Pemburu Baru
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,268 kata
Rania tiba dua puluh menit lebih awal β dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memilih meja bukan karena dekat jendela, melainkan karena menghadap pintu.
Warung kopi kecil di gang belakang kampus itu separuh kosong pada Sabtu pagi. Rania duduk di sudut paling dalam, punggung menempel dinding, tas di pangkuan. HP butut ia letakkan tertelungkup di atas meja, layarnya menghadap bawah β kebiasaan baru yang ia pelajari dari ketakutan. Dari tempatnya, ia bisa melihat siapa pun yang masuk, siapa pun yang terlalu lama memesan, siapa pun yang pura-pura tidak memperhatikannya.
Ia membenci betapa cepat ia mempelajari semua ini.
Semalam ia hampir tidak tidur. Setelah mengirim pesan itu ke Reza β Kita harus nyerang β ia berbaring menatap langit-langit sampai azan subuh, memutar ulang setiap keping yang ia miliki: cincin perak di sakunya, halaman kontrak yang dilipat, lebam di pipi Reza, tiga kata di dinding vila. Keping-keping itu tidak lagi terlihat seperti nasib buruk yang menimpanya. Tadi malam, untuk pertama kalinya, keping-keping itu terlihat seperti sesuatu yang lain: amunisi.
Pukul sembilan kurang lima, Reza datang. Ia mengenakan topi dan masker β menyisakan sepasang mata yang masih sembap. Lebam di pipi kirinya sudah memudar menjadi kuning kehijauan, tapi masih jelas. Ia melepas masker setelah duduk, melirik sekeliling sekali, lalu mencondongkan tubuh.
"Kamu bawa?" tanya Rania langsung.
Reza mengangguk, mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya dan menggesernya di atas meja: halaman kontrak yang dilipat rapi β halaman terakhir yang semalam Rania lipat dari dokumen ayahnya. Pasal tambahan dengan huruf kecil. Paraf N yang dingin.
"Aku foto dari semua sisi," kata Rania pelan. "Tadi malam. Tiga puluh enam foto. Klausulnya, tanda tangan Ayah, paraf Nadia, kop suratnya. Semuanya."
Reza menatapnya β dan ada kekaguman yang tidak ia sembunyikan. "Kapan kamu jadi... begini?"
"Sejak mereka menjadikan ayahku agunan." Rania melipat kembali halaman itu, menyimpannya. "Dengerin. Aku tidak tidur semalam. Aku mikir. Dan aku punya rencana. Bukan rencana kabur β rencana nyerang."
Ia mencondongkan tubuh, suaranya turun sampai nyaris berbisik.
"Operasi Senin. Tiga fase. Fase satu: temukan Bimo. Ibu Ratna β bisikannya di butik kemarin bukan ancaman, Reza. Itu... permintaan tolong yang disamarkan. Aku akan ke rumahmu besok, Minggu, alasan konsultasi akhir gaun. Aku akan bikin dia bicara."
"Fase dua," lanjut Rania, "senjata. Kita kumpulin paket bukti: foto klausul kontrak ini, foto lebam di pipimu β" ia mengangkat HP-nya, "senyum. Sekarang." Reza menurut, dan Rania memotret pipinya dari tiga sudut. "Cincin Bimo. Foto-foto vila dari HP-mu. Kesaksianmu soal interogasi. Semuanya masuk satu paket."
"Terus paketnya buat apa?" tanya Reza.
Rania menatapnya lurus. "Buat Bang Yudi."
Reza mengernyit. "Bang Yudi?"
"Wartawan. Kontak Paman Darman β pamanmu sendiri yang cerita ke aku kemarin." Rania mengetuk meja pelan. "Itu fase tiga: jebakan. Paket bukti diserahkan ke Bang Yudi dengan satu instruksi β kalau sampai Senin jam dua siang aku tidak memberi kabar bahwa semuanya aman, paket itu naik. Penculikan. Pemaksaan. Klausul kontrak. Semuanya."
Reza terdiam. Lalu perlahan, ia mengerti. "Tender pelabuhan."
"Tender pelabuhan," Rania mengangguk. "Hendra butuh citra keluarga sakinah yang bersih minggu depan. Skandal penculikan dan pemaksaan pernikahan seminggu sebelum tender β mati. Itu senjata kita, Reza. Bukan polisi, bukan pengacara. Rasa takutnya sendiri."
Seorang pelayan datang mengantar dua kopi tubruk. Mereka diam sampai pelayan itu pergi.
"Tapi ada syaratnya," kata Reza pelan. "Paket itu cuma berguna kalau Bimo masih... kalau dia masih bisa diselamatkan. Dan kalau mereka tidak duluanβ"
"Aku tahu." Rania menggenggam cangkirnya sampai buku-buku jarinya memutih. "Makanya fase satu tidak bisa gagal. Kita harus tahu di mana Bimo sebelum Senin."
Hening sejenak. Lalu Rania menatap Reza β tatapan yang membuat Reza menegakkan punggung.
"Reza. Aku harus tanya ini. Dan aku butuh jawaban jujur."
"Apa?"
"Kamu pernah ke Vila Cemara sebelum malam itu?"
Reza membeku. "Kenapa kamu tanya itu?"
"Karena tulisan di dinding itu." Suara Rania tetap tenang, tapi tangannya gemetar di atas meja. "Jangan percaya Reza. Seseorang menulis itu. Entah Bimo dalam keadaan hancur, atau mereka yang menulis untuk memecah kita. Aku memilih tidak percaya tulisan itu β tapi aku tidak mau ada rahasia di antara kita. Tidak lagi. Jadi aku tanya sekali: kamu pernah ke sana?"
Reza menatapnya lama. Lalu ia menggeleng, pelan tapi tegas. "Tidak. Malam itu pertama kalinya aku injak vila itu. Aku bersumpah."
Rania mengembuskan napas β ia tidak sadar ia menahannya.
"Tapi," lanjut Reza, suaranya turun, "ada yang belum aku ceritakan. Waktu subuh, sebelum mereka melepas aku... ayahku datang ke ruangan itu."
Rania tersentak. "Pak Hendra? Ke vila?"
"Dia berdiri di depan aku β aku setengah sadar, pipi ini baru ditampar β dan dia bilang..." Reza menelan ludah. "Kamu anakku, Reza. Berhenti mempermalukan keluarga. Pulang. Nikahi anak itu baik-baik, dan semua ini selesai."
"Terus kamu jawab apa?"
"Aku bilang tidak." Reza menyentuh lebamnya dengan ujung jari. "Makanya aku dapat ini. Ini bukan cuma tanda mata, Rania. Ini harga karena aku bilang tidak ke ayahku sendiri."
Rania merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Selama ini ia mengira Reza membantunya karena rasa bersalah, atau karena terjebak. Sekarang ia tahu: Reza sudah memilih β dan pilihannya dibayar dengan darah.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan cincin perak Bimo, meletakkannya di atas meja di antara dua cangkir kopi. Ukiran R dan B berkilau redup di bawah cahaya lampu warung.
"Dia masih berjuang," kata Rania pelan. "Reza bilang kemarin β orang yang menulis peringatan di dinding bukan orang yang sudah menyerah. Aku pegang itu sekarang. Bimo masih berjuang di suatu tempat, jadi kita tidak boleh berhenti berjuang di sini."
Reza menatap cincin itu, lalu menatap Rania. "Kita keluarkan dia. Apa pun caranya."
"Oh, satu lagi," kata Reza tiba-tiba. "Waktu mereka kira aku pingsan, aku dengar si bekas luka itu nelpon. Dia bilang: pindahin ke tempat biasa. Yang dekat pelabuhan. Terus dia bilang..." Reza memejamkan mata, mengingat. "Bos mau paketnya utuh sampai Senin."
Rania mencerna kalimat itu. Utuh sampai Senin. Artinya Bimo harus tetap hidup β setidaknya sampai konferensi pers selesai. Artinya mereka butuh Bimo sebagai... asuransi. Sebagai tali.
"Pelabuhan," bisik Rania. "Sama seperti tendernya. Semuanya mengarah ke sana."
Mereka menyusun detail: Reza akan ke Paman Darman malam ini, menyerahkan paket bukti ke Bang Yudi β wartawan investigasi yang lima tahun lalu pernah dibantu Paman Darman keluar dari jerat hukum, utang budi yang tidak pernah ia lupa bayar. Rania akan ke rumah Ibu Ratna besok siang. HP butut tetap jadi jalur utama. Tidak ada pesan penting di HP asli. Kalau salah satu dari mereka tidak memberi kabar dalam dua puluh empat jam, yang lain langsung ke Bang Yudi.
"Dan satu aturan," kata Rania. "Mulai sekarang, tidak ada rahasia di antara kita. Kalau kamu dengar sesuatu, sekecil apa pun β aku harus tahu. Kalau aku merencanakan sesuatu β kamu harus tahu."
"Sepakat," kata Reza. "Tidak ada rahasia."
Baru saja Rania hendak membayar, HP butut di atas meja bergetar.
Nomor tak dikenal.
Rania dan Reza saling pandang. Rania membalik ponsel itu β dan darahnya surut.
Sebuah foto: mereka berdua di meja warung ini. Rania mencondongkan tubuh, Reza tanpa masker. Diambil dari seberang jalan, beberapa menit lalu. Jelas. Dekat.
Di bawah foto, satu baris teks:
Rencana yang bagus, Nduk. Kami suka nonton orang berjuang.
Tangan Reza gemetar. "Mereka... mereka dengar semuanya?"
Rania menatap foto itu lama. Lalu ia memperhatikan sesuatu β sudut pengambilan, jaraknya. Orang yang memotret berada di luar, di seberang gang. Tidak mungkin mendengar percakapan mereka dari sana. Ini gertakan. Atau... mereka memang punya orang di dalam warung.
Rania tidak bisa memastikan. Dan ketidakpastian itulah senjatanya mereka.
Perlahan, Rania tersenyum. Senyum yang dingin, yang tidak pernah ia tahu ia miliki.
"Mereka mau kita takut," katanya pelan, menghapus foto itu. "Orang yang tidak takut tidak perlu mengintip dari seberang jalan."
Ia berdiri, membayar kopi mereka, lalu menatap Reza.
"Besok aku ke rumah Ibu Ratna. Urusan gaun pengantin." Ia mengenakan tasnya. "Biar mereka kira kita cuma... sepasang pengantin yang patuh."
Reza menatapnya β dan untuk pertama kalinya sejak malam di vila, ia tersenyum juga.
"Siap, Nduk," katanya. "Perang dimulai."