β€Ή
53. Datang Sendiri

Datang Sendiri

Jodoh yang Salah Alamat β€’ 1,273 kata

Ilustrasi Datang Sendiri

Pukul sepuluh lewat lima puluh, aku masih berdiri di depan cermin kamarku.

Jaket jeans sudah kupakai. Rambutku kuikat asal-asalan. Di cermin, wajah yang menatapku balik bukan wajah perempuan yang baru saja dibebaskan dari sebuah pertunangan β€” melainkan wajah seseorang yang sedang memilih untuk berbohong.

Ponselku bergetar lagi. Pesan yang sama, dari nomor yang sama: "Jam 11. Jangan terlambat. Jangan bawa siapa-siapa."

Aku mematikan layar ponsel, memasukkannya ke saku jaket, lalu membuka pintu kamar pelan-pelan. Lorong rumah gelap. Dari kamar Ibu dan Bapak terdengar dengkuran Bapak yang ritmis β€” suara yang dulu membuatku kesal, malam ini terdengar seperti doa. Mereka tidur nyenyak untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan. Aku tidak akan membangunkan mereka. Tidak untuk ini.

Motor tuaku kuparkir di ujung gang, jauh dari rumah, supaya suaranya tidak membangunkan siapa pun. Sepatu kukeluarkan dari tangan begitu sampai di gerbang β€” aku berjalan jinjit seperti maling di rumah sendiri.

Lucunya, aku baru berjanji pada Bimo empat jam yang lalu: tidak ada lagi rahasia. Dan sekarang aku menyelinap keluar seperti pencuri, membawa satu rahasia terbesar dalam hidupku.

Maafkan aku, Bim. Satu rahasia terakhir. Hanya satu malam ini.

Jalan menuju Cikarang malam itu terasa dua kali lebih panjang. Lampu-lampu jalan semakin jarang setelah melewati perbatasan kota, berganti hamparan sawah yang gelap dan bau lumpur basah. Angin malam menusuk lewat resleting jaketku yang tidak kukancing penuh. Setiap beberapa menit aku melirik kaca spion β€” kosong. Tidak ada yang mengikutiku. Setidaknya, tidak yang kulihat.

Pukul sebelas kurang lima, aku sampai di tanah itu.

Tanah Cikarang. Tempat semuanya bermula β€” dan mungkin tempat semuanya berakhir.

Waktu aku kecil, kakek pernah mengajakku ke sini β€” waktu tempat ini masih sawah milik keluarga, jauh sebelum papan nama perusahaan Darmawan dipancang di pagarnya. Kakek menggandeng tanganku menyusuri pematang, menunjuk ke langit dan berkata: "Tanah itu seperti janji, Nduk. Sekali kau tanda tangani dengan hati yang kotor, tanahnya sendiri yang akan menagih." Aku tidak mengerti waktu itu. Aku mengerti sekarang β€” dan kakek sudah tidak ada untuk melihat cucunya menagih janji itu sendirian di tengah malam.

Di siang hari tempat ini hanyalah lahan kosong berpagar seng setengah roboh, dengan gudang setengah jadi yang atapnya belum selesai dipasang. Di malam hari, tanpa bulan, tempat ini berubah menjadi sesuatu yang lain: lautan hitam yang menelan suara. Hanya derit jangkrik dan desau angin di antara tiang-tiang beton yang belum berdinding.

Aku mematikan mesin motor di balik rumpun bambu, dua ratus meter dari pagar. Berjalan kaki sisanya. Tanah becek menempel di sol sepatuku. Jantungku berdegup begitu keras sampai aku yakin siapa pun dalam radius sepuluh meter bisa mendengarnya.

Pukul sebelas tepat, aku berdiri di tengah lahan itu, di bawah kerangka atap gudang yang seperti tulang rusuk raksasa.

Tidak ada siapa-siapa.

Aku mengeluarkan ponsel. Tidak ada pesan baru. Tanganku berkeringat sampai layar ponsel licin.

"Halo?" suaraku pecah di udara malam. "Aku sudah di sini. Keluar!"

Hanya gema jawabanku sendiri, memantul di antara tiang beton.

Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Aku mulai berpikir ini jebakan konyol β€” atau lebih buruk, aku mulai berpikir tidak ada siapa-siapa dan aku baru saja mempertaruhkan nyawaku untuk lelucon kejam.

Di sela penantian itu, wajah Bimo muncul di kepalaku β€” wajahnya tadi pagi waktu ia berkata "janji", air matanya jatuh ke punggung tanganku. Dadaku sesak. Aku membayangkan apa yang akan ia katakan kalau tahu aku berdiri di sini sekarang. Ia tidak akan marah, aku tahu. Ia akan takut. Dan ketakutan di wajah orang yang mencintaimu jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.

Aku mengusir bayangan itu. Satu malam ini saja. Besok aku akan menceritakan semuanya.

Lalu aku mendengarnya: langkah kaki di atas kerikil, dari arah belakang gudang.

Tanganku merogoh saku jaket, menggenggam ponsel erat-erat β€” satu-satunya "senjata" yang kubawa. Bodoh. Aku tahu itu bodoh. Tapi aku tetap berdiri di tempatku. Kakek tidak membesarkanku untuk lari.

Senter menyala β€” satu berkas cahaya putih menyorot wajahku, membuatku memicingkan mata dan mengangkat tangan.

"Matikan!" bentakku.

Cahaya itu turun ke tanah. Dan dari balik silau yang memudar, sesosok lelaki melangkah maju.

Aku mengenalnya bahkan sebelum wajahnya jelas. Postur itu. Cara berjalannya yang sedikit pincang di kaki kiri.

"Fikri?"

Kakak kandung Bimo berdiri tiga meter di hadapanku, senter di tangannya, wajahnya pucat seperti mayat di bawah cahaya redup. Ia terlihat sepuluh tahun lebih tua dari terakhir kali kulihat β€” waktu itu di warung tenda, ia masih tertawa lebar memesan sate usus.

"Rania," katanya pelan. "Kau datang sendiri. Bagus."

Darahku berdesir. "Kau yang mengirim pesan itu? Kau yang mengambil buku catatan kakekku?"

Ia tidak menjawab. Ia malah menatap sekeliling, gelisah, seperti memastikan tidak ada yang mendengar. Lalu ia membuka tas selempang lusuhnya dan mengeluarkan sebuah buku.

Buku catatan batik. Sudutnya robek persis seperti di foto yang dikirim padaku. Di bawah cahaya senter, aku bisa melihat tulisan tangan yang sangat kukenal β€” huruf-huruf tegas kakekku yang miring ke kanan.

Tanganku terulur sendiri, gemetar. "Itu... itu asli?"

"Asli," kata Fikri. "Yang disita polisi kemarin itu fotokopi. Aku yang menukarnya."

"Kenapa? Kenapa kauβ€”"

"Karena semalam, di gudang yang gelap itu, aku melihat anak buah Darmawan mengincar tas buktimu." Suara Fikri bergetar. "Aku ada di sana, Rania. Aku... aku masih disuruh Darmawan mengawasi gudang itu, meski aku sudah keluar dua bulan lalu. Mereka tidak tahu aku keluar. Atau mereka pura-pura tidak tahu supaya aku tetap bisa dimanfaatkan."

Ia menelan ludah. "Waktu kekacauan pecah, aku lihat salah satu dari mereka meraih tasmu. Aku lebih cepat. Aku menukar isi tas dengan fotokopi yang... yang kebetulan kubawa." Ia tertawa pahit. "Kebetulan. Aku sudah menyiapkan fotokopi itu seminggu sebelumnya β€” aku berencana menukar buku aslimu dengan fotokopi atas perintah Darmawan. Tapi semalam, di detik terakhir... aku tidak bisa. Aku ingat wajah Bimo waktu ia bilang ia malu padaku. Jadi aku membaliknya: yang asli kusembunyikan, yang fotokopi kuserahkan ke kekacauan supaya dikira terselamatkan."

Ia menatapku dengan mata yang berkaca. "Kau tahu yang paling menyakitkan, Rania? Seminggu yang lalu aku masih orang yang menyiapkan fotokopi untuk menipu cucunya kakekmu. Semalam aku menjadi orang yang mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan buku yang sama. Satu minggu. Satu keputusan. Dan aku bahkan tidak tahu aku ini orang yang mana."

Aku memeluk buku itu ke dadaku. Kertasnya dingin, tapi terasa seperti memeluk kakekku sendiri. "Kenapa tidak kau berikan langsung ke polisi? Kenapa lewat pesan misterius segala?"

"Karena Darmawan tahu buku aslinya hilang," kata Fikri, dan suaranya turun menjadi bisikan. "Dan dia tahu aku yang mengambilnya. Rania, aku tidak punya banyak waktu. Merekaβ€”"

Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.

Cahaya menyapu lahan itu β€” bukan senter. Lampu mobil. Dua pasang. Dari arah jalan masuk, mesin-mesin meraung, dan dalam sekejap kegelapan itu robek oleh sorot lampu jauh yang menyilaukan.

Fikri mematikan senternya seketika. Wajahnya β€” yang tadi pucat β€” kini putih seperti kertas.

"Mereka mengikutiku," bisiknya. "Maaf, Rania. Maaf."

Ia mendorong buku catatan itu β€” yang masih kupeluk β€” lebih dalam ke dalam jaketku, lalu mendorong bahuku dengan kasar ke arah parit di sisi gudang. "Lari! Lewat parit, tembus ke sawah. Jangan berhenti, jangan menoleh!"

"Fikri, ikut akuβ€”"

"Tidak bisa. Kalau kita lari berdua, mereka kejar dua-duanya." Ia tersenyum β€” senyum yang sama seperti waktu ia mengajariku naik motor dulu, kata Bimo pernah cerita. "Pergi, Rania. Bawa buku kakekmu pulang."

Aku setengah jatuh ke dalam parit yang becek. Air setinggi mata kaki merendam sepatuku. Dari atas, aku mendengar pintu-pintu mobil dibanting, langkah-langkah berat di atas kerikil, dan sebuah suara yang kukenal dari rekaman-rekaman lamaku β€” suara dingin anak buah Darmawan:

"Terima kasih sudah membawakan bukunya, Fikri. Dan terima kasih sudah membawakan perempuannya juga."

Lalu aku mendengar bunyi pukulan. Dan Fikri tidak berteriak sama sekali.

Bagikan
Komentar
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!