β€Ή
54. Rahasia Terakhir

Rahasia Terakhir

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,285 kata

Ilustrasi Rahasia Terakhir

Aku tidak menoleh. Itu hal tersulit yang pernah kulakukan dalam hidupku β€” tidak menoleh saat seseorang dipukuli karena melindungiku.

Parit itu licin dan gelap. Air becek menyiram betisku setiap kali kakiku menghantam dasar. Di belakangku, suara-suara itu semakin jauh tapi tidak hilang: bentakan, bunyi sesuatu diseret, pintu mobil dibanting. Lalu mesin-mesin meraung lagi β€” menjauh.

Atau mendekat ke arahku? Aku tidak tahu. Aku terus berlari.

Parit itu bermuara ke petak sawah yang baru dipanen β€” tunggul-tunggul padi menusuk telapak tanganku saat aku tersungkur dan bangkit lagi. Jaketku basah kuyup. Buku catatan kakekku β€” kubungkus dengan kaus dalam yang kupakai rangkap β€” selamat di pelukanku, hangat seperti jantung kedua.

Aku mencapai rumpun bambu tempat motorku kuparkir. Sebelum menyentuhnya, aku berhenti dan mendengarkan β€” hening, kecuali jangkrik dan debar jantungku sendiri. Aku membuka jaket, memeriksa buku itu sekali lagi di bawah cahaya ponsel yang kuredupkan: utuh, kering, tulisan kakekku masih tegas di halaman pertama. Aku membungkusnya lagi dengan kaus dalam, memasukkannya ke dalam tas selempang kecil yang kuikatkan di pinggang, di bawah jaket. Kalau aku jatuh dari motor, buku ini tidak boleh terlepas.

Tangan-tanganku gemetar begitu hebat sampai tiga kali gagal memasukkan kunci kontak. Saat mesin akhirnya menyala, aku tidak menyalakan lampu. Aku melaju dalam gelap, hanya mengandalkan hafalan jalan dan cahaya redup dari kejauhan.

Di tengah jalan, aku berhenti dan muntah di pinggir sawah. Bukan karena becek atau lelah. Karena suara pukulan itu terus terngiang β€” dan karena Fikri tidak berteriak sama sekali. Orang yang tidak berteriak saat dipukuli adalah orang yang sudah memutuskan untuk menanggung semuanya sendirian.

Seperti Bimo semalam, waktu ia membiarkan dirinya ditawan untuk melindungiku.

Keluarga ini β€” keluarga Bimo β€” terus saja menanggung luka demi aku, sementara aku terus saja berbohong demi mereka.

Pukul setengah dua dini hari, aku mendorong motorku masuk ke gang rumah. Lampu teras menyala. Itu aneh β€” biasanya Bapak mematikan lampu teras sebelum tidur.

Pintu depan tidak dikunci.

Aku melangkah masuk dengan sepatu becek β€” dan membeku.

Bimo duduk di kursi ruang tamu. Di sebelahnya, Bapakku, masih memakai sarung dan kaus oblong, wajahnya tegang. Di dapur, Ibuku berdiri dengan dua cangkir teh yang sudah dingin, matanya sembab.

Tiga pasang mata menatapku β€” perempuan becek berlumpur dari ujung rambut sampai sepatu, memeluk sesuatu di dalam jaketnya seperti pencuri yang tertangkap basah.

"Halo," kataku bodoh.

Bimo berdiri. Pelan. Wajahnya bukan marah β€” dan justru itu yang paling menghancurkan. Wajahnya hancur.

"Ibumu meneleponku jam sebelas," katanya. Suaranya datar. "Katanya kau keluar tanpa bilang, pakai jaket, bawa motor. Katanya firasatnya tidak enak."

Dari dapur, Ibuku bersuara pelan, nyaris berbisik: "Ibu mendengar pintu gerbang, Nduk. Ibu mengintip dari jendela... kau berjalan jinjit seperti waktu kecil mau kabur nonton layar tancap." Ia tertawa kecil yang berubah menjadi isak. "Ibu langsung telepon Bimo. Ibu tidak tahu harus telepon siapa lagi."

Aku menatap ibuku β€” perempuan yang dulu ikut memaksakan perjodohanku, yang kini menjadi orang pertama yang menyadari aku dalam bahaya dan tahu persis siapa yang harus dihubungi. Sesuatu yang hangat sekaligus perih menjalari dadaku. Ia menatapku dari atas sampai bawah. "Aku menunggu di sini sejak jam sebelas lewat lima belas, Ran. Sudah hampir tiga jam."

"Bim, aku bisa jelaskanβ€”"

"Tidak." Ia mengangkat tangan. "Tidak usah. Aku sudah tahu kau akan bilang apa. Kau akan bilang kau melakukannya untuk melindungiku. Untuk melindungi kita semua." Matanya berkaca. "Kita berjanji, Rania. Tadi pagi. Di Kafe Sore. Tidak ada lagi rahasia."

Air mataku akhirnya jatuh β€” bercampur lumpur di pipiku. "Aku tahu. Aku tahu aku melanggarnya di malam yang sama. Akuβ€”"

"Yang disita polisi itu fotokopi, kan?" potong Bimo. "Itu sebabnya kau pergi. Pesan misterius itu soal buku kakekmu."

Aku menatapnya, terkejut. "Kau tahu?"

"Fajar meneleponku jam sepuluh. Dia melacak nomor pengirim pesan itu β€” nomor sekali pakai, tapi sinyal terakhirnya..." Bimo menarik napas. "Sinyal terakhirnya dari kos Fikri."

Jadi mereka sudah tahu. Semua orang sudah tahu, kecuali aku yang mengira aku pintar menyelinap.

Aku mengeluarkan buku catatan batik itu dari dalam jaketku. Kaus dalamku basah, tapi bukunya selamat β€” hanya sudutnya yang sedikit lembap. Aku meletakkannya di meja ruang tamu dengan kedua tangan, seperti meletakkan sesaji.

"Fikri yang mengirim pesan itu," kataku pelan. "Dia yang menukar buku aslinya semalam di gudang. Dia memberikannya padaku di tanah Cikarang." Suaraku pecah. "Lalu anak buah Darmawan datang. Mereka mengikutinya. Fikri menyuruhku lari. Aku... aku lari, Bim. Aku mendengar mereka memukulinya dan aku terus lari."

Keheningan menggantung. Ibuku terisak di dapur. Bapakku menunduk, tangannya mengepal.

Bimo berjalan mendekat. Aku menunggu bentakan, menunggu ia pergi. Sebaliknya, ia berlutut di depanku β€” aku masih berdiri becek di tengah ruang tamu β€” dan menggenggam tanganku yang berlumpur.

"Aku tidak marah kau pergi, Ran," bisiknya. "Aku marah karena kau pikir aku tidak cukup kuat untuk ikut menanggungnya bersamamu."

Itu menghantamku lebih keras daripada pukulan apa pun. "Aku takut, Bim. Aku takut kalau kau ikut, mereka akan mengambilmu juga. Aku sudah melihatmu ditawan sekali. Aku tidak sanggup melihatnya dua kali."

"Lalu kau pikir aku sanggup?" Air matanya jatuh ke tanganku. "Duduk di sini tiga jam, membayangkan kau di luar sana sendirian? Kau melindungiku dengan cara yang justru membunuhku pelan-pelan, Ran."

Aku berlutut juga, lumpur menempel di lantai yang baru dipel Ibuku. Kami berlutut berhadapan di ruang tamu jam setengah dua dini hari, dua orang bodoh yang saling mencintai dengan cara yang salah.

"Maaf," bisikku. "Sungguh, maaf."

Ia memelukku β€” erat, becek, dan semuanya. "Kakakku... Fikri kenapa?"

"Aku tidak tahu," kataku di bahunya. "Mereka membawanya. Atau..." Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimat itu.

Bapakku berdiri, mengambil ponselnya. "Aku telepon Joko. Dia punya kenalan yang bisa cari tahu ke mana mereka bawa Fikri." Untuk pertama kalinya, Bapakku tidak melarangku. Ia malah ikut berperang.

Malam itu kami tidak tidur. Kami membuka buku catatan kakekku di meja ruang tamu β€” aku, Bimo, Bapak, Ibu β€” empat orang dengan mata sembab mengelilingi buku tua bermotif batik.

Sebagian besar isinya sudah kami kenal dari fotokopi: catatan transaksi, tanggal-tanggal, nama-nama. Tapi di halaman-halaman terakhir β€” halaman yang tidak ada di fotokopi karena Fikri memfotokopi dengan terburu-buru β€” ada sesuatu yang baru.

Sepucuk kwitansi terlipat, diselipkan di antara halaman. Kwitansi pembayaran dengan stempel perusahaan Darmawan, bertanggal... tiga minggu SETELAH Gatot dibunuh.

Tanganku gemetar memegangnya. "Ini buktinya," bisikku. "Bukti bahwa penipuan AJB-nya terus berjalan bahkan setelah Gatot dibunuh. Mereka tidak berhenti. Mereka tidak pernah berniat berhenti."

Bapakku menunjuk catatan kecil di pinggir kwitansi β€” tulisan kakekku yang hampir terhapus: "Setiap ada yang mati, mereka ganti nama PT. Tapi tanda tangannya sama. Orang yang sama. Cari orang dalamnya."

"Kakekmu sudah tahu polanya bertahun-tahun lalu," kata Bimo pelan. "Darmawan membunuh, mengganti bendera perusahaan, lalu lanjut lagi. Dan selalu ada orang dalam yang memastikan polisi tidak pernah sampai ke tanda tangan itu."

Aku meraba tulisan kakekku dengan ujung jari. Dingin. Tegas. Seperti ia masih duduk di antara kami, mengawasi dari kursinya yang kosong.

Dan di bawah kwitansi itu, terselip sebuah foto kecil yang sudah menguning: Gatot β€” masih hidup, tertawa lebar β€” berdiri di samping seorang lelaki berjas yang wajahnya dilingkari tinta merah oleh kakekku. Di bawah lingkaran itu, tulisan tangan kakekku yang tegas:

"Orang dalam. Hati-hati."

Bimo menatap foto itu lama. Wajahnya berubah β€” seperti wajah orang yang mengenali sesuatu yang tidak ingin dikenali.

"Bim? Kau kenal orang ini?"

Ia tidak menjawab. Ponselnya bergetar di sakunya. Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar, mendengarkan sebentar, lalu menatapku dengan mata yang kosong.

"Itu Fajar," katanya pelan. "Kos Fikri kosong. Pintunya didobrak. Ponselnya mati. Tetangganya melihat mobil hitam parkir di depan kos jam setengah satu tadi."

Ia menatapku. "Kakakku hilang, Ran."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!