β€Ή
48. Kurir yang Terpaksa

Kurir yang Terpaksa

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,566 kata

Ilustrasi Kurir yang Terpaksa

Aku duduk di hadapan Reza dengan amplop cokelat di pangkuanku β€” amplop berisi dua puluh sembilan halaman fotokopi kebenaran yang tidak lengkap. Di balik bar, aku bisa merasakan tatapan Bimo membakar punggungku. Tapi aku tidak menoleh. Belum.

"Ceritakan," kataku pada Reza. "Semuanya."

Reza menatap cangkir kopinya yang tidak disentuhnya. "Semalam, setelah aku pulang dari gangmu, ayahku menelepon. Darmawan ada di rumah kami. Dia menunjukkan foto β€” foto aku dan kamu di ujung gang, tengah malam." Ia tertawa pahit. "Dia punya orang di mana-mana, Ran. Bahkan di gangmu sendiri."

Darahku dingin. Seseorang memotret kami semalam. Seseorang mengawasi.

"Lalu?" desakku.

"Ayahku menandatangani surat pernyataan utang baru. Pagi ini. Jumlahnya..." Reza menggeleng. "Dua kali lipat dari sebelumnya. Dan Darmawan bilang β€” kalau aku berhasil mengambil amplop darimu jam sepuluh ini, utang itu kembali seperti semula. Kalau gagal..." Ia menatapku. "Rumah kami disita minggu depan. Ibuku... ibuku sakit jantung, Ran."

Aku memejamkan mata. Inilah cara Darmawan bekerja β€” bukan dengan ancaman terang-terangan, tapi dengan jerat yang dipasang di leher orang-orang yang kau sayangi. Ibu. Ayah Reza. Ibunya Reza.

"Semalam dia datang dengan dua orang," lanjut Reza, suaranya semakin kecil. "Mereka tidak mengancam. Mereka tidak perlu. Darmawan cuma duduk di ruang tamu kami, minum teh buatan ibuku, dan berkata: 'Reza anak yang baik. Sayang kalau masa depannya terganggu.' Ibuku menangis setelah mereka pergi. Ayahku..." Reza tertawa β€” bunyi yang menyedihkan. "Ayahku yang selalu membanggakan nama besarnya, semalam berlutut di depanku. Memohon agar aku mau melakukannya. Melakukan ini." Ia menunjuk dirinya sendiri, lalu aku. "Mengkhianatimu."

"Rezaβ€”"

"Aku benci diriku sendiri, Ran," bisiknya. "Setiap detik sejak semalam."

"Kau juga wayang," bisikku, mengulang kata-kataku semalam.

"Kita semua wayang," kata Reza. "Tapi aku... aku tidak mau jadi wayang yang menyakitimu."

Aku menggeser amplop itu ke tengah meja. "Ini fotokopi. Dua puluh sembilan halaman pertama. Yang asli aman β€” dan akan tetap aman sampai dia melepaskan kita semua." Aku menatap Reza lurus-lurus. "Katakan itu padanya. Katakan aku mau menukar yang asli β€” tapi bukan begini caranya. Bukan dengan ancaman."

Reza menatap amplop itu lama, tapi tidak membukanya. "Aku tidak mau tahu isinya," katanya pelan. "Semakin sedikit aku tahu, semakin aman aku."

Jari-jarinya menyentuh sudut amplop itu β€” ragu, seolah amplop itu panas. Aku melihat pergulatan di wajahnya: rasa bersalah melawan rasa takut, kesetiaan melawan kelangsungan hidup keluarganya. Aku tidak iri padanya. Aku tidak ingin berada di posisinya.

"Reza." Aku meraih tangannya β€” dingin dan gemetar. "Dengarkan aku. Kau tidak harus melakukan ini selamanya. Utang ayahmu bukan utangmu."

"Dan perjodohan kita?" tanyanya tiba-tiba, matanya menatapku tajam. "Itu juga bukan pilihanku, Ran. Tapi..." Ia berhenti, rahangnya mengeras. "Andai aku bertemu kamu bukan karena utang ayahku. Andai semuanya berbeda."

Hatiku mencelos. Di antara semua kekacauan ini, aku hampir lupa: Reza adalah lelaki yang seharusnya menjadi suamiku. Lelaki yang tangannya menggenggam tanganku di depan penghulu seperti dua tawanan.

"Wayang pun bisa memutus benangnya, Reza," kataku pelan. "Ingat itu."

Reza mengangguk, air mata akhirnya jatuh di pipinya. Ia menyeka cepat, mengambil amplop itu, dan berdiri.

"Ran," katanya sebelum pergi. "Satu hal. Ayahku menyimpan sesuatu di brankas kantornya β€” surat perjanjian utang dengan Darmawan. Ada tanda tangan Darmawan juga di sana. Ayahku menyimpannya sebagai..." Ia melirik ke pintu. "Sebagai asuransi. Kalau kau butuh senjata... itu bisa jadi senjata."

Lalu ia pergi, meninggalkan aroma parfumnya yang samar dan sebuah petunjuk yang membuat jantungku berdegup lebih kencang.

Aku memperhatikannya melalui jendela kafe β€” Reza berjalan ke motornya dengan amplop cokelat di tangan, bahunya merosot. Seorang lelaki bertopi menunggunya di parkiran. Mereka berbicara sebentar. Lelaki itu mengambil amplop itu, membukanya, mengeluarkan selembar β€” bahkan dari jauh aku bisa melihatnya mengerutkan kening. Lalu ia menelepon seseorang.

Darahku dingin. Itu sebabnya. Itu sebabnya Darmawan tahu.

Aku duduk sendirian di bilik pojok, mencoba menenangkan napasku. Di balik bar, Bimo masih mengelap gelas yang sama β€” gelas yang pasti sudah bersih dari tadi. Aku menangkap matanya dan mengangguk kecil: selesai. Aman.

Bimo mengangguk balik. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur.

Aku baru saja akan berdiri saat lonceng pintu berbunyi.

Tiga orang masuk. Yang di depan mengenakan jas mahal berwarna abu-abu, rambut disisir rapi, senyum terpasang seperti topeng yang sudah terlalu lama dipakai.

Darmawan.

Dua lelaki bertubuh besar mengikutinya, berdiri di dekat pintu seperti patung. Darmawan berjalan lurus ke mejaku, menarik kursi di hadapan Reza tadi, dan duduk β€” santai, seolah kafe ini miliknya.

"Rania," katanya hangat. "Kau tidak menjawab teleponku, jadi aku datang sendiri."

Tanganku dingin di pangkuanku. "Pak Darmawan."

Ia melirik ke arah bar, ke arah Bimo. "Baristamu yang manis itu... dia cemburu ya, melihatmu dengan Reza tadi?" Senyumnya melebar. "Anak muda."

"Apa maumu?" kataku, suaraku lebih tajam dari yang kurencanakan.

Darmawan mengeluarkan amplop cokelat dari dalam jasnya β€” amplopku. Amplop yang baru saja dibawa Reza keluar lima menit lalu.

"Kurirmu membukanya di parkiran," kata Darmawan ringan. "Anak itu jujur β€” sayang sekali. Dia menunjukkan isinya pada orangku." Ia mengetuk-ngetuk amplop itu dengan jarinya. "Fotokopi, Nduk? Kau menghinaku."

Jantungku berhenti. "Akuβ€”"

"Tinta printer tidak punya bau," potong Darmawan, suaranya tetap lembut. "Tinta pulpen dua belas tahun punya bau. Kertas fotokopi terlalu putih. Dan..." Ia membuka amplop itu, mengipasi halaman-halamannya seperti kartu. "Halaman tengahnya hilang. Tiga puluh sampai empat puluh lima. Kau pikir aku tidak tahu buku itu punya berapa halaman?"

Aku tidak bisa bernapas. Dia tahu. Dia tahu persis isi buku kakek β€” bahkan jumlah halamannya. Berarti dia pernah melihat buku itu. Berarti... kapan? Apakah kakek pernah menunjukkannya? Atau apakah ada seseorang yang membocorkannya?

"Berani yang cerdik," kata Darmawan, dan aku tersentak β€” kalimat kakek, di mulutnya, terdengar seperti penghinaan. "Kakekmu juga berpikir dia cerdik, Nduk. Dia menyembunyikan buku itu dua belas tahun. Dia merekam kaset. Dia menulis surat." Darmawan condong ke depan, suaranya turun menjadi bisikan. "Dan lihat di mana dia sekarang. Di dalam tanah. Sementara aku..." Ia menyebar tangannya, melihat sekeliling kafe. "Aku minum kopi di siang yang cerah."

Tanganku mengepal di bawah meja sampai kukuku menancap di telapak tanganku.

"Dengarkan tawaranku yang baru," lanjut Darmawan, melipat tangannya. "Malam ini. Jam delapan. Gudangku di Cikarang β€” kau tahu tempatnya. Tanah yang dulu milik kakekmu." Ia tersenyum. "Bawa semuanya. Yang asli. Kaset. Buku. Surat-surat. Semuanya."

"Dan kalau aku tidak datang?"

Darmawan tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan ke arah bar β€” ke arah Bimo, yang berdiri kaku dengan gelas di tangannya.

"Baristamu yang manis itu," kata Darmawan pelan, setiap kata jatuh seperti batu, "rajin sekali. Sayang kalau..." Ia kembali menatapku. "Kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja, Nduk. Bahkan di dalam kafe sendiri."

Kalimat itu β€” kalimat yang persis diucapkan kakek di kasetnya, menirukan ancaman Darmawan dua belas tahun lalu β€” kini diucapkan kembali padaku, di siang yang terang, di depan Bimo.

Aku ingin berteriak. Aku ingin melempar cangkir ke wajahnya. Tapi aku hanya duduk, gemetar, karena aku tahu: inilah permainannya. Dia tidak perlu menyentuh siapa pun. Dia hanya perlu membuatku takut β€” dan ketakutan akan melakukan sisanya.

"Jam delapan," ulang Darmawan, berdiri. Ia merapikan jasnya. "Jangan terlambat, Nduk. Dan..." Ia berhenti, menoleh. "Jangan bawa polisi. Kau tahu apa kata kakekmu soal polisi."

Lalu ia pergi, meninggalkan amplop fotokopi itu tergeletak di mejaku seperti bangkai.

Bimo langsung berlari dari balik bar. "Rania! Apa yang dia mau? Apa yang dia katakan?"

Aku menceritakan semuanya β€” gudang Cikarang, jam delapan, ancaman itu. Wajah Bimo memutih, lalu memerah.

"Aku ikut malam ini," katanya.

"Tidak."

"Aku ikut," ulang Bimo, suaranya tidak memberi ruang untuk bantahan, "atau aku lapor polisi sendiri. Sekarang juga."

"Bimo, kakek bilangβ€”"

"Aku tidak peduli apa kata kaset!" bentak Bimo, lalu langsung menyesal, suaranya melembut. "Maaf. Maaf. Tapi Rania... aku tidak akan duduk diam sementara dia mengancammu. Aku ikut. Titik."

Aku menatapnya β€” lelaki yang kucintai, yang keras kepala, yang berani β€” dan aku tahu aku tidak akan memenangi perdebatan ini.

"Baik," kataku akhirnya. "Kau ikut. Tapi kau tunggu di mobil Joko. Tidak masuk ke gudang. Janji?"

Bimo mengangguk, meski rahangnya mengeras. "Janji." Ia meraih tanganku di atas meja β€” di depan semua pelanggan kafe yang pura-pura tidak melihat. "Rania, dengarkan aku. Aku tahu kau punya rencana. Aku tahu kau tidak akan menyerah begitu saja β€” aku mengenalmu." Matanya menatapku dalam-dalam. "Apapun yang terjadi malam ini... aku di pihakmu. Selalu."

Aku menggenggam tangannya erat-erat, dan untuk sesaat β€” sesaat yang singkat dan berharga β€” dunia yang penuh ancaman ini menyusut menjadi hanya kami berdua, tangan yang saling menggenggam di atas meja kafe.

Ponselku bergetar di saku. Nomor tidak dikenal.

Peringatan Reza terngiang di kepalaku: jangan percaya telepon dari nomor tidak dikenal.

Aku menatap layar itu lama. Lalu β€” melawan akal sehatku β€” aku mengangkatnya.

"Rania...?" Suara di seberang bergetar, berbisik, seperti seseorang yang takut didengar. "Ini... ini Nadia."

Jantungku mencelos. "Bu Nadia? Ada apa?"

"Rania... mereka ke rumahku." Isakan tertahan terdengar di seberang. "Dua orang. Baru saja pergi. Mereka mencari..." Suaranya pecah. "Mereka mencari surat-surat Gatot."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!