‹
16. Kemenangan yang Rapuh

Kemenangan yang Rapuh

Jodoh yang Salah Alamat • 1,498 kata

Ilustrasi Kemenangan yang Rapuh

Polisi datang dua puluh menit setelah Hendra meneriakkan kata terakhirnya.

Bukan karena seseorang menelepon—Bang Yudi sudah mengatur semuanya sejak semalam. Laporan resmi sudah masuk ke kepolisian dengan lampiran bukti awal. Yang mereka tunggu hanyalah momen yang tepat: momen ketika Hendra tidak bisa lagi menyangkal di depan ratusan saksi dan puluhan kamera.

Momen itu tiba ketika Hendra, dengan wajah merah padam, mencoba merebut mikrofon dari tangan Reza.

"Bapak Hendra Wijaya?" kata seorang perwira polisi yang masuk melalui pintu utama, diapit empat anggota berseragam. Aula yang sudah kacau menjadi hening kembali—hening yang berbeda, hening yang berbau akhir. "Kami perlu Bapak ikut ke kantor untuk memberikan keterangan terkait dugaan pemaksaan perkawinan, pengancaman, dan penculikan."

Hendra tertawa. Tawa yang kering dan pahit. "Kalian tahu siapa saya? Saya bisa menelepon—"

"Silakan menelepon dari kantor kami, Pak," kata perwira itu tenang. "Pengacara Bapak bisa menyusul."

Dua anggota polisi mendekati Hendra. Untuk sesaat—sesaat yang sangat singkat—Rania melihat sesuatu melintas di wajah laki-laki itu. Bukan takut. Bukan marah. Melainkan... kekosongan. Seperti seseorang yang akhirnya menyadari bahwa kerajaannya dibangun di atas pasir, dan air pasang baru saja tiba.

Tapi sebelum borgol dipasang, Hendra menoleh ke arah panggung. Menatap Rania. Dan berkata, dengan suara yang jelas terdengar oleh semua orang:

"Kamu menang hari ini, Nak. Tapi ingat—kemenangan yang dibangun di atas kebohongan pacarmu itu nggak akan bertahan lama."

Lalu ia dibawa pergi, melewati lorong tengah yang dipenuhi tamu-tamu yang menyingkir seperti air yang terbelah. Blitz kamera mengikutinya sampai ke pintu. Besok pagi, wajahnya akan ada di halaman depan semua koran.

Rania berdiri di atas panggung, gaun krem keemasannya terasa seribu kilo beratnya. Di sebelah kirinya Reza, di sebelah kanannya Bimo. Tiga orang yang baru saja memenangkan perang, dan tidak satu pun dari mereka yang tersenyum.

Karena perang sudah selesai. Tapi pertanyaan Hendra masih menggantung di udara seperti asap yang tidak mau hilang.

Tanya dia tentang malam sebelum dia hilang itu.

Acara bubar dengan sendirinya. Tidak ada yang mengumumkan penutupan—para tamu pergi satu per satu, beberapa dengan wajah syok, beberapa dengan wajah bersemangat karena baru saja menyaksikan skandal terbesar tahun ini. Keluarga Reza menghilang entah ke mana; ibunya pingsan dan dibawa ke ruang medis. Ibu Rania memeluk putrinya erat-erat di ruang tunggu, menangis tanpa henti, meminta maaf tanpa henti.

"Sudah, Bu," kata Rania, mengelus punggung ibunya. "Sudah selesai. Ibu nggak salah. Kita berdua korbannya."

Pukul empat sore, aula itu kosong. Hanya tersisa dekorasi bunga yang mulai layu, pelaminan singgasana yang kini terlihat konyol, dan empat orang di ruang tunggu pengantin: Rania, Reza, Bimo, dan Paman Darman.

Rania sudah berganti pakaian—melepas gaun krem keemasan itu seperti melepas kulit yang gatal. Ia kini mengenakan kemeja putih sederhana dan celana panjang yang dibawa Paman Darman. Rambutnya yang tadi disanggul indah kini diikat seadanya. Ia merasa seperti dirinya sendiri untuk pertama kalinya hari ini.

"Jadi," kata Paman Darman, memecah keheningan, "kita menang."

"Kita menang," ulang Reza pelan. Ia duduk di sudut ruangan, menatap lantai. "Ayah saya ditangkap. Perusahaan kemungkinan besar akan disita atau bangkrut. Nama keluarga saya hancur." Ia tertawa kecil, tanpa humor. "Kemenangan yang mahal."

"Kamu nggak punya pilihan lain, Reza," kata Rania lembut.

"Aku tahu." Reza mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Aku cuma... aku cuma capek, Ran. Aku ngelawan ayahku sendiri hari ini. Di depan semua orang. Aku nggak tahu apakah aku berani atau pengecut."

"Kamu berani," kata Bimo tiba-tiba. Semua menoleh padanya. Ini pertama kalinya Bimo bicara sejak Hendra dibawa pergi. "Aku nggak akan bisa ngelakuin apa yang kamu lakuin hari ini."

Reza menatap Bimo lama, lalu mengangguk kecil. Ada rasa hormat yang aneh di antara dua laki-laki yang mencintai—atau pernah dijodohkan dengan—perempuan yang sama.

"Terus sekarang gimana?" tanya Paman Darman. "Pernikahan ini—secara hukum—"

"Bisa dibatalkan," kata Reza cepat. "Akad di bawah paksaan, ada bukti kontraknya. Pengacaraku—pengacara ibuku, bukan ayahku—sudah aku hubungi. Dia bilang proses pembatalannya kuat. Tinggal tunggu."

Rania mengangguk. Lega. Tapi kelegaan itu hanya bertahan sedetik, karena kemudian ia menoleh ke Bimo.

"Bim," katanya pelan. "Kita perlu ngobrol."

Bimo memejamkan mata. Ia tahu saat ini akan tiba.

"Berdua aja," kata Rania.

Paman Darman dan Reza saling pandang, lalu berdiri dan keluar tanpa protes. Pintu tertutup. Tinggal Rania dan Bimo di ruangan yang berbau bunga layu dan kemenangan yang pahit.

"Malam sebelum kamu dibawa mobil hitam itu," kata Rania langsung. Ia tidak punya tenaga lagi untuk berputar-putar. "Hendra bilang aku harus nanya ke kamu. Tentang malam itu. Kenapa kamu gampang banget dibawa sama orang-orangnya."

Bimo diam. Lama. Tangannya meremas amplop cokelat yang kini kosong—bukti perintah tertulis itu sudah diserahkan ke polisi sebagai barang bukti.

"Aku ketemu Nadia," katanya akhirnya.

Rania mengerutkan kening. "Nadia? Asistennya Hendra?"

"Iya." Bimo menatapnya, dan mata itu—mata yang selalu membuatnya tenang—kini penuh rasa bersalah. "Malam itu, sebelum aku dibawa, Nadia nemuin aku di parkiran. Dia bilang dia mau bantu. Dia bilang dia punya salinan klausul kontrak yang berparaf dia, dan dia mau ngasih ke aku—gratis, katanya, karena dia juga udah muak sama Hendra."

"Terus?"

"Aku ikut dia. Ke sebuah kafe. Dia ngasih aku fotokopian klausulnya—yang asli, Ran, bukan fotokopian biasa, tapi yang ada paraf basahnya. Aku... aku lengah. Aku percaya. Dan pas aku lagi baca dokumennya, orang-orang Hendra datang. Nadia..." Bimo menelan ludah. "Nadia cuma berdiri dan pergi. Dia nggak ngelawan. Dia nggak kaget. Seolah-olah semuanya sudah direncanakan."

Rania merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya. "Jadi Nadia jebak kamu."

"Atau Nadia disuruh jebak aku, terus dia... aku nggak tahu, Ran." Bimo mengusap wajahnya. "Yang aku tahu, fotokopian klausul itu—yang berparaf basah—sekarang ada di tangan Hendra lagi. Atau di tangan Nadia. Dan itu satu-satunya salinan berparaf basah yang kita tahu keberadaannya."

"Tapi kita masih punya foto-fotonya," kata Rania cepat. "Aku motret ulang semua halaman kontrak. Bang Yudi punya fotokopi klausulnya—"

"Fotokopi biasa, Ran. Bukan paraf basah." Bimo menatapnya. "Di pengadilan, Hendra bisa bilang semuanya palsu. Foto bisa diedit, katanya nanti. Kesaksian Reza bisa dibilang dendam anak ke ayah. Yang paling kuat itu paraf basah Nadia di atas kertas asli. Dan kertas itu..."

"Hilang," bisik Rania.

Mereka saling menatap dalam diam. Kemenangan hari ini tiba-tiba terasa rapuh—seperti istana pasir yang baru saja mereka bangun, dengan air pasang yang masih menunggu di kejauhan.

"Tapi," kata Bimo, meraih tangan Rania, "dengerin aku. Aku nggak dibawa gitu aja. Waktu di gudang itu, aku denger mereka ngomong. Hendra nelpon seseorang—aku nggak denger namanya—dan dia bilang, 'kalau paket Yudi naik, kita pakai rencana B.' Rencana B, Ran. Dia masih punya sesuatu."

Rania meremas tangan Bimo. "Kita hadapin bareng. Kayak hari ini."

"Kayak hari ini," ulang Bimo, dan untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum. Senyum yang sebenarnya.

Mereka berpelukan. Lama. Erat. Rania bisa mencium bau keringat dan debu di kemeja Bimo—bau perjuangan, bau orang yang tidak menyerah. Air matanya akhirnya jatuh, membasahi bahu Bimo. Bukan air mata sedih. Air mata orang yang sudah terlalu lama menahan napas dan akhirnya bisa bernapas lagi.

"Aku kangen kamu," bisik Bimo.

"Aku juga," bisik Rania. "Setiap hari."

Pintu diketuk pelan. Paman Darman mengintip. "Maaf ganggu momen... tapi ada yang perlu kalian tahu. Barusan Yudi nelpon."

"Apa?"

"Nadia." Paman Darman masuk sepenuhnya, wajahnya serius. "Dia nggak ada di kantor Hendra waktu polisi geledah tadi sore. Nggak ada di apartemennya juga. Hilang. Bawa koper, kata tetangganya. Dan..." Ia ragu sejenak. "Yudi bilang, sebelum hilang, Nadia sempat narik tunai dalam jumlah besar dari rekening pribadinya. Kayak orang yang mau pergi jauh dan nggak berencana balik."

Rania dan Bimo saling pandang.

"Dia bawa salinan berparaf basah itu," kata Rania pelan.

"Kemungkinan besar," kata Paman Darman. "Pertanyaannya: dia bawa buat apa? Buat diperas ke Hendra? Buat dijual ke kompetitor? Atau..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.

Atau untuk mereka. Atau melawan mereka. Nadia adalah satu-satunya bidak di papan ini yang tidak bisa dibaca oleh siapa pun.

Malam itu, Rania pulang ke rumah ibunya—bukan ke hotel, bukan ke mana pun yang berhubungan dengan Hendra. Ia mandi air hangat sampai kulitnya memerah, lalu duduk di teras dengan secangkir teh, menatap langit Jakarta yang tidak pernah benar-benar gelap.

Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tak dikenal.

"Klausul 7 ayat 4. Paraf basah. Aku yang pegang. Jangan percaya siapa pun—terutama orang yang paling kamu percaya. - N."

Rania membaca pesan itu tiga kali. Tangannya gemetar. Ia menunjukkan ke Bimo—yang menemaninya di teras—dan wajah Bimo memucat.

"Nadia," bisik Bimo.

"Jangan percaya siapa pun—terutama orang yang paling kamu percaya," ulang Rania pelan. "Maksudnya apa? Dia ngomongin kamu? Atau ngomongin... Reza? Atau Paman Darman?"

Tidak ada jawaban. Hanya langit Jakarta yang diam, dan teh yang mulai dingin di tangan Rania.

Hendra sudah jatuh. Pernikahan paksa itu akan dibatalkan. Rania bebas—hampir bebas. Tapi di kejauhan, di suatu tempat yang tidak bisa ia lihat, Nadia Rahma sedang memegang selembar kertas yang bisa mengubah segalanya. Dan sebuah pesan misterius baru saja mempertanyakan satu-satunya hal yang selama ini menjadi jangkar Rania: kepercayaannya pada orang-orang yang ia cintai.

Rania menatap Bimo. Bimo menatap Rania. Dan di antara mereka, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, ada sesuatu yang kecil, dingin, dan tajam—sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Keraguan.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!