β€Ή
37. Halaman yang Sobek

Halaman yang Sobek

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,375 kata

Ilustrasi Halaman yang Sobek

"Bu! Bu, janganβ€”" Aku berteriak ke ponsel, tapi sambungan sudah terputus.

Tanganku gemetar begitu hebat sampai Bimo harus mengambil alih ponselku. "Apa katanya?"

"Ibu ke polres. Sendiri. Mau 'menyelesaikan ini' sebelum Nadia bicara duluan." Aku menatap halaman asli buku kas di tanganku β€” halaman yang kini terasa seperti bara api. "Bimo, kita harus ke sana. Sekarang."

Langit sudah gelap sepenuhnya ketika motor Bimo melesat membelah jalan desa. Angin malam menampar wajahku, tapi aku tidak merasakannya. Di kepalaku hanya ada satu bayangan: Ibu, berhadapan dengan Nadia, tanpa siapa pun yang melindunginya. Perempuan yang dua belas tahun hidup dalam ketakutan, kini berjalan sendiri ke sarang orang yang menakutinya.

Kami tiba di polres dengan napas tersengal. Petugas jaga mengenalku β€” "Mbak Rania?" β€” dan aku tidak sempat menjawab sebelum Ratna muncul dari koridor dengan wajah tegang.

"Ibumu ada di dalam," katanya sebelum aku bertanya. "Ia datang dua puluh menit lalu, membawa dua amplop dan menuntut bertemu Nadia. Aku mengizinkannya β€” dengan pengawasan." Ia menatapku. "Kau tahu apa yang ia bawa?"

Aku menyerahkan halaman asli itu padanya. "Fajar memberikannya padaku. Ini halaman yang sobek. Yang asli."

Ratna membacanya dengan cepat, matanya menyipit di baris terakhir. "Ibumu," gumamnya pelan. Ia mengangkat wajahnya. "Rania β€” apa pun yang terjadi di ruangan itu, ibumu yang meminta ini. Hormati keputusannya."

Ruang besuk itu sama seperti tadi pagi β€” sempit, pengap, meja kayu penuh goresan. Tapi kali ini yang duduk berhadapan bukan aku dan Nadia. Melainkan Ibu dan Nadia. Dua bersaudara yang dipisahkan dua belas tahun kebohongan.

Aku dan Ratna berdiri di balik kaca pengawas, dengan Bimo di sampingku menggenggam tanganku begitu erat sampai buku-buku jariku memutih.

"Kakak," sapa Nadia. Suaranya lembut β€” terlalu lembut. "Akhirnya kau datang juga."

Ibu meletakkan dua amplop cokelat di atas meja dengan tangan yang tidak gemetar sama sekali. Aku hampir tidak mengenali ibuku β€” perempuan pendiam yang selalu menunduk itu kini duduk tegak, menatap adiknya tanpa berkedip.

"Dua belas tahun, Nadia," kata Ibu. "Dua belas tahun aku diam. Bukan karena aku tidak tahu kau yang mendorong ayah di tangga itu β€” aku MELIHATMU. Aku berdiri di ambang pintu dan melihatmu berdiri di atas tubuh ayah kita."

Nadia tersenyum β€” senyum foto keluarga itu. "Lalu kenapa kau tidak bicara, Kak?"

"Karena kau mengancam anakku." Suara Ibu tidak naik, tapi setiap kata jatuh seperti palu. "Kau bilang kalau aku bicara, Rania yang jadi taruhannya. Dan aku percaya. Selama dua belas tahun aku percaya, dan setiap malam aku bertanya pada diriku sendiri: apakah aku ibu yang benar, atau hanya pengecut yang bersembunyi di balik alasan menjadi ibu?"

"Kau melindunginya," kata Nadia. "Itu bukan pengecut. Ituβ€”"

"Diam." Ibu mengangkat tangannya. "Aku belum selesai. Aku diam dua belas tahun untuk melindungimu sebagai adikku β€” karena seburuk apa pun kau, kau tetap darahku. Tapi kau mengancam anakku, Nadia. Kau menyuap polisi untuk 'membereskannya' di gudang." Ibu mencondongkan tubuh. "Selesai. Tidak ada lagi adik. Tidak ada lagi keluarga. Yang ada hanya seorang saksi β€” dan seorang tersangka."

Ia mendorong amplop pertama ke tengah meja. "Ini surat wasiat ayah yang baru. Yang hendak ia bacakan malam ia mati. Tanah Cikarang diwariskan langsung ke Rania β€” bukan kepadamu, bukan kepadaku. Ayah mencoret namamu, Nadia. Ia tahu kau menggelapkan tanahnya bahkan sebelum ia mati."

Wajah Nadia berubah untuk pertama kalinya β€” topeng tenangnya retak.

"Dan iniβ€”" Ibu meletakkan amplop kedua, yang lebih tebal. Ia membukanya perlahan, mengeluarkan segepok uang yang masih terbungkus plastik bank, segelnya utuh. "Dua puluh lima juta. Uang tutup mulut yang kau berikan tiga hari setelah ayah mati. Tidak pernah kubuka, Nadia. Tidak satu rupiah pun kusentuh." Air mata mengalir di pipi Ibu, tapi suaranya tetap tegak. "Aku menyimpannya sebagai pengingat β€” betapa murahnya harga diamku, dan betapa mahalnya harga yang dibayar anakku untuk kebisuanku."

Di balik kaca, aku menutup mulutku dengan tangan. Bimo merangkulku.

Nadia menatap uang itu lama sekali. Lalu ia tertawa β€” tawa kering tanpa humor. "Kau selalu lebih kuat dari yang kukira, Kak. Ayah benar memilihmu untuk menyimpan surat itu." Ia bersandar. "Baiklah. Kau menang. Aku tidak akan melawan lagi."

Ratna masuk ke ruangan, dan proses itu berjalan cepat setelahnya: Ibu menandatangani berita acara kesaksian β€” ia melihat Nadia di rumah kakek malam kejadian, ia mendengar ancaman itu, ia menyimpan surat wasiat di bawah ancaman. Fajar tiba setengah jam kemudian bersama ibunya, menyerahkan halaman asli secara resmi dan membuat pernyataan tertulis. Darman β€” yang dibawa dengan ambulans dari rumahnya β€” bersaksi dari brankar dengan suara lemah tapi jelas: ia dipaksa memalsukan tanda tangan Adit di bawah ancaman pemecatan dan laporan palsu.

Ratna menatapku setelah semua selesai, matanya lelah tapi hangat. "Ayah Fajar akan kami lindungi sebagai saksi korban paksaan β€” justice collaborator. Ia tidak akan jadi tumbal, Rania. Aku berjanji." Ia berhenti. "Soal pesan S yang menyuruhmu tidak percaya polisi β€” aku mengerti sekarang kenapa Fajar takut. Dedi merusak kepercayaan itu. Tugasku membangunnya kembali."

Malam itu juga, telepon rumah berdering. Ayah Reza β€” dengan suara yang terdengar sepuluh tahun lebih tua β€” menyampaikan keputusan resmi keluarga: pembelian tanah Cikarang DIBATALKAN, dan perjodohan antara Reza dan aku DIBATALKAN atas kesepakatan kedua keluarga.

Keesokan paginya, Reza datang. Bukan dengan kemeja putih rapi seperti biasanya β€” hanya kaus dan celana jeans, wajahnya lelah tapi damai.

"Ayah sudah bicara dengan pengacara," katanya sambil duduk di teras. "Semuanya selesai. Tanah itu tidak jadi kami beli." Ia tersenyum β€” senyum yang tulus, tanpa beban. "Dan soal kita... aku sudah bilang ke Ibu dan Ayah. Mereka mengerti."

"Reza, akuβ€”"

"Jangan minta maaf." Ia menggeleng. "Rania, dua minggu ini aku belajar sesuatu: mencintai seseorang bukan berarti harus memilikinya. Kadang mencintai berarti melepaskan β€” supaya ia bisa sampai ke alamat yang benar." Ia melirik Bimo yang berdiri di pintu, lalu kembali menatapku. "Jodoh yang salah alamat, akhirnya sampai juga ke alamat yang benar, ya?"

Air mataku tumpah lagi β€” tapi kali ini bukan air mata duka. "Kau akan menemukan alamatmu sendiri, Reza. Pria sebaikmu tidak mungkin tersesat selamanya."

Ia tertawa, mengusap matanya yang berkaca-kaca. "Amin. Doakan aku." Di pintu, ia berhenti β€” kebiasaannya yang selalu membuatku menahan napas. "Jaga dia baik-baik," katanya pada Bimo. "Ia perempuan paling berani yang pernah kukenal."

Setelah Reza pergi, Bimo duduk di sebelahku di teras. Lama kami diam, mendengarkan suara jangkrik dan angin sore.

"Jadi," kata Bimo akhirnya, "semuanya selesai?"

Aku memikirkan Nadia di tahanannya. Dedi yang menunggu sidang. Darman yang akhirnya bisa tidur tanpa mengigau. Ibu yang untuk pertama kalinya dalam dua belas tahun tertawa lepas saat memasak tadi pagi.

"Belum semuanya," kataku. "Tapi yang terpenting sudah."

Sore itu kami bertiga β€” aku, Bimo, dan Ibu β€” pergi ke makam kakek. Ibu meletakkan bunga melati di nisan itu, dan aku membacakan surat kakek dengan suara keras, supaya angin bisa membawanya entah ke mana perginya orang-orang yang sudah tidak ada.

"Nadia sudah mengambil terlalu banyak dari keluarga ini," kubaca. "Tanah ini untuk cucuku β€” agar ia punya pilihan yang tidak pernah kumiliki."

"Terima kasih, Kek," bisikku. "Aku memilih. Dan pilihanku ada di sini."

Bimo menggenggam tanganku. Ibu mengusap rambutku. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, dadaku terasa lapang β€” seperti rumah yang jendelanya akhirnya dibuka setelah lama terkunci.

Kami berjalan pulang di bawah langit senja yang berwarna madu. Dan tepat saat kami sampai di gerbang rumah, ponselku bergetar.

Nomor tidak dikenal. Tapi bukan SMS kali ini β€” telepon.

Aku mengangkatnya. Suara tua yang kukenal β€” Surya, pemilik brankas tempat buku kas itu disimpan.

"Nak Rania," katanya, dan suaranya terdengar gugup. "Maaf mengganggu. Tapi ada yang harus kau lihat. Bukan buku kas β€” sesuatu yang lain." Ia berhenti, menarik napas. "Dua belas tahun lalu, kakekmu menitipkan sebuah kotak padaku. Ia bilang: 'Berikan ini pada cucuku β€” hanya kalau Nadia sudah tidak bisa menyakitinya lagi.'"

Jantungku berhenti berdetak.

"Datanglah ke rumahku besok pagi, Nak. Sendiri."

Sambungan terputus. Aku menatap ponselku, lalu menatap Bimo dan Ibu yang menatapku balik dengan tanya.

Permainan yang kukira selesai β€” ternyata baru saja membuka babak barunya.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!