Harga Kebenaran
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,365 kata
"Ini kesempatan kita." Suara Ratna di telepon pagi itu terdengar seperti komandan perang. "Dia ingin bertemu? Baik. Kita yang atur pertemuannya."
Satu jam kemudian aku sudah duduk di kantor polres β ruangan kecil Ratna yang penuh map dan bau kopi basi. Di papan tulisnya tertulis satu nama: HADI β dengan garis merah melingkari kata "biro jasa". "Kita jadikan kau umpan," kata Ratna blak-blakan. "Tapi umpan yang dikelilingi pukat."
Rencananya sederhana dan membuat lututku lemas: aku datang ke kafe itu sendirian seperti diminta Joko. Tapi di meja-meja sekitar, anggota Ratna menyamar sebagai pengunjung. Bimo dan Fajar di meja pojok. Ponselku merekam semuanya dari dalam tas. "Begitu dia menyebut ancaman atau dokumen palsu, itu bukti permulaan," kata Ratna. "Kita tangkap di tempat."
"Bagaimana kalau dia curiga?" tanyaku. Ratna menatapku lurus-lurus. "Kalau kau merasa bahaya β batuk tiga kali. Kami langsung masuk. Janji."
"Bagaimana kalau dia bawa senjata? Bagaimana kalau dia bawa orang?" Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di tenggorokanku. Ratna meletakkan tangannya di bahuku. "Dia tidak akan berani macam-macam di tempat umum yang kita kuasai. Dan Rania β ingat, kau tidak sendirian. Tidak sedetik pun."
Bimo menunggu di parkiran polres dengan wajah yang belum pernah kulihat setegang itu. "Aku tidak suka ini," katanya saat aku masuk ke mobilnya. "Aku juga," jawabku jujur. "Tapi dia mengancam Ibu, Bimo. Aku tidak akan duduk diam menunggu dia bergerak duluan."
Fajar menelepon tidak lama kemudian. "Aku sudah di sekitar kafe dari jam tiga," katanya. "Santai saja, Ran. Kalau ada apa-apa, aku yang pertama maju." Aku tersenyum kecut β Fajar selalu begitu sejak kecil: berani duluan, mikir belakangan. Tapi kali ini keberaniannya justru menenangkanku.
Di rumah, aku berbohong pada Ibu untuk pertama kalinya sejak kami berdamai β kukatakan aku ada urusan dengan Ratna soal berkas wasiat. Ibu mengangguk dan membekaliku dengan doa yang panjang. Rasa bersalah menggerogotiku sepanjang perjalanan, tapi aku tidak punya pilihan. Kedamaiannya terlalu rapuh untuk kukorbankan pada kebenaran yang belum selesai.
Kafe di pinggir jalan raya itu bernama "Kafe Sore" β tempat nongkrong anak muda yang sore itu setengah kosong. Aku datang lima belas menit lebih awal, memilih meja dekat jendela seperti instruksi Ratna. Tas tanganku β dengan ponsel merekam di dalamnya β kuletakkan di pangkuan. Tanganku dingin seperti es.
Bimo dan Fajar masuk lima menit kemudian, duduk di meja pojok sambil pura-pura bermain kartu. Dua "pengunjung" lain β yang kukenali sebagai anggota Ratna dari briefing foto tadi pagi β duduk di meja dekat kasir dan dekat pintu. Jantungku berdetak begitu kencang hingga aku takut suaranya ikut terekam.
Pelayan datang menanyakan pesananku. "Es teh," kataku β suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Tanganku gemetar saat menerima gelasnya hingga es batunya berdenting. Pelayan itu melirikku aneh, tapi aku terlalu tegang untuk peduli.
Tepat jam empat, sebuah Avanza hitam berhenti di depan kafe. Pria berkumis tipis turun dengan kemeja batik cokelat β umur empat puluhan, persis seperti gambaran Surya. Dan saat ia mendorong pintu kafe, cahaya sore menyorot tangannya: di jari manisnya, cincin perak bermata batu hitam itu berkilat.
Perutku serasa diaduk. Itu dia. Orang kedua itu. Orang yang berdiri di tangga bawah dua belas tahun lalu, yang melihat kakekku tergeletak dan memilih untuk tidak menolongnya.
Joko tersenyum saat melihatku β senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Rania," sapanya, duduk di hadapanku tanpa diminta. "Kau mirip kakekmu. Sama-sama keras kepala."
"Kau yang mengirim foto ibuku," kataku. Bukan pertanyaan.
"Aku cuma ingin kau datang," jawabnya santai, memesan kopi pada pelayan yang lewat. "Dan kau datang. Lihat? Kita bisa bicara baik-baik."
"Kau kenal kakekku baik, ya?" kataku, mencoba mengulur. Joko tersenyum β senyum orang yang sedang mengenang. "Pak Karto? Tentu. Dulu aku sering main ke rumahnya, waktu Gatot masih hidup. Orang tua yang keras... tapi adil." Ia berhenti. "Sayang, akhirnya dia memilih cucunya daripada darah dagingnya sendiri."
"Apa maumu, Joko?" Aku menyebut namanya dengan sengaja β biar dia tahu aku tidak datang buta.
Senyumnya menipis sepersekian detik. "Sederhana. Kotak itu β dan semua isinya. Surat kakekmu, foto itu. Serahkan padaku. Anggap tidak pernah ada."
"Kenapa? Takut?" "Takut?" Ia tertawa pendek. "Aku tidak takut, Nak. Aku cuma... rapi. Aku suka semua hal pada tempatnya. Dan kotak itu bukan pada tempatnya."
Mataku tertuju pada cincin di jari manisnya β perak kusam bermata batu hitam, persis seperti di foto. "Cincin bagus," kataku datar. Joko melirik jarinya sendiri, dan untuk sepersekian detik aku melihat sesuatu melintas di wajahnya: bukan marah, bukan takut β duka. "Peninggalan kakakku," katanya singkat. Topik itu ditutupnya rapat-rapat.
Ia meletakkan sebuah map cokelat di atas meja dan membukanya perlahan β seperti pemain kartu yang yakin akan menang. Di dalamnya: fotokopi AJB tanah Cikarang dengan tanda tangan kakek yang dipalsukan. Dan di bawahnya, selembar surat yang membuat napasku tercekat.
"Surat wasiat," kata Joko, menikmati ekspresiku. "Bertanggal dua minggu sebelum kakekmu meninggal. Isinya: tanah Cikarang diwariskan kepada Nadia." Ia mengetukkan jarinya di atas tanda tangan itu. "Sangat mirip aslinya, kan?"
"Palsu," kataku β tapi suaraku bergetar, dan dia mendengarnya.
"Tentu saja palsu. Tapi pengacara yang bagus," ia mencondongkan tubuh, "bisa membuat pengadilan ragu bertahun-tahun. Tanah itu tidak bisa kau jual, tidak bisa kau garap, tidak bisa kau apa-apakan. Warisan kakekmu akan membusuk di meja pengadilan sementara pengacaraku menagih biaya per jam."
"Lima puluh juta," katanya akhirnya. "Untuk semua dokumen β yang asli maupun semua salinannya. Lunas, aku hilang dari hidupmu selamanya. Anggap ini... biaya ketenangan."
Aku mengulur waktu, persis seperti instruksi Ratna. "Dari mana aku tahu kau tidak akan kembali bulan depan minta lima puluh juta lagi?"
"Kau tidak tahu," jawabnya jujur β dan kejujuran itu lebih menakutkan dari ancamannya. "Tapi kau juga tidak punya pilihan lain. Kecuali..." Ia menyeruput kopinya. "Kecuali kau lebih suka perang."
"Pengacara siapa?" tanyaku, mengulur. "Pengacaraku," jawab Joko ringan. "Orang yang sama yang mengurus... semua urusan keluarga kami selama ini." Ia tidak menyebut nama, dan aku mencatat itu dalam hati β ada pengacara yang terlibat. Satu nama lagi untuk Ratna gali.
Aku memutuskan untuk menusuk langsung. "Malam itu β kau ada di rumah kakek. Kau melihatnya jatuh dan kau melarang Nadia memanggil ambulans."
Senyumnya hilang. Untuk pertama kalinya, topeng santainya retak β dan di baliknya aku melihat sesuatu yang dingin dan tua. "Kau tidak tahu apa-apa soal malam itu, Nak."
"Nadia sudah bicara," bluffingku, menahan napas. "Semuanya. Soal kau, soal Dedi, soal surat-surat palsu."
Joko menatapku lama. Lalu ponselnya berdering β nada dering nyaring yang memecah ketegangan. Ia melirik layarnya, dan wajahnya berubah. Pucat. Ia mematikan telepon itu dengan cepat. Telepon itu berdering lagi. Dan lagi.
Dari tempatku duduk, aku sempat melirik layarnya sekilas: nomor tanpa nama. Bukan nama kontak β hanya deretan angka. Tapi reaksi Joko terhadap deretan angka itu... seperti orang yang melihat hantu.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia akhirnya mengangkatnya. "Halo?" Ia mendengarkan. Wajahnya semakin pucat. "Aku... aku sedang membereskannya." Diam. "Baik. Baik, aku mengerti." Ia menutup telepon dan menatapku dengan ekspresi yang sama sekali berbeda β bukan lagi pemburu, tapi orang yang diburu.
"Siapa itu?" tanyaku. "Nadia ada di tahanan, Joko."
Ia tertawa β tawa pendek dan pahit. "Kau pikir Nadia otaknya semua ini?" Ia menggeleng, menatap cincin di jarinya sendiri seperti baru menyadarinya ada di sana. "Nadia itu cuma... istri kakakku yang ketakutan dan serakah. Dari awal, yang membayar aku bukan Nadia."
Darahku berdesir dingin. "Lalu siapa?"
Ia mendorong map cokelat itu ke arahku. "Ambil fotokopinya. Pelajari. Kau punya waktu sampai besok malam untuk memutuskan β lima puluh juta, atau perang." Tangannya yang mendorong map itu gemetar. Baru kusadari: dia takut. Bukan padaku β pada orang yang meneleponnya.
Joko tidak menjawab. Matanya bergerak melewati bahuku β ke arah pintu kafe. Wajahnya yang sudah pucat menjadi putih seperti kertas. Ia menunduk, suaranya turun menjadi bisikan yang nyaris tidak terdengar.
"Jangan menoleh," bisiknya. "Orang yang membayar kami dari awal β dia baru saja masuk."