‹
70. Pengakuan yang Tidak Utuh

Pengakuan yang Tidak Utuh

Jodoh yang Salah Alamat • 1,443 kata

Ilustrasi Pengakuan yang Tidak Utuh

Harun tidak langsung bercerita. Lelaki itu meminta segelas air dulu, dan aku melihat tangannya gemetar saat memegang gelas itu, bukan karena takut, tapi karena sudah terlalu lama ia menahan kata-kata yang ingin keluar. Lestari duduk di sampingnya, tidak melepaskan genggamannya, dan Kompol Ratna duduk di hadapannya dengan sikap yang tenang, seperti orang yang tahu bahwa kesaksian yang dipaksa tidak akan pernah sekuat kesaksian yang datang karena seseorang akhirnya merasa aman.

"Kamu tidak perlu menceritakan semuanya sekarang," kata Kompol Ratna. "Ceritakan yang kamu bisa. Yang kamu ingat dengan jelas. Sisanya bisa menyusul."

Harun mengangguk, menatap gelas di tangannya, lalu mulai berbicara dengan suara yang pelan tapi tidak lagi serak seperti tadi, seolah kata-kata itu sendiri yang sedang membersihkan tenggorokannya.

"Aku pertama kali tahu soal warkah itu bukan dari Arman," katanya. "Aku tahu dari Darmawan, sudah lama, sebelum semua ini menjadi seperti sekarang. Waktu itu Darmawan bercerita, dengan nada bercanda, bahwa ada sebuah warkah tua yang bisa mengubah peta tanah di daerah ini. Aku tidak menganggapnya serius. Aku pikir itu hanya cerita orang-orang tua yang dilebih-lebihkan. Sampai suatu hari, Arman datang ke rumahku, dan ia tidak bercanda sama sekali. Ia bilang, warkah itu nyata, dan ia tahu di mana warkah itu disimpan, dan ia butuh orang yang bisa mendekati keluarga Rania tanpa dicurigai."

Aku merasakan Bimo menegang di sampingku. Aku sendiri merasakan hal yang sama: ada sesuatu yang dingin menjalar dari tengkukku ke punggungku, karena kalimat itu membuka satu kemungkinan yang belum pernah benar-benar kupikirkan, bahwa selama ini ada orang-orang yang mendekati keluargaku bukan karena mereka peduli, melainkan karena mereka ditugasi.

"Tapi aku menolak," lanjut Harun, cepat, seolah takut kami salah paham. "Aku menolak, dan sejak itu, Arman tidak pernah lagi berbicara padaku dengan cara yang sama. Ia berbicara padaku dengan cara yang lain, dengan ponsel yang dirampas, dengan pesan-pesan yang dikirim atas namaku, dengan foto rumah Lestari yang diambil dari mobil di ujung gang. Aku menolak, dan penolakanku itu dibayar dengan cara ini."

Ia berhenti, mengusap wajahnya dengan tangan yang bebas. "Ada satu hal lagi yang harus kalian tahu, dan ini yang paling sulit kukatakan. Daftar itu, daftar nama pemilik tanah yang kalian lihat, itu bukan daftar yang dibuat Arman. Itu daftar yang sudah ada jauh sebelum Arman datang. Daftar itu dibuat oleh seseorang yang dulu pernah memegang warkah itu, yang menyalin nama-namanya, dan yang—yang menyembunyikan salinannya. Arman hanya menemukan salinan itu, dan ia memakainya. Tapi pembuat daftar itu, orang yang pertama kali menyalinnya, bukan Arman. Bukan Darmawan. Orang itu ada di tempat lain, dan aku tidak tahu apakah ia masih hidup, atau apakah ia—"

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, karena dari arah pintu, terdengar langkah kaki yang mendekat, dan semua orang menoleh. Ayah Reza berdiri di ambang pintu, didampingi Brigadir Bayu. Wajahnya tidak lagi setegang tadi di serambi masjid. Ada sesuatu yang runtuh di sana, seperti tembok yang akhirnya retak setelah terlalu lama menahan beban.

"Aku ikut ke sini bukan karena disuruh polisi," katanya, dan suaranya terdengar lelah, sangat lelah. "Aku ikut karena aku tidak tahan lagi mendengar kebohongan itu dari mulutku sendiri."

Kompol Ratna mempersilakannya duduk, dan ayah Reza duduk dengan gerakan orang yang sudah terlalu lama berdiri. Ia menatap Harun, lalu Lestari, lalu aku, dan ketika matanya bertemu mataku, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kuduga akan kulihat dari lelaki itu: rasa malu yang tulus.

"Rania, aku tidak akan berpura-pura bahwa aku tidak tahu apa-apa," katanya. "Aku tahu soal warkah itu lebih awal dari yang kukatakan pada keluargamu. Arman datang padaku bertahun-tahun lalu, membawa cerita tentang tanah-tanah yang bisa diselamatkan kalau warkah itu tidak pernah muncul. Ia tidak memaksaku. Ia tidak mengancamku, tidak pada awalnya. Ia hanya menunjukkan angka-angka, dan ia menunjukkan apa yang akan terjadi pada tanah keluargaku sendiri kalau warkah itu muncul dan peta itu berubah. Dan aku—aku takut. Aku takut kehilangan apa yang sudah dibangun keluargaku selama bertahun-tahun. Jadi aku diam. Aku membiarkan Arman bekerja. Aku membiarkan Darmawan bergerak. Aku tidak pernah menyuruh mereka merampas ponsel Harun, aku bersumpah, itu bukan perintahku, tapi aku juga tidak menghentikan mereka ketika aku tahu apa yang mereka lakukan."

Ia menunduk, dan bahunya bergetar sekali, hanya sekali, sebelum ia kembali mengangkat kepalanya.

"Apakah itu membuatku pelaku?" tanyanya, dan pertanyaan itu terdengar seperti ditujukan pada dirinya sendiri lebih daripada pada kami. "Atau apakah itu membuatku hanya seorang penakut yang membiarkan orang lain melakukan hal-hal kotor atas namanya? Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu. Yang kutahu, Reza, anakku, tidak tahu apa-apa tentang ini sampai belakangan, dan ketika ia tahu, ia memilih untuk melawan, sementara aku memilih untuk diam. Dan aku malu pada anakku sendiri karena itu."

Aku menoleh pada Reza yang berdiri di dekat pintu, dan aku melihat rahangnya mengeras, bukan karena marah, tapi karena menahan sesuatu yang besar. Ia tidak menyela ayahnya, tidak membelanya, dan tidak pula menyerangnya. Ia hanya berdiri di sana, mendengarkan, seperti seseorang yang akhirnya mendengar kebenaran tentang keluarganya sendiri dari mulut yang selama ini menyembunyikannya. Aku tiba-tiba teringat pada masa ketika kami dijodohkan, pada semua percakapan sopan di ruang tamu, pada semua senyum yang tertata, dan aku bertanya-tanya berapa banyak dari semua itu yang dibangun di atas diam seperti ini, diam yang dibungkus rapi agar terlihat seperti wibawa.

Harun, yang sedari tadi diam mendengarkan, akhirnya ikut bicara, dengan suara yang lebih tenang daripada sebelumnya. "Aku tidak membenci Bapak," katanya pada ayah Reza, pelan. "Aku hanya ingin satu hal: jangan ada lagi yang memakai namaku untuk menakut-nakuti orang yang kusayangi. Kalau Bapak benar-benar menyesal, maka bantulah kami menemukan siapa yang berada di atas Arman. Karena selama orang itu masih bersembunyi, semua pengakuan kita hari ini hanya akan menjadi cerita, bukan penyelesaian."

Ayah Reza mengangguk, lama, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu yang berat di dalam dirinya. "Aku akan membantu sebisaku," katanya akhirnya. "Aku tidak janji aku tahu semuanya, karena memang ada banyak hal yang sengaja tidak diberitahukan padaku, justru supaya aku bisa terus berpura-pura tidak tahu. Tapi apa yang kutahu, akan kukatakan. Itu yang bisa kulakukan sekarang."

Aku tidak tahu harus berkata apa. Amarahku ada di sana, tentu saja, karena diamnya lelaki ini telah membiarkan semua ini terjadi, telah membiarkan Lestari ketakutan dan Harun dipaksa mendengarkan ancamannya sendiri. Tapi di samping amarah itu, ada juga sesuatu yang lain, yang lebih sulit: pengakuan yang jujur, meski tidak utuh, tetaplah sebuah pengakuan, dan kejujuran yang datang terlambat tetap lebih baik daripada kebohongan yang dipertahankan selamanya.

"Dan di atas Arman?" tanya Kompol Ratna, pelan, tidak mendesak, tapi tidak juga membiarkan pertanyaan itu menguap. "Siapa yang tanahnya paling banyak diselamatkan warkah itu?"

Ayah Reza menggeleng, pelan. "Aku tidak tahu namanya. Aku bersumpah, aku tidak pernah bertemu orang itu. Arman selalu bilang, orang itu tidak pernah muncul, ia hanya memberi perintah lewat Arman. Tapi ada satu hal yang Arman katakan padaku, sekali, dan aku tidak pernah bisa melupakannya, karena kalimat itu membuatku merinding. Ia bilang, orang itu tidak perlu muncul, karena ia sudah berada di dalam lingkaran itu sejak awal. Ia sudah dekat dengan warkah itu jauh sebelum kami semua."

Kata-kata itu menggantung di udara, dan aku merasa seperti seseorang baru saja menyalakan lampu kecil di ruangan yang gelap, cukup untuk melihat bayangan, tapi tidak cukup untuk melihat wajahnya. Aku memikirkan semua orang yang pernah keluar-masuk rumah keluargaku selama bertahun-tahun, semua wajah yang kukenal sejak kecil, semua orang yang pernah duduk di ruang tamu kami sambil menyeruput teh dan bercerita tentang masa lalu. Jika salah satu dari mereka sudah tahu sejak awal, maka selama ini aku tidak hanya hidup di tengah misteri, aku hidup di tengah misteri yang tersenyum padaku setiap hari, dan pikiran itu membuat tengkukku merinding lebih dingin daripada udara subuh mana pun.

Dan kemudian, ketika aku sedang mencoba memahami kalimat itu, mataku tertuju pada sesuatu yang kecil, yang hampir tidak terlihat: di atas meja, di samping daftar nama itu, ada sebuah amplop tua, yang sudutnya sudah menguning, dengan tulisan tangan yang kukenali. Bukan tulisan Arman. Bukan tulisan Darmawan. Tulisan itu adalah tulisan tangan yang pernah kulihat di buku-buku resep dan catatan-catatan lama di rumah keluargaku, tulisan tangan seseorang dari lingkaran dekat keluargaku sendiri, seseorang yang selama ini kupikir tidak tahu apa-apa tentang warkah itu, seseorang yang mungkin sudah tahu sejak awal, jauh sebelum aku lahir, jauh sebelum semua ini dimulai.

Aku tidak mengucapkan nama itu. Aku bahkan tidak berani memikirkannya dengan keras. Aku hanya memandang amplop itu, dan amplop itu memandangku kembali, seolah-olah ia sudah menungguku menemukan jawabannya sejak lama, dan seolah-olah pagi ini baru saja membuka pintu pertama dari sebuah rumah yang pintunya jauh lebih banyak daripada yang kukira.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!