β€Ή
33. Ibu yang Memilih Buta

Ibu yang Memilih Buta

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,660 kata

Ilustrasi Ibu yang Memilih Buta

Aku menyerahkan fotokopi itu bukan karena aku takut mati. Aku menyerahkannya karena untuk pertama kalinya malam itu, aku takut Bimo yang mati β€” dan aku sudah cukup kehilangan untuk satu malam.

Perjalanan pulang dari Cikarang adalah perjalanan paling sunyi dalam hidupku. Bimo mengemudi dengan buku-buku jari memutih di setir, sesekali melirikku seperti memastikan aku masih ada di kursi sebelahnya, masih utuh, masih bernapas. Ilalang di kiri kanan jalan tanah bergoyang diterpa lampu mobil, dan setiap kali bayangan melintas di kaca spion, aku tersentak.

"Fotomu sudah kuterima," kata Bimo akhirnya, suaranya parau. Ia tidak menatapku β€” matanya terkunci di jalan gelap di depan. "Jam dua puluh satu empat tujuh. Lengkap, jelas. Kita belum kalah, Ran."

Kita belum kalah. Aku mengulang kalimat itu dalam hati seperti doa, sambil menatap layar ponselku yang retak. Retakannya membentuk jaring laba-laba di sudut kanan, tepat di atas foto terakhir yang kukirim. Di balik retakan itu, tulisan tangan kakek masih terbaca jelas: LUNAS, tapi jangan pernah percaya. Dia menunggu.

Aku tidak tahu saat itu bahwa "dia" yang dimaksud kakek bukan Adit.

Jam setengah dua belas malam, kami tiba di rumah. Lampu ruang tamu menyala β€” Ibu belum tidur. Ia duduk di sofa dengan mukena masih terpasang setengah, wajahnya pucat dan matanya merah. Saat aku masuk, ia berdiri begitu cepat sampai tasbih di tangannya jatuh ke lantai.

"Dari mana saja kau?" Suaranya bergetar antara marah dan lega. "Nadia bilang kau bersamanya, tapi aku menelepon balik dan ia tidak mengangkatβ€”"

"Bu." Aku melepas jaketku yang bau lumut dan duduk di hadapannya. Bimo berdiri di ambang pintu, tidak berani masuk lebih jauh. "Aku tidak ke rumah Nadia temanku. Aku ke Cikarang. Ke gudang tua. Dan Tante Nadia ada di sana."

Ibu menatapku, dan aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat di wajahnya sebelumnya: bukan kaget. Pengakuan. Seperti orang yang mendengar vonis yang sudah lama ia tunggu.

"Ceritakan semuanya," katanya pelan. "Jangan ada yang disembunyikan. Tidak malam ini."

Maka aku bercerita. Tentang fotokopi buku kas. Tentang baris "12/03 β€” A. β€” Rp87.500.000 β€” LUNAS". Tentang Adit yang bersembunyi di lemari pakaian kakek dua belas tahun lalu. Tentang pertengkaran di tangga, tentang bunyi tubuh menghantam lantai, tentang Nadia yang pergi tanpa menelepon ambulans. Tentang Bripka Dedi yang muncul dari balik karung goni dengan lencana polisi di lehernya dan foto mobil Bimo di ponselnya. Tentang kertas yang kuserahkan untuk menyelamatkan Bimo.

Ibu mendengarkan tanpa memotong, tanpa menangis, tanpa bergerak. Hanya tangannya yang perlahan mengepal di atas lututnya, semakin erat di setiap kalimatku.

Saat aku selesai, hening menggantung di ruang tamu itu begitu lama sampai aku bisa mendengar detak jam dinding.

"Duduk," kata Ibu akhirnya pada Bimo, yang masih berdiri di pintu. Bimo duduk di kursi terdekat, kaku. Ibu menatapku β€” benar-benar menatapku, seperti ia sedang melihatku untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

"Ibu sudah tahu," katanya.

Darahku surut. "Tahu apa, Bu?"

"Bukan pembunuhannya." Ibu menggeleng pelan. "Itu β€” itu tidak pernah berani Ibu pikirkan. Tapi yang lainnya..." Ia menarik napas panjang yang bergetar. "Dua belas tahun lalu, setelah kakek meninggal, Ibu menemukan amplop di laci meja kerjanya. Berisi fotokopi bukti transfer β€” jumlah yang tidak masuk akal, ke rekening yang tidak Ibu kenal. Ibu bertanya pada Nadia. Ia menangis, Rania. Ia menangis dan bilang kakek yang memberinya uang itu, untuk modal butiknya yang gagal. Ibu..." Suara Ibu pecah. "Ibu memilih percaya. Karena kalau Ibu tidak percaya, artinya Ibu harus melaporkannya. Dan ia adik Ibu satu-satunya. Satu-satunya keluarga yang Ibu punya setelah kakek pergi."

Air mata akhirnya mengalir di pipi Ibu, dan ia tidak menghapusnya.

"Ada lagi," lanjutnya, suaranya kini nyaris berbisik. "Tanda tangan kakek di beberapa dokumen tanah β€” terlalu rapi, terlalu sempurna, tidak seperti tanda tangannya yang biasa bergetar di usia tuanya. Ibu pernah bertanya dalam hati, tapi Ibu tidak pernah bertanya dengan mulut. Ibu takut pada jawabannya."

Aku meraih tangannya β€” tangan yang membesarkanku, yang dingin dan gemetar. "Bu..."

"Aku memilih menjadi buta, Rania." Ibu menatapku dengan mata yang hancur. "Dua belas tahun aku memilih tidak melihat. Dan kebutaanku hampir membunuhmu malam ini. Maafkan Ibu."

Aku memeluknya, dan kami menangis bersama di ruang tamu yang terang itu, sementara Bimo menatap lantai dengan mata berkaca-kaca, memberi kami ruang untuk runtuh sejenak.

Setelah tangis mereda, aku bertanya dengan hati-hati: "Bu, tadi Ibu bilang menelepon Tante Nadia?"

Ibu mengangguk, menghapus air matanya dengan ujung mukena. "Setelah kau pergi dengan alasan 'tugas kelompok di rumah Nadia', Ibu merasa ada yang tidak beres. Kau tidak pernah menginap mengerjakan tugas semalam itu. Jadi Ibu menelepon tantemu β€” untuk memastikan. Ia bilang kau bersamanya, kau baik-baik saja, jangan khawatir." Ibu tertawa pahit. "Ibu percaya. Lagi-lagi Ibu percaya."

"Dia memakai telepon Ibu sebagai alibi," kataku pelan. "Tapi soal lokasi gudang β€” itu tidak mungkin dari Ibu. Ibu tidak tahu soal gudang itu." Aku menatap Ibu dalam-dalam. "Itu dari Dedi. Dia satu-satunya yang tahu lokasi jebakan polisi malam ini."

Wajah Ibu mengeras β€” bukan lagi wajah ibu yang menangis, tapi wajah perempuan yang dikhianati untuk terakhir kalinya. "Bripka Dedi," katanya, setiap suku kata diucapkan seperti sumpah.

Jam dua belas kurang sepuluh, aku menelepon Komisaris Ratna. Ia mengangkat pada dering kedua, suaranya tajam seperti pisau. "Rania. Kau masih hidup rupanya."

"Bu, saya melanggar perintah Ibu," kataku langsung. "Saya ke gudang. Dan saya harus melaporkan sesuatu."

Aku menceritakan semuanya β€” Dedi, Nadia, kertas yang diambil. Hening panjang di seberang. Lalu Ratna berkata dengan suara yang membuatku merinding: "Kau yakin itu Dedi? Kau melihat lencananya dengan jelas?"

"Yakin, Bu. Saya pernah melihatnya di Mapolres, di belakang Ibu."

"Kami jemput Dedi malam ini juga." Terdengar suara ia memberi perintah pada seseorang di latar. "Dan Rania β€” dengarkan aku baik-baik. Surat asli kakekmu aman padaku, di brankas kantor. Jangan ke mana-mana lagi. Jangan menemui siapa pun. Besok pagi aku ke rumahmu."

Sambungan terputus. Aku menatap Bimo. "Ia marah."

"Ia takut," koreksi Bimo pelan. "Sama sepertiku."

Jam setengah satu dini hari, ponselku bergetar. Nomor tidak dikenal. Pesan singkat:

"Tengah malam lewat. Bimo masih hidup. Aku tidak pernah berniat membunuhnya β€” ancamanku cuma cara membawamu ke gudang. Aku butuh seseorang mendengar kebenaran sebelum Nadia membungkamku selamanya. Aku menyerahkan diri besok pagi. Kebenaran butuh saksi yang hidup. β€” A."

Aku menunjukkan pesan itu pada Bimo. Ia membacanya dua kali, lalu mengembuskan napas panjang β€” napas yang sepertinya sudah ia tahan sejak pukul sepuluh malam. Batas waktu yang menghantui kami selama berjam-jam itu lewat begitu saja, tanpa darah, tanpa kematian. Hanya pesan dari pria hancur yang akhirnya memilih jalan yang benar.

"Kau mempertaruhkan nyawamu untukku," kata Bimo pelan. Kami duduk di teras, menatap jalanan kosong yang mulai berkabut.

"Kau akan melakukan hal yang sama," kataku.

"Aku tahu." Ia menggenggam tanganku. "Itu yang membuatku takut."

Pagi harinya, setelah hanya tidur tiga jam, aku dan Bimo duduk di ruang tamu dengan secangkir teh yang dibuat Ibu β€” Ibu yang kini terlihat sepuluh tahun lebih tua, tapi matanya jernih untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

"Kita harus menemukan S," kataku. "'Kalau aku kenapa-kenapa, cari S. Dia tahu semuanya.' Satu-satunya S yang kita kenal..."

"Notaris Surya," kata Bimo. "Yang mengurus wasiat kakek dua belas tahun lalu."

Kantor notaris itu berada di ruko tua di pusat kota, papan namanya sudah pudar dimakan waktu. Pak Surya β€” pria enam puluhan dengan kacamata tebal β€” mendengarkan ceritaku dengan wajah yang semakin pucat. Saat aku menyebut buku kas asli kakek, ia berdiri begitu cepat sampai kursinya terjungkal.

"Ikut saya," katanya.

Ia membawa kami ke ruang arsip di belakang, ke sebuah brankas besi tua. Tangannya gemetar saat memutar kombinasi. Pintu brankas terbuka β€” kosong. Hanya debu berbentuk persegi panjang di dasarnya, bekas sebuah buku yang sudah lama terbaring di sana.

"Tengah malam tadi," bisik Pak Surya, suaranya bergetar. "Seseorang membukanya dengan kunci duplikat. Alarm tidak berbunyi. Hanya tiga kunci yang pernah dibuat: milikku, milik kakekmu..." Ia menatapku dengan mata berkaca. "...dan milik adik ibumu. Kakekmu memberinya satu, katanya, 'untuk keadaan darurat'."

Nadia. Ia sudah selangkah lebih maju dari kami β€” lagi.

"Tapi Pak," kataku, "di surat kakek tertulis 'cari S'. Apakah... apakah S itu Bapak?"

Pak Surya menggeleng pelan. "Kakekmu tidak pernah memanggilku S, Nak. Tiga puluh tahun aku mengurus dokumennya, ia selalu memanggilku Surya." Ia ragu sejenak. "Ia tidak pernah bilang padaku siapa S."

Kecewa menghantamku seperti ombak. Tapi Pak Surya belum selesai. Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan sebuah map.

"Ada yang harus kau tahu, Rania. Ibumu menandatangani kuasa jual atas tanah Cikarang minggu lalu." Ia menyodorkan fotokopi dokumen itu padaku. "Penandatanganan akta dengan pembeli dijadwalkan tiga hari lagi."

Aku menatap dokumen itu, dan nama pembeli di sana membuat perutku melilit: perusahaan keluarga Reza. Tunanganku β€” pria yang dijodohkan denganku β€” keluarganya akan membeli tanah yang berdarah itu. Perjodohan dan tanah itu ternyata satu transaksi.

Malam harinya, jam sembilan, ponselku bergetar di atas meja makan. Nomor tidak dikenal. Sebuah foto: buku kas tua bersampul kulit, tebal, dengan tulisan tangan yang kukenali milik kakek β€” tergeletak di atas meja kayu. Asli. Bukan fotokopi.

Di bawah foto itu, pesan singkat:

"Kau mau buku yang asli? Besok tengah malam. Gudang yang sama. Sendiri. Jangan bawa polisi, jangan bawa Bimo. Bawa nama S. β€” N."

Aku menunjukkan ponsel itu pada Bimo. Ia membacanya, lalu menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat sebelumnya β€” campuran takut dan kagum.

"Ia tidak tahu siapa S," kata Bimo pelan. "Itu satu-satunya hal yang belum ia miliki. Dan ia pikir kau memilikinya."

"Aku tidak memilikinya," kataku.

"Tapi ia tidak tahu itu." Bimo menggenggam tanganku erat. "Dan itu satu-satunya senjata kita."

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!