Dua Mobil di Serambi
Jodoh yang Salah Alamat • 1,484 kata
Subuh itu belum benar-benar selesai ketika suara mesin kedua memecah keheningan serambi. Aku masih ingat betul bagaimana udara dingin menempel di kulitku, bagaimana aroma embun dari halaman masjid bercampur dengan bau kopi tubruk yang tadi sempat diseduh seseorang di dapur kecil dekat tempat wudu. Semua itu terasa begitu nyata, begitu dekat, sampai-sampai aku sempat berpikir bahwa pagi ini mungkin akan berjalan seperti pagi-pagi lain yang pernah kulewati: tenang, pelan, dan bisa ditebak.
Tapi kemudian aku mendengar derit rem itu. Bukan rem yang biasa. Rem yang diinjak tergesa-gesa, seperti orang yang datang bukan untuk salat, melainkan untuk menghentikan sesuatu sebelum sempat terjadi.
Lestari menegang di sampingku. Aku merasakannya sebelum aku melihatnya, karena jemarinya yang tadi menggenggam ujung kerudungnya tiba-tiba berhenti bergerak. Matanya membesar, menatap ke arah gerbang masjid, dan bibirnya yang sedari tadi bergetar pelan kini rapat terkunci. Ia tidak perlu berkata apa-apa. Tubuhnya sudah bercerita lebih dulu.
"Rania," bisik Kompol Ratna di sebelahku, suaranya rendah dan terukur, seperti orang yang sudah terlalu sering menghadapi pagi-pagi semacam ini. "Tetap di sini. Jangan maju."
Aku mengangguk, meski lututku terasa lemas. Brigadir Bayu sudah bergerak lebih dulu, setengah berlari ke arah gerbang dengan tangan siaga di pinggangnya, bukan menggenggam apa-apa, tapi cukup untuk membuat siapa pun yang datang berpikir dua kali sebelum melangkah lebih jauh.
Lalu aku melihatnya. Mobil kedua itu berhenti di belakang mobil Reza. Pintu depan terbuka, dan ayah Reza keluar dengan langkah yang tidak lagi setenang biasanya. Wajahnya yang selama ini kukenal sebagai wajah seorang bapak yang rapi, yang berbicara dengan nada tertata di ruang tamu rumahku, kini tampak lain. Ada sesuatu yang tegang di rahangnya, ada lelah yang tidak bisa disembunyikan oleh kemeja yang masih licin disetrika itu.
Dan di belakangnya, keluarlah Arman.
Aku baru beberapa kali melihat Arman, tapi cukup untuk tahu bahwa lelaki itu tidak pernah datang tanpa maksud. Ia berjalan pelan, terlalu pelan untuk orang yang terburu-buru, seolah-olah setiap langkahnya sudah dihitung. Matanya menyapu serambi, melewati Kompol Ratna, melewati Bayu, melewati Reza yang masih terengah di dekat tangga, lalu berhenti tepat pada Lestari.
Lestari mundur selangkah. Hanya selangkah, tapi cukup untuk membuatku sadar bahwa semua yang ia katakan beberapa menit lalu, semua keberanian yang susah payah ia kumpulkan, sedang runtuh di depan mataku.
"Lestari," kata Arman, dan suaranya datar, hampir ramah, justru karena itulah ia terdengar mengancam. "Kamu tidak seharusnya di sini pagi-pagi begini. Harun pasti mencarimu."
Itu kalimat yang sederhana. Tapi aku melihat apa yang dilakukannya pada Lestari: ia mengingatkan perempuan itu bahwa ada seseorang yang bisa hilang, seseorang yang bisa disakiti, seseorang yang nasibnya masih digenggam oleh orang lain. Dan aku melihat ketakutan itu menjalar, dari matanya ke tangannya, ke napasnya yang mendadak pendek-pendek.
"Lestari tidak boleh bicara." Suara Reza terdengar lagi, kali ini lebih keras, lebih putus asa. Ia berdiri di antara ayahnya dan Lestari, seolah tubuhnya sendiri bisa menjadi dinding. "Ayah, aku sudah bilang, aku yang minta dia datang. Jangan—"
"Reza, minggir." Ayah Reza tidak berteriak. Ia justru berbicara pelan, dan itu lebih buruk. "Ini bukan urusanmu lagi."
"Tapi ini urusanku!" Reza menoleh padaku sekilas, dan di matanya ada sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya: bukan lagi rasa bersalah seorang lelaki yang dijodohkan denganku, bukan lagi kebingungan, melainkan tekad. "Aku yang membawa mereka ke sini. Aku yang—"
"Cukup." Kompol Ratna melangkah maju, dan suaranya memotong udara seperti pisau yang bersih. "Bapak-bapak, ini area masjid, dan di sini ada proses yang sedang berjalan. Saya minta semua tenang. Brigadir Bayu, amankan jalur gerbang. Tidak ada yang keluar-masuk tanpa seizin saya sampai situasi jelas."
Aku melihat Arman tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Kompol, kami hanya datang untuk menjemput. Tidak ada yang perlu diributkan. Lestari ini keluarga jauh kami, dia sedang tidak enak badan, kami khawatir—"
"Kalau khawatir, kenapa tadi malam ada pesan yang dikirim atas nama Harun?" Aku tidak tahu dari mana suaraku itu datang. Rasanya seperti bukan suaraku sendiri, melainkan suara seseorang yang lebih berani yang sedang meminjam tenggorokanku. Semua kepala menoleh padaku, termasuk Arman. "Pesan yang bilang Harun ada di rumah di belakang kantor notaris lama, dan Lestari tidak boleh bicara kalau mau Harun sempat diceritakan. Itu pesan ancaman, Pak. Bukan pesan keluarga yang khawatir."
Keheningan yang jatuh setelah itu terasa panjang sekali. Aku bisa mendengar azan yang sudah lama selesai, tapi gema-nya seolah masih tertinggal di dinding masjid. Aku bisa mendengar napas Lestari di sampingku, cepat dan dangkal, dan aku sadar bahwa detik-detik berikutnya akan menentukan segalanya: apakah perempuan ini akan bicara, atau apakah ia akan kembali bungkam untuk selamanya.
Ayah Reza memandangku lama. Ada sesuatu di matanya yang membuat dadaku sesak, bukan marah, bukan ancaman, melainkan seperti orang yang sedang menimbang-nimbang seberapa jauh ia sudah melangkah dan apakah masih ada jalan untuk kembali. Ia membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Arman yang bicara. "Rania, kamu anak baik. Kamu tidak perlu ikut campur dalam hal yang tidak kamu pahami. Warkah itu, tanah itu, semua itu urusan orang-orang tua yang sudah—"
"Justru karena itu warkah kakek saya," potongku, dan kali ini suaraku tidak gemetar lagi. "Itu bukan urusan orang-orang tua. Itu warisan keluarga saya. Dan kalau ada yang mengambilnya dengan cara seperti ini, saya berhak tahu."
Lestari menoleh padaku. Matanya berkaca-kaca, dan aku melihat di sana pergulatan yang begitu manusiawi: antara takut dan ingin bebas. Ia sudah terlalu lama menyimpan sesuatu, aku bisa merasakannya, dan beban seperti itu tidak hilang hanya karena seseorang menyuruhnya diam. Beban seperti itu justru semakin berat setiap kali ia dipaksa bungkam.
Aku menggenggam tangannya. Tangannya dingin, sangat dingin, padahal udara subuh tidak sedingin itu. Aku tidak menggenggamnya kuat-kuat, hanya cukup agar ia tahu bahwa ia tidak sendirian di serambi ini, bahwa ada yang berdiri di sampingnya dan tidak akan pergi ke mana-mana.
"Lestari," kataku pelan, hanya untuknya, meski aku tahu semua orang bisa mendengar. "Aku tahu kamu takut pada apa yang akan terjadi pada Harun. Aku juga takut. Tapi kalau kamu diam sekarang, mereka akan selalu bisa memakai Harun untuk membuatmu diam selamanya. Satu-satunya cara Harun benar-benar aman adalah kalau kebenaran ini sudah terucap, dan sudah didengar oleh orang-orang yang bisa melindunginya. Kamu tidak perlu mengatakan semuanya. Katakan yang kamu bisa, sekarang, di sini, di depan polisi. Setelah itu, tidak ada lagi yang bisa mengancammu dengan hal yang sama."
Aku tidak tahu apakah kalimatku itu benar secara hukum, atau apakah Kompol Ratna akan mengoreksinya nanti. Tapi aku tahu kalimat itu benar secara manusiawi, karena aku melihat sesuatu berubah di wajah Lestari. Bahunya yang tadi naik perlahan turun. Napasnya yang pendek mulai menemukan ritmenya lagi. Dan ia mengangguk, sekali, pelan, seperti orang yang baru saja memutuskan untuk melompat.
"Baik," bisiknya. "Aku akan bicara. Tapi—tapi aku minta Harun dilindungi dulu. Aku minta polisi ikut ke sana bersamaku, sekarang, sebelum—"
"Sebelum apa?" tanya Kompol Ratna, lembut tapi tegas.
Lestari menelan ludah. Ia memandang Arman, lalu ayah Reza, lalu kembali padaku, seolah sedang mengumpulkan sisa keberaniannya satu per satu.
"Darmawan," katanya, dan suaranya mulai stabil, meski masih bergetar di ujung-ujungnya. "Darmawan bukan orang yang punya ide. Dia hanya menjalankan. Uang itu datang dari Arman. Daftar nama itu, nama-nama pemilik tanah yang harus didatangi satu per satu, itu dari Arman. Arman yang menyuruh Darmawan mengambil warkah kakek Rania, karena di dalam warkah itu ada—ada catatan tentang tanah-tanah yang—"
Ia berhenti. Bukan karena ia lupa, tapi karena Arman melangkah maju, dan Bayu langsung menahan langkah itu dengan tubuhnya.
"Lanjutkan, Bu Lestari," kata Kompol Ratna. "Tidak ada yang akan menyela."
Lestari mengangguk, air matanya jatuh, tapi suaranya tidak jatuh bersamanya. "Arman juga yang merampas ponsel Harun. Dia yang mengirim pesan-pesan itu, atas nama Harun, supaya aku nurut, supaya aku diam. Harun tidak pernah mengirim pesan itu. Harun—Harun bahkan tidak tahu ponselnya dipakai untuk apa."
Ayah Reza memejamkan mata. Aku melihat tangannya mengepal di sisi tubuhnya, lalu terbuka lagi, seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang besar dari dalam.
"Dan di atas Arman," Lestari melanjutkan, dan kali ini ia berbicara lebih cepat, seolah takut keberaniannya akan habis sebelum kalimat itu selesai. "Di atas Arman ada seseorang yang tanahnya paling banyak diselamatkan oleh warkah itu. Orang itu yang—yang—"
Sebuah suara dering memecah udara. Keras, mendadak, dari saku Arman. Semua orang menoleh. Arman mengangkat ponselnya, melihat layarnya, dan wajahnya berubah. Bukan marah, bukan panik, melainkan seperti orang yang baru saja menerima perintah yang tidak bisa ditolak.
Ia menekan tombol itu, dan dari seberang sana, entah siapa, entah apa yang dikatakan, hanya terdengar gumaman pendek yang tidak bisa kutangkap artinya.
Lestari membeku. Kalimatnya menggantung di udara, tidak selesai, dan aku tahu, dengan perasaan ngeri yang menjalari punggungku, bahwa nama yang hampir saja terucap itu baru saja ditarik kembali ke dalam gelap, tepat sebelum sempat menjadi milik kami.