Suara Paman yang Selama Ini Kucari
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,843 kata
"Paman?" Suaraku pecah di tengah kata itu, dan aku harus menelan ludah supaya bisa melanjutkan. "Paman Raka? Benarkah ini Paman?"
Di seberang sana, lelaki itu tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti orang yang sudah terlalu lama menahan tangis. "Benar, Rania. Ini aku. Maafkan aku menelepon dari nomor yang sama dengan nomor yang mengancammu. Aku memakai ponsel ini supaya tidak ada yang tahu aku menghubungimu. Ponsel ini bukan milikku. Ponsel ini milik orang yang membantuku bersembunyi."
Aku menatap Bimo, dan Bimo menatapku, dan kami berdua sama-sama tidak percaya pada apa yang sedang terjadi. Selama ini aku mengira nomor itu milik pengancamku. Ternyata nomor itu juga dipakai oleh pamanku sendiri, untuk menghubungiku tanpa ketahuan. Berarti selama ini, pesan-pesan ancaman itu dan panggilan ini datang dari nomor yang sama, tetapi dari tangan yang berbeda. Atau, yang lebih mengerikan, dari tangan yang sama, yang berpura-pura menjadi dua orang.
"Paman, di mana Paman sekarang?" tanyaku, suaraku masih bergetar. "Apakah Paman aman? Kami di Solo. Kami baru dari bengkel Paman. Bu Marni memberikan buku catatan Paman kepada kami."
Hening sejenak, lalu suara itu melembut. "Bagus. Berarti kamu sudah menemukan buku itu. Aku memang meninggalkan buku itu untukmu, supaya kamu tahu aku tidak lari darimu. Aku pergi karena aku harus memastikan satu hal, Rania, dan sekarang aku sudah memastikannya. Aku ingin bertemu denganmu. Bukan di bengkel, bukan di tempat yang ramai. Di tempat yang hanya diketahui oleh orang yang kupercaya."
"Di kota itu?" tanyaku pelan. "Kota yang namanya tertinggal di halaman yang sobek?"
"Ya," jawabnya. "Klaten. Ada sebuah rumah kecil di pinggir sawah, milik temanku, Wiryo, orang yang dulu bekerja bersamaku di bengkel pertama. Ia tidak memihak siapa pun. Ia hanya memberiku tempat untuk berpikir. Datanglah ke sana siang ini, sebelum matahari terlalu tinggi, supaya tidak ada yang memperhatikan kalian. Dan Rania, dengarkan aku baik-baik. Jangan beri tahu siapa pun tentang pertemuan ini. Tidak Ratna, tidak Pak Darmawan, tidak siapa pun, sebelum kita selesai bicara. Kalau orang yang mengancammu tahu kita bertemu, ia akan datang sebelum kita selesai."
Aku mengangguk, meskipun ia tidak bisa melihatku. "Kami akan datang, Paman. Aku dan Bimo saja. Tidak ada orang lain."
"Bagus," katanya. "Dan satu hal lagi. Bawa surat ibumu. Surat yang tersegel itu. Aku ingin membacanya dengan tanganku sendiri, setelah belasan tahun. Aku tidak mau lagi mendengar cerita tentang ibumu dari mulut orang lain."
Telepon itu terputus, dan aku berdiri mematung di depan pintu penginapan, dengan ponsel masih menempel di telinga, seolah kalau kulepaskan, suara itu akan hilang selamanya. Bimo menggenggam bahuku, membawaku kembali ke dalam kamar, dan baru di sana aku bisa bernapas dengan normal lagi.
"Rania," kata Bimo, "kita harus berpikir jernih. Pamanmu baru saja menelepon dari nomor yang sama dengan nomor pengancam. Itu bisa berarti dua hal. Pertama, ia memang memakai ponsel orang lain untuk bersembunyi, seperti katanya. Kedua, orang yang mengancammu sedang mempermainkan kita, berpura-pura menjadi Raka supaya kita datang ke tempat yang ia inginkan."
Aku mengangguk. Pikiran yang sama sudah melintas di kepalaku. "Tetapi Bimo, suara itu menyebutku anak dari adiknya. Ia tahu aku anak dari adiknya. Ia tahu soal surat ibuku yang tersegel. Orang asing tidak akan tahu sedetail itu, kecuali ia memang Raka, atau kecuali ia orang yang sangat dekat dengan keluarga kami."
"Dan itu justru yang membuatku khawatir," kata Bimo. "Ingat kertas yang terjatuh dari buku catatan itu? Kalau pengancammu tahu kita di Solo, berarti ia orang yang tahu rencana kita. Orang itu ada di lingkaran kita. Kalau ia bisa berpura-pura menjadi Raka, ia juga bisa tahu soal surat tersegel itu, karena surat itu dibicarakan di ruang tamu kemarin pagi."
Kami diam cukup lama, menimbang-nimbang. Di satu sisi, ada kerinduan yang begitu besar untuk percaya bahwa paman yang kucari akhirnya menghubungiku. Di sisi lain, ada ketakutan yang masuk akal, bahwa pertemuan ini bisa jadi jebakan. Tetapi kemudian aku teringat pada kalimat terakhir di buku catatan Raka: jangan menyerah, aku akan kembali. Dan aku teringat pada kata-kata Bu Marni: Raka pergi bukan karena takut, melainkan karena dijemput, untuk menyelesaikan urusan keluarga yang tertunda.
"Kita pergi," kataku akhirnya. "Tetapi kita pergi dengan cara kita sendiri. Kita tidak langsung ke rumah Wiryo itu. Kita berhenti dulu di tempat ramai, kita periksa apakah ada yang mengikuti kita, dan kita siapkan rencana kalau ternyata yang menunggu di sana bukan Paman Raka. Kita tidak membawa semua dokumen asli. Kita bawa salinannya saja, kecuali surat ibuku, karena surat itu yang diminta Paman, dan surat itu hanya bisa dibaca sekali oleh orang yang berhak."
Bimo mengangguk. "Dan kita beri tahu satu orang saja, supaya kalau terjadi apa-apa, ada yang tahu ke mana kita pergi. Bukan Ratna, bukan Pak Darmawan. Kita kirim pesan ke Reza. Ia bukan bagian dari lingkaran kemarin pagi yang merencanakan perjalanan ini. Ia tahu kita di Solo, tetapi ia tidak tahu soal Klaten. Kalau kita menghilang, Reza yang akan tahu ke mana kita terakhir pergi."
Aku setuju. Aku mengirim pesan singkat kepada Reza: kami menuju Klaten, ke rumah teman Paman Raka, dan akan memberi kabar lagi sore ini. Setelah itu, kami memeriksa map sekali lagi, memisahkan dokumen asli dan salinannya, dan berangkat menuju Klaten dengan mobil yang sama, dengan hati yang sama-sama berdebar.
Perjalanan ke Klaten tidak jauh, tetapi terasa sangat panjang. Jalanan mulai sepi ketika kami meninggalkan pusat kota Solo, berganti dengan sawah dan rumah-rumah kecil. Bimo menyetir dengan tenang, tetapi matanya terus melirik ke kaca spion, memeriksa setiap mobil di belakang kami. Aku pun ikut memeriksa, dan untuk beberapa kilometer, tidak ada yang mencurigakan. Hanya motor dan mobil biasa, yang berbelok ke arah yang berbeda-beda.
Tetapi ketika kami sudah setengah jalan, Bimo mengeraskan rahangnya. "Rania," katanya pelan, "lihat kaca spion kanan. Mobil hitam di belakang kita. Ia sudah mengikuti kita sejak tiga belokan yang lalu, dan ia tidak pernah menyalip, padahal jalan ini kosong."
Aku menoleh, dengan gerakan yang kubuat senatural mungkin. Mobil itu memang ada, hitam, dengan kaca yang gelap, menjaga jarak yang sama di belakang kami, tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Jarak orang yang sedang mengikuti, bukan jarak orang yang sedang bepergian.
"Jangan panik," kata Bimo. "Kita belok ke pasar kecil di depan. Kalau mobil itu ikut belok, berarti ia memang mengikuti kita. Kalau tidak, berarti hanya kebetulan."
Kami berbelok ke arah pasar, melewati deretan kios yang ramai, dan dari kaca spion, aku melihat mobil hitam itu berbelok juga, dengan pelan, seperti tidak ingin kehilangan kami di keramaian. Darahku berdesir. Seseorang memang mengikuti kami, sejak Solo, sejak kami keluar dari penginapan, mungkin sejak kami keluar dari warung Bu Marni kemarin.
Bimo tidak berhenti di pasar. Ia melaju terus, melewati pasar, berbelok ke jalan kecil, lalu ke jalan yang lebih kecil lagi, sampai akhirnya kami berhenti di depan sebuah masjid kecil yang halamannya ramai dengan orang. "Kita turun di sini," katanya. "Kita pura-pura salat atau istirahat. Kita lihat apakah mobil itu berhenti juga, atau lewat begitu saja."
Kami turun, berjalan ke halaman masjid, dan duduk di bangku panjang di bawah pohon. Dari sana, kami bisa melihat jalan. Mobil hitam itu melambat di depan masjid, seolah ragu, lalu melaju lagi, pelan, dan menghilang di tikungan. Bimo menghela napas, tetapi ia tidak langsung lega.
"Ia tidak berhenti," katanya, "tetapi ia juga tidak pergi jauh. Ia mungkin menunggu di tikungan, atau ia sudah tahu ke mana kita pergi, sehingga ia tidak perlu mengikuti kita lagi."
Aku memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diriku. "Bimo, kalau orang itu sudah tahu kita menuju Klaten, berarti ia sudah tahu lebih dulu daripada kita. Berarti pertemuan ini memang sudah ditunggunya. Dan kalau begitu, kita harus memutuskan sekarang juga: lanjut, atau kembali ke Solo dan menunggu sampai keadaan lebih aman?"
Bimo menggenggam tanganku. "Rania, dengarkan aku. Kalau kita kembali sekarang, kita tidak akan pernah tahu apakah suara di telepon itu benar-benar pamanmu. Tetapi kalau kita lanjut, kita harus lanjut dengan cara yang paling aman: kita tidak langsung ke rumah Wiryo. Kita berhenti di rumah makan di Klaten, kita telepon nomor itu lagi, kita minta Paman Raka sendiri yang keluar menjemput kita di tempat ramai, supaya kita bisa melihat wajahnya dulu, sebelum masuk ke rumah siapa pun."
Aku mengangguk. Itu rencana yang masuk akal. Kami kembali ke mobil, dan melaju ke Klaten dengan hati yang lebih tenang, meskipun tidak sepenuhnya tenang. Di tengah perjalanan, ponselku bergetar lagi. Nomor yang sama. Pesan yang sama singkatnya, tetapi kali ini isinya berbeda, dan membuatku menatap Bimo dengan mata yang membesar, karena pesan itu berbunyi: "Kalian berhenti di masjid tadi. Bagus, kalian berhati-hati. Tetapi orang yang mengikuti kalian bukan aku. Aku yang meneleponmu tadi. Dan orang yang mengikuti kalian, barusan meneleponku, menanyakan apakah kalian sudah sampai."
Aku membaca pesan itu tiga kali, dan setiap kali membacanya, aku semakin tidak mengerti siapa yang sedang berbicara denganku. Kalau orang yang meneleponku tadi benar-benar Paman Raka, berarti ia sedang diawasi juga, dan orang yang mengikutiku baru saja meneleponnya, menanyakan tentangku. Berarti Paman Raka dan aku, kami berdua sedang diawasi oleh orang yang sama, dan orang itu sedang berdiri di antara kami, memisahkan kami dengan ancaman dan kebohongan.
Tetapi kalau orang yang mengirim pesan ini adalah pengancamku, yang sedang berpura-pura menjadi Raka, maka pesan ini adalah cara paling licik untuk membuatku percaya padanya: mengaku sebagai paman, mengaku sedang diawasi, supaya aku merasa senasib dengannya, supaya aku datang tanpa curiga.
Aku menunjukkan pesan itu kepada Bimo, dan Bimo membaca dengan dahi yang berkerut. "Rania," katanya pelan, "pesan ini membuktikan satu hal yang pasti: siapa pun yang mengirimnya, ia tahu kita berhenti di masjid. Berarti ia memang mengawasi kita, atau ia mendapat kabar dari orang yang mengawasi kita. Dan itu berarti, kita tidak bisa lagi membedakan mana pesan dari pamanmu, mana pesan dari pengancammu, hanya dari nomornya."
Aku mengangguk, dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar lelah dengan permainan ini. Tetapi aku juga tahu, hanya ada satu cara untuk mengakhirinya: bertemu dengan orang itu, tatap muka, melihat matanya, dan mendengar suaranya tanpa perantara ponsel. Entah ia Paman Raka atau bukan, pertemuan itu harus terjadi, karena hanya pertemuan yang bisa membedakan kebenaran dari kebohongan.
"Bimo," kataku, "kita lanjut ke Klaten. Kita minta ia keluar menjemput kita di tempat ramai. Dan kalau yang keluar bukan paman yang matanya mirip ibuku, kita pergi saat itu juga, tanpa menoleh ke belakang."
Bimo mengangguk, menyalakan mesin, dan kami melaju lagi. Tetapi baru beberapa menit kami berjalan, ponselku berdering lagi, bukan pesan, melainkan panggilan, dari nomor yang sama. Aku menjawab dengan tangan yang gemetar, dan suara yang terdengar kali ini bukan suara lelaki tua yang serak dan bergetar seperti tadi pagi. Suara kali ini adalah suara perempuan, tua, tenang, dan sangat kukenal, suara yang membuatku langsung mematung, karena suara itu berkata, "Rania, jangan datang ke Klaten. Pamanmu tidak ada di sana. Aku yang selama ini meneleponmu, dan aku yang harus bicara denganmu dulu, sebelum kamu bertemu siapa pun."