Tengah Malam Terakhir
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,558 kata
Aku tidak tidur malam itu. Aku berbaring menatap langit-langit kamar dan menghafal semua kebohongan yang harus kusimpan sampai tengah malam tiba. Kebohongan pada Nadia: bahwa aku tahu siapa S. Kebohongan pada diriku sendiri: bahwa aku tidak takut.
Pagi harinya, Komisaris Ratna menelepon. Suaranya terdengar lelah tapi tajam, seperti seseorang yang tidak tidur sama sekali.
"Dedi ditahan jam tiga subuh," katanya tanpa basa-basi. "Ia mengaku dibayar Nadia lima puluh juta untuk membocorkan rencana penyergapan β dan untuk 'membereskanmu' jika kau membawa kertas itu ke gudang." Ia berhenti sejenak. "Kau beruntung masih hidup, Rania."
"Dan Adit, Bu?"
"Menyenangkan diri jam lima pagi. Ia bersaksi β semuanya. Tentang malam kakekmu meninggal, tentang ancaman Nadia padanya dua belas tahun lalu, tentang ayah Fajar yang dipaksa memalsukan dokumen." Ratna menghela napas. "Kami punya cukup untuk menangkap Nadia. Tapi kami butuh dua hal: buku kas asli itu, dan pengakuannya β terekam, tidak terbantahkan."
"Rencana Ibu?"
"Kau datang malam ini. Sendiri, seperti maunya. Tapi kau tidak akan benar-benar sendiri." Aku bisa mendengar ia tersenyum tipis di seberang. "Pena perekam di saku jaketmu, timku mengelilingi gudang dalam radius lima ratus meter, dan Bimo di pos komando mendengarkan siaran langsung. Buat ia bicara, Rania. Buat ia mengaku. Sisanya urusan kami."
"Kau tidak sendiri malam ini," tambahnya, lebih pelan. "Kau tidak akan pernah sendiri lagi."
Siang harinya, bel rumah berbunyi. Aku membuka pintu dan menemukan Reza berdiri di sana β rapi seperti biasa dengan kemeja putihnya, tapi wajahnya pucat dan matanya sembab seperti orang yang tidak tidur.
"Ibuku bilang kau sakit," katanya. "Tapi aku tahu kau tidak sakit, Rania. Aku mengenalmu cukup lama untuk tahu kapan kau berbohong."
Aku mempersilakannya masuk. Ibu β yang kini tahu segalanya β menyuguhkan teh dengan senyum tipis yang dipaksakan, lalu memberi kami ruang. Aku duduk berhadapan dengan Reza, pria yang dijodohkan denganku, pria yang seharusnya menjadi masa depanku di atas kertas β dan aku memutuskan ia berhak tahu kebenarannya. Semua.
Aku bercerita tentang tanah Cikarang. Tentang tanda tangan Adit yang dipalsukan. Tentang Nadia. Tentang malam ini. Reza mendengarkan dengan wajah yang semakin pucat, tangannya mengepal di atas lututnya.
"Ayah tidak pernah bilang tanah itu sengketa," katanya akhirnya, suaranya serak. Ia mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah dokumen. "Ini draf aktanya. Cikarang, dua hektar. Penandatanganan minggu depan." Ia menatapku. "Aku akan bicara pada Ayah hari ini juga. Aku pastikan penandatanganan ditunda sampai semuanya jelas. Aku tidak akan membiarkan keluargaku membeli tanah yang berdarah, Rania."
"Rezaβ"
"Dan soal perjodohan ini." Ia menatapku lurus-lurus, dan aku melihat ketegaran yang tidak pernah kusadari ia miliki. "Aku tahu hatimu tidak pernah ada di sini. Aku tidak marah. Aku cuma..." Ia tersenyum, sedih dan tulus. "Jodoh yang salah alamat, ya? Mungkin suatu hari aku menemukan alamat yang benar."
Air mataku tumpah sebelum aku bisa menahannya. Bukan karena cinta yang hilang β tapi karena pria baik yang terseret dalam transaksi kotor keluarganya, dan tetap memilih menjadi baik.
"Jaga dirimu malam ini," katanya sambil berdiri. Di pintu, ia berhenti. "Kalau kau butuh apa-apa β apa pun β telepon aku."
Setelah ia pergi, aku menangis diam-diam di sofa. Bimo turun dari tangga β ia mendengar semuanya dari atas β dan duduk di sebelahku tanpa berkata apa-apa, hanya menggenggam tanganku.
"Dia pria baik," kata Bimo pelan.
"Aku tahu." Aku menghapus air mataku. "Itu yang membuatnya menyakitkan."
"Kalau begitu menangislah," kata Bimo. "Tapi setelah malam ini, kita pulang dan tidak menoleh lagi."
Sore harinya, Ibu membekaliku rantang berisi nasi dan lauk, seperti ia selalu melakukannya setiap aku pergi jauh. Ia tidak bertanya aku mau ke mana. Ia hanya memelukku lama sekali, menghirup rambutku seperti waktu aku kecil.
"Pulang," katanya. Satu kata. Perintah dan doa sekaligus.
Jam setengah dua belas malam, Bimo mengantarku sampai rumpun bambu β tiga ratus meter dari gudang, tempat yang sama seperti malam sebelumnya. Deja vu yang membuat bulu kudukku berdiri. Tapi malam ini berbeda: di kegelapan sekelilingku, tersembunyi di antara ilalang dan pepohonan, ada belasan anggota tim Ratna. Di mobil komando lima ratus meter dari sini, Bimo mendengarkan setiap napasku melalui pena perekam di saku jaketku.
"Ingat," bisik Bimo sebelum aku turun. "Kali ini aku tidak menunggumu dalam gelap tanpa tahu apa-apa. Aku mendengar semuanya. Kalau terjadi sesuatu, aku yang pertama masuk."
Aku berjalan sendirian menyusuri jalan setapak, seperti malam sebelumnya. Bedanya, malam ini aku tidak membawa senter β cahaya lentera dari dalam gudang sudah terlihat, bergoyang tertiup angin.
Nadia sudah menungguku. Ia duduk di atas peti kayu di tengah gudang, dan di depannya β di atas peti lain yang dijadikan meja β tergeletak buku kas itu. Tua, tebal, bersampul kulit yang sudah mengelupas di sudut-sudutnya. Tulisan tangan kakek terlihat di halaman yang terbuka, dan dadaku sesak melihatnya.
"Kau datang," katanya, tersenyum. "Sendiri. Kau selalu lebih berani dari ibumu, Rania."
"Di mana tidak ada pilihan, keberanian bukan keutamaan, Tante." Aku berdiri di hadapannya, menjaga jarak. "Mana yang Tante mau? Nama S?"
"Beritahu aku siapa S," kata Nadia, suaranya tenang seperti sedang menegosiasikan harga di pasar. "Dan buku ini milikmu. Bakar, serahkan ke polisi, terserah. Aku pergi malam ini juga, dan kau tidak akan pernah melihatku lagi. Keluargamu dapat tanahnya. Kau dapat Bimo-mu. Ibumu tidak perlu tahu adiknya..." Ia berhenti, memilih kata dengan hati-hati. "...melakukan apa yang ia lakukan."
"Kenapa Tante begitu takut pada satu nama?" tanyaku, mengulur waktu. Pena di sakuku merekam setiap kata.
"Karena kakekmu menulis 'dia tahu semuanya'." Mata Nadia mengeras. "Aku tidak bisa pergi dengan tenang selagi ada orang di luar sana yang tahu semuanya. Jadi β siapa S?"
Aku menatapnya, dan untuk sesaat aku melihat bukan monster, tapi perempuan tua yang lelah β lelah berlari dua belas tahun, lelah berbohong, lelah menjadi orang lain. Rasa kasihan menyelinap ke dadaku, dan aku segera membunuhnya. Kasihan adalah kemewahan yang tidak bisa kubayar malam ini.
"Sebelum aku menjawab," kataku pelan, "jawab dulu pertanyaanku. Kau mendorongnya, kan? Di tangga itu. Kakek tidak jatuh sendiri."
Keheningan. Lentera bergoyang, bayangan kami menari-nari di dinding gudang.
"Ia akan menghancurkanku!" Nadia tiba-tiba meledak, berdiri dari petinya. "Ia akan melaporkanku ke polisi β adiknya sendiri! Setelah semua yang kulakukan untuk keluarga ini! Aku tidak punya pilihan, Rania! AKU TIDAK PUNYA PILIHAN!"
Pengakuan itu menggema di gudang kosong, dan aku tahu β di suatu tempat dalam gelap, Komisaris Ratna tersenyum.
Nadia terengah-engah, lalu dengan tangan gemetar ia membuka buku kas itu, membalik halaman-halamannya dengan kasar sampai ke bagian belakang. Ia berhenti. Menatap. Wajahnya berubah.
"Lihat!" Ia memutar buku itu menghadapku. "Halaman terakhirnya sobek!"
Aku mendekat dengan hati-hati. Benar β di bagian paling belakang buku itu, ada tepi kertas yang bergerigi, bekas halaman yang disobek paksa. Halaman terakhir buku kas kakek β hilang.
"Itu tidak ada saat aku mengambilnya dari brankas Surya!" kata Nadia, dan untuk pertama kalinya malam itu, aku mendengar ketakutan yang tulus dalam suaranya. "Seseorang sampai lebih dulu. Surya? Atau S-mu itu?" Ia menatapku dengan mata liar. "Siapa pun yang memegang halaman itu memegang leherku, Rania. Berikan namanya! SEKARANG!"
"Aku tidak tahu siapa S," kataku jujur.
"JANGAN BOHONG PADAKU!" Ia menerjang, mencengkeram pergelangan tanganku dengan kuat. "Kauβ"
Cahaya putih menyilaukan tiba-tiba membanjiri gudang dari segala arah. Suara megafon membelah malam: "POLISI! ANGKAT TANGAN! LEPASKAN DIA!"
Nadia membeku. Dalam hitungan detik, gudang itu dipenuhi anggota bersenjata. Ratna masuk terakhir, berjalan pelan ke arah kami dengan wajah seperti baja.
"Nadia," katanya. "Kau ditahan atas dugaan pembunuhan kakekmu β maksudku, atas pembunuhan ayah dari iparku." Ia mengoreksi dirinya dengan dingin. "Dan suap terhadap anggota kepolisian."
Borgol mengklik di pergelangan tangan Nadia. Buku kas itu diamankan ke dalam kantong bukti. Saat ia digiring melewatiku, Nadia berhenti dan menatapku β dan ia tersenyum. Senyum foto keluarga itu, untuk terakhir kalinya.
"Halaman terakhirnya sobek, Rania," katanya pelan, hanya untukku. "Bukan aku yang menyobeknya. Tanyakan pada S..." Ia mendekatkan wajahnya. "...siapa yang sampai lebih dulu."
Lalu ia dibawa pergi ke dalam malam, dan gudang itu kembali sunyi.
Subuh harinya aku pulang. Ibu menungguku di depan pintu β ia tidak tidur sama sekali, aku tahu. Ia memelukku begitu erat sampai aku sulit bernapas, dan aku membiarkannya.
"Sudah selesai?" bisiknya.
"Belum, Bu." Aku menatap langit yang mulai memutih di ufuk timur. "Tapi hampir."
Di dalam, Bimo tertidur di sofa dengan kepala terkulai β ia begadang di pos komando sampai semuanya selesai, lalu menolak pulang sebelum memastikan aku tiba. Aku menyelimutinya dengan kain, dan untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, aku merasa damai.
Lalu ponselku bergetar.
Nomor tidak dikenal. Pesan singkat. Hanya tiga kalimat:
"Kau punya separuh kebenaran. Aku punya separuh yang lain. Jangan percaya polisi. Jangan percaya ibumu. β S."
Aku menatap layar itu lama sekali. Di luar, azan subuh berkumandang dari musala ujung jalan, sahut-menyahut dengan kokok ayam. Bimo menggeliat dalam tidurnya. Ibu membuat teh di dapur, dan aroma melati dari kebun tetangga masuk lewat jendela yang terbuka.
Dan aku sadar, dengan dingin yang merambat dari ujung jariku sampai ke tulang punggungku: permainan ini belum selesai.
Ia baru saja berganti pemain.