β€Ή
8. Jejak di Luar Kota

Jejak di Luar Kota

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,581 kata

Ilustrasi Jejak di Luar Kota

Reza tidak langsung bicara.

Ia menggenggam pergelangan tangan Rania β€” tidak kasar, tapi cukup tegas untuk membuat Rania mengerti: ikut aku, sekarang β€” dan menuntunnya menjauh dari keramaian lobi Mal Artha menuju tangga darurat parkir basement. Langkahnya cepat, matanya terus melirik ke segala arah, seolah setiap orang yang berpapasan bisa jadi mata-mata Nadia.

Di basement yang remang, Reza membuka pintu sedan tuanya dan menyuruh Rania masuk. Begitu pintu tertutup, ia mengunci semuanya dengan bunyi klik yang bergema di kabin sempit. Ia tidak menyalakan mesin. Ia hanya duduk diam sejenak, kedua tangannya mencengkeram setir, napasnya berat.

"Tunjukkan pesannya," katanya akhirnya.

Rania menyodorkan ponselnya. Dua kata di layar: Pintar. Tetap begitu.

Rahang Reza mengetat. Ia menatap layar itu lama, seolah ingin membakarnya dengan tatapan, lalu mengembalikannya tanpa sepatah kata.

"Soal Bimo," katanya pelan. "Aku menemukan sesuatu."

Ia meraih ponselnya sendiri, membuka galeri, dan menyodorkannya pada Rania. Foto pertama: sebuah gerbang vila dari besi tempa, berlumut di bagian bawah, dengan papan nama yang setengah tertutup tanaman rambat. Vila Cemara. Kabut tipis menggantung di latarnya.

"Megamendung," kata Reza. "Kawasan vila di Puncak. Foto kedua."

Rania menggeser layar. Foto kedua: bagian belakang sebuah mobil hitam, diambil dari jauh dan agak buram. Plat nomornya hanya terbaca sebagian: B 17β€” sisanya tertutup bayangan. Jantung Rania berdegup. Mobil hitam. Selalu mobil hitam.

"Siapa yang motret ini?" tanya Rania, suaranya serak.

"Yoga," jawab Reza. "Teman SMA-ku. Pamannya β€” Pak Darman β€” kerja jadi penjaga di kompleks vila itu. Dua malam lalu, sekitar tengah malam, ada mobil hitam masuk ke salah satu vila. Menurunkan seorang pemuda. Kurus. Dijaga dua orang."

Reza berhenti, menatap Rania lurus-lurus.

"Aku kirim foto Bimo ke Yoga. Pamannya bilang... mirip. Tapi lebih kurus. Dan mukanya lebam sedikit di pipi kiri."

Dunia Rania miring sesaat. Ia mencengkeram jok mobil agar tidak jatuh, padahal ia sedang duduk. Bimo. Lebam. Kurus. Dua malam lalu β€” itu artinya sehari setelah pertemuan di vila Hendra, sehari sebelum ia menemukan kos Bimo kosong.

"Vila yang mana?" bisiknya.

"Itu masalahnya. Pak Darman cuma jaga gerbang kompleks, bukan vila per vila. Tapi dia janji malam ini cari tahu β€” vila mana yang disewa mendadak minggu ini, siapa yang bayar. Yoga bilang pamannya orangnya bisa dipegang."

Rania memejamkan mata. Harapan menyala di dadanya β€” kecil, liar, berbahaya. Untuk pertama kalinya sejak foto Bimo diterimanya, ada sesuatu yang konkret. Bukan ancaman, bukan teka-teki. Sebuah tempat. Sebuah nama jalan.

Tapi bersamaan dengan harapan itu, suara Nadia berdengung di kepalanya, dingin dan rapi: Satu: kamu berhenti mencari Bimo. Dua: kamu berhenti bertanya soal mobil hitam, soal transfer, soal apapun.

"Rania." Suara Reza menyentaknya kembali. "Kamu nyembunyiin sesuatu."

Ia menatapnya β€” dan Rania menyadari betapa dekatnya wajah mereka di kabin mobil yang sempit itu. Matanya tajam, bukan menuduh, tapi... terluka.

"Di parkiran tadi, kamu ketemu siapa?" tanya Reza. "Jangan bilang 'orang suruhan ayahku' doang. Aku butuh lebih dari itu kalau kita mau jalan bareng."

Tenggorokan Rania tercekat. Janji pada Nadia berperang melawan aliansi dengan Reza, dan kali ini perangnya berdarah-darah di dalam kepalanya. Dan Reza tidak boleh tahu kamu ke sini. Kalau dia tahu, dia akan bertindak gegabah... dan tindakannya akan membuat semuanya lebih buruk. Demi Bimo.

"Aku tidak bisa cerita semuanya," kata Rania akhirnya, dan suaranya pecah di ujung kalimat. "Bukan karena aku tidak percaya kamu. Tapi karena setiap kata yang aku ucapkan bisa jadi alasan mereka menyakiti Bimo. Kamu harus percaya itu."

Reza menatapnya lama. Lalu ia mengangguk β€” sekali, pendek β€” dan Rania tahu anggukan itu harganya mahal. Ia baru saja meminta Reza memercayainya secara buta, persis seperti yang ia benci diminta oleh orang lain.

"Oke," kata Reza. "Tapi satu hal. Kalau kamu dalam bahaya β€” bahaya beneran, bukan sandiwara β€” kamu kasih tahu aku. Janji?"

"Janji."

Reza membuka laci dasbor dan mengeluarkan sebuah ponsel kecil β€” model lama, layarnya mungil, bodinya penuh goresan. Ia menyodorkannya pada Rania.

"HP butut," katanya dengan senyum miring yang tidak sampai ke matanya. "Kartu baru, nomor baru. Cuma ada satu kontak: aku. Pakai ini kalau kamu mau hubungi aku soal... ini. Jangan pakai HP aslimu. Kalau mereka bisa kirim pesan 'pintar, tetap begitu' tepat sedetik setelah kamu nunjukin ke aku, berarti mereka ngawasin HP aslimu. Atau ngawasin kita. Atau dua-duanya."

Rania menerima ponsel itu. Benda kecil itu terasa berat di tangannya β€” seberat kepercayaan yang dititipkan bersamanya.

"Kenapa kamu sejauh ini ngebantu aku?" tanya Rania tiba-tiba. Pertanyaan itu keluar sebelum sempat ia saring. "Kamu bisa aja nikah sama aku, hidup enak, warisin perusahaan ayahmu. Kenapa repot-repot?"

Reza terdiam. Tangannya yang sedari tadi mengetuk-ngetuk setir berhenti. Ia menatap kaca depan yang berdebu, ke arah beton basement yang dingin.

"Karena aku juga tahanan, Rania," katanya pelan. "Cuma bedanya, penjaranya berdinding marmer dan makanannya enak. Ayahku ngatur siapa temanku, kuliahku, bahkan... calon istriku." Ia tertawa pendek, pahit. "Kamu pikir aku mau dijodohin? Aku bahkan belum pernah pacaran beneran. Semua diatur. Dan sekarang aku disuruh nikah sama perempuan yang nangis di bilik toilet vila ayahku karena dipaksa." Ia menoleh padanya. "Kita berdua korban orang yang sama. Bedanya cuma seragam."

Ada sesuatu yang retak dalam suara Reza di kalimat terakhir β€” sesuatu yang mentah dan jujur yang belum pernah Rania dengar darinya. Bukan Reza yang kaku di makan malam keluarga. Bukan Reza yang canggung di kafe tua. Ini Reza yang sebenarnya: seorang anak yang juga sedang berjuang untuk bernapas.

"Terima kasih," bisik Rania. Kata itu terasa terlalu kecil untuk apa yang ia rasakan, tapi ia tidak punya kata yang lebih besar.

Perjalanan pulang dilalui dalam diam. Reza menyetir dengan hati-hati, sesekali melirik kaca spion β€” kebiasaan baru yang membuat dada Rania sesak. Di depan gang rumahnya, Reza berhenti agak jauh, mematikan lampu.

"Tiga puluh menit kemarin," katanya tiba-tiba, menatap lurus ke depan. "Aku hampir nelpon polisi di menit kedua puluh sembilan. Tanganku udah di atas tombol panggil."

Rania menatap profilnya β€” rahang yang menegang, mata yang berkaca-kaca tapi ditahan mati-matian.

"Untung kamu turun," lanjutnya dengan suara nyaris berbisik. "Karena aku tidak yakin polisi bisa ngelawan ayahku."

Rania turun dari mobil dengan kaki lemas. Sebelum menutup pintu, ia mencondongkan badan kembali ke dalam.

"Reza. Hati-hati. Mereka... mereka tahu lebih banyak dari yang kita kira."

"Kamu juga," jawabnya. "Sembunyiin HP butut itu baik-baik."

Di rumah, Ibu menyambutnya dengan pertanyaan soal "kelas pengganti". Rania menjawab dengan lancar β€” terlalu lancar β€” dan kebohongan yang mudah itu menakutkannya lagi, seperti pagi tadi. Ia naik ke kamarnya dengan alasan lelah, dan langsung mengunci pintu.

Makan malam berlangsung seperti biasa β€” dan justru kebiasaan itulah yang menyiksa. Ibu berceloteh soal persiapan lamaran: katering, dekorasi, daftar tamu. Ayah diam, mengaduk-aduk nasinya tanpa banyak makan. Di bawah matanya ada kantong hitam yang semakin dalam dari hari ke hari. Rania ingat kata-kata Nadia: usaha ayahmu yang arusnya tinggal tiga bulan. Tiga bulan. Dan lamaran tiga minggu lagi. Waktunya seperti dipasang dengan sengaja β€” jerat yang mengencang perlahan tapi pasti.

"Ayah nggak enak badan?" tanya Rania pelan.

Ayahnya mendongak, tersenyum β€” senyum lelah seorang lelaki yang memikul terlalu banyak sendirian. "Ayah baik-baik saja, Nduk. Makan sana."

Rania menatap uban yang semakin banyak di pelipis ayahnya dan merasakan sesuatu yang panas dan tajam menusuk dadanya. Ayahnya tidak tahu apa-apa. Tidak tahu anaknya diancam. Tidak tahu perusahaannya dijadikan senjata. Tidak tahu bahwa setiap suap nasi yang ia makan malam ini dibayar dengan kebebasan anaknya.

Aku akan melindungi kalian, pikir Rania. Entah bagaimana caranya.

Malamnya, di kamarnya, Rania mengeluarkan semua "jimat"nya dan menatanya di atas tempat tidur: foto Bimo yang tersenyum lebar di pantai β€” foto yang diambil sebelum semua ini; struk transfer dua ratus juta yang kini terasa seperti surat dakwaan; gantungan kunci R & B yang huruf B-nya sudah sedikit pudar; dan surat tulisan tangan Bimo dari Nadia: Aku baik-baik saja. Jangan cari aku. β€” B.

Ia mengambil HP butut dari Reza, mengetik dengan jari gemetar: Aku di rumah. Aman. Kamu hati-hati.

Balasan datang tidak sampai semenit: Aman. Yoga bilang pamannya mulai cari info malam ini. Tidur. Besok kita pikirin langkah selanjutnya.

Rania menatap layar kecil itu sampai matanya perih. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tidak merasa sendirian sepenuhnya.

Saat itulah ia mendengarnya β€” bunyi gesekan kertas yang sangat pelan dari arah pintu kamarnya.

Ia menoleh. Jantungnya berhenti berdetak.

Sebuah amplop cokelat β€” tipis, tanpa perangko, tanpa nama β€” baru saja diselipkan dari bawah pintu kamarnya.

Rania tidak bergerak selama beberapa detik. Darahnya berdesir di telinga. Perlahan, ia bangkit, mendekati pintu, dan memungut amplop itu dengan tangan yang gemetar hebat. Ia mengintip ke lorong β€” kosong. Sunyi. Seolah amplop itu muncul dari udara.

Dengan napas tertahan, ia membuka amplop itu.

Di dalamnya: sebuah foto. Bimo β€” duduk di atas kasur tipis di sebuah ruangan kosong berdinding kusam, menatap kamera dengan mata kosong. Ia jauh lebih kurus dari terakhir kali Rania melihatnya. Di pipi kirinya, samar, ada lebam kebiruan.

Di belakang foto, tulisan tangan yang rapi dan dingin β€” tulisan yang sama seperti di surat sebelumnya:

Berhenti menggali. β€” N.

Foto itu terlepas dari tangan Rania dan melayang jatuh ke lantai. Ia membekap mulutnya agar tidak berteriak.

Nadia tahu. Nadia tahu soal Megamendung β€” padahal Reza baru menceritakannya padanya siang ini, di dalam mobil, di basement yang mereka kira aman.

Artinya mereka mengawasi Reza juga. Atau Yoga. Atau Pak Darman. Atau... mobil Reza disadap.

Artinya tidak ada tempat yang aman. Tidak ada percakapan yang privat. Tidak ada sekutu yang tidak terpantau.

HP butut di tangannya bergetar. Sebuah pesan masuk β€” dari nomor Reza:

Besok jam sepuluh. Butik Laras. Fitting gaun. Jangan terlambat. Ibu yang atur.

Rania menatap pesan itu, lalu menatap foto Bimo yang tergeletak di lantai β€” wajah kosongnya menatap langit-langit kamar.

Dan ia sadar, dengan rasa dingin yang merambat dari ujung jari sampai ke tulang punggung: permainan ini bukan cuma diawasi. Permainan ini dikoreografikan. Dan ia baru saja menari mengikuti irama yang mereka mainkan β€” tanpa tahu kapan musiknya berhenti.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!