Rumah Nomor 21
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,563 kata
Pukul 07.55, aku berjalan sendirian menyusuri Jalan Kenanga.
Pagi itu anehnya cerah β matahari sudah naik, burung-burung berkicau, seorang ibu menjemur pakaian di halaman. Dunia terlihat begitu normal, seolah tidak tahu bahwa aku sedang berjalan menuju sarang harimau.
Di saku dalam jaketku: alat perekam sebesar korek api. Di kerahku: mikrofon sebesar kancing, disembunyikan di balik peniti. Di tanganku: map kuning berisi fotokopi β umpan yang disiapkan Kompol Ratna.
Di belakangku, di tikungan jalan: Bimo, yang terpaksa melepaskan tanganku lima menit lalu. Reza, yang meremas bahuku dan berbisik "kau bisa". Pak Sutrisno, yang menatapku dari dalam van dengan mata berkaca-kaca.
Dan di sekelilingku β tidak terlihat, tapi aku tahu mereka ada: tim Kompol Ratna. "Tetangga" yang menyapu halaman. Tukang bakso di ujung jalan β yang menurut bisikan HT tadi pagi, "seragamnya terlalu baru untuk tukang bakso asli, tapi lumayan".
Aku berhenti di depan gerbang nomor 21.
Rumah itu lebih tua dari yang kukira. Cat dindingnya mengelupas seperti kulit yang terbakar matahari, jendelanya berdebu, dan halaman depannya dipenuhi ilalang setinggi lutut. Tapi gerbangnya β tidak dikunci. Terbuka sedikit, seperti mulut yang menungguku masuk.
Aku mendorongnya. Engselnya berderit panjang.
Pintu depan rumah itu juga terbuka.
"Masuk, Nak Rania," terdengar suara dari dalam β halus, tua, terkendali. "Aku sudah menunggumu."
Aku melangkah masuk, dan aroma debu serta kayu tua menyambutku. Ruang tamunya luas dan gelap β gorden-gorden tebal menutup sebagian jendela, hanya celah-celah cahaya pagi yang masuk seperti pisau-pisau tipis.
Dan di tengah ruangan itu, di sebuah meja kayu besar, Darmawan duduk menungguku.
Ia tidak terlihat seperti monster. Itulah yang paling menakutkan.
Ia mengenakan batik cokelat yang rapi, rambut putihnya tersisir sempurna, dan di depannya ada dua cangkir teh yang masih mengepul. Ia tersenyum β senyum seorang kakek yang menyambut cucunya.
"Duduk," katanya, menunjuk kursi di seberangnya. "Kau datang tepat waktu. Itu bagus β menunjukkan kau masih bisa diajak bicara baik-baik."
Aku duduk. Tanganku yang memegang map kuning tidak gemetar β aku bangga pada diriku sendiri untuk itu.
"Teh?" Ia mendorong satu cangkir ke arahku.
"Tidak, terima kasih."
Ia mengangguk, seolah sudah menduga. Lalu matanya turun ke map di tanganku. "Boleh aku lihat?"
Aku menyerahkannya. Ia membukanya dengan hati-hati β jemarinya yang tua membalik lembar demi lembar fotokopi warkah itu. Ia membacanya dengan saksama, mengangguk-angguk kecil. Lalu ia menutup map itu dan meletakkannya di meja, di antara kami.
"Kau tahu," katanya pelan, "aku sudah menduga Sutrisno menyimpan salinan kedua. Orang tua itu terlalu teliti untuk hanya membuat satu."
"Kalau Bapak sudah menduga, kenapa Bapak perlu menerorku lewat telepon?" tanyaku. "Kenapa tidak datang baik-baik saja?"
Ia tersenyum β dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang dingin di balik senyum itu. "Karena kau tidak akan datang kalau aku meminta baik-baik, Nak. Ketakutan membuat orang jujur."
"Aku datang bukan karena takut." Aku menatapnya lurus-lurus. "Aku datang karena aku ingin mendengar β apa yang bisa Bapak katakan untuk membenarkan semua ini."
Ia bersandar di kursinya. "Adil. Duduklah yang nyaman, karena ceritanya agak panjang."
Ia menyeruput tehnya β tenang, tidak terburu-buru, seperti orang yang memegang semua kartu.
"Tanah itu β tanah sengketa dalam warkah ini β dulunya milik keluargaku." Ia menatapku. "Ayahku membelinya dengan keringatnya sendiri. Dan kakekmu β Prawiro β adalah orang kepercayaan ayahku. Tangan kanannya. Orang yang dipercaya memegang surat-surat."
Jantungku berdetak lebih cepat, tapi aku menjaga wajahku tetap datar.
"Waktu ayahku meninggal, surat-surat itu... berpindah tangan. Tiba-tiba ada warkah yang mengatakan tanah itu milik Prawiro." Darmawan mencondongkan tubuhnya. "Orang kepercayaan yang baik tidak mengambil milik tuannya, Nak Rania. AJB yang kubuat β yang kau sebut palsu β itu caraku mengembalikan hak keluargaku."
Keheningan menggantung di antara kami. Di luar, aku mendengar tukang bakso memukul mangkoknya β ting, ting, ting β suara yang anehnya menenangkan.
Aku memikirkan kakekku. Tangan keriputnya yang mengajariku menanam melati. Suratnya β surat yang ditulisnya dengan tangan gemetar, yang isinya begitu jelas: kebenaran harus dijaga, Nak, seberat apa pun.
Aku memikirkan Pak Sutrisno β dua belas tahun tidak bisa tidur, menyimpan salinan di balik lemari pakaian almarhumah istrinya, menangis dalam diam semalam.
"Kalau Bapak benar," kataku pelan, "kenapa Bapak memalsukan AJB? Orang yang benar tidak memalsukan dokumen, Pak."
Senyum Darmawan tidak goyah. "Kadang sistem tidak memberi jalan bagi yang benar."
"Kenapa Bapak meneror notaris tua sampai rumahnya diobrak-abrik? Kenapa Bapak menyadap ponselku β ponselku, Pak β dan menguping setiap pembicaraanku?" Suaraku naik. "Kenapa Bapak mengancamku lewat telepon tengah malam? Orang benar tidak perlu melakukan semua itu."
Untuk sesaat β hanya sesaat β topeng tenangnya retak. Matanya menyipit.
"Kau tajam," katanya akhirnya. "Prawiro juga tajam. Itu yang membuatnya berbahaya."
"Jangan bawa-bawa kakekku."
"Justru kakekmulah inti semuanya, Nak." Ia meletakkan cangkirnya. "Kau tahu kenapa ibumu tidak pernah menceritakan malam kakekmu meninggal?"
Darahku berdesir dingin.
"Karena malam itu," lanjut Darmawan, suaranya merendah, "ada tamu di rumah kalian. Tamu yang tidak pernah kalian ceritakan ke siapa pun. Ibumu tahu siapa tamu itu. Dia selalu tahu."
Tanganku mencengkeram ujung jaketku β di mana alat perekam itu berada. "Bapak mengancamku?"
"Aku menawarkanmu jalan keluar." Ia mendorong map itu kembali ke arahku. "Dengarkan tawaranku baik-baik. Kau serahkan yang asli β yang sekarang disegel polisi β dan sebagai gantinya: ibumu aman, selamanya. Kau dapat dua miliar rupiah β cukup untuk hidup tenang, untuk butik ibumu, untuk masa depanmu dengan... Bimo, bukan?" Ia tersenyum tipis. "Ya. Aku tahu namanya."
Napasu tertahan. Ia menyebut nama Bimo dengan santai β seperti mengingatkanku betapa jauh jangkauannya.
"Atau," lanjutnya, dan baja itu kembali ke suaranya, "kau tolak β dan salinan di kantor polisi tidak akan melindungimu. Aku punya cara untuk membuat bukti hilang, Nak. Tapi kau..." Ia menatapku. "Kau tidak bisa difotokopi."
Ancaman itu menggantung di udara seperti asap.
Aku memikirkan kata sandiku: cukup. Satu kata, dan tim akan masuk.
Tapi belum. Kompol Ratna bilang β buat dia bicara selebar-lebarnya.
"Perempuan yang mengambil salinan pertama dari kantor Pak Sutrisno," kataku. "Siapa dia?"
Darmawan terdiam sejenak. Lalu ia tersenyum β senyum yang anehnya... lembut.
"Istriku," katanya. "Lestari. Dia juga ahli waris tanah itu β dari pihak ibunya. Dia yang mengambil salinan pertama karena..." Ia mengangkat bahu. "Karena dia tidak sabar. Perempuan, kau tahu."
Jadi perempuan misterius itu β yang datang ke rumah orang tua Bimo, yang menyebut nama kakekku β adalah istri Darmawan. Bukan orang asing. Bukan hantu masa lalu. Musuh yang punya wajah dan nama.
"Dia yang datang ke rumah orang tua pacarku," kataku. "Dia mengancam ibuku."
"Dia tidak mengancam." Darmawan menggeleng. "Dia memperingatkan. Ada bedanya, Nak."
"Cukup."
Kata itu keluar dari mulutku β jelas, tegas.
Satu detik. Dua detik.
Lalu dunia meledak menjadi gerakan.
Pintu depan didobrak. "POLISI! JANGAN BERGERAK!" Kompol Ratna masuk pertama, pistol terhunus, diikuti empat anggota berseragam. Dari jendela samping, dua anggota preman masuk. Tukang bakso di ujung jalan β yang ternyata memang polisi β berlari masuk dengan HT di tangan.
Darmawan tidak bergerak. Ia bahkan tidak terkejut.
Ia hanya tersenyum β dan mengangkat kedua tangannya dengan tenang, seperti orang yang sudah menduga ini sejak awal.
"Kau pikir aku tidak tahu ada polisi di luar?" katanya pelan, matanya tidak lepas dariku. "Tukang bakso di ujung jalan itu β gerobaknya terlalu bersih. Dan 'tetangga' yang menyapu halaman β tidak ada tetangga yang menyapu jam delapan pagi dengan sepatu dinas."
Kompol Ratna memborgolnya β klik, klik β dan membacakan hak-haknya. Darmawan mengikutinya dengan patuh, terlalu patuh.
Saat ia digiring melewatiku, ia berhenti. Menatapku β dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang bukan ketenangan di matanya. Sesuatu yang... sedih.
"Kau menang hari ini, Nak Rania," katanya pelan. "Warkah itu... biarlah. Prawiro memang selalu selangkah di depan, bahkan setelah mati."
Lalu ia mencondongkan tubuhnya β begitu dekat hingga hanya aku yang bisa mendengar bisikannya:
"Tapi satu hal. Tanyakan pada ibumu β malam kakekmu meninggal, siapa yang datang ke rumah kalian malam itu. Ibumu tahu. Dia selalu tahu."
Darahku membeku.
Mereka membawanya pergi. Aku berdiri mematung di ruang tamu yang berdebu itu, map umpan masih di tanganku, kata-katanya berdengung di kepalaku seperti lonceng.
Bimo berlari masuk β menerobos barisan polisi β dan langsung memelukku erat. "Kau tidak apa-apa? Dia menyentuhmu?"
Aku menggeleng, tapi tubuhku gemetar hebat sekarang β semua keberanianku runtuh sekaligus. "Aku... aku baik-baik saja."
Reza masuk di belakangnya, napasnya tersengal. "Kau luar biasa," katanya, matanya berkaca-kaca. "Sumpah, kau luar biasa."
Pak Sutrisno datang tertatih, dipapah Brigadir Bayu. Lelaki tua itu menatap pintu tempat Darmawan digiring pergi, lalu menatapku β dan menangis. Bukan tangis kesedihan, tapi tangis kelegaan dua belas tahun.
"Selesai, Nak," bisiknya, memelukku. "Sudah selesai. Prawiro bisa tenang sekarang. Aku... aku bisa tidur malam ini."
Aku memeluknya erat. Aku seharusnya merasa menang. Kami menang β Darmawan ditangkap, warkah aman, kebenaran terjaga.
Tapi kemenangan terasa seperti abu di lidahku.
Karena di kepalaku, hanya ada satu kalimat yang berputar-putar β bisikan Darmawan, tentang malam kakekku meninggal, tentang tamu yang tidak pernah diceritakan, tentang ibuku yang selalu tahu.
Aku melepaskan pelukan Pak Sutrisno. Tanganku yang satu masih menggenggam map umpan. Tangan yang lain β tanpa kusadari β telah merogoh saku jaketku dan menggenggam kuntum melati yang layu itu, sampai kelopaknya hancur di telapakku.
Aku menoleh pada Bimo. Suaraku bergetar saat aku berkata:
"Aku harus bicara dengan Ibu. Malam ini juga."