β€Ή
21. Nyonya Hendra Wijaya

Nyonya Hendra Wijaya

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,338 kata

Ilustrasi Nyonya Hendra Wijaya

Tanganku gemetar terlalu hebat untuk membalik halaman. Bimo mengambil alih β€” dengan hati-hati, seperti sedang menangani bayi yang baru lahir.

"Hari pertama aku menjadi Nyonya Hendra Wijaya. Umurku dua puluh dua tahun. Aku tidak mencintainya. Aku bahkan tidak mengenalnya sampai tiga bulan lalu. Tapi Ayah menandatangani sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia tanda tangani, dan seseorang harus membayarnya. Seseorang itu adalah aku."

Yudi bersiul pelan. "Astaga."

Kami membaca semalaman. Buku catatan itu bukan sekadar catatan β€” itu pengakuan. Itu kuburan. Itu peta.

Halaman-halaman awal bercerita tentang Nadia Rahma, dua puluh dua tahun, anak tunggal pemilik perusahaan mebel di Jepara yang sedang naik daun. Tentang ayahnya yang β€” seperti ayahku β€” menandatangani kontrak kerja sama dengan PT Wijaya Graha tanpa membaca sampai tuntas. Tentang Klausul 7 ayat 4 yang muncul entah dari mana di dokumen final. Tentang pilihan yang diberikan Hendra kepada keluarga itu: serahkan perusahaan, atau nikahkan anak gadismu dengan diriku.

"Aku memilih menikah," tulis Nadia. "Aku pikir aku bisa bertahan. Aku pikir cinta bisa tumbuh, atau setidaknya rasa hormat. Aku salah tentang semuanya."

Sebelas tahun pernikahan. Sebelas tahun yang ditulis dengan tinta yang kadang tegas, kadang bergetar. Hendra yang dingin dan mengontrol. Rumah besar yang terasa seperti museum β€” indah dan mati. Dan Nadia yang perlahan belajar: suaminya tidak mencintainya, tidak pernah. Ia menikahinya karena perusahaan mebel ayahnya punya sesuatu yang ia inginkan β€” jalur distribusi kayu ke proyek-proyek propertinya. Setelah perusahaan itu dikuliti habis, Nadia tidak lagi berguna. Kecuali sebagai pajangan.

"Aku mulai bekerja di perusahaannya bukan karena ia memintaku. Aku memintanya. Aku bilang aku bosan di rumah. Yang sebenarnya: aku ingin tahu. Aku ingin tahu bagaimana laki-laki ini berpikir, bagaimana ia menang terus. Tiga tahun aku menjadi Direktur Keuangan PT Wijaya Graha. Tiga tahun aku memaraf ribuan dokumen. Dan tiga tahun itu aku melihat semuanya."

Di sinilah tulisannya berubah β€” lebih rapat, lebih cepat, seperti ditulis dengan tangan gemetar menahan marah. Nadia menemukan Lampiran C. Aliran dana dari PT Wijaya Graha ke Yayasan Wijaya Abadi β€” yayasan amal milik Hendra yang ternyata tidak pernah menyalurkan satu rupiah pun ke siapa pun. Kantong pribadi. Mesin cuci uang. Dan Klausul 7 β€” ia menulis, dengan garis bawah tiga kali: "Klausul itu tidak ada di draf yang kubaca. Klausul itu diselipkan malam sebelum penandatanganan. Aku tahu karena aku yang disuruh memaraf ulang lembar yang sudah diganti, jam sebelas malam, di ruang kerjanya, dengan ia berdiri di belakang kursiku."

Tanganku mencengkeram buku itu sampai buku-buku jariku memutih. Itulah yang terjadi pada keluargaku. Itulah yang hampir terjadi padaku.

Lalu halaman tentang Reza.

"Reza lahir di musim hujan. Ia menangis keras sekali, seolah protes pada dunia yang menyambutnya. Delapan tahun aku bertahan demi dia. Delapan tahun aku bilang pada diriku sendiri: tunggu sampai ia besar, tunggu sampai ia kuat. Lalu Hendra mengajukan cerai β€” karena ia sudah menemukan istri ketiga yang lebih muda, lebih patuh β€” dan pengadilan memberinya hak asuh penuh. Pengacara terbaik yang bisa dibeli uang melawan aku yang tidak punya apa-apa selain kebenaran. Aku kalah. Tentu saja aku kalah."

Tinta di halaman itu meleber β€” terkena air. Air mata, delapan tahun lalu, masih terlihat sampai sekarang.

"Aku tidak melihat anakku lagi setelah itu. Hendra bilang padanya aku pergi. Mungkin bilang aku mati. Aku tidak tahu. Aku terlalu takut untuk mencari tahu β€” karena setiap kali aku mencoba mendekat, orang-orangnya datang. Sekali, mobilku diserempet truk di tol. Remku blong di turunan Puncak. Aku mengerti pesannya: menghilanglah, atau mati beneran."

Bimo mengusap wajahnya. Yudi berhenti memotret sejenak.

"Jadi aku menghilang. Tapi sebelum menghilang, aku mulai menyalin. Setiap malam, selama dua tahun terakhirku di perusahaan itu, aku memotret dokumen. Kontrak. Transfer. Rekaman rapat yang tidak sengaja terekam. Aku membangun sebuah kotak β€” Box 7 β€” di bank yang tidak ia ketahui. Asuransi jiwaku. Senjata yang kutabung untuk hari ketika aku cukup berani, atau ketika seseorang yang lebih berani dariku muncul."

Halaman-halaman berikutnya adalah daftar: nomor dokumen, tanggal, isi singkat. Sistematis seperti laporan auditor. Perempuan ini tidak gila β€” ia sabar. Kesabaran yang menakutkan.

Dan kemudian, halaman yang membuatku menangis:

"Aku melihat foto anak itu di koran β€” Rania. Tunangan Reza. Anak yang baik, kata orang-orang. Hendra mengulangi polanya lagi, persis seperti dua puluh lima tahun lalu: Klausul 7, perjodohan, keluarga yang terdesak. Bedanya: kali ini aku masih hidup. Kali ini aku punya buktinya. Anak itu mengalami apa yang kualami. Aku tidak akan diam lagi."

"Tas itu," bisikku, "dia sengaja menjatuhkannya. Yudi benar."

Yudi mengangguk pelan. "Dia memilihmu, Ran. Dari semua orang, dia memilihmu jadi eksekutornya."

Kami hampir sampai di akhir buku ketika Bimo teringat sesuatu. "USB-nya. Kita belum dengar audio itu sampai habis kemarin β€” kamu matiin laptop setelah bagian gugatan."

Yudi mencolokkan USB drive hitam itu. File audio tujuh menit. Kami mendengarkan ulang dari awal β€” bagian yang sudah kudengar kemarin sore: Hendra dan pengacaranya merencanakan gugatan lima belas miliar, tawa kecil yang mengerikan itu. Lalu, di menit kelima lewat empat puluh detik, setelah jeda panjang, suara pengacara itu kembali β€” lebih pelan, seperti memastikan tidak ada yang mendengar:

"Pak... satu hal lagi. Soal perempuan yang ngasih dokumen ke anak itu."

Jeda. Lalu suara Hendra β€” dingin, tanpa sedikit pun kesantaian tadi:

"Dia sudah mati bagi saya. Tapi kalau dia berani muncul..." jeda lagi, lebih lama, "selesaikan seperti dulu. Kali ini jangan sampai dia lolos lagi."

Rekaman berakhir.

"Seperti dulu," ulang Bimo dengan suara serak. "Maksudnya β€” rem blong itu? Truk di tol itu?"

"Dia tahu Nadia yang bocorin," kata Yudi. "Dan dia mau..." ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak perlu.

Aku meraih ponselku dan menelepon nomor "N." β€” nomor yang selama ini hanya mengirimi pesan, tidak pernah bisa dihubungi balik. Berdering sekali. Dua kali. Lalu mati β€” bukan dialihkan ke kotak suara, tapi mati begitu saja, seperti nomor yang tidak pernah ada. Aku mencoba lagi. Sama.

"Dia nggak akan angkat," kata Yudi pelan. "Perempuan seperti dia β€” dia yang menghubungi, bukan dihubungi. Itu caranya bertahan hidup delapan tahun tanpa ketahuan."

Bimo menatapku, wajahnya tegang. "Ran, kalau Hendra benar-benar mau... menyelesaikan dia seperti dulu β€” kita harus ingetin dia. Kita harusβ€”"

"Kita nggak tahu dia di mana, Bimo." Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, tipis dan jauh. "Kita cuma bisa berharap dia masih selangkah di depan. Seperti biasa."

Nadia dalam bahaya. Perempuan yang menulis buku ini, yang memberiku segalanya, sedang diburu oleh laki-laki yang sama yang menghancurkan hidupnya dua puluh lima tahun lalu. Dan aku tidak tahu di mana dia. Aku hanya punya nomor "N." yang tidak pernah bisa dihubungi balik.

Aku kembali ke buku itu dengan tangan gemetar. Tinggal beberapa halaman. Halaman-halaman terakhir tidak bertanggal β€” kecuali satu. Halaman terakhir. Tanggalnya: hari ini.

"Kalau kamu membaca ini, berarti aku sudah selangkah lebih dekat ke api. Aku tidak tahu apakah aku akan sempat melihat akhirnya. Tapi kamu harus tahu satu hal, Nak: kamu bukan pionku. Kamu adalah aku yang kedua β€” yang diberi kesempatan yang tidak pernah kumiliki: melawan dengan bukti di tangan, bukan dengan air mata. Jangan cari aku. Lindungi dirimu. Lindungi ibumu. β€” N."

Di halaman itu, ditempel dengan selotip kuning yang sudah mengering, ada sebuah amplop kecil. Di dalamnya: sebuah kunci safe deposit β€” bernomor 12 β€” dan selembar surat pendek:

"Untuk Rania β€” kalau aku tidak menghubungimu dalam 48 jam, buka Box 12. Isinya cukup untuk menghancurkan sisa-sisanya. Maafkan aku yang selalu selangkah di depanmu. Itu satu-satunya cara aku tahu untuk melindungimu. β€” N."

Pukul tiga pagi. Kami bertiga duduk dalam diam di kamarku yang berantakan oleh fotokopi halaman buku. Bimo tertidur dengan kepala di tepi tempat tidur. Yudi menatap langit-langit. Aku memegang kunci Box 12 itu sampai telapak tanganku berkeringat.

Lalu ponselku bergetar.

Pesan dari "N." Sebuah foto.

Aku membukanya β€” dan jeritan tertahan di tenggorokanku membangunkan Bimo.

Foto itu adalah rumah Ibu. Tampak depan. Diambil dari seberang jalan. Lampu teras menyala β€” lampu yang kulihat sekarang dari jendela kamarku. Foto itu diambil... sekarang. Malam ini. Beberapa menit lalu.

Di bawahnya, satu kalimat:

"Jangan buka pintu untuk siapa pun malam ini, Nak. Dia tahu alamat ini."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!