Halaman 47
Jodoh yang Salah Alamat β’ 1,334 kata
Tiga puluh detik setelah borgol baja mengunci pergelangan tangan Arif, ponsel di saku jaketku bergetar.
Di tengah gudang tua Cikarang yang kini dipenuhi polisi berseragam, dengan Ibu yang terisak di pelukan Ayah dan Arif yang berlutut menangis di lantai semen, aku mengeluarkan ponselku dengan tangan gemetar. Sebuah SMS dari nomor tak dikenal. Isinya singkat, dingin, dan membuat darahku berhenti mengalir.
"Halaman 47 bukan milikmu. Kembalikan. β A."
Aku menatap layar itu sampai matanya buram. Halaman 47. Kertas tulisan tangan kakek yang baru saja kutemukan di kotak kayu milik Nadia, masih terlipat rapi di saku dalam tasku. Tidak ada seorang pun yang tahu aku membacanya. Tidak ada seorang pun yang tahu kertas itu ada padaku β kecuali Nadia. Dan Nadia berdiri tiga meter dariku, memeluk Fajar yang menangis.
"Rania?" Suara Bimo membuyarkan lamunanku. Tangannya yang hangat menggenggam bahuku. "Kamu pucat. Ada apa?"
Aku menunjukkan layar ponselku. Bimo membacanya, rahangnya mengeras seketika.
"Arif sudah ditangkap," katanya pelan, nyaris seperti menegaskan pada dirinya sendiri. "Semua anak buahnya juga. Komisaris Ratna bilang jaringan mereka lumpuh total."
"Lalu siapa A?" bisikku.
Bimo tidak menjawab. Matanya menyapu gudang β ke arah Briptu Hendra yang ikut diborgol, ke arah dua polisi lain yang menunduk, ke arah pintu gudang yang terbuka lebar memperlihatkan langit sore yang oranye. Untuk pertama kalinya sejak badai ini dimulai, aku melihat ketakutan di wajah Bimo. Bukan ketakutan untuk dirinya. Ketakutan untukku.
Komisaris Ratna mendekat, topinya di tangan. Perempuan tegas berusia lima puluhan itu menatapku dengan sorot yang melembut.
"Nak Rania, ibumu sudah aman. Kami akan bawa Arif dan komplotannya ke Polda malam ini juga. Kamu dan keluarga bisa pulang, beristirahat."
"Bu Komisaris," kataku, suaraku serak. "Saya baru dapat SMS ancaman. Dari nomor tak dikenal. Dia menyebut... sesuatu yang seharusnya tidak diketahui siapa pun."
Aku menunjukkan pesannya. Komisaris Ratna membacanya dua kali, lalu memanggil seorang anggotanya.
"Lacak nomor ini. Sekarang juga," perintahnya. Lalu kepadaku, "Jangan hapus pesannya. Jangan balas. Dan untuk sementara, jangan pergi ke mana-mana tanpa pengawalan."
Di sudut gudang, Reza berdiri diam. Tunanganku β atau lebih tepatnya, orang yang hampir menjadi suamiku karena sebuah perjodohan yang salah alamat. Matanya bertemu mataku, dan dia berjalan mendekat dengan langkah pelan.
"Rania," katanya. "Boleh kita bicara sebentar? Hanya kita berdua."
Bimo melirikku. Aku mengangguk padanya β sebuah anggukan yang berkata tidak apa-apa, aku bisa β dan mengikuti Reza ke dekat pintu gudang, menjauh dari keramaian.
Reza diam cukup lama. Angin sore menerbangkan debu gudang di antara kami.
"Aku sudah bicara dengan Ayah dan Ibuku tadi pagi," katanya akhirnya. "Sebelum semua ini terjadi. Tentang kita."
Jantungku berdebar. "Reza, akuβ"
"Dengarkan aku dulu," potongnya lembut. "Sejak awal, aku tahu hatimu bukan untukku. Aku melihat caramu menatap Bimo waktu dia datang ke rumah waktu lebaran β seperti orang yang menemukan rumah setelah lama tersesat. Aku tidak pernah bisa membuatmu menatapku seperti itu, dan itu bukan salahmu."
Air mataku jatuh tanpa izin.
"Pertunangan ini," lanjut Reza, "adalah keinginan orang tua kita. Bukan keinginan kita. Dan aku tidak mau membangun rumah tangga di atas fondasi kebohongan. Jadi... aku yang akan mengakhirinya. Dengan hormat. Tanpa aib untukmu, tanpa aib untuk keluargamu. Biar orang bilang akulah yang membatalkannya β karena pekerjaanku, karena apa saja. Kamu tidak perlu menanggung apa-apa."
"Reza..." suaraku pecah. "Kamu terlalu baik untukku."
Dia tersenyum β senyum sedih yang tulus. "Tidak. Aku hanya akhirnya jujur pada diriku sendiri. Jaga dirimu, Rania. Dan..." dia melirik ke arah Bimo yang menunggu di kejauhan, "dia beruntung. Jangan sia-siakan dia."
Reza pergi meninggalkan gudang tanpa menoleh. Aku berdiri di sana, menangis dalam diam, merasakan sebuah beban raksasa terangkat dari dadaku β dan digantikan oleh beban lain yang jauh lebih gelap: selembar kertas di tasku, dan satu huruf di layar ponselku.
Di perjalanan pulang, aku duduk di jok belakang motor Bimo dengan kertas kakek terasa berat di dalam tasku β seberat batu. Bimo tidak banyak bicara, tapi sesekali dia menoleh memastikan aku masih di sana, masih utuh. Angin malam menampar wajahku, dan untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu yang mengerikan: SMS itu datang tiga puluh detik setelah Arif diborgol. Artinya pengirimnya ada di sana. Di gudang itu. Di antara kerumunan polisi, wartawan yang mulai berdatangan, dan keluarga yang menangis. Seseorang yang menyaksikan semuanya β dan tersenyum.
Malam harinya, di kamarku, aku akhirnya membuka lipatan kertas itu di bawah cahaya lampu meja.
Tulisan tangan kakek β Pak Wirya β masih tegas meski tintanya memudar. Aku mengenalinya dari buku-buku catatan tua yang dulu sering kubaca diam-diam di ruang kerjanya waktu kecil.
"Halaman 47. Untuk cucuku β jika kamu membaca ini, berarti aku gagal melindungimu dari kebenaran."
Tanganku bergetar saat melanjutkan membaca.
"Buku kas yang selama ini dicari orang-orang itu bukan sekadar catatan dagang. Di halaman 47, tercatat pembayaran kepada 'A.' β perantara tanah Cikarang. Dialah yang mempertemukanku dengan ayah Arif. Dialah yang mengambil komisi dari dua sisi. Aku membayarnya lunas, Rania. Lunas. Tapi dia kembali bertahun-tahun kemudian, menuntut lebih, mengancam akan membuka semuanya jika aku tidak membayar lagi. Aku menolak. Buku-buku itu bersih, dan aku tidak akan membiarkan seorang pemeras menodai nama keluarga ini."
"Aku menyembunyikan buku kas yang asli β bukan karena aku bersalah, tapi karena kebenaran di halaman 47 bisa menjadi senjata di tangan orang yang salah. Jika Arif membacanya, dia akan tahu ayahnya bukan korban seperti yang dia yakini. Dan jika 'A.' mendapatkannya, dia akan menggunakannya untuk memeras keluargamu sampai kapan pun. Lindungi ibumu. Lindungi ayahmu. Dan maafkan kakekmu yang pengecut ini, yang memilih diam alih-alih membersihkan semuanya saat masih sempat. β Kakek."
Aku membaca surat itu tiga kali. Setiap kali, ada lapisan makna baru yang membuatku mual.
Kakek tidak bersalah β dia membayar lunas. Tapi dia diam. Dia membiarkan Arif membenci orang yang salah selama dua belas tahun. Dia membiarkan kebohongan itu tumbuh, meracuni, sampai akhirnya meledak dan menyandera Ibuku.
Dan 'A.' β perantara itu β masih hidup. Masih mengancam. Masih menginginkan halaman 47.
Pintu kamarku diketuk pelan. Bimo masuk β Ayah mengizinkannya menunggu di ruang tamu sejak tadi, dan Ibu memaksanya makan dulu sebelum naik. Dia duduk di tepi tempat tidurku, membaca surat kakek dalam diam.
"Jadi Arif selama ini mengejar buku yang salah?" tanyanya pelan.
"Bukan salah," jawabku. "Tidak lengkap. Dia mengejar buku kas yang asli, tapi dia tidak tahu halaman 47 menyimpan rahasia yang justru menghancurkan keyakinannya sendiri. Nadia bilang Arif yakin ayahnya dirampas tanahnya. Padahal ayahnya menjualnya sendiri untuk menutup utang judi. Dan perantara 'A.' ini..."
"...adalah orang yang mempertemukan mereka," Bimo menyelesaikan kalimatku. "Orang yang mengambil untung dari dua sisi. Orang yang sekarang mengirimi kamu SMS."
Ponsel Bimo berdering. Nomor Komisaris Ratna.
"Halo, Bu? ... Ya ... Apa?" Wajah Bimo berubah. "Kapan diaktifkan? ... Baik, Bu. Terima kasih."
Dia menutup telepon dan menatapku dengan ekspresi yang membuat perutku melilit.
"Nomor pengirim SMS itu," katanya perlahan, "adalah kartu prabayar yang diaktifkan sore ini juga. Di sebuah konter di Cikarang. Dua jam setelah Arif ditangkap."
Dinginku menjalar sampai ke tulang.
"Artinya 'A' bukan Arif," bisikku. "Artinya dia bebas. Artinya diaβ"
Ponselku bergetar lagi. SMS kedua. Dari nomor yang sama.
Tanganku sampai tidak stabil saat membukanya. Bukan teks kali ini β melainkan sebuah foto.
Foto kotak kayu milik Nadia. Tergeletak di atas meja belajarku. Di kamarku. Diambil dari sudut yang hanya mungkin jika pengambilnya berdiri di dalam ruangan ini.
Di bawah foto itu, satu kalimat:
"Aku tahu kamu menyimpannya di laci meja. Kembalikan sebelum aku mengambilnya sendiri."
Aku mendongak ke arah Bimo. Dia sudah berdiri, memeriksa jendela kamarku β terkunci dari dalam. Lalu pintu β tidak ada tanda congkelan.
"Ran," katanya dengan suara yang belum pernah kudengar setegang itu, "foto ini diambil dari dalam kamarmu. Hari ini. Mungkin... beberapa jam yang lalu."
Di luar jendela, malam menatap balik dengan gelap yang tiba-tiba terasa hidup β seolah ada sepasang mata di suatu tempat dalam kegelapan itu, yang tahu persis di mana aku menyimpan rahasia kakekku.