Pengakuan Bimo
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,595 kata
Kertas kecil itu terasa terbakar di jemariku, padahal suhunya sama saja dengan udara malam di ruang tamu ini. Aku membacanya sekali lagi, lalu sekali lagi, berharap kata-katanya berubah, berharap mataku salah, berharap tulisan tangan yang sudah bertahun-tahun kukenali dari catatan-catatan kecil yang diselipkan Bimo di tasku itu ternyata milik orang lain. Tapi tidak. Huruf-hurufnya sama persis: cara ia menulis huruf R yang selalu miring, cara ia tidak pernah menutup kalimat dengan titik kalau sedang gugup. Maaf, Ran. Aku sudah baca surat ini duluan.
"Bimo," suaraku keluar seperti desis. "Apa ini?"
Ruangan itu mendadak sunyi, sunyi yang berbeda dari sebelumnya. Kalau tadi sunyi itu tegang dan penuh pertanyaan, sekarang sunyi itu seperti udara yang tersedot habis dari ruangan. Reza menatap kertas itu dari tempatnya berdiri, alisnya berkerut. Paman Raka memejamkan mata lagi, lebih lama kali ini, seperti orang yang akhirnya mendengar bunyi runtuhan yang sudah lama ia tunggu.
Bimo tidak langsung menjawab. Ia menatap kertas itu, lalu menatapku, dan di matanya aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat darinya selama kami bersama: rasa bersalah yang begitu dalam sampai tidak ada lagi kalimat pembelaan yang bisa menutupinya. Bukan rasa bersalah orang yang ketahuan berbohong kecil. Ini rasa bersalah orang yang sudah lama tahu bahwa suatu hari kebenaran akan datang menagih, dan ia tidak pernah benar-benar siap menghadapinya.
"Kapan?" tanyaku, dan kali ini suaraku tidak bergetar. Aneh, justru saat hatiku paling kacau, suaraku menjadi paling tenang. "Kapan kamu baca surat ini, Bimo? Surat yang mana? Surat ibu yang pertama, atau surat kedua yang baru saja kubuka dari kotak ini?"
Bimo menarik napas panjang, lalu duduk perlahan di kursi terdekat, seperti lututnya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. "Dua minggu lalu," katanya akhirnya. "Ratna datang ke tempat kerjaku. Dia bilang dia teman ibumu, dia bilang dia menyimpan sesuatu yang harus kubaca sebelum kamu membacanya. Dia memberiku salinan surat pertama ibumu, surat yang sama dengan yang kamu baca tadi malam."
"Kenapa kamu tidak bilang padaku?" Aku mendengar suaraku naik, tapi aku tidak bisa menahannya. "Dua minggu, Bimo. Dua minggu kamu tahu ada surat dari ibuku dan kamu diam saja?"
"Karena Ratna memintaku merahasiakannya," jawab Bimo cepat, seperti seseorang yang sudah berlatih kalimat itu berkali-kali di depan cermin. "Dia bilang surat itu harus kamu baca sendiri, pada waktunya, tanpa dipengaruhi siapa pun. Dia bilang kalau aku memberitahumu lebih dulu, kamu akan membaca surat itu dengan pikiran yang sudah diarahkan. Dia bilang tugasku hanya satu: pastikan kamu membaca surat itu sendirian, dan pastikan kamu tidak percaya pada siapa pun yang memberitahumu tentang surat itu sebelum kamu membacanya sendiri."
Aku tertawa, tawa pendek yang pahit dan sama sekali tidak lucu. "Jadi kamu yang pertama kali memberitahuku tentang surat itu? Atau Ratna? Atau kamu berdua sudah mengatur semuanya dari awal?"
"Bukan begitu, Ran," Bimo menggeleng kuat. "Aku tidak mengatur apa-apa. Ratna yang datang padaku, bukan sebaliknya. Dan aku tidak pernah membuka kotak ini. Kertas itu, aku selipkan di sini tiga hari lalu, setelah Ratna memberitahuku bahwa kotak itu ada dan isinya adalah surat kedua ibumu. Aku menulis permintaan maaf itu karena aku tahu suatu hari kamu akan menemukan kertas ini, dan aku tidak mau kamu menemukannya tanpa penjelasan."
"Penjelasan apa?" tanyaku. "Jelaskan sekarang, Bimo. Jelaskan kenapa pacarku sendiri membaca surat ibuku sebelum aku, kenapa kamu membiarkan Ratna mengatur langkah kita seperti bidak, kenapa kamu berdiri di sini dan berbisik jangan jawab pintu itu, padahal kamu tahu persis siapa yang ada di baliknya."
Bimo menunduk lama. Ketika ia akhirnya mengangkat wajahnya, matanya basah. "Karena aku takut, Ran. Aku takut kehilangan kamu."
Kalimat itu jatuh di antara kami seperti batu ke dalam air yang tenang. Reza bergeser tidak nyaman di tempatnya berdiri, tapi ia tidak menyela. Paman Raka masih diam, tangannya bertumpu di meja, seolah meja itu satu-satunya yang menahannya tetap berdiri.
"Aku baca surat pertama ibumu," lanjut Bimo, suaranya serak. "Dan di surat itu, ibumu menulis bahwa dia tidak pernah setuju dengan perjodohan ini. Dia menulis bahwa dia tahu ayahmu dan keluarga Reza sudah sepakat sejak lama, dan dia tidak bisa menghentikannya. Dia menulis satu hal yang tidak pernah bisa kulupakan: kalau suatu hari Rania harus memilih, biarkan dia memilih dengan hatinya sendiri, bukan dengan rasa bersalah pada orang yang sudah tiada."
Aku menatap surat pertama yang masih tergeletak di pangkuanku. Aku sudah membacanya, tentu saja, tapi aku membacanya dengan mata seseorang yang baru saja kehilangan pegangan. Sekarang, mendengar Bimo mengucapkannya kembali, kata-kata itu terasa berbeda, lebih tajam, lebih nyata.
"Lalu kenapa kamu sembunyikan itu dariku?" bisikku.
"Karena kalau kamu tahu ibumu tidak setuju dengan perjodohan ini, kamu akan langsung menolak Reza, dan aku takut kamu menolaknya karena ibumu, bukan karena kamu sendiri tidak menginginkannya." Bimo mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Dan aku juga takut pada hal yang sebaliknya. Aku takut kalau kamu tahu isi kotak ini, kamu malah akan memilih Reza, karena kotak ini, surat kedua ini, foto ini, semuanya disiapkan untuk membuatmu percaya bahwa Reza adalah pilihan ibumu."
Reza akhirnya bersuara, pelan tapi tegas. "Aku tidak pernah meminta siapa pun menyiapkan apa-apa untukku, Bimo. Aku bahkan tidak tahu isi kotak ini sampai malam ini."
"Tapi ibumu tahu," balas Bimo, menoleh ke Reza. "Ibu kamu dan ibu Rania berteman sejak muda. Foto itu buktinya. Dan Ratna bilang padaku, kotak ini hanya boleh dibuka kalau kamu ada di sini. Kenapa harus kamu? Kenapa bukan aku, pacarnya? Kenapa bukan Paman Raka, keluarganya?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, dan untuk pertama kalinya malam ini, Reza tidak punya jawaban cepat. Ia menatap foto dua perempuan muda itu yang masih kupegang, lalu menatap Paman Raka, seperti meminta seseorang yang lebih tua untuk mengambil alih cerita yang sudah terlalu besar untuk kami bertiga.
Paman Raka akhirnya bersuara, dan suaranya terdengar seperti orang yang baru saja memutuskan untuk meletakkan beban yang sudah puluhan tahun ia pikul. "Karena ibu Rania pernah berjanji," katanya. "Bukan janji perjodohan. Janji yang lain. Jauh sebelum perjodohan itu ada, jauh sebelum Reza dan Rania lahir, ibu Rania dan ibu Reza berjanji satu sama lain: kalau suatu hari salah satu dari mereka pergi lebih dulu, yang ditinggalkan akan menjaga anak yang satunya, seperti anaknya sendiri."
Aku menatap foto itu lagi. Dua perempuan muda yang tertawa di bawah pohon besar. Janji di antara mereka terasa begitu jauh dan begitu dekat pada saat yang sama.
"Ratna tahu tentang janji itu," lanjut Paman Raka. "Karena Ratna ada di sana saat janji itu dibuat. Dan Ratna juga tahu bahwa janji itu kemudian disalahgunakan. Ayahmu dan ayah Reza memakai kedekatan kedua ibu itu sebagai alasan untuk menjodohkan kalian. Mereka menyebutnya meneruskan persahabatan. Padahal yang mereka teruskan hanyalah kesepakatan mereka sendiri."
"Jadi perjodohan ini bukan kehendak ibu?" tanyaku, suaraku nyaris tidak terdengar.
"Bukan," jawab Paman Raka. "Ibumu menulis surat pertama untuk memastikan kamu tahu itu. Dan surat kedua, yang ada di kotak ini, ditulis ibumu untuk memastikan kamu tahu apa yang sebenarnya ia inginkan."
Dengan tangan yang masih bergetar, aku mengambil surat kedua dari kotak itu. Pita birunya yang pudar terlepas dengan mudah. Aku membuka lipatannya perlahan, dan di sana, dengan tulisan tangan ibu yang kukenali sampai ke lekuk hurufnya, tertulis kalimat-kalimat yang membuat dadaku sesak.
Rania, anakku. Kalau kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah cukup berani untuk membuka apa yang selama ini ditutup-tutupi darimu. Reza bukan musuhmu, dan Bimo bukan jawabanmu. Mereka berdua hanya laki-laki yang mencintaimu dengan caranya masing-masing, dan cinta saja tidak pernah cukup untuk menjadi alasan memilih. Pilihlah orang yang membuatmu tetap menjadi dirimu sendiri, bukan orang yang membuatmu harus mengecil agar muat di dalam hidupnya.
Aku berhenti membaca. Air mata jatuh ke kertas itu sebelum sempat kutahan, membasahi tinta yang sudah bertahun-tahun menunggu untuk dibaca. Di sekelilingku, tiga orang yang paling terlibat dalam hidupku berdiri diam, masing-masing dengan kebenarannya sendiri, masing-masing dengan rasa bersalahnya sendiri.
Lalu Bimo berkata, dengan suara yang begitu pelan sampai aku hampir tidak mendengarnya: "Ran, ada satu hal lagi yang belum aku ceritakan. Tentang Ratna. Tentang siapa dia sebenarnya, dan kenapa dia datang pagi ini."
Ia menatap Paman Raka, dan Paman Raka mengangguk pelan, seperti memberi izin untuk sesuatu yang sudah terlalu lama ditunda.
"Ratna bukan sekadar teman ibumu," kata Bimo. "Ratna adalah kakak ipar ayahmu. Istri dari adik ayahmu yang meninggal muda. Dan perempuan yang masuk tanpa diundang pagi ini, yang mengantar surat itu dan mendatangi Reza, dia bukan Ratna."
Darahku berdesir. "Lalu siapa dia?"
Bimo menelan ludah. "Namanya Ratna juga. Tapi dia Ratna yang lain. Adik kembar Ratna yang asli. Dan selama ini, yang menyimpan surat ibumu, yang berjanji pada ibumu, yang seharusnya datang pagi ini, adalah Ratna yang asli. Perempuan yang datang pagi ini adalah kembarannya, dan Paman Raka tahu itu sejak pertama kali melihatnya masuk lewat pintu depan."
Aku menoleh ke Paman Raka, dan wajahnya membenarkan semuanya tanpa satu kata pun.
"Kalau begitu," bisikku, "di mana Ratna yang asli sekarang?"
Paman Raka membuka mulutnya, tapi sebelum ia sempat menjawab, suara ketukan terdengar lagi dari pintu depan. Tiga ketukan, pelan, teratur. Sama persis seperti sebelumnya. Dan dari balik pintu, terdengar suara perempuan yang sangat kukenali, suara yang sama dengan suara perempuan pagi tadi, tapi kali ini lebih tenang, lebih dalam, dan jauh lebih menyeramkan.
"Rania," katanya. "Kamu sudah membuka kotak yang salah. Sekarang buka pintunya, dan aku akan menunjukkan kotak yang benar."