Api di Teras Rumah Nadia
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,458 kata
Kami tiba di Cikarang dua puluh menit sebelum polisi.
Rumah Nadia β rumah masa kecil Arif β berdiri di ujung gang yang gelap, catnya mengelupas, satu-satunya cahaya berasal dari lampu teras yang berkedip-kedip. Bimo mematikan mesin motor di tikungan, dan kami berjalan kaki mendekat dalam hujan yang semakin deras.
"Ingat rencananya," bisik Bimo. "Kita tidak masuk. Kita pastikan Fajar aman dan tunggu Komisaris Ratna. Adit itu berbahaya, Ran. Dia sudah merencanakan ini dua belas tahun."
Aku mengangguk, tapi tanganku tetap menggenggam erat fotokopi surat kakek di dalam tas β bukan yang asli. Yang asli sudah kutitipkan pada Komisaris Ratna tiga jam lalu, difoto dan diamankan sebagai barang bukti. Yang kubawa hanyalah salinan. Jika Adit menginginkan kertas itu, dia hanya akan mendapatkan bayangannya.
Kami mengintip dari balik pagar. Di teras, Fajar duduk di kursi plastik dengan kepala tertunduk. Di depannya berdiri seorang pria kurus berusia lima puluhan, rambutnya beruban tidak rata, jaket kulitnya basah kuyup. Di tangannya β aku menahan napas β sebuah ponsel yang layarnya menampilkan foto seorang pria berbaju tahanan oranye di dalam sel.
Adit.
"Lihat, Fajar," suara Adit terdengar sampai ke tempat kami bersembunyi, licin seperti minyak. "Ayahmu baik-baik saja... untuk sekarang. Tapi di dalam sana, kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Salah makan, salah kamar, salah teman. Kamu mau ayahmu pulang dengan selamat? Serahkan buku kas kakeknya Rania. Besok malam. Di gudang tua."
"Om bohong," suara Fajar bergetar. "Mbak Rania bilang Om cuma menggertak."
Adit tertawa pendek. "Rania itu anak kemarin sore. Dia tidak tahu apa-apa tentang dunia orang dewasa. Tanya ibumu β eh, maksudku, tantemu Nadia. Tanya dia siapa yang mengenalkan ayahmu ke kakeknya Rania. Tanya dia siapa yang membuat ayahmu percaya tanah itu dirampas."
Fajar mendongak. "Apa maksud Om?"
"Ayahmu itu orang baik, Fajar. Terlalu baik, terlalu polos. Dia butuh seseorang yang menunjukkan kebenaran padanya. Dan kebenaran itu..." Adit mencondongkan tubuhnya, "...ada di buku kas itu. Buku yang membuktikan kakeknya Rania merampas tanah ayahmu."
Kebohongan itu β diucapkan dengan begitu meyakinkan β membuat tanganku mengepal sampai kukuku menancap di telapak tangan. Dua belas tahun. Pria ini meracuni pikiran Arif selama dua belas tahun dengan kebohongan yang sama, lalu meracuni Fajar yang baru sembilan belas tahun dengan racun yang sama persis.
Suara sirene meraung di kejauhan. Adit menoleh tajam. Dalam sekejap, wajah licinnya berubah β topeng ramahnya retak, memperlihatkan sesuatu yang dingin dan putus asa di baliknya.
"Polisi," desisnya. Dia mencengkeram kerah Fajar, menyeretnya berdiri. "Kamu ikut denganku, Nak. Kamu jaminanku."
Tidak ada waktu untuk rencana. Aku melompat dari balik pagar sebelum Bimo sempat menahanku.
"LEPASKAN DIA, ADIT!"
Adit membeku. Matanya β mata yang tajam dan penuh perhitungan β menatapku seperti elang menatap mangsa yang datang sendiri.
"Rania," katanya, dan cara dia mengucapkan namaku membuat bulu kudukku berdiri. "Cucu Pak Wirya. Kamu mirip kakekmu. Sama-sama keras kepala. Sama-sama... menyimpan barang yang bukan milikmu."
"Fajar tidak ada hubungannya dengan ini," kataku, melangkah maju dengan kaki gemetar tapi suara yang kutahan agar tegas. "Lepaskan dia. Kamu mau halaman 47? Aku yang bawa. Ini urusan antara kamu dan keluargaku."
Bimo muncul di sampingku, tubuhnya tegang seperti kawat. "Ran, janganβ"
"Tidak apa-apa," bisikku tanpa menoleh. Lalu, lebih keras, pada Adit: "Tapi sebelum kamu mengambilnya, aku mau kamu dengar sesuatu. Sesuatu yang ditulis kakekku β tentang kamu."
Aku mengeluarkan fotokopi itu dari tas. Hujan membasahi kertasnya, tapi aku sudah menghafal isinya di luar kepala.
"Kakek membayar kamu lunas, Adit. Lunas. Halaman 47 mencatat setiap rupiah komisi yang kamu ambil dari dua sisi β dari ayah Arif dan dari kakekku. Dan di balik halaman itu, kakek menulis satu hal lagi yang tidak pernah kamu duga dia tahu."
Wajah Adit berubah. Untuk pertama kalinya, aku melihat keraguan di sana.
"Kakek tahu kamu berjudi," lanjutku. "Dia tahu uang komisi yang dia bayar lunas itu habis di meja judi dalam tiga bulan. Sama persis seperti ayah Arif β Pak Sarta β yang menjual tanahnya untuk menutup utang judi. Kamu dan Pak Sarta... kalian berdua sakit dengan penyakit yang sama. Bedanya, Pak Sarta akhirnya sadar dan bertobat sebelum meninggal. Kamu tidak. Kamu malah kembali memeras kakekku, lalu saat ditolak, kamu menanam kebencian di kepala Arif agar dia melakukan pekerjaan kotormu."
"DIAM!" bentak Adit. Tangannya gemetar β bukan karena takut, tapi karena marah yang meluap. "Kamu tidak tahu apa-apa! Wirya itu licik! Dia memutusku begitu saja setelah aku bertahun-tahun mengabdi! Uang itu hakku!"
"Hakmu?" Suara lain menyahut dari kegelapan gang. Nadia melangkah keluar dari balik mobil polisi yang baru tiba, wajahnya basah oleh hujan dan air mata. "Kamu mengambil komisi dari ayahku yang sudah terdesak utang, Adit. Kamu mengambil komisi dari Pak Wirya yang percaya padamu. Lalu kamu menghabiskannya untuk judi dan kembali menuntut lebih. Dan saat ditolak... kamu datang ke adikku yang sedang berduka dan mengisinya dengan kebohongan. Dua belas tahun, Adit. Kamu menghancurkan hidup adikku selama dua belas tahun."
Komisaris Ratna dan empat anggotanya mengepung teras. "Adit! Lepaskan anak itu! Kamu sudah terkepung!"
Adit tertawa β tawa yang terdengar seperti kaca pecah. Dengan gerakan tiba-tiba, dia menyambar jeriken bensin dari samping teras β rupanya sudah disiapkannya β dan menyiramkannya ke lantai kayu.
"Mundur!" teriaknya, mengacungkan korek api. "Kalau aku tidak bisa dapat halaman 47, tidak ada yang boleh memilikinya! Rumah ini, gudang itu, semuanya akan kubakar seperti seharusnya kulakukan lima belas tahun lalu!"
Waktu melambat. Aku melihat Bimo bergerak β bukan mundur, melainkan maju, menerjang ke arah Fajar. Aku melihat Komisaris Ratna mengangkat tangannya memberi aba-aba. Aku melihat korek api itu menyala dengan api kecil yang menari-nari di tengah hujan.
Lalu semuanya terjadi sekaligus.
Bimo menyergap Fajar, menjatuhkannya ke lantai teras yang basah, menjauh dari semburan bensin. Seorang polisi menembak ke udara β letusan yang memecah malam. Adit terkejut, tangannya tersentak, korek api itu jatuh β bukan ke lantai yang basah bensin, melainkan ke genangan air hujan di tepi teras. Api kecil itu padam dengan desis yang nyaris terdengar mengejek.
Dalam tiga detik, dua polisi sudah membekuk Adit ke lantai. Borgol mengunci. Sama seperti Arif kemarin β tapi kali ini, tidak ada air mata penyesalan. Hanya makian dan tuduhan yang meluap-luap dari mulut pria yang topengnya akhirnya hancur total.
Fajar terisak di pelukan tantenya. Bimo duduk di lantai teras, napasnya memburu, bajunya basah kuyup. Aku berlutut di sampingnya, memeriksa wajah dan tangannya dengan panik.
"Kamu gila!" bentakku sambil menangis. "Kamu bisa terbakar!"
Dia tersenyum lemah, mengusap air mataku dengan ibu jarinya yang basah. "Kata Ayahmu, aku harus menjagamu. Menjaga Fajar juga termasuk, kan?"
Komisaris Ratna mendekat, menatap kami berdua dengan sorot yang melembut di balik ketegasannya. "Kalian berdua... selalu membuat pekerjaan kami lebih sulit. Tapi malam ini, kalian menyelamatkan seorang anak sembilan belas tahun dari penculiknya. Terima kasih."
Adit digiring ke mobil polisi. Sebelum pintu ditutup, dia menoleh ke arahku dan berteriak, "Kamu pikir ini selesai, Rania?! Kamu pikir kakekmu bersih?! Tanya ayahmu! Tanya Darman soal surat pelepasan tahun 2009! Tanya dia siapa yang menandatanganinya!"
Pintu mobil dibanting menutup. Sirene menjauh, ditelan hujan.
Aku berdiri mematung. Surat pelepasan tahun 2009. Ayahku. Apa lagi yang disembunyikan keluargaku dariku?
Nadia memelukku dari samping. "Jangan pikirkan sekarang, Nak. Malam ini, kita pulang. Fajar aman. Adit tertangkap. Itu yang penting."
Di perjalanan pulang, Bimo menggenggam tanganku di atas jok motor β erat, seolah takut aku menghilang. Hujan sudah reda, menyisakan jalanan yang berkilau memantulkan lampu kota.
Di depan rumahku, dia tidak langsung pergi. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya β sebuah cincin perak sederhana, tanpa permata, tanpa ukiran mewah.
"Ini bukan lamaran," katanya cepat, melihat mataku membelalak. "Jangan panik. Ini... pengingat. Setelah semua badai ini selesai β setelah halaman 47, setelah Adit, setelah semuanya β aku mau datang ke rumahmu dengan benar. Bawa orang tuaku. Minta izin Ayahmu. Melamarmu seperti seharusnya. Cincin ini janji bahwa hari itu akan datang."
Air mataku jatuh lagi β tapi kali ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, air mata bahagia.
"Aku tunggu hari itu," bisikku.
Dia memasangkan cincin itu di jari manisku β longgar sedikit, tapi hangat. Lalu dia mencium keningku, lama, dalam diam yang berkata lebih banyak daripada seribu kata.
Tengah malam, aku terbangun oleh getaran ponsel di meja nakas.
Bukan nomor Adit. Nomor yang berbeda. Tidak dikenal.
Isinya membuat seluruh kehangatan di dadaku membeku seketika:
"Adit cuma pion. Tanah Cikarang itu dicuri DUA kali. Tanyakan pada ayahmu: siapa yang menandatangani surat pelepasan hak tahun 2009? β S."
Aku menatap layar itu lama. Lalu aku bangkit, berjalan ke kamar Ayah, dan berdiri di depan pintunya yang tertutup.
Dari dalam, terdengar dengkuran halus Pak Darman β tidur nyenyak seorang ayah yang mengira putrinya akhirnya aman.
Tanganku terangkat untuk mengetuk. Lalu terhenti di udara.
Ayah... apa lagi yang kamu sembunyikan dariku?