Tamu di Ruang Depan
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,381 kata
Mobil Reza sudah berhenti di depan pagar ketika kami tiba, dan Paman Raka sudah turun, berdiri di halaman dengan punggung tegak seperti orang yang bersiap menghadapi sesuatu yang sudah lama ia duga. Aku dan Bimo tidak langsung ikut masuk lewat pintu depan. Sesuai rencana, kami memutar lewat gang kecil di samping rumah, menuju pintu dapur yang catnya sudah mulai mengelupas. Kuncinya masih tersimpan di tempat yang sama seperti dulu, di bawah pot tanaman dekat jendela dapur, dan tanganku sedikit gemetar saat memutarnya.
Dapur itu menyambut kami dengan bau masakan yang tertinggal sejak pagi dan suara jam dinding yang berdetak pelan. Dari sini, kami bisa mendengar ruang depan dengan jelas tanpa terlihat. Suara Ratna terdengar, berusaha ramah, menawarkan minum untuk kedua kalinya. Suara lain, suara perempuan yang lebih tua dan pelan, menjawab dengan sopan bahwa ia tidak usah repot-repot. Lalu suara Paman Raka, berat dan terkendali, mengucapkan salam.
Aku menahan napas dan mengintip lewat celah pintu dapur yang sedikit terbuka. Di ruang depan, seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan duduk di kursi yang biasa diduduki tamu. Ia memakai kebaya sederhana berwarna cokelat muda dan kain batik yang rapi. Rambutnya disanggul kecil. Di pangkuannya, ia memegang sebuah tas kain yang ia peluk erat, seolah isinya lebih berharga daripada tas itu sendiri. Wajahnya tidak asing sepenuhnya, tapi aku tidak bisa menempatkannya. Ia seperti seseorang yang pernah kulihat di pinggiran sebuah acara keluarga, bertahun-tahun lalu, yang namanya tidak pernah benar-benar kuingat.
Ratna berdiri di dekat pintu, gelisah, melirik ke arah dapur seolah ia tahu kami ada di sana. Aku mengangguk kecil padanya dari balik celah, dan bahunya sedikit turun, lega. Bimo berdiri di belakangku, begitu dekat hingga aku bisa merasakan napasnya yang diatur pelan-pelan, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak melompat masuk.
"Terima kasih sudah mau menunggu," kata Paman Raka, duduk di kursi berhadapan dengan tamu itu. "Ratna bilang, Anda membawa sesuatu yang hanya boleh dibuka di depan saya dan semua orang yang ada di ruangan pagi itu."
"Benar," jawab perempuan itu. Suaranya tenang, tapi jemarinya meremas tas kain itu sedikit lebih erat. "Saya diminta menyampaikan ini dengan cara seperti itu. Bukan karena saya ingin membuat drama. Karena orang yang menitipkan ini berpesan begitu. Ia bilang, kalau dibuka sembarangan, isinya bisa disalahpahami. Kalau dibuka di depan semua orang, tidak ada yang bisa memutarbalikkan ceritanya nanti."
"Siapa yang menitipkan ini kepada Anda?" tanya Paman Raka langsung.
Perempuan itu tersenyum tipis, senyum orang yang sudah menyiapkan jawaban itu. "Saya akan menjawab itu, tapi sesudah semua orang yang dimaksud berkumpul. Itu juga bagian dari pesan. Saya tidak mau satu orang mendengar duluan, lalu menceritakannya ke yang lain dengan versinya sendiri. Saya sudah melihat sendiri bagaimana cerita bisa berubah hanya karena diceritakan tidak lengkap."
Reza, yang duduk di ujung ruangan, melirik ke arah dapur. Ia tahu kami di sana. "Semua orang yang dimaksud itu siapa?" tanyanya. "Pagi dokumen itu dibuka, yang ada di ruangan ini adalah Rania, Ratna, saya, dan Paman Raka belum ada. Apakah maksudnya kami semua?"
"Termasuk Rania," kata perempuan itu, dan ia menoleh sedikit, seolah mencari-cari di ruangan itu. "Di mana Rania? Ia harus ada di sini. Bawaan ini atas namanya. Saya tidak akan membukanya tanpa dia."
Itu isyarat kami. Bimo menggenggam tanganku sebentar, menguatkan, lalu kami melangkah keluar dari dapur menuju ruang depan. Langkahku terasa berat, bukan karena takut pada perempuan itu, tapi karena semua mata di ruangan itu kini tertuju padaku, dan aku tahu bahwa mulai detik ini, apa pun yang terjadi tidak bisa diulang lagi.
Perempuan itu berdiri begitu melihatku. Ia menatapku lama, dari wajahku sampai ke tanganku, seolah sedang memastikan sesuatu. Lalu ia berkata, dengan suara yang tiba-tiba lebih lembut, "Kamu mirip sekali dengan ibumu waktu muda. Aku ingat beliau suka duduk di kursi itu, di dekat jendela, sambil memilah surat-surat."
Dadaku sesak. Kalimat itu tidak mungkin diucapkan orang asing yang sekadar lewat. Orang ini mengenal ibuku, atau setidaknya pernah cukup dekat untuk mengingat kebiasaannya. Tapi di mana? Kapan? Aku mencoba mengingat semua wajah dari masa kecilku, semua kerabat jauh yang datang saat lebaran atau saat ada acara, dan tidak ada yang cocok sepenuhnya.
"Maaf," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap sopan. "Saya belum ingat pernah bertemu dengan Ibu. Boleh saya tahu, Ibu siapa?"
Ia mengangguk, seolah sudah menduga pertanyaan itu. "Namaku tidak penting untuk saat ini. Yang penting adalah apa yang kubawa, dan siapa yang menyuruhku membawanya. Tapi aku janji, sebelum apa pun dibuka, aku akan menjelaskan siapa aku dan dari mana aku datang. Aku tidak mau kalian mengira aku datang dari tempat gelap."
Paman Raka mengangkat tangannya, meminta semua orang tenang. "Baik. Kalau begitu, mari kita mulai dari yang paling sederhana. Ratna, tolong kunci pintu depan. Reza, tolong pastikan mobil yang menunggu di luar itu tetap di sana atau pergi, dan laporkan kepada kami. Kita tidak membuka apa pun sebelum rumah ini aman."
Reza bangkit dan melangkah ke jendela. Ia menyibak gorden sedikit dan mengintip keluar. "Mobilnya masih di sana," katanya. "Mesinnya masih menyala. Ada seseorang di kursi pengemudi, tapi kacanya gelap, tidak kelihatan siapa."
"Seseorang yang menunggu di mobil," gumam Paman Raka, dan ia menatap perempuan itu dengan tatapan yang sulit kubaca. "Seperti tiga minggu lalu di bengkelku."
Perempuan itu tidak menyangkal. Ia malah menunduk sedikit. "Saya tahu cerita itu. Orang yang menitipkan bawaan ini juga tahu. Justru karena itu ia meminta saya datang dengan cara seperti ini, di depan semua orang. Supaya tidak ada lagi cerita yang disampaikan dari mulut ke mulut, setengah-setengah, dan dipakai untuk menakut-nakuti."
"Jadi orang yang menitipkan ini tahu soal perempuan yang datang ke bengkel Paman Raka tiga minggu lalu?" tanya Bimo, suaranya tajam tapi terkendali.
"Lebih dari itu," jawab perempuan itu. "Ia tahu karena ia yang mengatur agar perempuan itu datang. Bukan untuk menakut-nakuti Paman Raka, tapi untuk mengujinya. Untuk melihat apakah Paman Raka akan menandatangani sesuatu karena takut, atau akan menunggu kebenaran."
Ruangan itu mendadak terasa lebih sempit. Aku menatap Paman Raka, dan wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan, melainkan sesuatu yang lebih berat, seperti orang yang baru saja mendengar dugaan terburuknya dikonfirmasi setengah jalan. Ia menggosok pelipisnya perlahan.
"Kalau begitu," kata Paman Raka, "kita sudah sampai pada titik di mana tidak ada jalan kembali. Buka tas itu. Perlahan. Di depan kami semua. Dan jangan ada yang dipotong."
Perempuan itu mengangguk. Ia membuka tas kainnya dengan gerakan yang hati-hati, seolah ia sedang membuka sesuatu yang rapuh. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tebal, disegel dengan lilin merah yang sudah retak di satu sisi, dan sebuah kotak kecil dari kayu yang dikunci dengan gembok mungil. Ia meletakkan keduanya di atas meja, di tengah-tengah kami, dan menarik tangannya kembali.
"Inilah yang kubawa," katanya. "Amplop ini berisi surat. Kotak ini, aku sendiri tidak tahu isinya, dan aku tidak boleh membukanya. Pesannya: amplop dibuka sekarang, di depan kalian. Kotak dibuka nanti, kalau isi surat itu sudah dibaca dan kalian semua sepakat."
Semua mata kini tertuju pada amplop dan kotak itu. Ratna mendekat, Reza mencondongkan tubuh, Bimo berdiri di sampingku begitu dekat hingga bahuku menyentuh lengannya. Paman Raka mengulurkan tangan ke arah amplop, lalu berhenti di tengah jalan, menatapku.
"Ini atas namamu, Rania," katanya. "Kamu yang harus memegangnya. Tapi kamu tidak membukanya sendirian. Kamu membukanya di sini, di depan kami, dan kita membaca bersama."
Aku mengulurkan tangan yang gemetar dan mengambil amplop itu. Segel lilinnya dingin di ujung jariku. Di bagian depan amplop, tertulis namaku dengan tulisan tangan yang rapi dan kuno, tulisan yang membuat jantungku berdegup lebih cepat karena aku mengenalinya. Itu tulisan tangan ibuku. Dan di sudut bawah amplop, ada satu baris kecil yang baru kubaca sekarang, ditulis dengan tinta yang berbeda, lebih baru.
Baris itu berbunyi: jangan percaya pada orang yang pertama kali memberitahumu tentang surat ini.
Aku mendongak, menatap wajah-wajah di sekelilingku, satu per satu. Siapa yang pertama kali memberitahuku tentang surat ini? Siapa yang pertama kali menyebut soal dokumen, soal warkah, soal pembatalan? Pertanyaan itu menggantung di udara, dan sebelum ada yang sempat menjawab, dari luar terdengar bunyi pintu mobil ditutup, keras dan tiba-tiba, seolah seseorang baru saja memutuskan untuk tidak menunggu lagi.