Ambang
Kos Nomor 13 β’ 1,449 kata
Pintu kamar 7 terbuka sendiri β dan yang keluar bukan kegelapan.
Kegelapan tidak punya kaki.
Jejak-jejak basah kecil itu berhenti tepat satu langkah di depan sandal saya. Lalu, dari celah pintu yang menganga, ia melangkah keluar.
Anak perempuan bergaun itu. Crayon merah di tangan kanannya. Gaunnya basah di bagian bawah, menetes. Air menetes dari ujung jari-jarinya yang terlalu panjang β tes, tes, tes β jatuh ke lantai koridor.
Di belakangnya, di dalam kamar 7, saya bisa melihatnya sekarang. Lantai kamar itu tidak utuh. Di tengahnya menganga lubang hitam sebesar mulut sumur, dan dari dalamnya terdengar bunyi air. Naik-turun. Bernapas. Bau pisang goreng gosong mengepul dari lubang itu seperti asap.
"Abang mau lihat Lasmi?" tanya anak itu dengan suara saya.
Lalu, dari dalam lubang β dalam, jauh, bergema β suara perempuan menjerit:
"JANGAN! LARI, NAK! JANGAN LIHAT! LARI!"
Suara Ibu Lastri. Bukan senandung lembut tadi. Jeritan. Jeritan orang yang sudah tiga puluh tahun menahan sesuatu dan akhirnya tidak kuat lagi.
Anak itu menoleh sedikit ke arah lubang, kesal, seperti anak kecil yang diganggu saat main. "Ibu berisik," katanya. Lalu ia kembali menatap saya dan tersenyum. Senyumnya berkedip β sesaat, hanya sesaat, wajahnya menjadi wajah SAYA. Persis. Sampai ke tahi lalat kecil di bawah mata kiri.
Saya terhuyung mundur. Punggung saya menabrak dinding koridor yang dingin.
"DIMAS!"
Fajar berlari dari ruang depan dengan linggis di tangan β linggis, ya Tuhan β dan Sari di belakangnya, bel di tangannya berdering sendiri, liar, seperti kesakitan. Ustadz Mahmud menyusul, tasbih kayunya terangkat, suaranya mulai membaca dengan keras.
Anak itu tidak bergerak. Ia hanya memiringkan kepalanya, memperhatikan mereka satu per satu seperti memilih.
"Ustadz," katanya β dan suaranya kini suara Ustadz Mahmud sendiri, tua dan berat. "Ustadz capek bohong terus."
Ustadz Mahmud tersentak seperti ditampar, tapi bacaannya tidak putus.
Anak itu menoleh ke Fajar. Dengan suara Fajar: "Fajar berani. Fajar turun aja gimana?"
"DIAM!" Fajar mengangkat linggisnya, tangannya gemetar hebat. "Jangan pakai suara gue, ANJING!"
Anak itu tertawa. Tawa anak kecil yang manis β kalau saja tidak keluar dari mulut yang terlalu lebar. "Besok," katanya dengan suara Bu Sarmi, "aku bisa pakai suara kalian semua. Ibu Lastri udah ngajarin aku banyak suara. Tiga puluh tahun, lho."
Ia melangkah maju. Satu langkah kecil yang basah. Ustadz Mahmud memperkeras bacaannya. Bel Sari berdering makin liar sampai tangan Sari berdarah tergores.
Anak itu berhenti. Menatap saya. Dan kali ini suaranya β suara saya β terdengar lelah. Hampir... hampir sedih.
"Abang nggak mau turun. Ya udah."
Ia berbalik. Menghadap Sari.
"Ya udah," ulangnya.
Bel di tangan Sari β berhenti. Mendadak. Sunyi yang tiba-tiba itu lebih menakutkan daripada deringnya.
Mata Sari mengosong. Seperti lampu yang dipadamkan dari dalam.
"SARI!" saya berteriak.
Sari melangkah maju. Satu langkah. Dua langkah. Ke arah kamar 7. Ke arah lubang itu. Bibirnya bergerak, dan dari mulutnya keluar suara anak kecil:
"Lasmi mau Sari nemenin... Lasmi kesepian..."
"SARI, JANGAN!" Fajar menerjang, tapi anak bergaun itu mengangkat satu jari β satu jari yang terlalu panjang β dan Fajar terpental ke dinding seperti didorong tangan raksasa. Linggisnya jatuh berdenting.
Ustadz Mahmud membaca makin cepat, keringat membasahi wajahnya. "A'udzubillahi minasy syaithanir rajimβ"
Anak itu menoleh ke Ustadz dan tersenyum. Dengan suara Ustadz sendiri, ia menimpali bacaannya β kata per kata terbalik. Persis seperti malam di depan kamar 7 dulu. Tasbih kayu di tangan Ustadz Mahmud β berderak. Lalu putus. Butiran-butirannya berhamburan ke lantai koridor, menggelinding ke segala arah seperti tetesan air mata kayu.
Ustadz Mahmud terdiam. Wajahnya β ya Tuhan, wajahnya. Seperti orang yang baru saja melihat doanya sendiri mati.
Dinding koridor mulai berkeringat. Saya tidak tahu cara lain menggambarkannya β tembok semen itu mengeluarkan titik-titik air, merembes, menetes, sampai catnya yang sudah mengelupas terlihat seperti kulit yang menangis. Lampu darurat merah di ujung koridor berkedip sekali, dua kali, lalu menyala terus dengan warna yang lebih pekat, lebih merah, seperti mata yang membuka.
Dan jejak kaki basah kecil di lantai β bertambah. Berpasangan-pasangan baru muncul dari dalam kamar 7, berjejer rapi seperti antrean anak-anak TK. Satu, dua, tiga, empat pasang. Semuanya berhenti menghadap saya.
Dari dalam lubang, di antara bunyi air, saya mendengar suara saya sendiri memanggil nama saya. Bukan "Bang". Nama saya. "Dimas." Diucapkan dengan cara yang persis seperti cara ibu saya memanggil saya waktu kecil β lembut, sedikit khawatir. Ia bahkan sudah belajar itu. Ia sudah mengorek-ngorek ingatan saya dan menemukan suara ibu saya.
Jangan dengarkan, saya memerintahkan diri sendiri. Jangan dengarkan apa pun yang memanggil nama kamu.
Tapi lutut saya gemetar. Kunci di kaus kaki saya kini panas seperti bara sungguhan β saya bisa mencium bau kain kaus kaki yang terpanggang. "Abang udah megang kuncinya. Berarti Abang udah janji." Mungkin memang begitu cara kerjanya di dunia mereka. Bukan tanda tangan. Bukan ucapan. Cuma... memegang. Menerima. Tidak membuangnya waktu masih bisa.
Saya seharusnya membuang kunci itu ke sumur sejak awal. Atau ke kali. Atau ke mana saja. Tapi saya menyimpannya di kaus kaki seperti orang bodoh β karena Ustadz bilang jangan dikeluarkan apa pun yang terjadi, dan saya patuh seperti anak kecil yang takut dimarahi.
Sari terus berjalan. Tinggal tiga langkah lagi sampai ambang pintu kamar 7. Dari dalam lubang, bunyi air makin keras. Naik. Tes. Tes. TES. Dan senandung itu terdengar lagi β tapi kini fals, rusak, seperti kaset yang ditarik paksa: "Nina... bobo... oh... nina..."
Saya tidak berpikir. Saya menerjang dan menyambar lengan Sari.
Dinginnya meledak di tangan saya.
Seperti menyentuh es kering β dingin yang membakar. Dingin itu merambat naik dari jari-jari saya ke pergelangan, ke lengan, dan di pergelangan kaki kanan saya, bekas tangan kecil itu menyala dingin menjawabnya β seperti dua ujung tali yang akhirnya tersambung.
Sari berhenti. Matanya masih kosong. Tapi langkahnya tertahan β karena saya memegangnya.
Anak bergaun itu menatap saya. Lama. Lalu ia tertawa β tawa saya sendiri, tawa yang biasa saya pakai kalau lagi senang, dan mendengarnya dari mulut makhluk itu membuat perut saya mual.
"Abang megang Sari," katanya riang. "Berarti Abang ikut."
Dari dalam lubang, suara Ibu Lastri β hancur, patah, tinggal serpihan:
"Nak... maafkan Ibu... Ibu sudah tidak kuat... menahannya... Nak..."
Bunyi air itu kini tepat di bawah lantai koridor. Saya bisa merasakannya bergetar di telapak kaki saya. Bau pisang goreng gosong tebal sampai saya sulit bernapas. Tetesan-tetesan air jatuh dari langit-langit koridor β dari mana? Tidak ada pipa di atas sini. Tes. Tes. Tes. Dingin di lengan saya merayap naik ke bahu.
Fajar merangkak bangun, darah mengalir dari pelipisnya. "DIMAS! LEPASIN DIA! LARI!"
Lari ke mana? Itu yang ingin saya teriakkan balik. Koridor ini cuma sepanjang sepuluh meter dan di kedua ujungnya ada gelap yang bernapas. Kos ini sudah bukan bangunan lagi β ia sudah jadi mulut. Dan kami sudah di dalam kerongkongannya sejak malam pertama saya mendengar tetesan air itu.
Ustadz Mahmud memungut butiran tasbihnya yang berserakan dengan tangan gemetar, mencoba merangkainya kembali, bibirnya bergerak tanpa suara. Saya melihat tangannya β jari-jarinya yang tua dan keriput β dan tiba-tiba saya mengerti kenapa gambar crayon itu menempelkan tangan sosok hitam di bahu beliau. Bukan karena beliau jahat. Karena beliau sudah kalah. Tiga puluh tahun beliau memikul rahasia Ibu Lastri, tiga puluh tahun beliau mencari jalan keluar yang tidak ada, dan malam ini, di koridor ini, beban itu akhirnya mematahkan punggungnya.
Tidak ada yang akan menyelamatkan kami. Tidak ada doa yang belum dicoba, tidak ada orang pintar yang belum dipanggil dalam tiga puluh tahun ini. Yang tersisa cuma pilihan: siapa yang turun.
Sari β Sari menoleh ke saya. Matanya masih kosong, tapi satu air mata jatuh dari mata kirinya. Dan dengan suaranya sendiri β suara Sari yang asli, kecil, ketakutan β ia berbisik:
"Dim... tolong..."
Saya menatap anak bergaun itu. Ia tersenyum menanti, crayon merahnya menetes. Saya menatap lubang hitam di lantai kamar 7, airnya berkilat seperti mata. Saya menatap kunci di kaus kaki saya yang kini panas seperti bara.
Tidak ada cara lain. Ustadz sudah tiga puluh tahun mencari dan tidak menemukan. Ibu Lastri sudah tidak kuat. Kalau bukan saya β Sari. Kalau bukan Sari β Mbak Rina. Mas Yoga. Fajar. Satu per satu. Ia belajar cepat. Kemarin suara anak kecil. Hari ini suara saya. Besok suara siapa saja.
Saya menarik napas. Dingin di lengan saya sudah sampai ke leher.
"Sari," bisik saya. "Jangan buka mata. Dengerin saya. Jangan buka mata apa pun yang terjadi."
Saya melangkah.
Satu kaki saya melewati ambang pintu kamar 7.
Lantai di bawah kaki saya β tidak ada.
Saya jatuh β tidak, saya MELANGKAH ke dalam gelap, menarik Sari menjauh dari bibir lubang sambil mendorongnya ke belakang, ke arah Fajar β dan tepat sebelum kegelapan menelan saya seluruhnya, saya mendengarnya.
Dari dalam sumur. Dari bawah sana. Dari kedalaman yang berbau pisang goreng gosong dan air mati.
Suara saya sendiri. Sudah menunggu. Sudah tidak sabar.
"Abang lama banget. Lasmi udah kangen."