser layar. Foto kedua: sebuah gedung kantor dengan papan nama media β dan di depan lobinya, dua lelaki berjas gelap berdiri santai, merokok. Salah satunya menatap lurus ke kamera β ke arah si pemotret β dan tersenyum.
"Kamu pikir Paman Darman tidak kami awasi?" bisik Nadia. "Wartawanmu tidak akan sempat menekan tombol apa pun."
Tangan Rania gemetar hebat. Paketnya β jebakannya β hancur sebelum jam dua siang tiba. Hendra memindahkan Bimo tepat saat semua mata tertuju pada panggung. Dia tahu. Dia selalu tahu. Diaβ
Rania menatap foto itu sampai tangannya berhenti gemetar.
Lalu ia mengangkat wajah.
Dan Nadia mundur selangkah.
Karena di mata Rania tidak ada lagi ketakutan. Tidak ada air mata. Yang ada hanya perhitungan β dingin, jernih, dan asing bahkan bagi Rania sendiri.
"Permainan belum selesai," kata Rania pelan.
Nadia menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"
Rania tersenyum β dan untuk pertama kalinya, Nadia melihat senyum itu dan tidak bisa membacanya.
"Ini baru babak pertama."