β€Ή
6. Kosan yang Kosong

Kosan yang Kosong

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,220 kata

Ilustrasi Kosan yang Kosong

Rania tidak tidur. Ia berbaring menatap foto Bimo yang ia letakkan di meja belajar β€” wajah tegang itu menatap balik dari dalam bingkai kertas foto yang murahan, dan setiap kali ia memejamkan mata, tulisan di balik foto itu menyala di kegelapan: berhenti mencari, atau dia tidak pulang.

Menjelang subuh ia membuat keputusan. Ia tidak akan berhenti mencari. Ia hanya akan mencari dengan lebih pintar β€” dan lebih cepat dari mereka.

Pagi itu ia mengirim foto amplop itu ke Reza, dengan pesan singkat: "Di pagar rumahku kemarin sore. Mereka mengawasiku."

Balasan Reza datang saat ia sudah di atas ojek menuju Kopi Senja: "Jangan lakukan apa-apa sendiri. Tunggu aku."

Rania menatap pesan itu, lalu memasukkan ponsel ke tas. Maaf, Reza. Menunggu bukan keahliannya pagi ini.

Kopi Senja pagi itu sepi β€” baru dua meja terisi, dan tidak ada Bimo di balik bar. Tidak ada senyumnya, tidak ada caranya menghafal pesanan pelanggan tetap, tidak ada suara sendoknya beradu dengan gelas. Kafe itu terasa seperti rumah yang penghuninya baru saja meninggal.

Bu Sari keluar dari dapur dengan mata sembab. Begitu melihat Rania, wajahnya runtuh. "Ran..."

"Ceritakan semuanya, Bu. Dari awal."

Mereka duduk di meja nomor empat β€” meja Rania dan Bimo. Bu Sari menggenggam celemeknya erat-erat. "Kemarin sore, sekitar jam empat, HP-nya bunyi. Dia angkat, dan..." Bu Sari menelan ludah, "wajahnya langsung pucat, Ran. Pucat seperti lihat hantu. Dia lepas apron, bilang, 'Bu, saya harus pergi. Jaga kafe ya.' Terus pergi. Nggak pamit ke siapa-siapa."

"Dia sempat bilang sesuatu? Soal... ancaman?"

Bu Sari mengangguk pelan. "Minggu lalu dia cerita ke saya. Katanya ada orang menemuinya β€” orang rapi, pakai mobil bagus. Menawarinya uang." Bu Sari menatap Rania dengan mata berkaca. "Banyak, Ran. Banyak sekali. Supaya dia menjauh darimu."

Jantung Rania mencelos. Dua ratus juta nggak bisa beli tiga tahun kita. Jadi itu maksud kalimat Bimo di bawah pohon beringin malam itu. Bukan kiasan. Tawaran nyata.

"Dia ketawa waktu cerita itu," lanjut Bu Sari, suaranya bergetar. "Katanya, 'Dua ratus juta nggak bisa beli tiga tahun, Bu.' Saya kira masalahnya selesai. Ternyata..." Ia mengusap matanya dengan punggung tangan. "Kemarin, sebelum pergi, dia bilang satu kalimat. Cuma satu: 'demi Rania.'"

Rania menggenggam tepi meja sampai buku-buku jarinya memutih. Demi Rania. Tiga tahun bersama, dan Bimo masih memilih melindunginya dengan cara yang paling menyakitkan: pergi tanpa penjelasan.

"Terima kasih, Bu." Rania berdiri, kakinya terasa seperti agar-agar. "Kalau dia menghubungi Ibu β€” apapun β€” tolong kabari saya."

Kos Bimo terletak di gang sempit di belakang kampus, bangunan dua lantai bercat hijau pudar dengan jemuran yang berderit tertiup angin. Rania sudah hafal jalan ini β€” dulu ia sering mampir membawakan Bimo bekal, duduk di tangga sambil menunggu Bimo selesai mandi, tertawa sampai Bu Warni, pemilik kos, menegur mereka karena berisik.

Bu Warni membukakan pintu dengan wajah curiga yang melunak begitu mengenali Rania. "Nduk Rania. Kamu cari Bimo?"

"Iya, Bu. Ibu tahu dia di mana?"

Bu Warni melirik ke kiri-kanan gang, lalu menarik Rania masuk. "Semalam," bisiknya, "ada mobil hitam berhenti di depan. Lelaki rapi turun, bilang ke Bimo ada urusan keluarga mendesak. Bimo ikut." Ia meremas tangannya sendiri. "Tapi wajah anak itu, Nduk... takut. Dia mengangguk terus, seperti orang dipaksa tapi tidak berani melawan. Bawa ransel satu."

"Plat nomornya, Bu? Ibu ingat?"

"B... B 18... saya nggak hafal, Nduk. Mata saya sudah tua." Bu Warni menghela napas. "Kamarnya masih dikunci dari luar. Barangnya masih di dalam, katanya cuma pergi sebentar."

Rania memohon β€” dengan mata berkaca yang tidak sepenuhnya dibuat-buat β€” agar boleh melihat kamar itu. Bu Warni luluh, mengambil kunci cadangan dengan tangan gemetar.

Kamar kos Bimo kecil dan rapi, seperti biasa. Seprai terlipat, buku-buku tersusun, gitar tua bersandar di sudut. Tapi ada dua hal yang salah β€” dua hal yang membuat perut Rania melilit.

Pertama: charger HP-nya masih menancap di stopkontak. Bimo tidak pernah β€” tidak pernah β€” pergi tanpa charger. Itu barang paling sakral baginya, sampai Rania pernah mengejeknya sebagai "nyawa kedua".

Kedua: di tempat sampah kecil di sudut kamar, segumpal kertas yang diremas. Rania meratakannya dengan tangan gemetar.

Struk transfer bank. Kemarin sore. Rp200.000.000 β€” masuk ke rekening Bimo.

Dunia Rania miring. Ia duduk di tepi ranjang Bimo yang dingin, menatap angka-angka itu sampai buram. Apakah Bimo menerima uang itu? Apakah "demi Rania" berarti ia menjual kepergiannya β€” mengorbankan tiga tahun mereka untuk melindungi Rania dari orang-orang bermobil hitam?

Atau β€” pikiran yang lebih dingin merayap masuk β€” apakah uang itu ditransfer tanpa persetujuannya? Sebagai jebakan. Sebagai cara mengikat. Sebagai harga yang dipaksakan pada seseorang yang menolak dibeli.

Ia melipat struk itu dan menyimpannya. Di bawah bantal, ia menemukan buku catatan kecil bersampul lusuh. Dibukanya β€” tulisan tangan Bimo yang rapi: "Tabungan cincin: 1.200.000 / 2.500.000. Perak cukup. Yang penting melingkar."

Air mata Rania jatuh ke halaman itu sebelum ia sempat menahannya. Lelaki ini menabung receh demi receh untuk cincin perak β€” dan seseorang mengira dua ratus juta bisa membelinya.

Ia teringat malam di bawah pohon beringin, Bimo yang memeluknya erat dan berbisik "aku nggak akan ke mana-mana." Waktu itu ia mengira itu janji. Sekarang ia mengerti: itu pamit. Bimo sudah tahu malam itu bahwa waktunya hampir habis β€” dan ia memilih menghabiskan sisa waktu yang ia punya dengan memeluk Rania, bukan dengan menakutinya.

"Nduk?" Bu Warni berdiri di pintu dengan wajah khawatir. "Kamu nggak apa-apa?"

Rania buru-buru mengusap matanya dan menutup buku catatan itu, mengembalikannya ke bawah bantal β€” tepat seperti semula. "Bu, kalau Bimo kembali β€” atau menghubungi Ibu β€” tolong bilang saya mencarinya. Bilang..." suaranya tercekat, "bilang saya tidak marah. Saya cuma mau dia pulang."

Bu Warni mengangguk, matanya ikut berkaca. "Anak itu baik, Nduk. Siapapun yang membawanya, saya doakan dia kembali dengan selamat."

Ponselnya bergetar. Reza.

"Aku di kos Bimo," kata Rania sebelum Reza sempat bicara. "Dia dibawa mobil hitam semalam. Dan Reza β€”" suaranya pecah, "ada transfer dua ratus juta masuk ke rekeningnya kemarin sore."

Hening panjang di seberang. Lalu suara Reza, tenang dan tajam seperti pisau: "Jangan simpulkan apa-apa dulu. Uang bisa ditransfer tanpa persetujuan β€” sebagai jebakan, atau sebagai cara mengikat seseorang. Terutama seseorang yang menolak dibeli."

"Kamu dapat sesuatu soal mobilnya?"

"Satpam komplek vila bilang mobil hitam sering parkir di ujung jalan sejak seminggu lalu. Plat B 1874, sebagian tertutup lumpur. Aku sedang mencari sisanya." Jeda. "Rania. Pulang sekarang. Jangan ke mana-mana lagi hari ini."

"Akuβ€”"

"Tolong," kata Reza, dan ada nada yang jarang Rania dengar darinya β€” bukan perintah, melainkan permohonan. "Aku tidak mau menerima foto lain."

Rania pulang dengan struk transfer terlipat di sakunya β€” terasa seperti menyimpan bara api. Di angkot, ia menatap keluar jendela tanpa benar-benar melihat. Dua ratus juta. Angka itu menari-nari di kepalanya, berubah bentuk: kadang terlihat seperti pengkhianatan, kadang seperti pengorbanan, kadang seperti jerat.

Ia memilih percaya pada Bimo. Bukan karena buktinya mendukung β€” tapi karena tiga tahun lebih berat dari selembar struk. Karena lelaki yang menabung receh demi cincin perak tidak menjual dirinya dalam semalam.

Malamnya ia duduk di kamarnya, menatap struk transfer dan foto Bimo yang berjejer di meja β€” dua potong puzzle yang tidak mau menyatu. Ponselnya tergeletak di sampingnya, diam seperti hewan yang sedang mengintai.

Pukul sembilan malam, ponsel itu bergetar. Nomor tak dikenal.

Tangan Rania gemetar saat menekan tombol hijau. Ia mengangkat, tidak bicara.

Di seberang, suara yang diubah β€” datar, mekanis, seperti robot yang belajar bicara: "Besok jam sepuluh pagi. Parkiran lantai tiga Mal Artha. Datang sendiri."

"Siapaβ€”"

"Bawa siapa pun β€”" suara itu memotongnya, dingin, "Bimo yang bayar."

Tut.

Rania menatap ponselnya lama. Jam sepuluh lagi. Angka itu mulai terasa seperti umpan yang dipasang khusus untuknya β€” dan ia, seperti ikan yang bodoh, tidak punya pilihan selain menyambarnya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!